Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
161. Lesbian



Dimana ini kenapa badanku susah bergerak, siapa yang mengikat ku? Iya bukannya aku harusnya di rumah sakit,ya? Tapi kenapa sekarang ada di tempat aneh ini?


Saat aku masih Bingung dengan apa yang terjadi nampaknya pintu terbuka. Aku mengintip siapa yang menculikku, dengan pura-pura tidur dan mengintipnya sedikit.


Nadiva jadi dia sudah bebas, apa semunya ini rencananya.


"Ambil air siram dia!"


Byur "Ah, gila kalian !!"


"Mama!! Jangan siram mamaku!" Suara Diva,Ya Allah Diva putriku. Diva lansung berlari dan memeluk mamanya.


"Sudah sadar, bisa lihat kan sekarang?"


"Nadiva?"


"Iya aku Nadiva, Tantri bawa bocah itu keluar !"


"Iya mbak," ucapnya yang langsung menggendong Diva dan di bawa keluar.


"Aku masih punya hati nurani untuk tidak menyiksa mu di depan anakmu." Ucap bertepatan dengan Jenderal Boby yang masuk.


"Kenapa Om kesini?"


"Rumah lama Om baru di datangi Raihan, apa sebaiknya kita pindah tempat!"


"Tidak usah,apa Om takut mereka menemukan kita di sini?"


"Kamu tahu sendiri sebagai purnawirawan nama baik Om taruhannya, kalau sampai awak media tahu."


Nadiva berjalan ke arah Boby dan langsung duduk di pangkuannya Boby, sambil berhadapan. Sungguh mereka menjijikan mereka cocok untuk menjadi ayah dan anak.


"Om tenang Raihan,papaku dan papa Hana tidak akan membiarkan wartawan dan polisi tahu."


"Kamu yakin ?"


"Aku yakin. Hana memiliki saham yang lumayan besar di perusahaan garmen adiknya. Anak-anaknya juga punya saham besar di Samudera grup atas nama Hana. Jika sampai wartawan tahu tidak hanya saham yang bergoyang, tetapi keberadaan wartawan yang mencari berita di depan rumahnya itu bisa berakibat fatal."


"Maksudnya ?"


"Kalau sampai banyak wartawan di rumah Hana ,maka psikologi anak-anak taruhannya. Apalagi kedua anaknya sekarang pasti merasa tertekan dan bersalah, atas menghilangnya mama mereka dan saudaranya."


"Dasar psikopat gila!!" Umpatku pada Nadiva bukannya marah,tapi malah mencium bibir Boby dengan penuh nafsu sambil menarik rambut Boby. Membuatku berpikir apa dia punya gangguan mental.


"Kamu teruskan saja urusan mu, Om tunggu di kamar kalau begitu." Ucap Boby dengan suara serak dan berat.


"Om tidak mau melanjutkannya di sini, kita bisa main cepat kok?"


"Om tidak suka di lihat orang."


"Haha om malu ya,apa takut Hana jadi kepingin?" Ucap Nadiva sambil berdiri dan membenarkan penampilannya yang sedikit kusut.


Gila dasar wanita ini sepertinya sudah gila.


"Jangan lama-lama om tinggal dulu !"


"Jadi ini semua rencana mu, termasuk perempuan tadi ?"


"Iya ini rencana ku untuk menghancurkan keluargamu. Kamu tidak hanya mengambil semua harta kekayaan ku, tapi membuat ku harus mendekam di penjara. Tantri aku suruh untuk menggoda suamimu, tapi sayang suamiu payah. Aku memberikan suamiu obat perangsang di kediaman om Boby, tapi baru di cium SMA Tantri dia sudah pingsan. Dasar lelaki payah, membuat aku harus merubah rencana ku."


"Rencana mu?"


"Jika Rai masuk perangkap ku dan sampai punya anak dengan Tantri, maka Raihan akan kehilangan karir dan keluarga serta nama baiknya. Tapi saat mengetahui kondisi mu,aku jadi merubah rencana. Bagaimana jika kamu dan Diva aku kirim ke luar negri, dengan ingatan sebagai orang baru. Bukan Rihanna Eka Wiraguna dan siapa nama putrimu tadi aku lupa?"


Aku tetap diam tanpa bicara, karena aku harus bisa kabur dan membawa Diva kabur dari sini.


"Disini nama putri mu,Adila Dya Akbar dan Adiva Naya Akbar. Kenapa tidak memakai nama keluarga Samudra atau Wiraguna ? Sepertinya kalian ingin lepas dari nama besar keluarga kalian ya? Oke aku kabulkan."


"Tantri !"


"Iya mbak!"


"Bagaimana bocah itu masih menangis ?"


"Masih bu."


"Bawa sini saja biar jadi satu sama induknya. Mobil sudah siap ?"


"Sudah bu."


"Bagus ,aku mau mengucapkan terima kasih pada Om Boby dulu."


Keduanya pergi tidak selang lama Diva datang dan langsung memelukku.


"Ganti baju, biar tidak dingin." Ucap Tantri sambil melepaskan bajuku.


"Aku bisa ganti sendiri , cukup lepaskan ikatan tali ku !"


"Setelah ku lepaskan kamu bisa kabur,"sinisnya.


"Kalian membawaku kabur dari rumah sakit, saat aku masih menerima infus. Menurut mu aku punya tenaga dari mana buat kabur ?"


"Aku tidak mau mengambil resiko,"ucapnya sambil melucuti pakaian ku. Sungguh meskipun dia perempuan aku merasa tidak nyaman, aku merasakan pandangan Tantri yang kutemui sekarang berbeda dengan Tantri yang ku temui bersama Raihan.


"Aku dengar kamu punya 3 orang anak ?"


"Hmm."


"Body mu masih bagus, pasti perawatannya mahal. Pantas suamimu susah ku goda meski aku berpakean seksi di depannya." Ucapnya sambil mengganti pakaian ku, tapi aku merasa risih dan tidak nyaman dengan cara mengganti pakaiannya.


Apa dia Lebong ?


"Bisa lebih cepat tidak,aku sudah kedinginan ni!" Entah mengapa tatapannya membuatku merinding, firasatku mengatakan ada yang tidak beres dengan perempuan ini.


"Tubuh mu bagus seharusnya tidak perlu kamu tutupi dengan baju kedodoran mu itu. Rambutmu juga bagus dan wangi."


"Bisa lebih cepat tidak, please !"


Setelah aku berpakean rapi,aku duduk di bawah bersama Diva,Diva sudah tidur di pangkuanku. Tidak lama Tantri masuk dengan nampan berisi makanan sehat.


"Makanlah tidak perlu takut, tidak ada racun di sini!"


"Aku tidak lapar."


"Makanlah tadi anakmu juga sudah makan, bukannya kamu baru keluar dari rumah sakit juga. Bagaimana kamu bisa kabur dengan anakmu jika kamu tidak mau makan !"


 Bener juga katanya dengan kaki tetap di ikat aku makan dengan Tantri duduk di depanku.


"Sudah lama kenal Navida?"


"Sudah sekitar 5 tahun."


"Dimana kalian saling mengenal?"


"Di dalam penjara."


"Apa kamu tidak takut masuk penjara kembali, jika perbuatan mu tertangkap polisi ?"


"Lebih baik di penjara. Kita tidak perlu berpikir besok makan apa, masak apa? Semua sudah di siapkan dan diatur oleh orang-orang di sana."


"Kamu tidak ingin hidup bebas? Banyak yang hidup di penjara pingin segera bebas, bahkan sampai ada yang sampai menyuap dan kabur ?"


"Tidak,aku sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Anakku sudah pergi ke surga bersama kedua orang tuaku. Suamiku lebih memilih perempuan lain yang lebih seksi dan kaya."


"Sudah lama kamu bebas dari penjara?"


"Sudah 3 tahun."


"Apa orang yang bicara denganku dan Raihan di depan rumah mu, adalah orang Nadiva ?"


"Iya."


"Kalian di bayar berapa sama Nadiva, aku bisa membayar lebih banyak."


"Haha kamu yakin ?" Aku langsung mengagukkan kepalaku.


"Nadiva tidak membayar kami dengan uang, tapi Nadiva melayani dan memberikan kami kepuasan." Ucap Tantri membuatku langsung merinding. Belum sempat aku bertanya Nadiva masuk dengan memakai kemeja panjang tanpa bawahan.


"Sudah mencari informasinya? Aku bisa membalas dendamku tanpa perlu memiliki uang banyak." Ucap Nadiva langsung duduk di samping Tantri dan mencium bibir Tantri. Bukan kecupan tapi ciuman seperti pasangan, sungguh aku mual melihatnya pingin sekali aku muntah melihat mereka.


"Om Boby memanggil ayo kita senang-senang sebelum besok kita berangkat ke pelabuhan!" Ucap Nadiva sebelum menarik Tantri pergi.


Jadi beneran mereka lesbian.


Aku berusaha keras untuk membuka tali ikatan tanganku dan ikatan kakiku, biar mudah kabur.


"Sial pintunya di kunci dari luar." Di saat aku kesusahan membuka jendela, pintu terbuka terlihat Tantri masuk.


"Mau kabur ?.. Ayo ikut aku Nadiva sedang tidur kecapean di gempur Om Boby !"


Apa ini bukan jebakan seperti sebelumnya.


"Cepat sebelum Nadiva sadar. Aku melakukan ini karena putri mu, mengingatkan aku pada Putriku."


"Terima kasih." Kami keluar dan segera mencari mobil.


"Aku tidak bisa mengendarai mobil,"ucap Tantri. Tanpa banyak bicara aku yang mengemudi mobil, sedangkan Tantri duduk sambil memangku Diva.


"Kenapa kau menolongku ?"


"Putri mu mengingatkan aku pada putriku."


"Sekarang kita berada di mana ini?"


"Di lereng gunung Lawu, jika sudah jauh kita pelan-pelan saja banyak kabut disini. Selain itu penerangan jalan juga berkurang di sini!"


Gunung Lawu terletak di antara tiga kabupaten, yaitu Karanganyar di Jawa Tengah, Ngawi, dan Magetan di Jawa Timur.


"Rem nya blong."


"Apa! Tidak mungkin Nadiva memintaku menyiapkan mobil ini untuk perjalanan kita ke pelabuhan Tanjung Emas."


"Sepertinya dia sengaja melakukannya untuk antisipasi."


"Hati-hati di sini banyak Kana kiri kita jurang !"


Sebisa mungkin aku tidak panik, setelah menurunkan gigi secepat mungkin. Aku gunakan rem tangan setelah menurunkan gigi. Aku juga menjauhkan kaki dari pedal gas dan menginjak dan kocok rem berkala-kali.


"Aku tidak bisa menghentikan mobil ini, tapi aku bisa melambatkannya. Aku titip anakku,loncat dan selamatkan anakku !"


"Kamu saja yang loncat !"


"Kamu tidak bisa mengendarai mobil itu akan lebih berbahaya buatmu."


"Tapi aku tidak ada tujuan hidup, sedangkan kamu masih punya anak dan suami serta keluarga yang menyayangi mu!"


"Sekarang kamu punya tujuan hidup, tujuan hidupmu adalah menjaga Adiva putriku! Sekarang tanjakan mobil melambat ku hitung sampai 3 kamu harus loncat! 1 2 3 Loncat !!"


Ya Allah Ya Tuhanku aku pasrahkan hidup dan mati ku padaMu. Aku titipkan anak-anakku padamu. Laa ilaha illallah, Muhammaddan rasulullah .