
Setelah melacak keberadaan Yanti yang berada di asrama. Aku segera meluncur ke asrama. Sungguh pikiran ku kacau, sejak Elang lahir hanya hari ini aku berpisah sedikit lama dengan Elang. Aku tidak tahu apa maksudnya Yanti membawa Elang ke asrama, tanpa memberi aku kabar. Apalagi ponselnya aku hubungi juga tidak di angkat.
Kakiku begitu lemas saat sampai di asrama dan melihat Elang sedang duduk di pangkuan Raihan. Aku berjalan pelan mendekati Mereka ,ku lihat Yanti berdiri di samping suaminya hanya menunduk.
Pasti Raihan menggunakan jabatannya untuk menekan Yanti dan suaminya.
"Bagaimana rasanya di pisahkan dengan Elang? Adek cuma berpisah dengan Elang hitungan jam, sudah kelimpungan. Bagaimana dengan aku yang beberapa hari? Aku seperti orang gila mencari kalian. Bagaimana rasanya saat kau pulang anakmu tidak ada?"
"Oke Elang sudah aman." Ucapku tanpa berusaha mengambil Elang, jarak aku dan Raihan hanya 2 langkah.
"Apa bedanya aku dan kamu? Aku tidak pernah membohongi komitmen pernikahan kita. Aku tidak berbohong hanya demi orang lain. Sebelum kamu pergi aku sudah bilang jangan pergi! Kenapa kamu masih pergi meninggalkan aku dan Elang, hanya untuk menemui mereka !" Aku menghapus air mataku yang menetes saat aku pejamkan mataku. "Rawat dan jaga Elang dengan baik!" Ucapku sambil berlari ke dalam mobil, dan menyalakan mobil tanpa mendengarkan teriakan Raihan. Tida ada drama merebutkan anak, Raihan papanya pasti bisa merawatnya.
Bodohnya aku, kenapa aku bisa lupa kalau di asrama kita tidak bisa dengan leluasa keluar masuk seenaknya.
"Maaf Bu Raihan atas perintah dari kapten Raihan, kami di larang membukakan pintu portal !"
Ah sial pasti Raihan sudah menghubungi penjaga pos jaga keamanan.Oke tak masalah kehilanganmu satu mobil.
"Oke kalau begitu aku titip kunci mobil buat kapten mu." Ucapku sambil mengulurkan kunci mobil pada penjaga pos.
"Apa-apaan kamu Hana! Kamu mau masuk ke dalam mobil sendiri, atau aku gendong." Ucap Raihan setelah merampas kunci mobil yang hendak aku belikan pada pos penjagaan.
"Apalagi sih mas? Kamu ambil Elang ,aku sudah berikan."
"Kita bicara dulu di rumah, dengan kepala dingin tidak begini caranya! Sekali lagi aku tegaskan, mau masuk ke dalam mobil sendiri atau aku gendong!"
"Dasar pemaksaan,"ketusku sambil berjalan masuk ke dalam mobil.
"good wife Solehah." Ucap Raihan sambil mengusap kepalaku, aku hanya memalingkan muka ke luar.
"Mana Elang,?" tanyaku saat sudah masuk ke dalam rumah dinas.
"Biar sama istrinya Serka Ari dulu. Kita bicara berdua."
Bukannya buruan bicara Raihan hanya diam menatap tajam kearah ku.
"Mau bilang apa? Malah diam saja,!" ketusku.
"Bagaimana mas bisa mulai bicara, kalau kamu saja tidak mau melihat mas? Kamu lihat mas baru mas akan mulai bicara!"
Perlahan-lahan aku melihat ke arahnya, jujur ada rasa takut dalam diriku saat melihat kearahnya. Takut karena sudah pergi tanpa pamit, alias kabur.
"Mas tahu kamu tadi menguping pembicaraan mas? Tapi mas pura-pura tidak tahu, mas sengaja duduk di belakang mu!"
"Bagaimana bisa, terus siapa yang beritahu keberadaan Elang kepadamu?"
"Hari pertama aku mencari ke rumah mami papi, mereka kaget waktu aku datang sendiri. Jadi aku simpulkan mereka tidak tahu, tapi aku tetap minta tolong beberapa orang untuk mengawasi pergerakan mereka."
"Mas tahu Elang di hotel dari mana ?"
"Aku menyuruh Serka Ari untuk mengawasi istrinya, termasuk mengikutinya ke hotel."
Jadi bukan Yanti yang memberitahu keberadaan ku pada Raihan.
"Namanya Olivia, mas kasihan sama dia yang sebatang kara. Terlebih dia menjadi korban penculikan dan mengalami pelecahan selama di culik. Mas menemukan dia di dalam kerangka dengan tangan diikat di atas hanya memakai ****** *****."
"Mas percaya 100% semua cerita dia ?"
"Awalnya iya mas percaya sama dia, tapi setelah kepergian mu mas mencari semua hal tentang dia. Mas berharap bisa menemukan keluarga jauhnya dan menceritakan kondisinya."
"Apa yang mas temukan setelah itu? Semua kebohongannya terbongkar kan?"
"Apa mas juga tahu dia tidak hamil ?"
Raihan hanya menggeleng sebagai jawaban. "Dia tidak hamil, meskipun dia sempat dilecehkan selama di culik. Karena dia sudah pasang alat kontrasepsi pencegahan kehamilan, karena dia dan mantan kekasihnya sudah sering melakukannya. Di kabur jadi relawan karena menghindari mantannya."
"Bagaimana kamu tahu semuanya dek?"
"Sekarang jaman canggih mas, aku juga tahu Oliv menghubungimu melalui temannya!"
"Kamu mau kemana ?" Tanya Raihan saat melihatku berdiri.
"Kembali ke hotel lah. Aku sudah bayar hotel mahal ko sayang kalau gak tinggalkan begitu saja."
"Emang kamu bisa melewati pintu portal asrama ?"
"Kalau bawa mobil memang gak bisa, tapi kalau jalan kaki apa sih yang gak bisa?"
"Kamu gak kasihan sama Elang?"
"Mas yang mengambil Elang dariku. Bukan aku yang sengaja meninggalkannya."
"Karena itu kamu harus tetap tinggal dengan mas, Elang kan masih tergantung sama asi mu dek!"
"Kalau sudah tahu begitu harusnya kamu tidak ambil Elang dariku."
"Elang tepatnya di sini berkumpul dengan kedua orang tuanya!"
"Mas aja yang di sini aku gak mau."
Raihan tidak menjawab hanya menarik alisnya sebelah ke atas. "Waktu aku larang mas pergi, mas juga ga mau dengerin aku."
"OOO jadi mau balas dendam ni ceritanya." Ucap Raihan sambil tersenyum tipis, "Bisa ga balas dendamnya yang lain aja, yang penting jangan kabur dari rumah ?"
"Mas yang ninggalin aku duluan ko, jadi ya gantian," ucapku sambil berjalan pergi.
Ko Raihan tidak mencegah ku lagi atau merayuku gitu ya? Apa dia tidak kasihan dengan Elang yang masih tergantung ASI dengan ku?
Aku berjalan di jalanan asrama sambil melihat kearah belakang, berharap Raihan akan mengikuti aku atau mengejar ku tapi nihil.
Semua harapan dan anganku supaya Raihan mengejar tidak terwujud, sampai aku, tiba di hotel tetapi tidak ada tanda-tandanya.
Sambil berendam aku terus kepikiran kondisi Elang. Elang nangis tidak ya? Rewel tidak ya? ASI nya masih cukup gak ya stoknya? Elang lagi ngapain ya? Elang sudah tidur belum ya.
Sampai tidak terasa sudah 1 jam aku berendam di dalam bathtub.
"Mas..." Cicit ku saat keluar dari kamar mandi melihat Raihan tiduran di kasur king size. Sedangkan Elang juga sudah tertidur pulas di sampingnya.
Aku tidak tahu Raihan pura-pura tidur atau tidur beneran, karena itu aku bergegas mencari baju ganti.
"Mas !" Kagetku saat ada tangga yang melingkar di pinggangku.
"Kamu bilang sayangkan sudah bayar, makanya sayang kalau tidak kita tempati dan manfaatkan." Ucap Raihan sambil menghirup aroma sabun mandi di leherku.
"Mas aku masih kesel lo?"
"Terus kalau kesel kamu gak mau melayani suamimu ini,hmmm?" Tanya Raihan dengan berbisik di telingaku.
Hembusan nafas Raihan membuatku tak bisa lagi menahan diri, untuk tidak membalas perlakuan Raihan.
"Marahnya di pending dulu. Sekarang kita ibadah malam,mas sudah beberapa hari puasa!"