Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
125. RR. Satgas



Kehidupan itu kadang manis kadang pahit, segala yang terjadi ada hikmahnya. Apa yang menimpa Ratih, mungkin menyakitkan,tapi karena kejadian itu Ratih bisa lepas dari keluarga Yusuf. Keluarga Yusuf yang tidak mau berurusan dengan hukum ahkirnya menyetujui pelunasan hutang Ratih.


"Bagaimana keadaan mu sudah lebih baik,?"tanyaku.


"Allhamdullilah berkat kalian aku jadi terbebas dari keluarga toxix."


"Bukan karena kami,tapi karena kamu yang rela di perkosa suamimu,"ucapku.


"Sebenarnya bukan di perkosa itu hak suaminya,cuma caranya aja yang kasar." Ucap Raihan tidak suka dengan bahasa yang aku gunakan.


"Sesama lelaki tidak mau di salahkan,"ucapku.


"Bukan begitu sayang,"ucap Raihan sambil memelukku dan mencium keningku.


"Ekhhm ekhm jangan pamer kemesraan dong!"


"Haha suka khilaf kalau dekat istri,"ucap Raihan.


"Kamu berubah lebih baik mas, selama aku menjadi kekasih mu dulu kamu selalu bersikap dingin. Apalagi kalau di depan orang,"ucap Ratih.


"Karena sekarang kami halal, kalau sama kamu dulu belum jelas statusnya."


"Sekarang apa rencana mu,habis pulang dari rumah sakit,?"tanyaku.


"Aku mau pulang ke rumah orang tuaku,"ucap Ratih.


"Bagaimana dengan pernikahan mu,?" tanyaku.


"Kemarin mas Yusril menemui ku dan minta maaf, dengan apa yang terjadi pada ku dan keluarga ku. Dan siap membantu ku jika ingin berpisah dengan adiknya." Ucap Ratih, ahkirnya semua terbongkar bahwa pacar Yusuf hamil karena Yusuf. Tapi keluarganya takut atasannya Yusuf tahu dan berdampak pada karirnya.


Dan tercetuslah ide tukar pasangan itu," Tidak ada yang diharapkan dari keluarga mereka jika aku mempertahankan pernikahan ku. Lagian Yusuf juga sudah mengaku jika itu anaknya, bukan anak Yusril."


"Drama sekali hidup mu. Setahuku perceraian tentara itu susah,?"ucapku.


"Yusuf bersedia aku menggunakan hasil visum kekerasan yang di lakukannya , asalkan aku tidak membongkar tentang anaknya."


"Dasar pengecut tidak berani mengakui perbuatannya," ucapku.


"Ingat sayang gak boleh ngomong jelek,"tegur Raihan.


"Maaf hehe. Amit-amit jabang bayi, naudzubillah min dzalik?"


"Lo gak takut hamil,?" tanya Raihan.


"Kalau gak takut bohong itu, jujur aku berharap jangan sampai hamil. Lagian cuma sekali masak langsung jadi."


"Iya juga sih , aku aja harus bekerja keras tiap malam baru jadi," ucap Raihan.


"Kalau itu bukan kerja keras, memang kamu yang nafsu,"Ucap Ratih.


"Bukan nafsu, ibadah malam menyenangkan."


"Mas,"ucapku sambil menutup mulutnya Raihan.


"Atas kebaikan kalian aku ucapkan terima kasih, hanya doa semoga kebahagiaan selalu bersama keluarga kalian."


"Amin ,"ucapku dan Raihan. Hari ini aku mengantar Ratih pulang ke rumah orang tuanya. Sejak hati itu aku tidak mendengar kabar Ratih.


"Di lihat dari bentuk perut sepertinya anakmu perempuan mbak,"ucap Yanti.


"Mau laki-laki atau perempuan yang penting sehat buatku. Kalau mas Raihan sendiri pinginnya anak pertama itu laki-laki. Biar bisa menjaga adik-adiknya."


"Bu Raihan dengar gosip gak,?" tanya Bu Hanif yang baru datang dan duduk disampingku. Saat ini kami sedang menghadiri acara pelepasan Danyon, Letkol Rudy akan di pindah tugaskan ke Bali.


"Gosip apa Bu Hanif,?" tanya Yanti.


"Letnan Yusuf jalan di mall bersama seorang wanita dengan bayi berumur 3 bulan. Apa jangan-jangan itu yang membuat istrinya menuntut cerai ya?"


"Ga boleh berprasangka Bu, siapa tau itu kakak iparnya." Bukan aku yang menjawab tapi, Yanti yang menjawab sambil melirik kearah ku.


"Mana ada masak jalan sama kakak ipar bergandengan seperti suami istri." Ucap Bu Hanif, biang segala gosip di asrama.


"Ya siapa tahu butuh di pegangin,"candaku.


"Masak Bu Raihan tidak tahu, kalau gugatan cerai belum di ACC, karena Bu Yusuf tidak pernah menghadap langsung. Ahh kalian berdua kalau di ajak gosip kurang seru!" Sewotnya sambil berjalan pergi. Dari cerita Ratih komandan Yusuf, berharap Ratih bisa memaafkan tindak kekerasan yang dilakukan suaminya. Jadi mereka di berikan kesempatan untuk saling introspeksi diri sendiri dulu.


"Kasian ya mbak Ratih,gugat cerai karena kdrt belum di ACC malah sekarang ada gosip suaminya mendua."


"Kita doakan saja sebagai sesama perempuan, semoga Ratih bisa kuat menjalani semuanya."


"Amin. Mbak kapten Raihan ikut satgas gak,?" tanya Yanti.


"Saya tidak tahu, satgas kemana memang ,?"tanyaku.


"Bu Raihan sedang hamil, pasti kapten Raihan ga berangkat lebih berat nungguin istri yang mau lahiran." Bu Sugeng duduk di belakangku, bersama Bu Ucok.


"Papua , kata mas Ari surat tugasnya turun kemarin."


Raihan belum bicara apa-apa, berati dia ga ikut satgas. Kalau ikut satgas seharusnya dia sudah bilang dari semalam, atau paling tidak tadi pagi harusnya dia sudah ngomong. Dari semalam dia cuma membahas acara 7 bulanan mau di lakukan di mana? Acara 4 bulan kemarin, diadakan di Surabaya di rumah Raihan. Karena itu untuk 7 bulanan ini mami mau dia yang mengadakan acara syukuran. Padahal kehamilan ku baru menginjak 20 Minggu.


"Gak usah di pikirkan mbak. Kalau kapten Raihan belum bicara berarti, kapten Raihan tidak ikut satgas. Lagian kayanya gak mungkin ikut deh."


"Kenapa,?" tanyaku.


"Kapten Raihan pasti mau menunggu kelahiran anak pertamanya. Kalau ikut satgas kan kapten Raihan ga bisa nungguin mbak lahiran." Ucap Bu Sugeng yang main nimbrung ucapan kami.


"Suami mu ikut ?"


"Tidak, suamiku gak terpilih,"jawab Yanti.


"Kamu tahu gak satgas berapa lama ?"


"10 bulan, tapi bisa mundur tergantung keadaan di sana nantinya."


"Kamu pernah di tinggal satgas kemana saja?"


"Selama nikah sekali di tinggal satgas, sebulan sehabis nikah. Rasanya seperti di tinggal pas lagi sayang-sayangnya."


Jika Raihan satgas bukan masalah di tinggalnya, tapi jika pas lahiran ga ada yang nemenin aku gimana?


Cup cup, "Kok bengong ada apa,?" tanya Raihan yang sudah duduk di sampingku.


" Mas ih malu,Yanti mana?" Tanyaku saat melihat hanya ada Raihan yang duduk di sampingku.


"Tu lagi bantuin beres-beres,kamu kenapa bengong?"


"Emang acaranya sudah selesai dari tadi ?"


"Kamu itu dari tadi aku bertanya, bukan di jawab malah gantian nanya!"


"Hehe maaf,aku bantu-bantu mereka beres-beres dulu." Ucapku sambil berdiri,tapi di cegah oleh Raihan.


"Sudah banyak yang bantuin. Lagian ibu hamil mau disuruh bantuin apa,angkat kursi sudah ada tentara mudah. Ayo sebaiknya sekarang Kita pulang dan istirahat, kasihan anak papa capek."


"Capek apaan," dengusku tapi tidak menolak saat Raihan menggandeng tanganku untuk pulang.


"Sini duduk papa pijat kakinya mama yang capek," ucap Raihan saat aku di ruang tengah.


"Mas gak balik bantuin yang lain?"


"Sudah banyak orang. Mas mau bilang sesuatu yang penting !"


"Apa ada hubungannya dengan satgas pemberantasan ?"


"Kamu sudah tahu?"


"Aku di tanya apa suamiku pergi. Kata mereka suamiku ga akan pergi."


"Kenapa begitu ?"


"Karena aku sedang hamil."


"Mas minta maaf." Terdengar helaan nafas Raihan sebelum berbicara lagi,"Mas harus pergi."


"Berati nanti mas ga menemaniku pas lahiran ?"


"Maaf hanya doa mas yang akan selalu menemani kamu dan dedek,"ucap Raihan sambil mengusap perutku.


"Dedek gw boleh rewel, jagain mama cup cup."


"Gimana dedek bisa jagain mamanya. Mamanya lah yang harus menjaga dedek." Ucapku ketus sambil menahan air mataku.


"Maaf maafkan mas, gak bisa menemani adek waktu melahirkan nanti." Ucap Raihan yang sudah memeluk tubuhku.


"Mas katanya ibu-ibu mas ga bakal pergi. Mas nyuruh saja anak buah mas letnan Yusuf mungkin.


"Letnan Yusuf juga pergi. Sudah jangan nangis cuma 10 bulan."


"Iya nanti pulang anak mu sudah merangkak!" Ucapku langsung pergi masuk ke dalam kamar, meninggalkan Raihan di ruang tamu sendiri.