Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
71. Ajeng



Sudah sebulan keadaan kembali seperti semula, meski Ajeng belum tertangkap polisi. Tapi menurut Kana tidak ada yang perlu di takutkan, karena tanpa adanya uang Ajeng tidak bisa berbuat apa-apa. Kehamilan yang di alami Rahayu membuat dia sedikit pendiam . Hari ini umur Abi genap 60 tahun. Abi mengumpulkan kita semua untuk mengadakan acara santunan anak yatim-piatu. Beserta syukuran dan doa bersama, atas titipan yang Allah berikan. Abi bilang Semua harta yg kita miliki merupakan Titipan dari Allah. Makanya Kita tidak boleh sombong akan harta kita karena semua itu akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak.


Termasuk anak-anak kita, bagaimana kita mendidik mereka juga akan di minta pertanggung jawabannya.


Sedangkan Radi sudah mulai membuka usaha pertamanya dan Farida selalu menghindar dari ku. Umi Anisa orang tua Radi dan Rahayu sekarang tinggal di pesantren, membantu mengurus pesantren sekalian mendekatkan diri kepada Allah SWT.


"Dompet Abi jatuh tadi di ketemukan seorang santri di dekat parkiran mobil,"ucap Kana sambil menyodorkan kepadaku. Dengan iseng aku membuka dompetnya nampak foto Abi saat ijab qobul bersama bunda.


"Ada apa ?"


"Ini foto bunda," ucapku sambil memperlihatkan foto tersebut. "Berarti bunda punya tempat spesial di hati Abi ayo!" Kana berkata sambil merangkul pinggangku, berjalan menuju rumah utama.


"Assalamualaikum ," ucapku dan Kana saat masuk kedalam rumah utama. Abi tinggal disini bersama Hafis, "Aku tidak mau dipanggil Om,aku mau di panggil AA."


Suara Hafis sambil berjalan keluar nampak Romi mengikuti di belakang sambil menggendong Radit dan Randi, sedang Hanna duduk di pangkuan Abi.


"Kenapa sih?" Tanya Abi saat Hafiz datang dengan muka cemberut dan duduk disamping Abi.


"Abi aku tidak mau di panggil Om, masak aku masih muda di panggil Om. Om om kesannya aku tua sekali."


"Tapi meski kamu kecil kamu memang Om nya itu tidak bisa dibantah. Jika Kana tida ada kamu bisa menjadi wali triple," ucap om Hardi.


"Aku bukan anak kecil aku sudah dewasa ya," ketus Hafis. "Ya udah kalau merasa sudah dewasa harus mau di panggil Om," ledek Romi.


"Kenapa tidak di panggil AA saja sih. Kenapa harus Om ?" Usia Hafis dan triple sebenarnya terpaut lumayan jauh 15 tahun, tetapi Hafiz menolak di panggil Om maunya dipanggil AA seperti calon adiknya.


"Ya emang kamu Om nya," ucap Romi sambil terkekeh."Abi berharap bisa menemani kalian semua. Kalau bisa sampai mengantar Hafis mendapatkan pendamping hidup."


"Amin ," ucapku membalas ucapan Abi bersama yang lainnya. "Abi akan hidup lebih lama lagi , semoga Allah SWT memberikan kesehatan kepada Abi sampai 100 tahun kedepan."


"Amin,"ucap kami menjawab ucapan Hafis. Setelah acara santunan dan doa bersama, dilanjutkan dengan acara bersantai dengan makan bersama.


"Mau kemana ?"


"Ke mini market Pampers triple habis," ucapku menjawab pertanyaan Romi.


"Tumben sendirian biasanya bodyguard kamu selalu ngikutin mbak ?"


"Mas mu lagi tidur sama Randi dan Radit," ucapku sambil berjalan keluar. Tidak jauh dari pondok pesantren mini market ada yang buka 24 jam, hanya butuh 15 menit untuk berjalan.


"Ya udah gw temani sekalian mau beli rokok."


"Ayo,bisa buat teman ngobrol di jalan panas-panasan begini."


"Tapi bayarin rokok ku."


"Beres. Rara tidak kelihatan di pondok ?"


"Malu sama para pengurus rumah pak lek."


"Kenapa malu? Pasti ada yang bicara aneh ?"


"Bukan kata Rara, semua orang kan tahunya Rara itu putri teman pemilik pondok. Bukan ponakan jadi kalau tidak ada papa Rara malu untuk bergabung."


Saat lagi berjalan tanpa sengaja aku melihat seorang wanita berpakaian compang camping ala pemulung sedang mengais botol-botol bekas. Dari sekilas wajahnya mirip Ajeng.


Saat aku ingin menegur dan mendekati dia malah berjalan menjauh, "Ada apa sih mbak ?"


"Tidak ayo masuk," ucapku jika aku bilang melihat Ajeng sekilas Romi bisa heboh dan menghubungin Kana.


"Meskipun kembar, mereka nanti merayakan ulang tahun tidak bisa bersama ya mbak ?"


"Ya , Tidaklah lahir saja tidak bareng. Hanna 2 bulan lagi setahun, sedang para jagoan 4 bulan lagi."


Semua belanjaan kita troli depan yang kosong sedang Hana kita duduk di troli belakang."Mbak persis tante-tante yang berjalan sama brondong ya."


Ucapan Romi membuatku spontan memukul bahunya, membuat Romi mengaduh kesakitan.


"Sialan gw tantenya Lo brondong nya gitu."


"Is omonganmu mbak tak bilang sama pak lek lo?"


Aku hanya mendengus mendengar ancaman Romi.


"Usia mu sudah matang, tidak ada rencana mau menikah?"


"Baru mau 26 belum juga genap. Santai aja kali mbak,aku ingin menikmati waktu berduaan dengan papa dan Rara. Karena setelah menikah otomatis perhatianku terbagi menjadi buat keluarga baruku."


Keasikan ngobrol aku tidak sadar dari arah berlawanan ada seorang yang tiba-tiba menusukku dari depan.


"Mampus kau Dira jika aku tidak mendapatkan Kana maka siapapun juga tidak boleh mendapatkan Kana."


Romi yang sadar langsung menangkap Ajeng dan melumpuhkan Ajeng. "Mbak bertahan! Mas Kana sedang menuju kesini!"


Romi berteriak sambil mencari tali untuk mengikat Ajeng. Aku tidak tahu kapan Romi menghubungin Kana. Begitu aku merasakan ada yang menusuk ku aku langsung mengambil dan mendekap Hanna. Aku takut Ajeng akan melukai putriku.


"Seharusnya kalian mati berdua biar kamu ada temannya di alam kubur," uap Ajeng sambil tertawa ngakak.


"Dasar gila" maki Romi, bertepatan dengan kedatangan Kana dan Abi.


"Innalillahi! Ya Allah sayang!" Ucap Kana langsung menghampiriku yang duduk dengan mendekap erat tubuh mungil Hanna.


"Aku titip anak-anak ! Jaga dia besarkan dia dengan baik!"


"Tidak! Aku ingin kita besarkan mereka sama-sama , aku tidak mau sendirian !"


"Cepat masukkan Dira ke mobil, Abi sudah menghubungi polisi !"


Hanna diambil Abi, Romi mengawasi Ajeng, Kana membawaku masuk ke dalam mobil sebelum aku kehilangan kesadaran.


POV.Kana


Deringan ponselku membangunkan aku yang sedang tidur siang, tertera nama Romi disana.


"Assalamualaikum, apa Rom."


"Cepat kesini di gang arah mini market mbak Dira terluka !"


Tanpa menjawab aku langsung bergegas berlari kedepan , bersamaan dengan Abi yang hendak pergi.


"Kenapa ?"


"Dira terluka di gang arah mini market," ucapku.


"Ayo kita kesana sekarang."


Tidak sampai 5 menit aku bisa melihat Romi sedang memegangi seorang wanita , berpakaian kurang layak. Nampak Dira duduk di pinggir jalan sambil mendekap Hanna.


"Innalillahi! Ya Allah sayang!" Ucapku sambil berjalan menghampirinya


"Aku titip anak-anak ! Jaga dia ,besarkan dia dengan baik!"


"Tidak! Aku ingin kita besarkan mereka sama-sama , aku tidak mau sendirian !"


"Cepat masukkan Dira ke mobil, Abi sudah menghubungi polisi,!"ucap Abi sambil mengambil Hanna. Aku membawa Dira kerumah sakit dengan kecepatan penuh,aku beruntung jarak rumah Sakit tidak terlalu jauh dari lokasi kejadian.


"Bagaimana Dok keadaan istri saya ?"


"Lukanya tidak dalam cuma mengenai arteri yang memiliki kontraksi otot polos yang terus menerus, sehingga jika terjadi robekan pada arteri, darah akan keluar lebih aktif dan cenderung lebih sulit dihentikan. Ini benda tajam yang mengenai istri anda dan istri anda juga sudah kami berikan suntikan anti virus tetanus."


"Tetanus ?"


"Infeksi bakteri serius yang bisa menyebabkan kejang otot menyakitkan dan dapat menyebabkan kematian. Karena itu sementara pasien kami tempatkan diruang yang gelap dan tenang/tidak berisik. manipulasi / tindakan pada pasien harus diusahakan seminimal mungkin. Jika terpapar cahaya, bising./berisik, serta manipulasi berlebih, akan merangsang terjadinya kejang. pemberian anti toksin tetanus untuk menetralkan racun." Jelas dokter tersebut membuat ku mencengkram erat besi dengan panjang 35 cm yang telah dibungkus plastik.


"Tapi tidak bahaya kan ?"


"Semoga tidak terjadi apa-apa,?" ucap dokter sebelum pergi.