
"Aku tidak menyangka akan ketemu kamu di sini Lo Dira"ucap Bima, yang menemuiku di kediaman Bapak kepala Desa dengan alasan untuk mengecek kondisi lukanya apa sudah kering.
" Takdir kep"ucapku, " Biasa aja kenapa? kayak biasanya ga usah pakai embel-embel kapten segala "ucap Bima.
"Kalau kemarin kan saya belum tahu kalau ada kapten, lagian semua penghuni disini juga memanggilnya begitu" ucapku.
"Spesial buatmu boleh memanggilku apa saja, jangan kan cuma di panggil Bima di panggil sayang juga tidak menolak aku kamu panggil, lagian kamu juga bukan anak buahku ini "kata Bima .
"Ada kapten Bima di sini" ucap Nadia yang baru tiba dan langsung nimbrung di antara kami.
"Iya mau minta tolong Dira untuk melihat lukaku sekalian minta tolong Dira buat mengganti perban "ucap Bima.
"Biar aku aja sini" ucap Nadia yang langsung duduk di antara kami. Dengan pelan aku mundur dan menjauh dari mereka, saat Nadia sibuk membersihkan dan mengganti perban Bima sambil membuat obrolan-obrolan ringan.
"Dasar nggak punya malu ya"Ucap Perawat Dinda .
"Siapa ?" tanyaku, " Ya siapa lagi sih dok datang-dateng langsung nimbrung ga ada sopan santun" ucap Perawat Dinda .
" Tidak apa-apa lagian mereka juga saling mengenal"ucapku.
" Tadi kan denger sendiri sendiri kapten Bima kesini mau minta tolong dokter Dira untuk melihat lukanya sekalian ganti perban' bukan dokter Nadia "ucap Perawat Dinda .
" Tidak apa-apa aku senang kok kerjaan ku diambil alih " Ucapku.
" ketahuan banget kalau lagi cari-cari perhatian kapten dia"ucap Perawat Dinda .
"Udah biarin aja Ayo kita makan dulu" ucapku sambil menggeret Perawat Dinda menjauh dari mereka.
" Ini makanan sehat yang tidak akan kita temui saat kita balik ke kota "kata dokter Eki salah satu dokter relawan.
"Itu para tentara kapan datangnya, perasaan waktu kita sampai di sini seminggu yang lalu mereka belum ada?" perawat Lilis.
"Baru 2 hari "kata Ardi, "kalian ini kalau lihat lelaki berseragam selalu saja pada kepo" ucap dokter Eki.
" Iri bilang bos"ucap perawat Lilis.
"Kenapa aku harus iri dengan mereka?"tanya dokter Eki.
" Karena dokter tidak ada yang melirik sama sekali selama di sini"ucap Perawat Lilis yang disambut gelap tawa dan sorakan oleh yang lainnya.
" Wah kayaknya seru boleh dong gabung," ucap Bima yang baru datang dan langsung duduk di sampingku.
"O tentu boleh pak ayo sini bergabung, kita lagi makan makanan yang tidak ada di kota"ucap dokter Eki.
"Kalian akan disini sampai kapan ?" tanya Bima.
"Sepertinya malam ini malam terakhir karena besok kami akan pindah ke desa sebelah, habis dari desa sebelah selama seminggu baru kita kembali ke kota" ucap dokter Eki penanggung jawa 15 tenaga medis.
"Kalau kapten Bima disini sampai kapan ?"tanya Nadia.
"Saya sih pastinya tidak tahu sampai kapan yang jelas sampai pembangunan jembatan itu selesai, baru kami akan melanjutkan ke desa sebelah juga"ucap Bima.
"Seneng ya bisa berkumpul disini?"tanya Bima.
"Enggak lah kapten disini sinyal susah,saya harap nanti di desa sebelah sinyalnya sudah bagus"ucap Nadia.
"Dasar Lo anak orang kaya, harusnya dengan melihat kondisi warga disini lo itu lebih bersyukur bisa hidup serba berlebihan ,"ucap dokter Eki satu-satunya dokter di sini yang berani menegurnya.
"Aku bersyukur buktinya aku ada disini "ucap Nadia.
"Haha emang kami gak tahu kamu disini karena terpaksa pingin mendapatkan fasilitas mu kembali kan?" ucap dokter Eki.
"Semoga kita bisa bertemu lagi di desa sebelah "ucap Bima.
"Tentu kapten,siapa tau bisa ketemu lagi di Jakarta nanti "ucap perawat Lilis yang di sambut tawa yang lain.
"Gw masuk duluan ya udah ngantuk "ucapku.
"Dokter temenin aku ke toilet dulu dong mau buang air kecil"ucap Perawat Dinda.
"Ayo" ucapku, "boleh bagi kontaknya gak?" tanya Bima yang sudah berdiri di belakangku saat aku menugu Dinda.
"Bikin kaget saja sih aku kira..".
" Ya habisnya tiba-tiba ada suara orang tanpa terdengar langkah kakinya " ucapku kesel yang malah disambut tawa oleh Bima.
"Berapa no ponsel mu?" tanya Bima lagi.
"Aku nggak hafal nomor ponselku sendiri, hehehe " ucapku tak enak hati.
"Terus sekarang ponselmu mana?" tanya Bima.
"Dikamar sejak sampai di sini dan tidak ada sinyal ponsel aku matikan"ucap ku apa adanya.
"Kok tadi tiba-tiba pergi sih ?" tanya Bima.
" Ya nggak enak lah kan sudah ada dokter Nadia" Ucapku.
"Lo ada kapten Bima di sini ,mau ke kamar mandi juga ya itu udah kosong Aku udah selesai kok," ucap Perawat Dinda sambil menarikku menjauh. Aku senang Dinda datang di waktu yang tepat,aku merasa kapten Bima sengaja datang untuk menyusul ku.
"Semua barang dah kamu beresin Din?"tanyaku saat melihat Dinda mulai merebahkan diri disampingku.
"Udah dok,aku ngerasa dokter Nadia suka sama kapten Bima deh lihat sikapnya tadi,"ucapnya.
"Ya udah kita doakan semoga mereka berjodoh "ucapku.
"Apa dokter gak lihat kapten Bima seperti ogah-ogahan dengannya"ucap Dinda.
"Hmmm "jawab ku sambil memejamkan mata pura-pura tidur.
"Eh dokter sudah ngantuk to?" ucapnya saat melihat ku sudah menutup mata. Urusan dengan Kana aja belum selesai, uangnya belum aku balikkan masih membuatku sakit kepala kalau mengingatnya,mana bisa aku mikir orang lain lagi bisa tambah sakit kepalaku nanti.
Semua berjalan lancar menurut Perawat Dinda di sini sinyal lumayan, meski kadang kala lemot tapi lebih baik dari pada desa pertama. Meskipun begitu aku masih tidak menyalakan ponselku,aku ingin benar-benar menenangkan semua hal yang berbau perkotaan.
"Padahal disini sinyal sudah lumayan, tapi aku melihat dokter masih tidak memegang ponsel gak ada keluarga yang perlu di kasih kabar tentang keadaan dokter di sini gitu?" tanya Perawat Dinda .
"Bunda meninggal saat aku kelas 12, tidak ada yang berarti dalam hidup selain bunda buatku" Ucapku.
"Oya dok aku dengar acara terahkir kita besok kali ini diisi dengan berbagai acara salah satunya, santunan kepada warga kurang mampu, tausiyah dan doa bersama di pimpin salah satu Ustadz dari kota"ucap Perawat Dinda .
"Penutupan kegiatan sosial ko diisi dengan kegiatan keagamaan juga, kasihan dong yang beda agama jadi malu untuk berobat ?"tanya perawat Lilis.
"Sebenarnya sih tidak digabung, karena tempat acaranya bersebelahan Jadi terkesan nya digabung"ucap dokter Eki.
"O aku kira digabung dok?" tanya Perawat Dinda .
"Dari yang aku dengar sih masjid An-Nur itu di dirikan oleh orang kota dan setiap ada aca santun begini dia selalu ikut andil. Kebetulan juga acara kita penutupan di adakan di lapangan sepakbola samping masjid jadi terkesan di gabung" jelas dr.Eki.
"Aku kira di jadikan satu acaranya, eh gak taunya itu acara rutin desa ini "ucap Perawat Dinda .
"Jadi besok setelah kegiatan kita selesai kita bisa pindah ke sebelah untuk mengikuti acara di masjid tersebut, tentunya bukan minta sumbangan ya tapi ikut dengerin tausiah biar hati kita adem"ucap dr.Eki.
"Haha haha bisa aja dokter ini"Gela suara kami membuat suasana malam terakhir semakin seru.
"Ok gays hari ini , hari terakhir mari kita berikan pelayanan terbaik kita, karena besok pagi kita akan kembali ke kota"ucap dokter Eki.
"Siap dokter "ucap kami semua sebelum menempati posisi kami masing-masing. Hari terahkir cukup melelahkan bahkan para penonton tausiyah banyak yang ikut memeriksakan diri.
"Kemarin aja kita harus dor to dor untuk memeriksa kesehatan dan menerangkan pentingnya kesehatan lingkungan, sekarang begitu ada tausiyah dan pemberian sumbangan pada berduyun-duyun bahkan di belai sampai pingsan karena kecapaian"ucap Perawat Dinda .
"Karena ekonomi masyarakat membuat mereka lebih mementingkan perut dari pada kesehatan"ucap dokter Eki. Acara berjalan lancar sampai sore.
"Allhamdullilah teman-teman acara kita berjalan dengan lancar dan semoga apa yang kita lakukan mendapatkan pahala dari yang di atas dan bermanfaat bagi semua warga di sini. Sekarang kita siap-siap habis ini kita akan langsung balik ke kota"ucap dokter Eki.
"Dok bukannya pulangnya harusnya besok pagi ya?"Perawat Dinda .
"Iya seharusnya kita pulang besok pagi tetapi kendaraan yang menjemput kita barusan mengasih kabar Kalau kendaraan operasional dari PMI mengalami perbaikan,jadi kita akan pulang menggunakan truk TNI AD yang sebentar lagi datang kesini untuk menurunkan personil
para TMMD Tentara Manunggal Membangun Desa"ucap dokter Eki.
"Ah jadi ga bisa istirahat ", "harus langsung beberes gak bisa santai ". Beberapa suara kelelahan rekan-rekan membuat dokter Eki hanya menarik nafas.
"Ok sekarang kita bubar dan segera bersiap-siap "ucap dokter Eki mengahkiri keluhan mereka.