
Berat rasanya mata ini buat terbuka, seberat hati ini menerima kenyataan ini. Saat aku terbangun dan melihat kesekeliling yang sepi, aku berharap ini hanya mimpi. Tapi kenyataannya aku sudah bisa melihat, berati yang semalam ku alami bukan mimpi.
Kulihat jam dinding menujukkan pukul 3 pagi, ku langkahkan kaki menuju kamar mandi kuambil wudhu. Aku bersujud kepadanya meminta di beri ke ikhlasan dan kekuatan menerima Kenyataan ini. Berharap Diva ku segera di pertemukan kembali dan bisa berkumpul dengan kami semua di sini.
Cekle nampak papi masuk ke dalam kamarku, dengan setelan baju Kokok dan peci.
"Sudah bangun ?"
"Sudah Pi, papi habis sholat malam ?"
"Iya, papi juga terbangun seperti mu. Ada yang ingin kamu tanyakan ?"
"Kapan Raihan meninggal ?"
"Ini cerita rahasia negara, papi bisa mendengarnya karena salah satu jendral adalah kenalan papi. Mereka mengadakan penyergapan pada malam hari itu juga, semua berjalan lancar sesuai rencana. Tapi saat pihak ******* terdesak ada seorang sandra, yang di duga mata-mata menyandra salah satu ahli strategi. Raihan menggantikan ahli strategi itu menjadi Sandra dan di bawa para ******* masuk ke dalam hutan."
"Sok pahlawan,"dengusku.
"Bukan sok pahlawan, seorang pimpinan akan menanggung semua kesalahan anak buahnya. Begitu juga di Medan tugas, pimpinan yang baik akan mengutamakan keselamatan anak buahnya." Jelas papi yang kemudian terdiam beberapa saat membuatku semakin penasaran.
" Kenapa papi diam apa yang terjadi selanjutnya ?"
"2 Hari dilakukan pencarian tubuh Raihan di temukan sudah tidak dalam kondisi utuh, tapi masih ada detak jantungnya."Ucap papi lirih, "Astaghfirullah, maksudnya papi ?"
"Kedua kaki terlepas sepertinya di makan binatang buas. Badannya penuh bekas cambukan, mukanya penuh luka lebam pukulan dan bekas cakaran binatang hutan."
"Papi bohong! Papi kemarin bilang Raihan tertembak di dadanya, dan nyawanya tidak bisa di selamatkan saat sedang dalam perjalanan ke rumah sakit."
"Itu adalah berita yang di sebarkan, karena papi yang mengambil dan melihat jenazah Raihan langsung."
"Siapa tahu papi salah mengenali orang, katanya wajahnya tidak bisa di kenali?"
"Selain seragam bertuliskan nama Raihan ditemukan juga Grafir military tag atau kalung tentara di lehernya "
"Bisa jadi salah Pi, papi dan mami saja pernah mengira aku mati dan menguburkan orang yang salah."
"Di dalam kantong bajunya juga di temukan ini." Ucap papi sambil menyodorkan amplop yang sudah tidak bisa di lihat warna aslinya.
"Apa ini ?"
"Kamu bisa membacanya jika sudah siap, papi ke mushola dulu udah adzan subuh."
Setelah papi pergi aku masukkan amplop tersebut ke dalam laci di samping tempat tidur. Aku tunaikan kewajiban subuh ku dahulu. Setelahnya baru aku keluar menemui anak-anakku, tidak mungkin aku terus terpuruk begini ada anak-anak yang bergantung padaku.
"Makasih mi,"ucapku pada mami yang lagi nyiapin sarapan pagi.
"Yang sabar ya,ada anak-anak yang masih membutuhkan mu." Aku hanya mengangguk sambil meneteskan air mata.
"Jangan menangis lagi , Raihan tidak suka melihat mu menangis terus dengan matanya." Ucap mama yang baru muncul diikuti anak-anakku di belakangnya.
Aku hanya bisa mengaguk dan menghapus air mataku, sebelum memeluk kedua anakku.
Setelah mengantar anak-anak ke sekolah,aku di antar mama dan papa ke makam Raihan. Sedangkan kedua orang tuaku kembali ke Jakarta, karena sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan.
Teman-teman Raihan datang silih berganti mengucapkan belasungkawa,aku ditemani mama ,papa dan ayah Elang menemui mereka.
Malam harinya sebelum tidur aku ambil amplop yang di temukan di kantong Raihan . Kertasnya lusuh, tapi saat di buka tulisannya masih sangat jelas. Ini memang tulisan Raihan, sebagai istrinya aku sangat hafal dengan tulisan tangannya.
Dengan berdebar dan perasaan tak karuan,aku mengamati tulisan yang ditulis terkesan buru-buru dan sepertinya ditulis tanpa alas meja hingga tidak terlihat rapi.
Assalamualaikum.
Dear Raihana istri tersayang mas.
Maaf selama hidup dengan mas, mas sering membuat mu menangis, mas sering menyakiti mu. Ketahuilah meski raga mas telah pergi, tapi cinta dan sayang mas tidak akan pernah pergi meninggalkan mu. Kamu dan anak-anak adalah harta yang paling berharga yang mas miliki. Mas minta maaf tidak bisa menemanimu membesarkan anak-anak kita. Mas minta maaf tidak bisa membantumu mencari Diva putri kita. Mas minta maaf memberikan mu tanggung jawab untuk mendidik anak-anak seorang diri. Mas ikhlas jika kamu mencari teman hidup untuk membesarkan anak-anak setelah mas pergi. Mas ikhlas jika hati Hana terbagi buat yang baru, karena tida ada mas di sisimu.
Sudah dulu sayang ada suara aneh, kata anak buah mas. Padahal menurut mas hal yang wajar di hutan banyak suara aneh.
Salam rindu dan salam sayang buat istri mas dan anak-anak.
Wassalamu'alaikum.
Tunggu aku di Yaumul qiyamah ya mas.
Aku tidur dengan memeluk surat pesan terakhir dari Raihan. Mulai hari ini hidupku hanya buat anak-anakku, aku harus kuat dan tegar demi anak-anakku. Apa jadinya anak-anak jika aku tumbang.
"Selamat pagi dunia yang baru,hari ini akan aku mulai awal yang baru dalam hidupku bersama anak-anak." Ucapku sebelum melangkahkan kakiku keluar dari kamarku, Aku berjalan menuju dapur menyiapkan sarapan dan bekal buat anak-anak. Aktivitas yang sudah lama aku tinggalkan sejak aku tidak bisa melihat keindahan dunia.
"Mama,!"panggil Dila.
"Iya sayang,ayo duduk mama siapkan sarapan buat kalian!" Aku berjalan sambil meletakkan nasi goreng sosis, basok.
"Sarapan pakai nasi goreng, bekalnya roti bakar."
"Iya ma!"
"Dila, Satria boleh mama minta sesuatu sama kalian?" Tanpa bersuara kedua anakku langsung mengagukkan kepalanya.
"Sekarang kita hanya bertiga, mama minta kita bisa saling menjaga, menyayangi. Kalian bisa menganggap mama sebagai papa yang suka mengajak kalian olahraga fisik. Mama juga bisa kalian anggap sebagai teman curhat kalian. Jadi mari kita saling menjaga, menyayangi dan mama akan selalu ada buat kalian." Tanpa menjawab anak-anak langsung memelukku.
"Ayo kita sarapan!" Kami sarapan bertiga dalam diam," Iya nenek dan kakek mana ?"
"Tadi pagi sepertinya aku lihat jalan-jalan pagi,"ucap Satria.
"Ya udah habis ini mama antar ke sekolah !"
"Kami sudah dewasa ma kami bisa berangkat sendiri mulai sekarang. Mama lupa kalau aku sudah jelas 5," ucap Satria.
"Good son, take care of your sister." Ucapku sambil mengacungkan jempol bangga padanya.
Setelah anak-anak pergi ke sekolah, aku merapikan dapur dan saat itu mama dan papa datang.
"Ma,pa mau sarapan nasi goreng apa roti bakar ?"
"Kami sudah sarapan," ucap mama sambil duduk di kursi di ruang makan berdampingan dengan papa.
"Sudah ?"
"Tadi mama ,papa beli nasi sehabis jalan pagi. Tapi saat masuk kami melihat kamu lagi ngobrol bersama anak-anak."
"Jadi nasi yang kami beli,kami makan bersama pengawal di depan."
"Maaf,"ucapku tak enak hati setelah mendengar penuturan mama dan papa Raihan.
"Tidak apa-apa ,kami senang Kamu bisa bangkit cepat demi anak-anakmu." Ucap mama sambil tersenyum tipis.
"Elang sudah pulang semalam ke Jakarta, kami rencananya akan di jemput Rita siang ini."
"Terima kasih sudah ada buat Hana dan anak-anak. Meski mas Rai sudah tidak ada ,kewajiban mas Rai tetap akan Hana lanjutkan."
"Tidak, usah. Sudah ada Rita yang menanggung kami. Mama tahu kamu mampu,tapi jangan buat kami malu untuk menerima pemberianmu, di saat putra kami sudah tidak bisa mendampingi mu." Ucap mama membuatku meneteskan air mataku.
"Cukup jangan putus silaturahmi kami dengan cucu-cucu kami, meski Raihan bukan anak kandung kami kami sangat menyayangi Raihan." Aku hanya bisa mengaguk menjawab ucapan papa.
"Bukalah lembaran baru dengan anak-anak !"