
Waktu berlalu begitu cepat segala upaya telah di lakukan, untuk mencari Diva. Tapi seolah Diva di sembunyikan, hingga tidak dapat di ketemukan.
Nadiva dan Boby diserahkan kepada keluarga besar Boby, biar keluarga mereka yang memberikan sangsi. Mengingat Nadiva juga masih Keluarga besar Boby.
"Assalamualaikum bidadari surga mas!"
"Walaikumsalam,mas."
"Bagaimana kondisi mu hari ini,?" tanya Rai yang baru pulang kerja.
"Allhamdullilah, seperti biasa." Ucap Hana yang mulai belajar menerima kenyataan kalau kornea matanya tidak dapat di sembuhkan.
"Ayo masuk, angin malam tidak baik buat kesehatan mu!" Raihan berjalan merangkul Hana masuk ke dalam rumah.
"Anak-anak sudah tidur!"
"Sepertinya belum. Tadi mereka lagi belajar makanya mama keluar biar tidak menggagu mereka yang mengerjakan PR." Ucap Hana membuat Raihan memandang sendu Hana , Raihan sadar Hana merasa tidak berguna. Dulu setiap anak-anak belajar Hana Yang akan menemani anak-anaknya. Tapi kini Hana tidak dapat melihat, bagaimana Hana bisa membantu anak-anak mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
"Assalamualaikum papa pulang !"
"Walaikumsalam."
Begitu Raihan duduk, Dila langsung mencium punggung tangan papanya begitu juga Satria. Jika Satria langsung mengambil tas papanya dan menyimpan ke kamar kedua orang tuanya. Dila langsung ke dapur untuk membuat air minum buat papanya.
"Terima kasih sayang." Ucap Raihan setelah menerima teh hangat buatan Dila.
"Maafkan mama ya, membuat mu harus mengerjakan tugas mama!" Ucap Hana membuat Dila langsung memeluk mamanya.
"Dila senang melakukannya ma,mama jangan bilang begitu."
"Satria juga senang membantu mama,kok."
"Terimakasih anak-anak, kesayangan mama."
Sudah hampir 1 tahun berlalu tidak ada kabar tentang keberadaan Diva. Hana dan Raihan hanya bisa saling menguatkan.
"Lebih baik papa bersih-bersih dulu, seharian aktifitas diluar pasti badannya lengket karena keringat !"
"Baik sayang,"jawab Raihan sambil berdiri, tidak lupa mencium kening Hana sebelum pergi.
"Ada yang ingin mama sampaikan,?" tanya Raihan menghampiri Hana yang masih duduk di ruang keluarga.
"Kok papa tahu,ada yang ingin mama sampaikan ?"
"Kita kan sehati ma." Jawab Raihan. Raihan sendiri merasakan ada yang aneh saat Hana menunggunya di teras rumah, seorang diri. Nampak Hana yang sedang banyak pikiran, karena itu Raihan berinisiatif untuk bertanya secara langsung.
"Kesehatan mami sedang terganggu, mami memintaku untuk pulang ke Jakarta."
"Kalau mama mau menjenguk mami, papa ijinkan mau papa antar."
"Tidak perlu, mami akan menyuruh Randi atau Radit untuk menjemput aku ke sini."
"Lalu,?" tanya Raihan sambil memegang tangan Hana .
"Papi memberitahu ada donor mata, buat aku. Yang bersangkutan menderita kanker darah stadium 4 sudah 2 tahun. Papi meminta mama untuk mau menerima donor mata, jika keadaan orang tersebut sudah tidak mampu bertahan."
"Allhamdullilah,"ucapan Raihan dan anak-anak secara bersamaan.
"Tapi aku merasa berdosa, aku tidak sanggup menerimanya."
"Kenapa ma,?" tanya Satria yang sudah mulai mengerti keadaan orang tuanya.
"Mama seperti mengharapkan kematian seseorang, mama tidak mau melakukan itu. Pasti itu menyakitkan buat keluarga yang di tinggalkannya."
"Mama tidak boleh ngomong begitu, si pendonor pastinya sudah memantapkan dirinya,sebelum menyetujui melakukan donor kornea mata."
"Mama tidak bisa membayangkan keluarga yang di tinggalkan nya, pa." Ucap mama sambil menangis.
"Aku tidak mau itu terjadi papa. Karena itu mama memutuskan saran mami, untuk ikut mami ke luar negeri. Selain menemani mami berobat, di sana kita bisa mencari donor kornea mata."apa
"Kenapa harus ke luar negeri ma,?" tanya Dila.
"Karena di negara kita masih susah untuk mendapatkan donor mata, tidak seperti di luar negri sayang." Jelas Hana dengan mengusap kepala Dila.
"Jika itu yang terbaik buat mama, Satria tidak apa-apa ditinggal asal mama cepat sembuh."
"Terima kasih sayang."
"Dila juga ga apa-apa demi kesembuhan mata mama."
"Terima kasih sayang. Mama boleh minta tolong, selama mama pergi yang nurut sama papa. Bantu papa mengurus rumah, Dila dan Satria harus saling menjaga dan membantu."
"Iya ma,"ucap Dila dan Satria. Raihan tidak bicara apa-apa langsung berdiri dan masuk kamar mereka.
"Satria, Dila sudah malam masuk kamar ya. Biar besok saat pagi bangun dalam keadaan segar dan bugar !"
"Iya mama." Setelah mendengar pintu kamar anak-anak tertutup, Hana mulai berjalan masuk ke dalam kamar. Hidup dalam keadaan buta selama hampir tahun membuat Hana , mulai terbiasa dan hafal letak rumah mereka tanpa melihat.
"Mas dimana ?" Tanya Hana setelah masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
"Mas di sini,"ucap Raihan membuat Hana langsung berjalan mendekat. Allah telah mengambil penglihatannya,tapi Allah SWT mengganti dengan pendengaran Hana yang sangat baik.
Hana naik kasur dan meraba kasur untuk mencari posisi Raihan. Setelah menemukan Raihan yang sedang duduk dan bersandar di kepala ranjang, membuat Hana langsung duduk di pangkuannya Raihan.
Perbuatan Hana membuat Raihan sedikit kaget,tapi Raihan berusaha tetap diam.
"Aku tahu mas marah, karena aku tidak berdiskusi dulu dengan mas. Tapi aku melakukannya juga demi kamu Lo, aku juga pingin pergi mendampingi kemanapun kamu pergi." Ucap Hana sambil membuat pola abstrak di dada Raihan.
"Kamu sedang merayu mas?"
"Anggap saja begitu,"ucap Hana diahkiri dengan ciuman dan kecupan Hana di bibir Raihan.
"Kalau begitu coba rayu mas, mas ingin tahu bagaimana cara istri mas merayu mas!"
"Aku memang tidak bisa melihat mas,tapi kalau cuma merayu mu itu mudah." Ucap Hana dengan tangan mulai masuk ke dalam kaos yang di pakai Raihan.
"Oya buktikan dong! Jangan hanya ngomong doang."
"Wah jangan meremehkan wanita buta ini." Ucap Hana yang di hentikan Raihan dengan ciuman kasar, yang penuh tuntutan.
Sampai Hana memukul dada Raihan karena kehabisan nafas, baru Raihan menghentikan aksinya. "Aku tidak suka kamu bilang kalimat itu!"
"Kalimat yang mana ?" Tanya Hana pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Raihan.
"Jangan paksa mas berbuat terlalu jauh,mas yakin kamu paham kemana arah pembicaraan mas!"
"Yang mas gak suka itu, suatu kebenaran. Semua orang juga tahu kalau aku tidak bisa melihat alias bu." Ucap Hana terhenti lagi-lagi karena ciuman kasar Raihan. Mungkin Hana sudah mulai belajar ikhlas, tapi tidak dengan Raihan. Hatinya sakit saat mengingat penyebab apa yang menimpa Hana adalah dirinya, apa lagi kalau mengingat kenyataan Diva yang masih belum ketemu.
"Jangan katakan itu,"ucap Raihan sambil menarik Hana kedalam pelukannya, setelah ciuman panas mereka.
"Karena itu ijinkan aku ikut mami untuk menjalani pengobatan, supaya bisa melihat. Aku tidak akan malu jika berjalan di samping mu, jika aku sudah bisa melihat."
"Iya mas ijinkan,kita akan urus semua keperluan mu ." Ucap Raihan membuat Hana langsung melihat kearah suaminya.
"Terima kasih, aku titip jaga anak-anak dengan baik."
"Tentu aku akan menjaga anak-anak kita, tapi dengan syarat kamu harus cepat pulang dan berkumpul dengan kita semua."
"Doakan aku segera pulang dengan kondisi lebih baik."Ucap Hana di ahkiri dengan ciuman yang Hana mulai dengan penuh kelembutan dan perasaan. Ciuman yang menunjukkan rasa sayang dan cinta tanpa nafsu yang menggebu.
Sebagai manusia biasa Hana tahu dia harus berusaha, tidak mungkin dia akan hidup dengan kebutaan selamanya. Hana Harus bangkit untuk mencari putrinya,Hana mau menerima saran mami karena Hana tidak mau Diva sedih melihatnya.