Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
141. RR. Keinginan Mami



"Kita tidak bisa menuntut tersangkanya mi."


Sayup-sayup terdengar suara Radit, sepertinya sedang ngobrol dengan mami. Apa yang terjadi kenapa bau obat-obatan ?


"Tapi gara-gara perempuan gila itu anakku terancam bahaya. Kamu juga Raihan jangan membuat seorang wanita salah paham denganmu, hingga nekad untuk memiliki mu!"


"Maaf mi."


"Jika terulang lagi aku pisahkan kalian berdua !"


"Mami gak boleh ngomong begitu! Kalian semua keluar dulu!"


Sekarang aku ingat, pasti sekarang aku berasa di rumah sakit. Allhamdullilah aku masih hidup.


Dengan perlahan aku membuka mataku nampak papi lagi menenangkan mami yang menangis.


"Sudah lah mi, yang terpenting Hana sudah tidak apa-apa. Dokter juga sudah bilang dia sudah melewati masa kritisnya."


"Mami belum tenang kalau Hana belum sadar,Pi. Kenapa sih para wanita bisa nekad begitu padahal di dunia ini banyak lelaki single?"


"Mi jumlah lelaki kan lebih sedikit dari pada perempuan,"ucap suara papi.


"Tapi tidak dengan nekad membayangkan nyawa orang lain juga. Kenapa sih harus berurusan dengan wanita-wanita psikopat gak kamu,gak Raihan ?"


"Mi ini takdir istiqfar jangan marah-marah mulu ya. Lagian Hana tidak separah kita dulu, pasti sebentar lagi juga sadar."


"Ini sudah 3 hari Pi."


"Mami seorang dokter ya harusnya lebih paham dong. Bahkan mami dulu sebulan lebih Lo."


"Oo kamu menyumpahi anakku koma sampai sebulan lebih gitu?"


"Aduh salah ngomong aku. Bukan begitu mi, Hana itu juga putriku tidak mungkin aku mendoakan yang tidak baik."


"Sudah kamu lebih baik keluar sana, bikin emosi aja!"


"Mi mami!" Panggilku setelah terdengar pintu terbuka dan tertutup, yang aku yakin itu papi sedang keluar ruangan.


"Alhamdulillah ya Allah ahkirnya kamu sadar. Apa yang kamu rasakan ini angka berapa ?"


"5."


"Ini ?"


"2."


"Coba gerakan kaki kirimu?"


Aku yang bingung hanya mengikuti saran mami.


"Sekarang kali kanan angkat ?"


"Sekarang kedua kaki angkat. Alhamdulillah putriku sehat. Jangan gerak dulu aku harus memastikan keadaan mu dulu!"


Aku hanya pasrah dengan tingkah mami.


"Sudah. Mami juga pernah mengalami apa yang kualami dulu ya?"


"Kamu menguping ya tadi ?"


"Sedikit mi,gak sengaja. Pada saat sadar aku dengar papi menyuruh orang keluar, terus mami berdebat dengan papi."


"Tidak sama sih, ceritanya panjang kaya sinetron. Kapan-kapan saja ceritanya, tidak sekarang ya?"


"Ga papa sekarang aja mi."


"Memang kamu tidak kangen dengan Elang anakmu. Apa jangan-jangan kamu amnesia ?"


"Yang kena tusuk perutku mi, bukan kepala ku yang terbentur! Lagian kalau aku kangen Elang pasti Anakku tidak ada di sini, pasti di rumah tidak di rumah sakit !"


"Ya memang benar Elang di rumah, di rumah sakit kan banyak penyakit. Nanti cucuku terkena penyakit."


Cekle "Ya Allah Hana sudah sadar. Pi, mas Rai Hana sudah sadar ni!" Seru Randi berteriak diantara pintu. Dalam hitungan detik segerombolan orang masuk ke ruangan ku.


"Sayang kamu sudah sadar,?" tanya Raihan langsung menghampiriku.


"Mami ko gak bilang kalau Hana sudah sadar, ?" tanya papi.


"Mami ga tau apa kami juga cemas menunggu di luar,?" ucap Radit.


"Kalian ini kaya mami tersangka aja! Tersangkanya yang perlu kalian interogasi bukan mami!"


"Iya-iya maaf nanti papi yang interogasi tersangkanya."


"Jangan hanya di interogasi tapi ceploskan ke penjara juga !"


"Susah mi , pihak keluarga sudah mengatakan dia itu sedikit depresiasi."


"Pasti depresi juga pura-pura,"ucap mami menanggapi ucapan Radit.


"Udah mami gak perlu di bahas oke!"


"Mami itu lagi marah sama papi gara-gara tidak di ijinkan jadi relawan." Ucap Randi yang dari tadi hanya diam.


"Haha ngambek mi," ledek Radit.


"Keluarga mu lucu ya," bisik Raihan yang dari tadi mencium punggung tangan ku.


"Begitulah mami jika keinginannya tidak terkabul, dia akan cari masalah dengan siapa saja."


Raihan hanya manggut-manggut sebelum bersuara, "Mami mau jadi relawan kemana memang?"


"Ke Daerah terpencil di Sulawesi yang sedang terkena kekurangan gizi. Disana mami cuma menyalurkan bantuan, memeriksa kondisi anak-anak di sana."


"Ayo mi kita pulang lihat keadaan Elang,biar Hana istirahat. Ga ada habisnya kalau bahas keinginan mami." Ucap papi sambil merangkul pinggang mami, tidak lupa mengucapkan salam sebelum meninggalkan ruang perawatan ku.


"Aku sebenarnya mau menuntutnya tapi percuma wanita itu dinyatakan memiliki gangguan jiwa, jadi aku tidak bisa apa-apa."


"Sudahlah anggap aja ini musibah yang gak dapat kita hindari,"ucapku menenangkan Radit.


"Kami balik duluan, masih ada kerjaan di kantor. Wassalamualaikum ."


Setelah kepergian Radit dan Randi menyisihkan aku dan Raihan.


"Kenapa melihat kearah ku terus sih mas?"


"Mas senang bisa melihat senyum mu lagi. Saat melihat mu tak sadarkan diri dengan banyak darah, rasanya saat itu mas di paksa untuk tidak bernafas."


"Lebay kamu mas, buktinya mas masih nafas sampai sekarang."


"Kamu ini ya."


"Berati mas menerima panggilan ku saat itu ?"


"Iya, tadinya mas kira ponselmu cuma ke pencet. Tapi setelah mendengarkan obrolan kamu dan Oliv, mas langsung pulang. Seperti berlomba dengan bom waktu,mas terlambat maka BOOM."


"Ahkirnya mas yang menangkan , buktinya bomnya tidak jadi meledak."


"Siapa bilang kalau bom tidak meledak, bomnya meledak hingga kamu terluka. Kamu terluka gara-gara mas terlambat menolong mu."


"Mas udah ya,aku udah selamat. Jangan menyalahkan diri sendiri lagi ya. Elang di mana mas?"


"Di rumah mami."


"Kata mami aku sempat ga sadar 3 hari apa lukaku parah ?"


"Kamu kehilangan banyak darah dan harus di operasi ,karena pisau melukai ususmu. Yang lebih membuat mas seperti tidak berguna adalah kamu kekurangan banyak darah. Sedangkan yang darahnya sama hanya papi yang ada, sedangkan om Arya dan om Aryo tidak ada di tempat."


"Terus yang menyumbangkan darah padaku siapa ?"


"Faizal, "ucapnya lirih sambil cemberut.


"Ga usah cemburu dia hanya menyumbangkan darah, tidak seperti kamu yang menyumbang ****** hingga menjadi sosok Elang!"


"Kamu ya mulutnya, sepertinya minta di cium ni."


"Gak ya,"ucapku sambil menutup mulutku.


Tok tok "Siapa mas?"


"Mana mas tahu , coba mas buka dulu." Ucap Raihan sambil berjalan membuka pintu ruang perawatanku.


Siapa tamunya kenapa Raihan sepertinya terkejut.


"Boleh saya masuk ?"


"Silahkan," ucap Raihan sambil berjalan masuk.


Elang Samudra.


"Ada apa anda kesini, jika ini menyangkut putri anda. Masalahnya sudah selesai, putri anda juga sudah minta maaf kepada istri saya."


"Siapa kamu tidak mungkin kamu anak Luki? Kamu lahir 2 bulan setelah pernikahan Luki?"


Sepertinya orang kepercayaan tidak bisa mengakses data pribadi Raihan, makanya dia langsung datang ke sini.


"Bukannya anda sudah menyuruh orang untuk mencari data pribadi suami saya?"


"Aku tahu pasti kamu yang mengunci aksesnya kan ?"


"Saya hanya menjaga privasi keamanan suami saya, apa itu salah ?"


"Tidak, justru itu membuat saya semakin curiga. Tidak mungkin seorang perwira tentara biasa, datangnya di sembunyikan. Tapi setelah mengetahui siapa kamu, saya rasa tidak ada cara lain selain bertanya langsung kepada yang bersangkutan."


"Silahkan bertanya? Apa yang ingin anda tanyakan,?" ucap Raihan tenang.


"Apa benar kamu anak Lucy Rahmawati?"


To the poin, tanpa basa-basi.


"Sesuai akte yang tertera nama saya Raihan Elang Akbar, anak dari Luki Alamsyah dan Sandra Utami."