
"Kamu sengaja melakukannya kan," teriakku marah pada Raihan. Setelah 2 hari yang lalu Raihan mengijinkan aku untuk ikut mami berobat ke luar negri. Sekarang di saat Randi lagi mengurus segala keperluan ku dan mami yang akan berangkat seminggu lagi, dengan mudahnya Raihan bilang akan pergi ke Papua. Otomatis aku tidak bisa meninggalkan anak-anak,dan sebagai istrinya aku juga tidak bisa meninggalkan rumah.
"Maaf ini bukan suatu kesengajaan, ini semua tugas mendadak di luar rencana. Seharusnya Mayor Hanif yang pergi memimpin pasukan, tapi karena dia mengalami kecelakaan jadi mas yang harus menggantikannya." Jelas Raihan dengan memeluk Hana dari belakang.
"Kamu bisa menyuruh anak buahmu yang lain, kenapa harus kamu ?"
"Dengerkan mas." Ucap Raihan sambil memegang kedua pipi Hana. " Mas pergi tidak lama, setelah operasi kali ini berhasil mas langsung pulang. Doakan misi mas cepat selesai dan langsung pulang."
"Aku harus bilang Randi mundur berapa Minggu ?" Tanyaku sewot, jujur ini bukan pertama Raihan pamit pergi. Tapi entah mengapa kepergian kali ini aku punya firasat yang tidak baik.
"Mas gak tahu ,targetnya kami operasi selesai dalam waktu satu Minggu."
"Kapan berangkat ?"
"Besok malam,"ucap Raihan lirih.
"Kamu keterlaluan, sekarang bilang besok malam sudah mau berangkat."
"Hai jangan begini kita menikah sudah 12 tahun lebih, kamu tahu ini resiko pekerjaan ku."
"Seharusnya aku mengijinkan mu dulu untuk mengajukan permohonan pensiun dini."
"Haha kamu yang bilang aku tidak boleh pensiun dini, karena anak-anak kita bangga dengan papanya?"
"Anak-anak suka membanggakan mu di depan teman-temannya."
"Aku berharap anak-anak akan bangga dengan papanya, selamanya."
"Hati-hati cepat pulang."
"Apa pun yang terjadi aku akan pulang secepatnya." Sejak Diva menghilang hampir setahun, baru kali ini kami harus menjalani LDR kembali.
"Nanti malam papa berangkat ke Papua. Jaga mama kalian, Satria kamu menjadi lelaki satu-satunya di rumah harus bisa menjaga adik dan mamamu!" Ucap Raihan saat kami sarapan bersama.
"Iya pa."
Buat anak-anak Raihan pergi mendadak bukan hal yang aneh, jadi kalau Raihan pamit seperti ini anak-anak menanggapinya secara biasa juga.
"Berati saat papa ulang tahun papa lagi di Papua dong,?" tanya Dila.
"Papa malah lupa kalau beberapa hari lagi papa ulang tahun ?" Aku hanya mencibir mendengar ucapan Raihan, "Bagaimana kalau kita rayakan sebelum papa berangkat ?"
"Caranya,?" tanya Dila.
"Kita makan malam bersama dan berdoa bersama, dimana pun berada semoga Diva kita selalu dalam keadaan sehat."
"Nanti hari Minggu kita pergi ke pantai asuhan dekat sini, kita berbagi rezeki sekalian berdoa untuk keselamatan dan kesehatan papa dan Diva di mana pun berada."
"Siap mama,"jawab Dila dan Satria.
"Hari ini papa yang antar kalian ke sekolah !"
"Siap Komandan !"
Setelah Raihan dan anak-anaknya pergi, Hana akan selalu di temani Wati istri dari Praka Wahyu dan Prada Sari seorang Kowad (wanita angkatan darat/ tentara wanita ).
Raihan menghentikan motornya di depan sekolah anak-anak.
"Sekolah yang rajin kalian anak-anak kebanggaan papa. Jika papa tidak ada kalian harus saling menjaga dan melindungi. Jangan berantem dengan saudara sendiri, ngerti."
"Ngerti papa!"
"Sana masuk ke dalam sekolah !" Ucap Raihan setelah anak-anak, mencium punggung tangannya.
Sesuai rencana pada malam hari kami sekeluarga makan malam bersama dan doa bersama. Baru setelah sholat isya Raihan siap-siap berangkat ke Batalyon. Karena letaknya yang dekat kami memutuskan jalan bersama ke batalyon.
"Berapa orang yang berangkat dalam misi kali ini mas ?"
"Cuma 1 regu."
"Siapa saja yang berangkat ?"
"4 Penebak ,1 dokter,2 ahli IT,2 penjinak bom, 2 penjinak hewan buas dan 2 ahli strategi militer."
"Semua yang berangkat punya kemampuan khusus ya mas. Pasti misinya berat?"
"Semua misi berat, karena terdapat tanggung jawab yang harus kita emban." Ucap Raihan bertepatan dengan perjalanan kami di depan batalyon. Raihan mencium anak-anaknya dan memeluknya, sebelum mencium dan memeluk Hana yang terakhir.
"Kami tunggu papa pulang."
Malam itu terahkir anak-anak melihat Raihan, paginya saat sarapan Raihan masih menghubungin kami, dan bilang akan masuk hutan mungkin sudah mulai jarang menghubungi kami. Hari ini adalah ulang tahun Raihan sesuai rencana Hana dan anak-anak Pergi ke pantai asuhan.
"Terima kasih Bu Hana atas bantuannya kepada kami. Hanya Allah SWT yang bisa membalas kebaikan kalian."
"Ayo kita pulang ma,"ucap Dila.
Hana Berjalan dengan di bantu kedua anaknya sebagai penunjuk jalan. Sesampainya di rumah sudah ada Radit dan Narita bersama anak mereka.
"Kok gak bilang mau kesini sih,"ucapku
"Mendadak, sekarang kamu ikut aku ke Surabaya ada donor mata buatmu."
"Aku harus jaga anak-anak,"tolakku.
"Ada Narita yang akan menjaganya, aku sengaja mengajak Narita untuk menjaga anak-anak."
"Anak-anak bagaimana, tidak apa-apa mama tinggal ?"
"Tidak apa-apa ma,tenang saja."
"Ada aku mbak gak perlu kuatir."
"Kenapa suaramu serak lagi flu ya?"
"Iya mbak."
"Ayo Hana semua sudah di siapkan di sana."
"Siapa yang bersedia mendonorkan matanya buatku? Apa yang di bilang papi tempo hari, seorang penderita kanker darah stadium 4 ?"
"Aku tidak tahu,aku hanya di minta menjemput mu."Ucap Radit sambil membantuku berjalan masuk ke dalam mobil.
Sebenarnya aku merasa aneh, kenapa terkesan ada yang di rahasiakan dari ku. Selama perjalanan Radit juga hanya diam, tanpa suara tidak seperti biasanya.
"Apa ada yang kalian rahasiakan ?"
"Tidak ada ."
"Kenapa kamu jadi pendiam ?"
"Aku diam dan tidak menyalakan musik biar kamu bis istirahat selama perjalanan."
"Ya udah deh aku tidur saja."
Aku tak menyangka akan mendapatkan pendonor. Setelah melakukan serangkaian prosedur ahkirnya aku bisa melihat dunia lagi.
"Bagaimana sayang bisa lihat mami?"
"Allhamdullilah bisa ma. Aku ingin bertemu dengan keluarga pendonor ma. Aku ingin mengucapkan maaf telah mengambil mata keluarga mereka."
"Kamu tidak rindu anak-anak,?" tanya mami.
"Tentu mi, tapi aku juga mau ketemu keluarga mereka !"
"Kita pulang dulu ya,"ucap papi.
"Pasti Raihan sudah pulang, sebenarnya aku sangat rindu dengan anak-anak."
Seperti halnya waktu berangkat, waktu pulang aku juga merasa aneh. Selama perjalanan mami dan papi juga hanya diam, jika aku bertanya mereka akan menjawab seperlunya. Saat adzan isya baru kami sampai di rumah, tetapi papi tidak langsung membawaku pulang. Kamu berhenti untuk makan malam dan sholat isya, aku sempat protes karena dari tempat kami melakukan sholat isya hanya 15 menit dari rumahku.
"Ko tumben gerbang di buka lebar,ada acara apa ya mi ?" Tanyaku sambil turun dari mobil.
"Ayo kita masuk dulu,"ucap papi.
"Ada apa ini mi pi,ko ada tahlilan siapa yang meninggal mi ?" Tanyaku menolak masuk ke dalam rumah.
"Kita masuk dulu ya!"
"Aku tidak mau masuk mami dan papi harus bilang siapa yang di kirim doa tahlil ?"
Nampak Dila putriku dan Satria putraku keluar, dengan mata merah dan langsung berlari memeluk ku.
"Di mana papa, papa sudah pulang kan?" Anak-anak tidak menjawab hanya menangis sambil memelukku. Aku berjalan mendekati mama dan papa yang juga ada disini, membuatku semakin paham apa yang terjadi.
"Siapa yang meninggal ma?" Tanyaku untuk memastikan rasa penasaranku.
"Bohong kan ma?" Tanyaku sambil mengguncang bahu mama, mama hanya menangis dan mengagugkan kepalanya.
"Kenapa kalian tidak bilang, kenapa kalian tega membohongiku. Katakan yang sejujurnya !" Teriaku membuat para tentara yang sedang membaca tahlil berhenti. Aku langsung masuk berlari ke dalam rumah,aku mencari Raihan di setiap kamar di rumahku. Hingga aku merasakan dekapan papa memelukku erat.
"Sabar ya sayang Raihan telah tenang di alamnya. Raihan tertembak di dadanya, dan nyawanya tidak bisa di selamatkan saat sedang dalam perjalanan ke rumah sakit."
"Bohong,apa ini juga mata Raihan ?" Papa hanya mengagukan kepalanya, sebelum pandangan ku menjadi gelap.