Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
78. Rihanna Raihan III



"Berapa lama di sana kak,?"tanya mami. Saat aku sibuk menyiapkan baju dan keperluan pribadiku untuk pergi ke Papua.


"Menurut surat kerja sampai selesai,mi."


"Teman kerja kakak ada berapa ?"


"4 orang mi."


"Lelaki apa perempuan temannya ?"


Aku menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan mami,"4 orang,3 lelaki satu perempuan."


"Jadi cuma kakak perempuannya!"


"Mi kakak itu di sana mau kerja. Kakak itu masih karyawan baru harus menuruti perintah atasan."


"Makanya jangan kerja sama orang biar tidak di suruh- suruh!"


"Mami mami jangan ngambek Mulu kenapa sih nanti cepat tua Lo,"ucap papi yang berdiri di depan pintu.


"Kayanya Hana itu tidak pernah betah lama-lama di rumah,"ucap mami.


"Haha mami bisa aja. Ini tuntutan pekerjaan mi."


"Mau gimana disuruh jadi Cyber it di kantor papi gak mau ."


"Tidak menantang kerja di kantor papi. Hampir 50 persen karyawan papi kenal aku."


"Ini no kontak Kapolda di sana dan Kodam XVIII/Kasuari."


"Buat apa pi?"


"Buat jaga-jaga kakak. Kalau yang menjabat Kapolda pernah akrab dengan papi, sebelum papi mengajukan pensiun dini."


"Kakak itu di sana kerja. Perusahaan tempat kakak membangun ribuan menara sinyal seluler (Based Tranciever Station/BTS) di berbagai titik kosong (blank spot) yang belum dilirik operator lain karena faktor bisnis."


"Buat jaga-jaga aja sih kak kenapa? Sini ponselmu mama yang masukin,"ucap mami sambil mengambil ponselku.


"Mi ! Hana itu mirip kamu sok kuat,sok tangguh tapi padahal ga ada apa-apanya,"ucap papi sambil tertawa.


"Bawa ini buat jaga-jaga,"ucap papi sambil menyerahkan tongkat kecil dengan panjang 25 cm.


"Ini apa pi?"


"Jangan kencang-kencang,tar mami mu marah dan adik-adikmu minta lagi."


"Jika di tekan yang merah untungnya akan mengalirkan listrik. Jika kakak putar dan tarik bisa jadi pisau dan jika Kaka tekan ini lama bisa menjadi penerangan. Sistem kerjanya sudah tahu jangan lupa di cas,jika ada yang bertanya bilang aja senter."


"Makasih Pi."


"Kenapa kalian berpelukan tidak ngajak mami."


"Sini mami papi peluk," ucap papi.


"Sana-sana kalau mau mesra-mesraan ."


"Ayuk mi tinggal aja,"ucap papi sambil menggandeng mami keluar dari kamarku.


✉️Ardi


Jangan lupa pukul 5 sudah harus di bandara


me


oke


Menara sinyal seluler (Based Tranciever Station/BTS) sudah dipasang ,tugas kami berempat adalah memastikan BTS siap di fungsikan. Kali ini perusahaan kami bekerjasama dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo).


Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), menargetkan, dilakukan pembangunan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) sebanyak 4200 unit di Papua dan Papua Barat. Sehingga, masyarakat di sana dapat menikmati jaringan telekomunikasi yang berkualitas. Aku sendiri bisa bergabung dengan Hana Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI), berkat rekomendasi dosen pembimbingku.


"Hati-hati kak !"


"Oke sudah siap semua tim ,kita langsung pergi."


"Aku kira kamu akan rempong seperti umunya perempuan, kalau mau pergi."


"Haha dia nyamain kamu sama mantannya, kalau mau pergi makeup lama, bawaannya ribet. Dia lupa Hana anak teknik. Yang suka tidak ada kesempatan memikirkan masalah makeup," ucap Wisnu menjawab Ardi.


Ardi penanggung jawa tim kami, sempat menolak keberadaanku di tim nya. Karena di anggap keberadaanku yang masih anak bau kencur belum punya pengalaman, maklum aku baru bergabung 3 bulan lalu. Selain itu dia juga memandangku perempuan yang ribet. Karena itu aku akan buktikan kalau aku beda.


"Setelah sampai di sana kita akan diberikan waktu istirahat satu hari. Baru setelahnya kita akan bekerja , kantor pemerintah yang akan kita cek pertama. Nanti Wisnu sama Willy ."


"Yakin Lo sama Hana , bukannya katamu kamu tidak mau bekerja dengan perempuan ?"


"Siapa bilang! Aku cuma takut Hana buat masalah saja. Apalagi kalau ada apa-apa kan aku yang kena sebagai penanggung jawab," ucap Ardi menjawab pertanyaan Wisnu.


Males meladeni mereka aku menutup telingaku dengan headset.


Puk" Mbak itu tasnya kebuka,"ucap seseorang setelah menepuk punggungku. "Terima kasih," ucapku setelah membetulkan resleting tasku.


"Cantik tapi jutek,"ucap temannya. Sebenarnya aku masih bisa mendengarkan obrolan mereka, karena volume musikku yang sangat kecil.


"Han ko Lo tempat duduknya beda sama kita,?"tanya Wisnu. Wisnu lelaki yang paling ramai, kalau tidak ada Wisnu mungkin tidak ada yang saling bertegur sapa.


"Ga tahu. Luluk yang pesen tiketnya kan , bukan aku."


"Oo pantes. Dia takut Ardi naksir Lo kali," celutuk Wisnu membuat Ardi terbatuk-batuk.


Tanpa menghiraukan ucapan Wisnu aku mencari tempat dudukku , yang ternyata berjarak 2 kursi di belakang mereka. "Eh let kita duduk satu baris sama mbak-mbak tadi," ucap seseorang membuatku melihat kearahnya.


Tunggu sepertinya wajahnya tidak asing, Raihan Elang Akbar. Apa jangan-jangan mas Raihan putra Om Luki dan Tante Sandra. "Kenapa mbak tertarik ya?"


Ucapan temannya membuat ku tersenyum sinis,"Melihat bukan berarti suka. Kalau setiap orang yang melihat anda bilang suka. Berati orang gila yang suka bicara sendiri di jalan juga di kategorikan suka,dong!"


Raihan ketawa ngakak mendengarnya, "Makanya jangan asal ngomong sama orang asing Al,"ucap Raihan.


Bener, mungkin dia tidak mengenaliku yang memakai kacamata hitam dan masker. Mungkin juga sudah lupa maklum sudah 8 tahun. Aku yang 4 tahun lalu melihat fotonya sedikit pangling.


"Bagaimana let kemarin liburan jadi ketemu orang tua pacarnya ?"


"Gak jadi Al orang tuanya lagi dinas ke Jakarta. Maklum orang sibuk."


"Baru jadi camat sudah sok sibuk, bagaimana dengan jabatan yang lebih tinggi."


"Lagian sekarang dia bukan prioritas ku. Sekarang prioritas ku adalah salah Rita , biaya sekolah mahal apalagi kemarin dia keterima di sekolah internasional."


"Wah pasti biaya pendidikan cukup besar. Tapi sesuai hasil ?"


"Ya begitulah. Aku mau mama itu berhenti kerja, tapi mama bandel papa juga sudah angkat tangan membujuk mama."


"Biasanya kerja suruh berhenti susah." Lama-lama obrolan mereka sudah tidak terdengar olehku, yang ketiduran.


Aku spontan bangun saat menyadari kepalaku bersandar pada bahu pria di sampingku, siapa lagi kalau bukan mas Raihan. Allhamdullilah untung dia juga tidur,ucapku dalam hati setelah melihat Raihan dan temannya, yang bernama Ali sesuai nametag di dadanya juga tidur.


Tidak terasa sudah seminggu aku berada di Manokwari. Setelah kemarin sempat bekerja berpindah-pindah dari tower satu ke tower yang lain. Hari ini akan pindah ke Jayapura, dari Jayapura selesai nanti pindah lagi ke Sorong,ke Merauke dan masih banyak lagi kota yang aku kunjungi. Sesuai hobiku traveling, karena itu waktu di tawari kerja lapangan aku langsung semangat.


"Menurut data disini ada 20 tower dan jaraknya lumayan jauh semua. Jika kita bagi 2 tim akan memakan waktu lebih lama,"ucap Ardi. Saat ini kami sedang berada di kantor dinas komunikasi dan informatika.


"Ya udah kalau kamu percaya kita kerja masing-masing. Biar cepat selesai kita bagi 20 tower bagi 4 orang," ucap Wisnu.


"Tapi ada beberapa tower yang letaknya sangat berjauhan dan ada yang berdekatan,"ucap Willy.


"Ya udah kita minta mobil operasional 4, sopir 4, pemanjat 4, keamanan 4. Pembagian tower mananya setelah aku minta Dena lokasi towernya," ucap Ardi sebelum keluar ruangan.


"Enak jadi Hana ya jalan sama kita paling cantik,besok juga paling cantik pasti keamanan,sopir pemanjat cowok juga," ucap Wisnu saat kami menugu Ardi.


"Ngomong sama kalian berdua itu sudah persis ngomong sama patung."


"Ya udah lebih baik kamu diam. Banyak yang harus kita persiapkan dan pelajari biar cepat selesai."


Ucap Willy tanpa menghentikan aktivitasnya mengetik di laptopnya. Hingga Ardi datang bersama kepala dinas dan 4 tentara.