Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
55.Kisah Jiddah



Sejak hari pertemuanku dengan Kana aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Hari-hariku sibuk terapi buat kesembuhan kakiku, praktek di rumah sakit,membantu Abi di pabrik garmen, belajar tentang ilmu Agama karena agamaku yang masih dibilang sangat-sangat minim.


"Jiddah bahagia di hari tua Jiddah masih bisa bertemu bahkan bisa melihat cucu perempuanku untuk melangsungkan pernikahan "ucap Jiddah sambil menemaniku yang sedang memakai Henna.


"Kamu mungkin tidak suka dengan Jiddah atas apa yang Jiddah lakukan pada Bundamu. Tapi sebagai seorang istri Jiddah di didik untuk selalu patuh pada perintah suami asal tidak melanggar perintah agama.


Nasib Jiddah Hampir sama dengan Bundamu di jadikan istri kedua , Jiddah juga tahu gimana cemburunya melihat suami dengan wanita lain meskipun wanita itu juga istrinya. Jiddah menikah dengan Abah karena perjodohan ,Jiddah tidak tahu suami Jiddah punya istri,setelah sebulan kami menikah baru Jiddah tahu kalau Jiddah dijadikan istri kedua karena istri pertama tidak bisa memiliki keturunan. Banyak yang bilang nasib Jiddah lebih baik tanpa mereka tahu selama menikah Jiddah tidak mendapatkan cinta Abah , cinta Abah hanya untuk istri pertamanya."


Ucap Jiddah sambil menangis, ya Allah kasihan sekali Jiddah ucapku dalam hati.


"Abah bersikap adil dalam segala hal tapi tidak dalam hati, Jiddah cuma bisa berdoa untuk diberikan kesabaran dan keikhlasan jika ini nasib Jiddah dan jika bukan tunjukkan jalanya. Hingga ahkirnya istri pertamanya meninggal saat Abi mu berumur 15 tahun, semua terbongkar kalau istri pertamanya Abah tidak bisa hamil karena pernah melakukan aborsi yang berakibat rusaknya rahimnya. Dari sana perlahan sikap Abah berubah pada Jiddah tapi tidak bertahan lama,Abah dipanggil sama Allah SWT."


"Jiddah hebat bisa bertahan selama itu 15 tahun hidup tanpa cinta, dengan pura-pura bahagia didepan umum " ucapku. "Yang hebat itu Bundamu berani mengambil langkah saat tidak ada keadilan untuknya,berani mengambil resiko. Tidak seperti Jiddah yang menyimpan semua sendiri karena takut membuat kecewa orang tua Jiddah. Karena didikan keras orang tua Jiddah yang selalu menjaga adab bahwa istri harus menuruti suaminya."


"Jadi Jiddah tidak pernah membantah Abah sama sekali ?" tanyaku.


"Tidak jangankan membantah untuk bersuara dengan keras aja Jiddah tidak berani "ucap Jiddah lembut. Ya Allah berat sekali hidup Jiddah ucapku dalam hati.


"Orang tua Jiddah selalu menanamkan Adab seorang istri didepan suami itu harus selalu merasa malu di depan suami,tidak banyak mendebat ketika suami bicara, senantiasa taat atas perintah suami ,diam ketika suami sedang berbicara, menjaga kehormatan suami ketika ia sedang pergi, tidak berkiahanat dalam menjaga harta suami, menjaga badan tetap berbau harum, mulut berbau harum dan berpakaian bersih, menampakkan qana’ah, menampilkan sikap belas kasih, selalu berhias, memuliakan kerabat dan keluarga suami, melihat kenyataan suami dengan keutamaan, menerima hasil kerja suami dengan rasa syukur, menampakkan rasa cinta kepada suami kala berada di dekatnya, menampakkan rasa gembira di kala melihat suami."


" Meski hati kita tidak lagi bahagia Jiddah "ucapku memotong ucapan Jiddah.


"Iya ,itu semua yang Keluarga Jiddah ajarkan sebelum anak perempuan mereka menikah "ucap Jiddah. "Apa Jiddah juga aku mau begitu?"tanyaku.


"Tidak. Jiddah percaya bahwa cucu Jiddah tau apa yang yang itu kewajiban seorang istri kepada suaminya"ucap Jiddah membuatku nyengir.


"Dira saja gak yakin dengan pernikahan ini Jiddah,Dira takut tidak akan bahagia,Dira takut bernasib sama seperti bunda"ucapku lirih.


"Setiap mahkluk punya takdirnya masing-masing,jalani seperti air mengalir. Jalankan saja kewajibanmu sebagai istri dengan baik,maka Allah akan memberikan yang terbaik buatmu."


"Apa kamu tahu kewajiban seorang istri kepada suami?"tanya Jiddah yang aku jawab dengan gelengan kepala.


"Secara garis besar Kewajiban istri terhadap suami adalah mematuhi perintahnya selama tidak melanggar aturan agama dan norma yang berlaku. menjaga harta suami, menghormati keluarga suami, dan berdandan agar terlihat cantik menurut suami.Mengurus dan mengatur rumah tangga dengan baik sesuai dengan fungsinya. Memelihara dan mendidik anak terutama pendidikan agama."


Apa aku bisa melakukan semua ini terhadap suami ku nanti, mengingat dalam memoriku yang kuingat aku dan Kana seringkali cekcok kataku dalam hati.


"Berhias untuk suami. Berhias bagi seorang istri untuk suaminya termasuk perbuatan yang bernilai ibadah dan mendapatkan pahala.Bersikap rida dan syukur pada suami.Menciptakan suasana rumah tangga menyenangkan dan penuh ketenteraman."


"Haha ,kamu bisa menjalankan sesuai dengan kemampuanmu, tidak harus kamu paksakan untuk melakukan semuanya, pelan-pelan jalanin rumah tangga kalian dengan tujuan beribadah karena Allah" ucap Jiddah.


Malam ini aku habiskan malamku bersama Jiddah, untuk pertama kalinya aku tidur dengan Jiddah dalam pelukannya.


"Semalam Abi mendengar obrolan kalian, mungkin yang Abi alami adalah karma,karma Abah yang menyia-nyiakan ketulusan umma. Jujur selama ini Abi tidak tahu apa yang umma rasakan meskipun Abi putra kandungnya,umma selalu tersenyum di hadapan Abi" ucap Abi.


"Jiddah hebat mampu bertahan 15 tahun tanpa cinta dari suaminya. Apa Dira bisa seperti Jiddah,?"


"Putri Abi tidak akan mengalami itu, karena suami Putri sudah Abi tes "ucap Abi sambil tersenyum.


"Di tes memang mau cari kerja "sungutku. "Iya ,ibarat orang kerja mau jadi mantu Abi juga ada prosesnya. Abi tes ilmu agamanya sejauh mana kemampuan dan pemahamannya tentang agama dalam hal ini Arkana sudah lolos. Tahfiz juga Abi tes, sebelum akad nikah ia harus melantunkan surat Ar Rahman ayat 1-78 harus akurat beserta kaidah tajwidnya. Tidak perlu kaya tapi harus pekerja keras ".


"Abi mau mencari menantu apa mencari guru buat pesantren " ucapku yang disambut tawa Abi.


"Dua-duanya siapa tahu menantu Abi bisa mengurus pesantren " ucap Abi. "Kan ada Hafis"kataku.


"Abi tidak mau memaksa masa depan putra dan putri, Abi hanya akan mengarahkannya"ucap Abi membuatku tertawa. "Sama aja itu Abi,itu sama aja memaksa secara halus "ucapku.


"Terus Abi harus gimana ?"tanya Abi. "Beri kebebasan untuk memilih masa depan tanpa iku campur "jawabku.


"Sebagai orang tua Abi wajib menegur atau mengingatkan anak Abi jika salah mengambil langkah, jika Abi diam dan dia salah gimana coba "ucap Abi.


"Bener juga ya,"ucapku lirih. "Kalian ini kenapa berdebat sesuatu hal yang tidak tahu kedepannya. Hafiz aja masih SD masih panjang langkahnya , kenapa kalian yang heboh "ucap Jiddah.


"Maklum umma waktu Dira kecil AA belum ngerasain berantem sama anaknya "sini Om Hardi.


"Ya gimana mau berantem,tau ada Dira aja sudah 15 tahun "ucap Abi ada rasa sesal telah melewatkan masa kecilku.


"Dira minta maaf terlambat memahami perasaan dan ketulusan Abi"ucapku sambil memeluk erat Abi.


"Ini salah Pakde memisahkan kalian, seandainya ".


"Tidak ada kata seandainya. Setiap apa yang telah terjadi adalah takdir. Setiap apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. Jangan pernah berkata seandainya karena itu dapat membuka pintu syaiton.” Ucapan Abi memotong kalimat pakde.


"Ikhlas dalam menerima takdir bisa menjadi jalan dalam meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat."ucap om Hardi.