Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
86. Rihanna Raihan XI



Padahal rencana awalku hanya bermalam sehari saat mengantar Wisnu dan Beny. Setelah itu, saya akan balik ke apartemen Randi. Tapi gara-gara ketemu rombongan Langga, Raihan, dan kawan-kawannya, kakek menyuruh saya untuk menginap lagi."Tumben kamu mau lama di sini?" tanya Randi yang menemani saya duduk di teras rumah. Saya biasanya tinggal di pesantren lama saat para santri dan santriwati pada libur, seperti momen lebaran."Proyekku selesai, teman-temanku mau nyantri kilat. Biasa menghabiskan momen jatah libur.""Oo, dimana mereka?""Asrama santri tamu lah, dua lelaki semua.""Memang ada teman Lo perempuan selain keluarga kita," ucap Randi sambil tertawa kecil."Sialan Lo! Punya lah," kesal saya."Semalam papi nanya aku. Apa Lo pernah cerita tentang lawan jenis? Karena ada sebuah keluarga yang menanyakan tentangmu?"Ucap Randi membuat saya kaget sampai tersedak minuman ku, "Biasa aja kali. Lo perempuan ya wajar kali."


"Seperti ada yang tidak beres. Beberapa minggu lalu, ada seorang yang baru ku kenal tiba-tiba menanyakan namaku dan silsilah keluarga."


"Dia punya anak laki-laki dan bahkan langsung bilang, 'Mau tidak saya jodohkan dengan putra saya?'" ucapku yang disambut tawa Randi."Emang sudah saatnya Lo nikah, ingat umur Lo udah 24 tahun.""Lo juga 24 tahun kali," ketus saya. "Beda gw laki-laki tidak ada masa suburnya.""Lo lupa, mami menikah saat usianya di atas 30 tahun. Bahkan melahirkan kita aja saat usia 34 tahun.""Dasar Lo. Meskipun begitu, mami juga ingin Lo nikah kali.""Iya, gw tau itu! Tapi tidak sekarang, calon aja belum ada hilalnya juga!" ketusku."Makanya berpakaianlah sedikit menarik. Selayaknya perempuan yang anggun dan menawan.""Jangan pernah berubah hanya karena untuk mendapatkan perhatian orang lain. Berubahlah demi niat yang mulia. Jika dilandaskan pada orang lain, maka pasti perjuangannya tidak akan utuh. Semangat kita untuk berubah jadi cepat menyerah saat tidak mendapatkan apa yang kita harapkan.""Ya, gw tau itu! Ketika kita berniat berubah, maka berniatlah untuk menjadi lebih baik karena diri sendiri. Supaya kita tidak akan mudah dipengaruhi oleh faktor lain. Juga, kita jadi lebih fokus pada perubahan yang kita inginkan.""Ya, itu Lo tahu!""Bukan begitu juga. Eh, susah ngomong sama orang berotak batu!""Gw kan bicara sesuai fakta. Jika kita berubah karena orang lain, hanya akan mendatangkan perasaan sakit yang susah sembuh jika tidak sesuai harapan kita. Ditambah lagi, niat yang tidak murni seperti ini hasilnya tentu juga tidak akan utuh. Kamu pasti tidak mau, 'kan?""Iya! Iya! Terserah Lo kakakku tersayang," ucap Randi yang mulai menahan kekesalan."Haha, gw sayang Lo kalau begini," ucapku yang langsung mencium gemes pipi Randi."Astaghfirullah! Kamu ini bisa bikin salah paham orang yang melihatnya!" ucap marah Randi sambil menghapus bekas ciumanku."Salah paham dikira kita pasang mesum yang berzina," ucapku sambil tertawa kecil melihat reaksinya."Ya, itu salah satunya. Lagian, kenapa kamu tidak mencari suami saja sih!""Mencari suami itu susah-susah gampang. Harta, wajah, latar belakang, dan agama harus seimbang.""Agama itu yang susah, bukannya ada ungkapan 'Jodoh itu cerminan diri kita'. Agama Lo aja kaya begitu. Adduh! Siapa sihh!!" teriak Randi di kalimat terakhir sambil berdiri."Apa mau berani sama Om!" ucap Om Hardi setelah menonyor kepala Randi."Hehe, mana berani aku sama Om."


"Kamu tidak boleh menilai orang hanya dari penampilannya luarnya saja. Kamu met ngatain kakakmu 'Agama Lo aja kaya begitu'. Coba kita sambung ayat, berani gak kamu melawan kakakmu."


"Ya, kalau masalah satu itu aku ngaku kalah."


Kata Om Hardi, membuat Randi nyengir kuda. "Iya juga sih."


"Meskipun kamu tinggal di pondok pesantren, jika diadu masalah bacaan ayat suci antara kamu, Hana, dan Syifa. Om berani jamin Hana yang akan jadi terbaik, dari pada kalian berdua yang lebih sering tinggal di pesantren."


"Oooh, makasih Om. Ada yang membelaku," ucapku.


"Siapa yang membela kamu? Kapan kamu mau mulai berpakaian yang benar?""Ini juga bener, menutupi auratku.""Yang istiqamah dong. Jangan hanya menutupi aurat hanya di pesantren saja," ketus Randi."Kalau yang ini, Om setuju denganmu.""Apaan sih kalian ini? Om kesini sama siapa?" tanyaku."Sama istri lah?""Istri muda apa tua ni?" ledekku karena meski banyak yang bilang Om Hardi beristri dua, tapi kenyataannya dia hanya punya satu istri secara agama dan negara. Karena mama Shifa sudah diceraikan saat Shifa berumur satu tahun, tapi jarang yang tahu selain keluarga dekat dan abdi dalem."Gak usah bikin masalah deh. Kalau ada yang denger bisa salah paham," ucap Om Hardi membuatku dan Randi tertawa."Aku mau ke depan menemui Umi Aisyah, ya!" ucapku sambil berdiri dan berjalan ke arah pondok pesantren.Aku berjalan menuju PT 1Wati jalan pintas, yang menghubungkan antara rumah dan pondok pesantren. Saat aku berjalan, terdengar orang berhitung dengan suara kencang. Karena penasaran, aku mencari sumber suara tersebut. Di mushola itu, biasanya orang akan bersholawat atau melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, ini malah berhitung persis anak TK."20, 21, 22, 23, 24, 25.""Astaghfirullahal 'adziim!" ucapku sedikit keras karena kaget, membuat orang yang sedang push up itu juga kaget."Aduh maaf, maaf, maaf!" ucap orang yang sedang push up sambil menggaruk kepalanya."Aku kira anak kecil, mana yang berhitung malam-malam. Gak tahunya orang sedang push up. Ya udah, teruskan saja," ucapku sambil berjalan meninggalkannya."Sebentar, Ning permisi." Ucap Raihan mencegahku untuk berjalan. Ya, laki-laki tadi adalah Raihan."Maaf," ucapnya sambil melepaskan tangannya yang sedang memegang lenganku."Ada apa?""Apa kita pernah bertemu?""Aku tidak tahu di jalan mungkin," ucapku sambil berjalan meninggalkannya. Namun, saat aku menemui Umi Aisyah yang sedang mengobrol dengan beberapa santri, Umi Aisyah menarikku menjauh. "Kamu tadi lewat mana?""Lewat biasa, jalan samping. Ada apa, Umi?" Tanpa menjawab, Umi menyodorkan ponselnya. Aku hendak berjalan, namun lengan ku dipegang oleh seorang laki-laki. Ya, itu fotoku dan Raihan tadi. Siapa yang menduga mereka kurang kerjaan dan mengambil gambar yang tidak penting itu, tanyaku dalam hati."Apa yang salah dengan gambar itu, umi?""Umi percaya tidak terjadi apa-apa dengan gambar itu. Namun, yang melihat tidak mengenalmu. Mereka akan beranggapan kamu bertindak tidak pantas. Apalagi dengan pakaian lelaki itu yang hanya memakai celana kolor pendek tanpa baju atas," ucap Umi Aisyah membuatku menepuk kening sendiri."Hehe, bagaimana dong, umi?""Siap-siap saja dijadikan bahan gosipan besok pagi dan disidang oleh kiyai.""Aissh, umi begitu. Siapa yang menyebarkan foto itu, umi? Boleh lihat ponselnya?""Ini, tapi gak usah aneh-aneh.""Kalau begitu, memberikan sedikit pelajaran tidak apa-apa kali, umi.""Jika dia memiliki niat buruk dengan menyebarkan berita ini, berdoa saja semoga dia cepat diberikan kesadaran."Aku tidak menjawab, hanya mendengus sebelum pergi membawa ponsel Umi Aisyah.