
Dari semalam ponsel aku matikan begitu selesai sholat subuh aku aktifkan kembali, langsung banyak notifikasi masuk dari Arya, Om Ridwan,Kana dan tidak satupun yang ku baca.
"Tumben Dok sarapan di klinik biasanya sarapan di rumah?" ucap Suster Mia.
"Dirumah tidak ada stok makanan kalau aku beli dan kubawa pulang lagi bolak-balik dong sus" ucapku sambil terkekeh.
"Oya dok,tadi dokter berangkat jam berapa? Soalnya pas saya mau berangkat ada Mas Kana ya menugu dokter di teras dan bertanya apakah Dokter sudah berangkat," ucapnya.
" Terus kamu jawab apa?" tanyaku."Ya aku jawab nggak tahu lah karena aku memang tidak tahu" ucap Suster Mia.
"Bagus nanti kalau kamu lihat dia di teras menungguku lagi ,bilang aja aku nggak ada habis itu langsung kamu kabari aku"ucapku yang langsung di jawab acungan 2 jempol tangannya.
"Nanti kalau istirahat makan siang aku minta tolong titip beli makanan ya lagi males kemana-mana"ucapku yang langsung di anggukin olehnya.
Sejujurnya aku takut kalau Arya atau Kana masih mencariku, mungkin terkesan pengecut bukan menyelesaikan masalahku aku malah menghindari. Jujur aku gak terima kelakuan Kana semalam tapi untuk protes rasanya sangat malas harus berhadapan dengannya lagi.
"Ko belum siap-siap pulang dok?" tanya Agnes.
"Masih ada perlu dengan dr. Hadi " ucapku.
"Gimana sudah diputuskan?" tanya dokter Hadi saat aku menemuinya.
"Iya dok saya ambil spesialis jantung" ucapku sambil meletakkan amplop coklat yang di berikan beliau kemarin.
"Bagus, sudah kamu pelajari?" tanyanya.
"Sudah dok, setelah lulus dan menyandang gelar sebagai dokter spesialis jantung saya otomatis terikat kerja dengan citra Medika atau Wira hospital. Tetapi saya tidak boleh menempuh pendidikan lebih dari 5 tahun,jadi dalam kurung 4-5 tahun saya harus sudah mengantongi gelar dokter spesialis jantung, kalau saya gagal saya harus mengganti biaya pendidikan" ucap ku.
"Bagus kamu tidak boleh nyerah gunakan ini sebagai motivasi buat mu, bahwa kamu bisa dan mampu usiamu yang masih muda gunakan sebaik mungkin " ucap dokter Hadi.
"Siap Dok terimakasih " ucapku, "siapkan saja semua berkasnya kalau sudah kamu serahkan ke saya "ucapnya.
Lebih cepat lebih baik jadi aku putuskan untuk melengkapi berkas ku malam ini juga biar aku bisa segera menyerahkan kepada dokter Hadi.
Saat aku keluar dari klinik dan pulang aku melihat ada mobil Kana yang terpakir di samping klinik, bahkan beberapa kali aku keluar masuk fotocopy mobil itu masih belum berubah posisi.
"Dira "panggil seseorang dari arah berlawanan saat aku berjalan pulang sehabis dari tempat foto copy.
"Benar kamu Dira putri Abi ,yang Abi cari cari selama ini"ucap Abi lirih,Abi berdiri di depanku jarak kami hanya berkisar satu meter.
"Apa yang anda di inginkan?" tanyaku. "Abi sudah lama mencari-cari kamu dan bunda mu,"ucapnya.
"Kalau Abi mencari bunda susul aja bunda"ketus ku .
"Kalau menyusul Bundamu tidak berdosa pasti sudah Abi lakukan sejak Abi mengetahui kalau Bundamu telah pergi duluan, sayangnya Abi baru mengetahui saat pertemuan kita di acara pernikahan Aryo. Abi sungguh minta maaf atas yang menimpa mu, sekarang ada Abi yang akan menjagamu "ucap Abi.
"Sejak tidak ada bunda aku sudah mulai melatih diriku sendiri untuk hidup tanpa siapapun " ucapku sambil berjalan ke arah mini market.
"Jadi ada tidak ada Abi buat ku tak penting, "ucapku sambil duduk di kursi yang di sediakan di teras mini market.
"Maaf, hanya maaf yang bisa Abi ucapkan" ucapnya.
"Percuma maaf Abi tidak akan menghidupkan kembali bunda "ucapku meletakan kertas foto copy di meja dan masuk ke dalam mini market untuk mencari minuman.
"Abi membaca kertas ku ya " tanyaku sambil melirik kearah Abi dan meletakkan 2 botol air mineral di meja.
"Maaf Abi hanya penasaran,Abi hanya membaca sampul luar tanpa membukanya"ucap Abi sepertinya tidak enak,kami saling diam aku sibuk dengan ponselku Abi sibuk dengan memandangi ku.
" Dira apa boleh Abi tahu penyebabnya bunda Dira meninggal?" tanya Abi.
"Om Ridwan dan bunda ingin menikah tetapi pihak pengadilan agama bilang surat cerai bunda palsu. Sekarang siapa yang aku harus salahkan Abi yang membohongi bunda dengan surat cerai palsu atau om Ridwan yang kala itu memaksa bunda untuk menemui Abi?" tanyaku dengan nafas memburu. Meskipun sudah 8 tahun berlalu, aku masih belum bisa mengontrol emosiku saat membahas mengenai bunda.
"Jawab Abi siapa yang harus aku salahkan," Ucapku lirih sambil mengatur nafasku.
Abi hanya diam memandang ku sendu karena tidak ingin menjadi pusat perhatian, aku segera bangun dan berjalan cepat untuk pulang jangan sampai aku hilang kontrol di depan umum.
Pov. Arkana
Aku mungkin bisa menjadi pemimpin tegas dan galak tetepi aku juga manusia pada umumnya yang kadang juga punya rasa takut saat menyadari telah berbuat salah.
Sejak pulang dinas aku parkiran mobilku di depan klinik tempat Dira bekerja. Sebenarnya tadi pagi aku sudah berusaha menemui Dira, tetapi aku cuma bertemu tetangganya suster Mia.
Aku bisa melihat Dira yang pulang dari klinik dan berjalan menuju tempat tinggalnya yang berada di belakang klinik, tetapi aku tidak mempunyai keberanian untuk menemui secara dan meminta maaf secara langsung. Sudah berjam-jam aku di sini dari sebelum adzan maghrib sampai sekarang lewat waktu isya mobil ku tetap terparkir disini, aku hanya keluar menunaikan kewajiban di mushola terdekat dan mencari makan sambil terus memperhatikan tempat tinggal Dira tanpa berani menyambanginya.
Hingga aku melihat keberadaan Dira yang dipanggil oleh ustad Prabu, dari kejauhan mereka tanpa mengobrol hingga Dira berjalan ke arah teras minimarket aku masih memperhatikan mereka. Sampai di mana aku melihat Dira seperti menahan emosi sebelum meninggalkan ustadz Prabu dengan berjalan cepat. Dengan dihantui rasa penasaran aku berjalan mendekati ustad yang masih duduk di teras minimarket.
"Assalamualaikum, Ustadz ada disini ?" tanyaku basa-basi.
"Iya habis menemui seseorang " Jawa beliau.
"Ustadz ada hubungan apa dengan Dira?" tanyaku to the points. "Kamu melihat kami berbincang ?" tanyanya balik padaku.
"Iya ustadz "jawabku sambil menganggukkan kepalaku. "Panggil saya pak Prabu saja karena saya merasa tak pantas dengan panggilan itu "ucap beliau.
"Saya melihat Dira pergi dengan menahan amarah, tetapi saya juga tidak berani mendekatinya mengingat apa yang telah saya lakukan semalam ,"ucapku kulihat beliau mengangguk kepalanya.
"Hubungan saya dengan Dira sangat dekat, tetapi saya tidak punya hak untuk menyampaikan kepada siapapun tanpa seijin Dira, saya tidak mau Dira marah dan meninggalkan saya"ucap beliau, membuatku menjadi penasaran Siapa Dira sebenarnya.
"Mengapa anda tidak punya hak bukannya kata Anda, Anda punya hubungan dekat dengannya?"tanyaku.
"Saya takut salah menyebut status saya di mata Dira dan akan membuat dia semakin membenci saya" ucap beliau membuatku jadi tambah penasaran. Apa Dira istri beliau, apa karena menikah siri makanya statusnya belum berubah di KTP,ahhh tidak mungkin seperti itu kataku dalam hati.
"Kalau boleh tau nak Kana kenal Dira dimana?" tanya pak Prabu.
"Di klub malam saat saya mengadakan Razia disana saya pertama bertemu dengannya"ucapku, membuat beliau beristighfar berulang-ulang 'Apa jangan-jangan salah paham lagi' kataku dalam hati.
"Bukan Dira tidak seperti yang Anda bayangkan,dia tidak sama dengan Rahayu "Ucapku, sebelum ahkirnya mengalirlah ceritaku tentang pertemuan kami di club dan kelakuan Nadira temanya hingga membuat kesalah pahaman.
" Saya jamin dia tidak seperti Rahayu , karena saat datang ke club malam dia membawa air minum dari rumah untuk minuman di sana. Sejak saat itu kami sering ketemu" Ucapku, entah magis atau kenyamanan berbicara aku juga tidak tahu yang jelas aku bercerita tentang semua yang ku ketahui tentang Dira dan duga-dugaanku juga .
" Jika nak Kana menyukainya dan merasa cocok kejar dan luluhkan dia, beri dia kebagian yang tidak pernah didapatkan dari keluarga terdekat nya"ucap pak Prabu berjalan meninggalkan aku.
Sebenarnya aku penasaran tentang hubungan mereka, tetapi karena sikon yang tidak memungkinkan lagi bercerita kami ahkirnya mengahkiri obrolan kami .