
Atas tuduhan pencucian uang, penyuapan dan pemalsuan pajak Nadiva dijatuhkan hukuman 10 tahun penjara. Itu membuat aku dan sedikit keluarga merasa lega. Kakek Bayu Samudra meminta maaf atas segala hal yang di lakukan dahulu pada papa Luki.
Di hari tuanya, kakek Bayu mengakui semua dosa-dosanya pada ayah Elang yang telah memisahkan dengan cinta sejatinya.
Setahun hidup bersama kakek Bayu, ahkirnya kakek Bayu meninggal dunia.
"Kalau di cermati hidupmu nasibnya tidak jauh berbeda dengan cerita mami."
"Oya tidak jauh berbeda, berati ada kesamaannya dong.Dimana letak kesamaannya,?" tanya Rai.
"Mami dari lahir tidak mengenal kakek. Mami baru mengenal kakek saat duduk di bangku SMA. Karena itu nama Mami tidak ada nama besar keluarga kakek, seperti Om hafiz. Bahkan mami sempat tidak menerima kakek dan keluarga kakek."
"Kok bisa hampir sama ya?"
"Semoga cukup mami dan Kamu yang merasakan besar jauh dari orang tua."
"Amin, tapi karena jauh dari orang tua membuatku tumbuh menjadi lelaki yang kuat Lo."
"Kebiasaan muji diri sendiri."
"Bagaimana Elang mau merayakan ulang tahun bersama teman-teman barunya di SD?"
"Tidak, dia mau merayakan dengan liburan bersama saja."
"Liburan kemana ?"
"Ke Disneyland,"jawabku langsung membuat Raihan melihat kearah ku.
"Iya Disneyland."
"Baiklah aku akan mengatur cuti ku dulu semoga aku bisa."
"Terima kasih meskipun aku tidak yakin kamu bisa."
"Haha akan aku usahakan." Ucap Raihan sambil memelukku dan mencium keningku.
"Terima kasih sudah menjadi ibu yang terbaik buat anak-anak kita!"
"Aku bisa juga karena dukunganmu."
Bulan depan Satria akan merayakan ulang tahun yang ke 7 tahun, sedangkan si kembar 2 bulan yang lalu merayakan ulang tahun yang ke 5 tahun. Kami merayakan ulang tahun si kembar sesuai permintaannya, di taman kanak-kanak tempat mereka sekolah.
"Ayo bangun kita sholat subuh berjamaah, hari ini papa yang ada aka jadi imam." Ucapku membangunkan Dila dan Diva, biasanya Raihan akan mengajak Satria berjamaah ke masjid terdekat.
Sudah 3 tahun ini Raihan naik pangkat sekaligus pindah tugas ke Sukoharjo, dan kami memutuskan untuk membeli rumah di tidak jauh dari batalion.
"Wah bidadari-bidadari papa semakin cantik saja," ucap Raihan sehabis sholat subuh berjamaah.
"Papa tambah hitam saja," ceplos Dila. Aku yang mendengarnya, tidak bisa menahan untuk tidak tertawa. Sudah seminggu Raihan dinas luar kota, bilangnya ada misi. Tapi aku sendiri sebagai istri juga tidak tahu misi apa yang Raihan kerjakan.
"Ini yang ngomong pasti Dila," ucap Raihan.
"Memang, masak ayah gak bisa membedakan anaknya."
" Bukan begitu sayang,papa hanya apa ya."
"Sepertinya kamu bukan papaku,deh." Ucap Dila sambil berlalu pergi,"Makanya belajar mengenali putri mu." Bisikku, karena kesibukan Raihan sejak naik jabatan membuatnya jadi jarang bisa berkumpul dengan kami.
"Aku kan sering bilang lihat mata mereka ,Dila memiliki warna mata hanzel seperti mami dan kakek. Sedangkan Diva seperti kita semua warna mata coklat ."
"Maaf aku lupa,"ucap Raihan lesu.
"Apa berkelahi gara-gara apa?" Ucap Raihan kaget dan langsung melihat kearah ku. Aku hanya bisa menutup mataku, mendengar ucapan Diva.
"Mama bisa jelaskan ?"
"Biar aku yang jelaskan papa, karena mama tidak tahu kejadiannya."
"Oke sayang sekarang jelaskan !"
"Kemarin saat pelajaran olahraga ada perlombaan lari, tapi ada yang berbuat curang dengan memotong jalan. Dila ga rela jika orang itu menang, jadinya mereka berkelahi dan Dila kalah."
Terdengar helaan nafas lega Raihan," Terima kasih sudah menjelaskan pada papa sayang." Ucap Raihan sambil mengusap kepala Diva.
"Papa lusa aku ikut lomba pencak silat, apa papa bisa datang ?" Mendengar pertanyaan Satria, Raihan langsung melihat kearah ku. Aku yang baru tahu hanya mengakat bahu tidak tahu.
"Akan papa usahakan, bagaimana kalau sekarang kita joging di alun-alun !"
"Aku mau,aku panggil Dila dulu papa." Ucap Diva sambil berlari ke kamarnya, diikuti Satria yang juga berjalan di belakangnya.
"Anak-anak sudah besar ya gak kerasa. Ayo siap-siap hari ini kita habiskan waktu menyenangkan anak-anak di luar."
"Mas waktu mas pergi Radit berkunjung ke sini bersama Narita." Narita dan Radit baru menikah setahun yang lalu,dan Narita baru hamil 6 bulan.
" Ada apa, sepertinya serius ?"
" Nadiva mendapatkan grasi dari presiden. Selain itu dia juga mendapatkan Remisi karena selama menjadi narapidana ,dia telah berkelakuan baik selama menjalani hukuman pidana."
"Kamu takut ?" Tanya Raihan sambil menggegam tanganku, aku hanya mengaguk tanpa menjawab.
"Kita akan jaga anak-anak kita dengan baik. Lagi pula dia sekarang sudah tidak punya apa-apa, jadi tidak mungkin di berbuat aneh-aneh."
"Tapi aku takut mas?"
"Kapan Nadiva bebas?"
"Menurut Radit, dia mendapatkan grasi 20 bulan dan remisi selama 6 bulan."
"Sayang itu masi lama, masih 2 tahun lebih. Lagian dia keluar dari penjara pasti tidak langsung bergerak, dia pasti akan berpikir ulang sebelum bertindak."
"Entah mengapa aku masih takut sesuatu yang buruk menimpa keluarga kita. Jujur aku juga masih trauma dengan penusukan yang kualami dulu."
"Maaf pasti perbuatan Oliv dulu membuat mu trauma ?"
"Ya pastilah mas, apalagi saat itu Satria masih kecil banget."
"Maaf ya,"ucap Raihan sambil memelukku.
"Katanya mau joging kok malah berpelukan sih ma,pa?"
"Iya maaf mama ganti baju dulu."
" Dila mama itu lagi melepas rindu dengan papa," ucap Diva membuatku tertawa tertawa kecil.
"Rindu kenapa, bukannya mama dan papa tiap malam selalu video call ya ?"
"Udah selesai ko melepas rindunya, bagaimana kalau sekarang kita tunggu mama di depan !"
"Oke," jawab ketiga anakku bersamaan.
Hari ini hari libur jadi banyak sekali orang yang melakukan aktivitas fisik di luar rumah. Seperti yang kami lakukan joging bersama keluarga, tidak lupa berwisata kuliner juga. Momen kebersamaan seperti ini sangatlah berharga buatku, ditengah kesibukan Raihan sekarang. Meskipun begitu aku mengusahakan minimal sebulan sekali kami melakukan kegiatan bersama-sama seperti saat ini.