
Setelah menjalankan sholat sunah pengantin. Kami duduk di atas tempat tidur dengan bersandar pada kepala ranjang.
"Terahkir aku melihat rambutmu warna hitam gelap,"ucap Raihan sambil mengusap kepalaku.
"Itu warna asli rambutku."
"Untung pakai hijab, coba kalau gak makin banyak yang terpesona sama istriku." Ucap Raihan sambil mencium rambutku. Rambutku aku warnai hitam pudar tapi ada sedikit warna ungu jika terkena cahaya.
"Apa kamu mau minta hakmu malam ini,?" tanyaku lirih.
"Kita bisa melakukan pendekatan dulu seperti anak muda sekarang pacaran."
"Pacaran ?"
"Iya pacaran halal, kita biasakan skin-to-skin dulu. Dari sentuhan fisik mungkin, karena aku merasakan kamu sedikit kaku dan tegang saat aku menyentuh mu. Apa lagi kalau di depan umum, orang akan mengira kita menikah karena di jodohkan."
" Tapi kan bener aku menikah denganmu karena wasit. Jadilah jodoh wasiat kakek."
"Yang namanya wasit itu pemberian. Disini kamu kan di berikan kebebasan untuk memilih menerima ku atau tidak."
"Kakek memberikan pilihan memilih mu, yang sudah di terima kedua kakek ku atau."
"Atau apa,ko berhenti bicara ?"
"Tidak, salah ngomong ."
"Ngaku gak gw gigit ni," ucap Raihan sudah memposisikan mulutnya di leherku.
"Bukan apa-apa aku hanya salah ngomong." Ucapku terhenti saat merasakan mulut Raihan menjilat dan sesekali memberikan kecupan di leherku. Membuat tubuhku menegang dan langsung merinding.
"Masss," ucap ku sambil memejamkan mataku,saat aku merasakan mulut Raihan menghisap kuat leherku.
Bukan hanya sekali tapi beberapa kali Raihan melakukannya.
"Udah mas,aku akan bilang semua."
"Ayo bilang,"ucapnya hanya sedikit mengakat kepalanya. Karena deru nafas Raihan masih bisa kurasakan di area leherku.
"Mas ingat waktu mas ke rumah dan ketemu keluarga Kapten Erlangga ?"
"Iya, kenapa dengan mereka ?"
"Mereka sempat bilang ke papi, dan untuk memintaku untuk menikah dengan kapten Erlangga."
"Terus kenapa kamu tidak menerima kapten Erlangga, anak Jendral bintang 2?"
"Kakek juga purnawirawan Jenderal Bintang 3."
"Aduh salah ngomong ternyata aku,"ucap Raihan sambil tertawa kecil.
"Aku tidak tahu apa yang mereka obrol kan tapi mami ,papi dan kakek jadi ilfil gitu."
"Papa sempat cerita kalau kakek sempat membahas berita tentang orang berseragam yang berbeda dalam satu mobil mu itu." Ucap Raihan sambil bersandar pada dinding dan memainkan ujung rambutku.
"Menurut papa usulan yang di berikan nya bisa masuk di akal, kalau keluarga mu tipe orang yang mengutamakan nama baik keluarga."
"Terus,?" tanyaku saat Raihan tidak ada suara lagi.
"Kamu tidak tersinggung aku bilang begitu?"
"Tidak, orang tua mu hanya mengutarakan pendapatnya. Jadi apa teruskan!"
"Kalau keluarga mu tipe orang yang mengutamakan nama baik keluarga, mereka akan setuju dengan usul Brigjen Wira. Atau bisa saja menutup kebenaran dengan uang."
"Tapi kalau menurut papa mu bagaimana,?" tanyaku. Meskipun papi sudah cerita, entah mengapa aku mau dengar langsung dari cerita Raihan.
"Kalau menurut papa jalani saja sesuai prosedur yang berlaku. Jika ketahuan ya ngaku dan terima hukuman. Meskipun dia sudah mengingatkan, tapi kan kenyataannya si tentara berada di dalam mobil tersebut."
"Iya juga sih ,biar ada efek jera,ya." Ucapku sambil nyengir mengingat kelakuan ku, sendiri. Hanya karena ingin mencoba andrenalin, yang menimbulkan kepuasan sesaat. Karena berita itu statusku sebagai cucu mantan menteri, jadi di kebawa-bawa.
"Ko diam ngelamun apa,?" tanya Raihan.
"Sebenarnya tadinya aku mau menolak kalian semua. Aku belum siap menikah,?"ucapku sambil merebahkan badan ke kasur.
"Tampan itu relatif, karena tampan itu selera. Kaya. Keluarga ku lebih kaya, lagian apa kamu lupa curhatan istri Erlangga tadi siang. Jadi menurut mu kenapa aku malah memilih kamu?"
"Tadi itu yang nanya mas. Kenapa kamu memilih mas,ko sekarang malah membalikkan pertanyaannya sih." Ucap Raihan sambil menarikku untuk masuk ke dalam dekapannya.
"Kakek mengharuskan aku untuk memilih antara kamu dan Raihan, setelah mereka mengutarakan pendapatnya tentang keluarga kalian masih-masing. Tadinya aku yang berniat menolak kalian semua, jadi menyimpulkan bahwa keluarga ku tak terlalu suka dengan keluarga Erlangga."
"Kan yang menjalani pernikahan kalian berdua, kenapa kamu harus mengikuti masukan keluarga."
"Kamu tau kenapa mami baru menikah di umur 32 tahun? Karena terhalang restu nenek. Buat mami menikah itu bukan pernikahan 2 orang yang saling mencintai, tetapi juga pernikahan 2 keluarga."
"Jadi kamu menikah dan memilih karena keluarga, bukan karena cinta aku dong?
"Haha kamu lucu,kamu aja menikah aku bukan karena cinta. Ko malah bertanya begitu,"ucapku.
"Emang menurut mu aku menikah dengan mu karena apa?"
"Kebaikan orang tua ku, balas Budi mungkin ?" Jawabku acuh sambil mengakat bahu acuh.
"Sok tahu," ucap Raihan sambil merubah posisi tidurnya menjadi terlentang.
"Dadaku dulu pernah berdebar kencang saat bersamamu. Tapi selalu aku kubur, hingga permintaan kyai dan kakek, yang memantapkan aku menyetujui menikah dengan mu."
"Pernah berdebar berati sekarang sudah tidak berdebar dong kapan itu ?"
"Saat pertama bertemu Cinta monyet. Waktu pertemuan kedua cinta pertama, sekarang aku hanya perlu menumbuhkan rasa itu, yang telah lama aku kubur." Ucapnya sambil menarik wajahku hingga menengok keatas.
"Bantu aku untuk memberikan pupuk buat tanaman yang namanya cinta. Supaya cinta ku bisa tumbuh lebih cepat dan subur." Ucap Raihan sambil memberikan ******* dan hisapan di bibirku. Jika tadi aku hanya diam kaku sekarang aku bisa merasakan sensasi ciuman Raihan , yang lembut penuh perasaan.
Karena lama-lama terasa susah bernafas, aku memukul dadanya Raihan supaya berhenti.
"Istriku pinter diajari sekali langsung bisa menikmati."
"Apaan sih," kesalku.
"Salting ada yang salting ni," goda Raihan.
"Apaan sih. Emang ABG apa aku salting."
"Kalau kamu mengapa memilih ku,?"tanya Raihan.
"Sepertinya halnya ilmu yang ku pelajari selalu mengutamakan logika. Dalam memutuskan sesuatu aku juga begitu,aku lebih dulu kenal kamu dan selama bersama mu belum pernah ada cekcok. Kalau Erlangga beberapa kali ngobrol jujur aku merasa dia tipe orang yang terlalu ikut campur."
"Ada alasan yang masuk di akal lagi gak ?"
"Beberapa kali ngobrol kamu asik, meskipun kadang kita debat, aku nyaman."
"Karena kamu sudah merasa nyaman dan memilih ku. Aku akan berjuang untuk menumbuhkan benih-benih cinta itu di dalam hati mu. Kamu cukup diam dan rasakan seberapa besar cintaku padamu."
"Apakah aku harus bilang so sweet?"Ucapku membuat Raihan tertawa ngakak.
"Biasanya para wanita akan senang bila pasangannya berjuang untuknya. Istriku memang beda,lain dari yang lain."
"Ya iyalah cuma ada satu yang kaya aku jadi harus di sayang."
"Tentu aku akan selalu sayang. Tapi boleh aku minta satu hal padamu ?"
"Apa,?" tanyaku langsung melihat kearah Raihan.
"Kebersamaan. Bagaimanapun kondisinya keluarga kita nanti, aku berharap kita selalu menikmati kebersamaan kita. Bersama dalam suka dan duka. Selalu mendukung dalam situasi apapun."
Ucap Raihan sambil mengusap kepalaku yang membuat mataku semakin berat.
"Insyaallah aku akan selalu ada buat mu,"ucapku sambil menahan ngantuk.
"Kamu sudah ngantuk?"
"Hmm."
"Ya udah mari kita tidur,"ucap Raihan sambil terus mengusap-usap kepalaku sampai aku tertidur.