
"Aku harus pakai ini juga?" Tanya Raihan sambil menujuk baju batik yang aku berikan.
"Iya,kamu datang sebagai pasangan ku. Jadi baju kita harus senada, dengan keluarga ku."
"Tapi aku datang ke gedung acara bersama keluargaku."
"Terus masalahnya apa,toh papa dan mama datang sebagai undangan kan."
"Iya sih."
"Udah sana siap-siap,bawa pulang bajunya. Besok pagi aku tunggu di lobby hotel."
Hari ini kami berada di Surabaya, dengan penerbangan malam setelah pulang kerja langsung ke bandara.
"Kamu tinggal di rumah sepupumu ,Aksara?"
"Iya, gak usah cemburu. Kalau gw suka dia, sudah dari dulu kita nikah." Ketus ku sambil menyerahkan kunci mobil kepada Raihan.
"Di rumahku ada mobil,"ucapnya sambil menyodorkan kunci mobil kembali padaku.
"Terus Lo pulang Sekarang naik apa?"
"Masih ada taksi online,ojek juga banyak. Gw lelaki Insyaallah aman."
"Ya , udah gw mau istirahat capek. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
"Jadi itu calon lo,?" tanya Jelita begitu aku masuk ke dalam rumah Om Aryo.
"Iya kenapa ?"
"Pantas Lo nolak Aksara dan Bintang, badannya kaya bintang iklan L Man. Pelukable ,cuii."
"Berisik Lo, ingat besok Lo menikah."
"Justru karena besok gw nikah, udah ga bisa memuji lelaki lain."Ucap Jelita sambil merangkul ku masuk ke dalam kamarnya.
"Besok Lo langsung tidur di hotel habis acara?"
"Iya, cuma semalam. Paginya langsung ke pulau Lombok. Kenapa Lo mau ikut ?"
"Ogah jadi penonton orang lagi reproduksi."
"Haha. Bentar lagi Lo juga bakal nyusul gw. Gimana sudah mikirin konsepnya?"
"Sederhana saja lah. Yang penting sah menurut agama dan negara."
"Emang Lo dari dulu gak pernah aneh-aneh."
"Tau sendiri hidupku bagai di sangkar emas,?" candaku.
"Haha kenapa Lo gak kabur saja."
"Belum saatnya, kalau gw main kabur akan menyakiti hati semua orang. Mungkin dengan menikah dengan orang yang bukan dari kalangan terpandang, membuatku keluar dari zona nyaman."
"Bener Lo pasti akan belajar banyak hal nanti."
"Belajar hidup apa adanya dan menghargai jerih payah suami , yang mungkin tidak seberapa."
"Ingat ini pilihan Lo. Meskipun ini pilihan kakek ,tapi di saat kamu sudah menerima Lo jangan mundur !"
"Pantang buatku untuk mundur !"
"Lo bisa masak kan,?" tanya Jelita.
"Bisalah,Lo tahu sendiri mami selalu ngajarin gw masak."
"Tapi masalahnya Lo bisa ga menggunakan perabotan rumah tangga yang serba sederhana ?"
"Ya itu dia," ucapku sambil menghela nafas.
"Kalau aku udah bilang akan membawa satu asisten rumah tangga,buat bantu-bantu aku di rumah baru nanti. Kalau Lo kayak nya tidak bisa deh bawa asisten rumah tangga."
"Ya pastilah, lihat saja nanti.Lo hamil berapa bulan?"
Ukh ukh ukh
"Santai saja gak perlu kaget,"ucapku sambil memberikan pijatan di tengkuknya.
"Lo tau dari mana?"
"Gw ketemu ini tadi di kamar mandi,"uacapku sambil menyerahkan taspek ke tangan Jelita.
Terdengar helaan nafas darinya," Baru berusia 7 Minggu."
"Bapaknya dia kan?"
"Iya lah siapa lagi."
"Bercanda,Ayo tidur aku takut kamu tar kecapean bisa membahayakan calon ponakan gw." Aku menemukan tes pek saat hendak membuang sampah, karena penasaran jadi aku ambil dan asal menebak.
Hingga pagi hari tiba setelah selesai berias,kami semua berangkat ke hotel tempat pesta pernikahan. Disaat semua sudah masuk Rihanna masih menunggu kedatangan Raihan beserta keluarganya di lobby hotel.
"Maaf mas telat, tadi mau berangkat Nganter tetangga ke rumah sakit istrinya melahirkan."
"Papa dan mama, ga bareng kamu?"
"Gak ,mereka naik taksi online katanya. Kan mas ke rumah sakit dulu nganter orang lahiran."
"Maaf lupa ayo,masuk."
"Raihan !" Panggil suara perempuan menghentikan langkah kami yang baru 2 langkah.
"Suci,"ucap Raihan lirih tapi masih terdengar olehku.
"Kamu datang kesini,sama siapa ?"
"Sendiri,aku sudah bercerai dengan suamiku."
"Kamu teman mempelai perempuan apa lelaki ?"
"Aku pegawai di kantor pak Aryo."
"Mau reuni apa masuk,"ucap Hana .
"Gw duluuan ya,Ci." Ucap Raihan sambil meraih pinggang Hana untuk berjalan masuk ke dalam.
"Lepas bukan muhrim,"ketus Hana .
"Sorry,tadi Suciati teman SMA."
"Kok tahu? Aku kan gak bilang apa-apa tadi,"ucap Raihan bingung.
"Mimik wajah kalian berdua yang canggung,ada juga raut bahagia di wajah perempuan tadi."
"Ternyata istriku gak bisa di bohongi."
"Gak usah alai. Aku di kelilingi oleh banyak lelaki dengan sikap playboy."
Saat kami masuk ke gedung acara ijab qobul telah selesai, bahkan para pengantin sudah duduk di pelaminan.
"Dari mana tadi,?"tanya Aksa.
"Nuguin bodyguard gw,tu lama."
"Halo Lo anak pak Luki kan?"
"Iya, betul."
"Pantes bapak Lo sering muji Lo sebagai anak kebanggaannya."
"Biasa kali,bapak yang terlalu memuji. Mau kemana?"
"Haus, sekalian ambil makanan ringan."
"Aku aja yang ambil,mau apa ?"
"Pempek dan lemon tea." Tanpa menjawab Raihan langsung berdiri.
"Perhatian banget sama kamu kayaknya ?"
"Baru kayaknya,gw juga belum tau aslinya." Jawab Hana membuat Aksa tertawa.
"Eh itu orang tua Raihan aku samperin mereka dulu."
"Gw mau menemui beberapa klain yang kebetulan ada di sini." Hana berjalan menemui orang tua Raihan yang baru turun dari pelaminan.
"Ayo Tan , Om duduk di sana saja!"
"Itu kan buat keluarga Han, apa tidak apa-apa ?"
"Santai aja Tan,dari tadi cuma aku aja yang duduk. Mami papi dan adik-adikku sibuk menyapa kenalan mereka masing-masing."
"Raihan kemana,?"tanya mama Raihan.
"Lagi ngantri makanan,"ucapku. Sambil menunjuk Raihan yang sedang mengantri sambil mengobrol dengan mbak mantan.
"Dasar bocah itu di sini ada calon istrinya juga."
"Santai aja Om, dia teman SMA mas Raihan. Tadi baru ketemu di lobby."
"Semoga anak itu tidak mengecewakan kamu yang Han,"ucap mama Raihan membuatku heran.
"Tidak, sejauh yang saya kenal dia lelaki yang baik."
"Amin, kalau menurut kamu begitu."
"Ini sesuai pesanan,"ucap Raihan sambil menaruh 2 mangkok pempek dan satu gelas minuman.
"Mama mau aku ambilkan, sekalian aku ambil minum."
"Apa aja yang kamu ambil pasti akan mama makan."
"Makan aja duluan Hana,!"ucap mama Raihan.
"Hehe,aku duluan ya Om,Tante."
"Permisi boleh aku duduk di sini kosongkan,?" tanya Suci yang sudah duduk di sampingku.
"Silahkan,"ucapku tanpa melihat kearahnya.
"Kamu ko duduk di sini, apa kamu tidak tahu ini tempat duduk VIP ?"
"Ko Lo tahu ?"
"Di kartu undangan kan ada denahnya undangan VIP di mana duduknya."
"Terus kalau Lo tau kenapa iku- ikutan duduk di sini?"
"Aku duduk di sini sengaja untuk Mengingatkan mu dan pak Luki aja."
"Ok, terima kasih. Tapi sayang aku terlanjur makan, jadi tunggu makanan aku habis."
"Pak Luki kan pegawai kantor jadi tau dong."
"Aku yang minta mereka dudu di sini,"ucapku memotong ucapan Suci.
"Tapi itu berbahaya jika pak Aryo dan Bu Nadira tahu. Kelasnya juga beda pegawai sama bos,kamu pasti baru sekali datang ke pesta pernikahan mewah."
"Iya, sih. Maklum aku males menghadiri pesta mewah begini membosankan."
"Dasar kampungan ,gini ni orang yang gak mau maju. Saat kamu menghadiri pesta pernikahan mewah,kamu berkesempatan mengenal orang dengan status sosial di atas kamu."
"Aku tidak minat kenal orang dengan status sosial atas, terlalu banyak kepura-puraan."
" Ini ma,pa."Raihan datang sambil menyodorkan makanan kepada kedua orangtuanya.
"Mereka kedua orang tua mu, Rai ?"
"Iya."
"Tapi mereka hanya satpam "
"Kalau satpam kenapa,?"tanyaku.
"Kamu kan tentara, setahuku masuk tentara itu mahal."
"Allhamdullilah aku tidak mengeluarkan biaya jutaan, untuk memakai seragam ku."
"Mbak kalau sudah selesai makannya Mendingan pindah sana, itu yang punya kursi mau datang." Ucap ku menujuk kearah papi dan mami, yang berjalan kearah kami.
"Lebih baik kamu segera pergi dari sini, dari pada kamu nanti di usir,kan Malu ."
"Kenapa malu, seru malahan jadi tontonan."
"Sinting,"ucapnya sambil melangkah pergi, membuatku tertawa kecil.
"Ada apa emang ?"
"Kepo. Jangan di kasih tau Om Tante." Membuat kedua orang tua Raihan tersenyum.