Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
150. RR. Menemui Randi



"Ayo mbak kita pergi ke pasar terdekat, buat ambil foto mbak. Biar Bu Diva percaya kalau mbak sudah saya lepaskan d pasar!"


Tanpa menjawab aku masuk ke dalam mobil, yang Tegar bawa.


"Apa rencana mu setelah ini?"


"Fokus kuliah sambil kerja part time."


"Kamu kenal Arif di mana ?"


"Kami tetangga kontrakan !"


"Arif kerja di mana ?"


"Di rumah pak Bayu, sebagai satpam !"


"Bisa aku minta no ponsel kalian berdua, siapa tau suatu saat aku butuh bantuan kalian !"


"Tentu mbak dengan senang hati." Ucapnya yang langsung mengambil kertas dan pena yang langsung di berikan padaku.


"Terima kasih, jika setelah ini kalian butuh bantuan apapun hubungi aku saja ini no teleponku. Tapi sementara belum bisa di hubungi, mungkin setelah aku mengurusnya nanti. Kamu bisa menghubungi no yang di bawanya, itu no adikku bernama Randi."


"Baik mbak !"


"Awas aku dengar kalian berbuat kriminal lagi?"


"Hehe. Habis ini aku anterin ke mana mbak? Hari ini aku free bahkan sengaja ijin kuliah pada dosenku !"


"Kalau aku minta di anterin ke Bandung, bisa?"


"Bisa mbak."


Setelah mengambil fotoku di pasar dengan pose berdiri sendiri, dan satu pose duduk di trotoar kaya orang gila. Sungguh aku ingin tertawa melihat fotoku yang persis orang gila.


"Simpan saja fotoku jika kamu ingin minta tolong suamiku, kamu bisa meyakinkannya kalau aku masih hidup dengan foto itu. Tapi jangan pernah bilang kalau kalian yang telah menculik ku, hanya itu pesanku ."


Tegar hanya mengaguk ,kami meneruskan perjalanan sampai ke Bandung sore hari.


"Kamu tidak mau mampir dulu ?"


"Tidak mbak makasih."


"Bener kamu tidak capek ?"


"Tidak apa-apa aku bisa istirahat dan tidur di rest area nanti."


Ucap Tegar sebelum mengucapkan salam kepada ku. Aku sengaja mendatangi apartemen Randi, karena hanya tempat ini yang tidak terjangkau orang banyak.


"Masih sama tidak ada perubahan, dasar orang kaku." Ucapku sambil merebahkan tubuh ke kasur king size, yang berada di dalam kamar Randi. Tentunya setelah selesai menyelesaikan sholat asar. Hingga suara obrolan seseorang membangunkan aku, yang tadi hanya menutup separo pintu kamar Randi.


"Kamu bisa masuk ke dalam kamar."


"Apa tidak ada kamar mandi luar ?" Suara perempuan, sejak kapan Randi bawa perempuan ke apartemen ?


"Tida ada ,di sini hanya ada 2 kamar dan 2 kamar mandi yang terletak di dalam kamar."


"Maaf saya merepotkan ya pak !"


"Buruan sebentar lagi Magrib!"


Aku pura-pura menutup mataku saat ada orang masuk ke dalam kamar Randi.


"Dasar lelaki sombong tukang perintah,aku juga gak mau mampir ke apartemennya jika tidak terpaksa. Aih salahku juga yang tidak ingat, kalau sekarang waktunya periodenya aku."


Aku ingin tertawa mendengar ocehan wanita itu sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Aku berjalan ke luar dari kamar Randi, nampak Randi sedang membuat minuman mungkin teh hangat atau sejenisnya.


"Kalau sudah selesai minum dulu,aku mau berganti pakaian dulu sebelum mengantarkan mu pulang!"


Karena selama 10 menit aku tidak menjawab, ahkirnya Randi menoleh ke belakang. "Apa kamu tidak punya.."


"Mulut untuk menjawab pertanyaan ku? Wah sudah berani bawa wanita yang bukan muhrim pulang ya." Ucapku sambil bertepuk tangan.


"Hana ,bener ini kamu?"


"Pak sudah, terima.." Terjadi keheningan aku hanya melihat kedua expresi mereka. Si wanita persis orang yang ketahuan selingkuh, Randi persis orang melihat hantu.


"Saras kamu bisa melihat wanita di depan ku ini tidak ?"


"Lo bukan setan atau hantu." Kata Randi sambil berjalan ke arah ku, begitu sampai di depan ku langsung mencubit pipiku kencang. Karena kesakitan aku banting saja badan Randi ke lantai yang di lapisi karpet tebal.


"Sakit anjirrr,"umpatnya.


"Memang gw gak sakit ******!" Ucapku sambil mengusap-usap kedua pipiku, yang tadi di cubit Randi.


"Allhamdullilah Ya Allah,Ya tuhan yang Maha Pencipta." Ucap Randi yang langsung memeluk tubuhku, erat.


"Pengap tau,gak bisa nafas gw."


"Gw mau menghubungi mami,papi dan mas Rai biar mereka tahu kalau Lo masih hidup." Ucapnya sambil mengambil ponselnya.


"Stop, jangan ada orang yang tahu kalau gw masih hidup, terutama Raihan !"


"Kenapa apa Lo gak kangen sama Elang ?"


"Kangen lah ,gw ibunya yang hamil dan melahirkannya." Ucapku sambil melirik kearah teman wanita Randi yang kebingungan. "Ngomong-ngomong Lo bawa perempuan bukan muhrim ke apartemen, kalau mami papi tahu kira-kira Lo di suruh ngapain ya ?"


"Raihana jangan macam-macam ya, kamu !"


"Cuma satu macam saja, tidak perlu bermacam-macam. Paling langsung di suruh bawa ke KUA." Ucapku sambil tertawa kecil, sambil melihat perempuan itu yang nampak mulai tidak nyaman.


"Hai, kenalkan aku Hana kakak kembarnya !"


"Saya Saraswati Bu, sekertaris baru pak Randi."


"Sekertaris baru,terus sekertaris lamamu , kemana ?"


"Naik jadi asisten pribadiku, dan sekarang lagi cuti seminggu mau kawin!"


"Lo juga gak mau kawin ?"


"Hana mulutnya ya!"


"Halah kita semua sudah dewasa. Saras bisa minta tolong ga, anggap kamu gak pernah lihat aku. Jika ada yang bertanya siapapun itu Tetang aku ,bilang ga tau !"


"Iya bu!"


"Lalu yang kami kuburkan beberapa hari yang lalu siapa ?"


"Mayat yang telah di beli oleh seorang !" Ucapku sambil melirik kearah Saras.


"Saras kamu tahukan beberapa hari yang lalu ada kabar saudara kembar saya meninggal ?"


"Iya pak!"


"Ini dia yang kami kira meninggal, jadi tolong bantu saya merahasiakannya ya. Saya juga minta maaf tidak bisa mengantarkan kamu pulang !"


"Iya pak tidak apa-apa, saya bisa pulang sendiri dan makasih atas bantuannya."


Setelah mengucapkan salam Saras pergi meninggalkan apartemen Randi.


"Sekarang sudah gak ada orang bagaimana ceritanya kamu bisa ada di sini!"


"Sebentar lagi adzan Maghrib gw mau mandi dan Lo masakin gw makanan yang enak !"


Randi tidak menjawab hanya mengangguk, sebelum kembali berkutat dengan dapur. Setelah mandi dan makan di lanjutkan sholat Maghrib berjamaah ,baru aku menceritakan semua yang menimpaku.


"Bukannya di Jakarta ada Radit dan mami serta papi, kenapa Lo jauh-jauh harus ke sini?"


"Aku takut orang-orang Bayu atau Nadiva, juga mengawasi semua anggota keluarga kita yang ada di Jakarta. Aku juga gak bisa ke rumah Om Haidar atau om hafiz untuk minta tolong. Karena mereka tinggal di lingkungan pesantren, bisa yang di huni banyak orang!"


"Gila Lo kepikiran kesana juga, tapi Lo mau sampai kapan sembunyi?"


"Gw gak tau, gw harus sembunyi minimal sampai anakku lahir. Aku takut membahayakan bayi yang ada di dalam perutku."


"Gw ga nyangka ternyata rumah tanggamu banyak mengalami cobaan. Jika kamu sembunyi terlalu lama kamu tidak takut,mas Rai nikah lagi ?"


"Berati jodoh kami berahkir. Sekarang kamu telpon mami dan papi,aku mau lihat Elang."


"Kamu tidak mau jujur sama mami dan papi ?"


"Aku takut Semaki banyak yang tahu, akan semakin cepat terbongkar keberadaan ku."


"Oke sementara aku ikuti rencana mu, demi keamanan calon keponakan ku!"