Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
168. Papa



"Kalian duduk sini mama akan menemui tuan rumahnya dulu."


"Iya ma."


"Satria jaga adiknya, jangan main ponsel terus !"


"Siap bos qu!" Ucap Satria sambil mengacungkan jempol kepada Hana .


"Ada yang ingin kamu makan,mas ambilkan ?"


" Tidak aku mau ke kamar kecil dulu,"ucap Dila sambil berdiri.


"Mau mas temani?"


"Tidak usah aku berani ko."


"Ya udah hati-hati."Ucap Satria tanpa melihat kearah adiknya, Satria tetap asik bermain dengan ponselnya.


Hana yang melihat Dila berdiri langsung mengikuti kemana anak gadisnya.Meski Dila sudah di masukan kelas taekwondo ,tapi Hana masih sangat protektif terhadap Dila. Setelah merasa Dila keluar dari kamar mandi baru Hana kembali menemui kembali tuan rumah.


"Sudah dari kamar kecilnya ?"


"Sudah Bu Lando. Oya Bu Lando saya mau pamit tidak bisa berlama-lama di sini."


"Tidak sampai menunggu acara selesai,Bu Hana?"


"Maaf tidak bisa Bu 2 bodyguard saya kalau kelamaan bisa ngambek nanti." Ucapku sambil menujuk kearah meja tempat kedua anakku berada, sambil tersenyum.


"Padahal saya mau ngenalin Bu Hana dengan adik bungsu saya,Lo."


"Wah mungkin di lain waktu Bu, mari Bu."


Setelah berpamitan aku berjalan kearah Satria dan Dila yang sibuk, dengan ponselnya masing-masing.


"Mau pulang sekarang ?" Tanyaku begitu aku duduk satu meja dengan anak-anak.


"Mama sudah selesai ?"


"Sudah, mama sudah ngasih bingkisan dan mengucapkan selamat kepada tuan rumah."


"Satria ke toilet dulu ma, baru kita pulang."


"Ya udah sana mama tunggu di sini sama adikmu !" Setelah Satria kembali aku dan anak-anak berjalan keluar area acara.


"Bu Hana tunggu!" Panggil Bu Lando saat aku hendak keluar gedung. Nampak Bu Lando berjalan kearah ku dengan, seorang lelaki yang berjalan di sampingnya.


"Eh Bu Lando,ada apa ya?"


"Mau pulang bu?"


"Iya,"ucapku sambil tersenyum sebagai sopan santun.


"Kenalkan ini adik saya. Statusnya sama kaya Bu Hana ,Single satu anak yang sekarang tinggal dengan ibunya."


Wah bau-bau nya Mak comblang ni? Nasib jadi janda huft.


"Saya Yasir,adik Bu Yana istrinya mas Landon." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya, tapi belum sempat aku mengulurkan tanganku. Tangan Satria sudah dulu menggegam tangan Yasir.


"Saya Satria dan perempuan ini mama saya, namanya Rihanna." Yasir melihat kearah ku dengan tersenyum canggung.


" Dia Putra saya yang paling besar."


"Ayo mama aku sudah ngantuk ni,"ucap Adila.


"Maaf kami harus pergi putri bungsu saya suda mengantuk."


"Boleh saling mengenal, lebih dekat ?"


"Silahkan jika cuma ingin mengenal saya, tapi maaf jangan berharap lebih kepada saya."


"Hahaha saya suka orang to the poin seperti anda. Tapi saya ingin berkenalan menjalin lebih dari teman biasa, bagaimana dong ?"


"Maaf saya belum bisa move on dari almarhum suami saya, saya takut hanya menyakiti anda. Permisi saya harus pergi, mari Bu Lando maaf." Ucapku sebelum berjalan dengan menggadeng tangan kedua anakku.


"Mama yang terbaik , I love forever, love Mama." Ucap Dila sambil bergelayut manja di lengan kanan ku.


"Mama memang yang terbaik,is the best for my mom." Kali ini Satri berucap sambil merangkul bahuku, yang memang tingginya sudah melebihi aku.


"Kenapa ma ko berhenti,?" tanya Satria.


"Tidak ada yang aneh ma,"ucap Satria.


"Iya-ya ayo kita pulang !"


"Mama tunggu di sini sama Dila, aku ambil mobil !"


"Bener mama belum move on dari papa?"


"Bukannya belum move on, tapi sampai saat ini mama masih berharap bisa berkumpul dengan papamu kelak."


"Jadi sampai saat ini belum ada yang bisa menggantikan papa dong ?"


"Kalau saat ini belum, gak tahu kalau esok hari ?" Ucapku sambil tertawa kecil melihat ekspresi Dila, bagaimana aku bisa mencari pengganti. Jika setiap aku berkaca di depan cermin, mata ini selalu mengingatkan aku akan pengorbanan Raihan.


"Itu Satria,ayo kita pulang."


"Nasib sopir ," ucap Satria saat aku dan Dila memilih duduk di bangku belakang.


"Ayo pak sopir kita jalan!" Ucapku sambil tertawa kecil, "Kalian mau tidur di mana malam ini?"


"Memang mama mau tidur di mana ?" Tanya balik Satria pada ku sambil melihat kearah ku dari kaca mobil.


"Mama terserah kalian ?"


"Kalau di rumah mami dan papi, aku gak suka kalau mereka membahas papa baru." Ucap Dila yang langsung di anggukin oleh Satria.


"Ya udah mau ke rumah Om Radit dan Tante Narita, atau ke rumah kakek Elang saja ?"


"Kakek Elang saja," ucap Adila dan Satria bersamaan.


"Oke mama ngikut kalian saja. Sekarang kita putar haluan saja." Dengan wajah bahagia Satria memutar mobil kami menuju ke rumah kakek Elang.


Sepertinya aku harus bicara dengan papi dan mami , mengenai ke tidak nyaman anak-anak dengan niat mereka. Jika di teruskan aku takut hubungan mami , papi dengan anak-anak akan menjauh.


Sampai aku tiba di rumah kakek Elang, kami langsung di sambut kakek.


"Kakek belum tidur sudah malam Lo,?" tanya Dila.


"Kakek tadi masih baca waktu terdengar mobil kalian masuk. Lagian ini baru jam 10 malam , belum jam 11 malam !"


"Malam ini kami mau tidur di sini , apa boleh ?" Tanya Satria yang di sambut tawa renyah ayah Elang.


"Tentu boleh, rumah ini terbuka 24 jam buat kalian ! Kakek akan suruh mereka membersihkan kamar buat kalian !"


"Tidak usah kek biarkan kami sendiri yang membersihkan kamar yang biasa kami pakai. Anak-anak sudah mulai tumbuh dewasa , sudah saatnya belajar mandiri." Ucapku tidak enak harus merepotkan para pelayan, disaat mereka harusnya sudah istirahat malam.


"Tidak apa-apa, jika dirumah kamu bisa mengajarkan kepada anak-anak untuk mandiri. Jika di sini biarkan aku memanjakan mereka, pasti besok mereka juga kamu bawa ke rumah mami dan papi mu. Jadi biarkan mereka menemaniku ngobrol, sambil menunggu kamar mereka siap buat istirahat."


"Baiklah,mama ambil baju kalian dulu di bagasi." Ucapku sambil berdiri dan berjalan keluar, saat aku di garasi aku melihat mobil baru Aston Martin DBS terpakir di dekat mobilku. Apa kakek beli mobil baru? Tapi anehnya saat aku datang tadi mobil ini tidak ada.


"Kakek beli mobil baru ya?" Tanyaku setelah kembali dari garasi.


"Oo, buat investasi saja."


"Wah kakek beli mobil baru, kok aku tadi gak lihat ya?" Tanya Satria sambil melihat kearah kakek.


"Baru datang, tidak lama kamu masuk tadi di bawa Andrew."


Satria hanya mengaguk, Andrew adalah asisten ayah Elang seumuran dengan Raihan. Setelah kamar siap kami masuk ke dalam kamar,aku tidur dengan Dila sedang Satria tidur sendirian.


"Ma!" Saat aku dan Dila sudah di dalam kamar, sedangkan aku baru dari kamar mandi berganti pakaian.


"Ada apa sayang."


"Ko sepertinya kamar ini baru ada yang nempati ya ma?"


Sebenarnya saat aku masuk kamar, aku sudah mencium bau yang berbeda. Tidak seperti bau yang biasanya ketika aku masuk.


"Mungkin kakek baru ada tamu."


"Tapikan kamar tamu kan ada 4, kenapa harus Makai kamar kita?"


"Ya mungkin tamunya banyak, ayo tidur udah pukul 11 malam lebih. Kesini mama peluk!"


"Enggak ah kaya anak kecil, masih di kelonin saja." Tapi Dila tetep merapatkan tubuhnya padaku, meski tidur Dila membelakangi aku.


Sudah 6 tahun Rai, anak-anak juga sudah pada menginjak dewasa. Bahkan jagoan kita sekarang Tingginya melebihi aku, mamanya. Meskipun aku tidak yakin dengan kepergian mu, aku harus menerima kenyataan ini. Karena nyatanya sekarang aku bisa melihat karena pengorbanan mu.