Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
153. RR. Kelahiran Si Kembar



"Hari ini jadwal kontrolmu, Saras juga sudah membuat janji dengan dokter kandungan. Siapa yang akan menemani mu kontrol nanti ?"


"Ko bertanya begitu sih ? Ya seperti biasa lah kamu, mau siapa lagi." Ucapku sedikit sewot terhadap Randi .


"Ya siapa tahu mami, atau suamimu."


"Mas Rai ada latihan gabungan di daerah Jawa Timur, sudah seminggu ga ngasih kabar. Makanya aku gak bisa terlalu berharap sama dia, waktu hamil Elang saja aku sering di tinggalin."


"Ya maklum sudah resiko pekerjaan," ucap Randi .


" Ternyata berat jadi istri tentara, ditinggal pergi mulu kaya bang Toyib."


"Haha di syukuri saja, jangan mengeluh."


"Tidak, aku tidak mengeluh nasib ku juga sudah lebih baik."


Jika mengeluh tidak akan pernah ada habisnya, setiap orang hidup pasti punya masalah masing-masing nikmati saja dan jalani sesuai air yang mengalir.


"Syukur kalau begitu."


"Kamu tidak ada niat serius untuk menikah dengan Saras ?" Tanyaku membuat Randi yang sedang minum jadi tersedak.


"Kami hanya rekan kerja, tidak lebih. Lagi pula Saras sudah di lamar orang."


"Kamu tahu tidak adik Nadiva? Kenapa tidak pernah terekspos ?"


"Kamu gak salah tanya aku,?"jawab Randi.


"Ya siapa tahu kamu serba tahu seperti Radit."


"Radit itu pengacara klain nya semua kalangan, tida seperti aku yang relasinya hanya relasi bisnis ku saja."


"Hehe santai aja kali. Kenapa sih sepertinya moodnya lagi gak baik. Patah hati karena Saras nikah ?"


"Sok tahu, lagi banyak kerjaan."


"Aku saudaramu, kita juga pernah berbagi makanan saat di dalam rahim mami."


"Iya ya aku tahu, biarlah semua berjalan seperti air yang mengalir tidak usah terlalu di ambil pusing." Ucap Randi sambil berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


"Aku berangkat hati-hati di rumah sendirian ! Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, hati-hati."


"Dasar lelaki kaku ga bisa mengekspresikan perasaannya sendiri." Kataku sambil merapikan meja makan. Setelah membereskan apartemen, aku rebahan sambil mendengarkan murutol yang ku putar dari ponselku.


"Capek ya."


"Astaghfirullah haladzim mas, bikin kaget saja sih,"kesal ku. Saat enak-enak rebahan, aku merasakan ada yang mengusap kepalaku hingga aku terkejut dan langsung bangun.


"Hehe maaf aku kira kamu tidur,"nyengir Raihan.


"Orang itu kalau masuk mengucapkan salam, bukan main nyelonong aja." Ketus ku sambil memukulnya.


"Assalamualaikum bidadari mas."


"Walaikumsalam."


"Udah dong mas minta maaf."


"Mas ga tahu apa aku kalau kaget dan reflek bangun, itu perutku jadi gak nyaman kaya kram. Hua haha Hua."


"Apa yang kau rasakan ?"


"Perutku terasa tidak enak dan tidak nyaman,"ucapku sambil mengatur nafasku.


"Mas gak tau, mas minta maaf."


Aku masih tetap diam sambil mengatur nafas, perutku terasa mules seperti mau melahirkan.


"Dek apa yang kamu rasakan ?"


"Perutku mules hilang mules lagi seperti mau melahirkan."


"Ya bagaimana ini ,"cemas Raihan.


"Mulesnya masih sering hilang ko. Mas bukannya ada latihan gabungan selama seminggu ?"


"Iya , kemarin terahkir makanya mas bisa ke sini sekarang."


"Mas ga takut bikin orang curiga, habis latihan langsung kesini?"


"Teman-teman mas yang lain baru pulang hari ini. Mas kemarin ijin pulang buat mampir ke rumah saudara." Aku hanya mengaguk tanpa menjawab dan merebahkan badanku ke sofa lagi.


"Jangan," kataku sambil menarik kakiku yang sudah berada di atas pangkuan Raihan.


"Ga papa mas ga pernah melakukan ini waktu hamil Satria."


"Kakiku gemuk semua,"candaku. Karena kehamilan yang sekarang membuat kakiku bengkak semua.


"Maaf ya ini karena ulah mas?"


Aku diam tanpa menjawab, Raihan begitu telaten memijat kakiku.


"Mas gak capek ?"


"Kemarin sehabis latihan aku langsung memesan tiket kereta, begitu dapat aku langsung kesini. Tadinya kalau gak dapat aku mau, mau ke rumah papa dan naik bus dari sana."


"Hah ,mas ga capek apa ?"


"Cape tak masalah buat mas, apalagi setelah melihat mu capek mas langsung hilang."


"Gombal, sekarang Elang di panggil Satria ?"


"Iya, karena ayah suka kerumah biar mudah di bedakan. Lagian nama depan Elang kan memang Satria, apa kamu tidak setuju ?"


"Aku tidak masalah apapun panggilannya dia tetap putraku."


"Terima kasih kamu mengabulkan keinginan mas untuk memiliki anak lagi sebelum usia mas 35 tahun." Aku tidak tahu lagi Raihan berbicara apa, karena setelah itu aku tidak bisa lagi menahan kantuk. Aku terbangun saat merasakan perutku terasa kram.


Aku berusaha mengatur nafasku yang tidak teratur karena menahan sakit. Sampai aku merasakan pergerakan Raihan yang tidur sambil duduk di sampingku. "Kram lagi ya?"


"Iya mas."


"Anak ayah kenapa, sudah gak sabar mau lahir kedunia ya? Sabar ya kasihan bunda kalian, apa kalian tidak kasihan sama bunda hmm ? Bunda harus membawa kalian kemana-mana lo? Cup cup cup." Ucapan Raihan di ahkiri dengan kecupan kecil di perut ku.


"Kapan jadwal kontrolmu ?"


"Hari ini , sekertaris Randi juga sudah membuat jadwal ko nanti tinggal datang."


"Jam berapa mas anterin ?"


"Habis sholat magrib." Hari ini Raihan menemaniku seharian, bener-bener memanjakan aku. Katanya dia ingin menebus waktu yang telah berlalu tanpa dirinya, hanya kata 'gombal ' aku jawab buatnya.


"Bapak Randi Bisma Wiraguna!"


"Iya Dok,ayo mas!"


Saat aku masuk di temani Raihan yang menggunakan topi dan kacamata hitam, membuat dokter dan perawat menatap curiga.


"Topinya lepas,"bisik ku.


"Maaf dok lagi sakit mata,"ucapku asal.


"OOO pantas. Ayo kita langsung tengok dedeknya ."


Jika biasanya yang membantuku tidur di brakar adalah perawat, kali ini Raihan karena Raihan melarang perawat untuk membantu ku.


"Bayinya sehat, umurnya sekarang 36 Minggu. Tapi air ketuban mulai berkurang ini."


"Apa bahaya dok,?"tanya Raihan.


"Bisa menghambat pertumbuhan janin dan memicu kelahiran prematur."


"Apa yang harus kita lakukan dok?"


"Saya akan resep kan obat dan vitamin, seminggu lagi kita cek lagi bagaimana kondisinya."


"Baik dok,"ucap Raihan sambil menerima kertas resep dari dokter.


Tapi semua tinggal rencana, saat malam tiba tiba-tiba ketuban ku pecah. Ahkirnya malam itu juga diadakan operasi Cesar untuk mengeluarkan 2 bayi kembarku.


"Bagaimana kondisi anak-anak mas."


"Allhamdullilah pada sehat semua, tapi masih harus di ikubator karena beratnya kurang."


"Mas sudah ada nama buat anak-anak kita ?"


"Adelia dan Adiva. Adila yang memiliki arti orang yang bertindak keadilan. Adiva yang memiliki arti lembut, menyenangkan."


"Bagus,mami sudah tahu?"


"Sudah mami lagi di perjalanan. Terima kasih sudah mau melahirkan anak-anak buat emas."