
Sejak menjadi dokter residen tidak ada lagi waktu bersantai buatku, aktivitas padat ku sudah dimulai sejak pagi buta karena itu aku mencari tempat tinggal di dekat rumah sakit. Sebuah kosan yang harganya terjangkau dengan kantongku tentunya tidak perlu mewah cukup ada kamar mandi di dalam sudah cukup buatku. Saat anak sekolah mulai berangkat sekolah aku harus sudah tiba di rumah sakit untuk laporan pagi sebelum kunjungan pasien bersama dokter konsultan, Kegiatan berlanjut ke praktik latihan atau presentasi ilmiah, hari-hariku hanya ku habiskan di rumah sakit tempat pendidikan dan kosan, jika tidak ada jadwal jaga IGD atau lagi jatah libur aku juga praktik sebagai dokter umum di klinik Citra Medika cabang terdekat. Dari tempat praktik dokter umum langsung berangkat lagi ke RS pendidikan, sudah menjadi makananku dan teman-teman seangkatanku.
"Tidur bae di panggil dokter Rio Lo suruh menghadap " ucap Adesti teman seangkatanku.
"Yang bener lo"ucapku sambil menyisir rambut dengan menggunakan jari-jari tanganku.
"Haha bercanda orangnya belum datang ko santai aja kali"Ucapnya.
"Sialan gw kira orangnya udah datang dan minta laporan "ucapku kesel si Desti hanya terkekeh.
"Tu lihat Aji masih tidur" ucap Desty.
"Kita berdua baru tidur setelah subuh" ucapku kesel,dengan memejamkan mata.
"Kalian kebagian piket bareng?"tanyanya. " Tidak gw piket jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Aji di poli spesialis"ucapku.
"Jadi Lo belum pulang? padahal tempat Lo kan dekat"ucapnya.
"Meskipun dekat cukup 15 menit berjalan ,tapi dari pada gw pulang mendingan aku gunakan waktuku buat tidur " ucapku langsung melanjutkan tidur.
"Bangun-bangun "ucap Bintang membangunkan kami yang lagi tidur.
"Dokter Rio sudah datang kita suruh menghadap ke ruangannya "ucap Bintang hanya dengan cuci muka aku menghadap dokter Rio, dokter konsultan kami dengan teman-temanku. Kami seangkatan ada 5 Desti 29 tahun, Aji 30 tahun ,Bintang 32 tahun dan Bisma yang paling muda 27 tahun maklum anak orang kaya setelah resmi jadi dokter langsung melanjutkan pendidikan spesialis. Aku sekarang sudah 29 tahun, ya ini tahun ke 3 aku menjadi dokter residen dan teman-teman ku di klinik tahunya aku pindah tugas bukan melanjutkan ke spesialis.
"Masuk, sekarang saya ingin tau apa yang kalian dapatkan setelah kita visit?" tanya dokter Rio.
Satu-persatu dari kami berlima mulai menyampaikan apa yang kami dapatkan dari pengamatan kami masing-masing .
"Sungguh melelahkan "ucap Bisma, setelah kami keluar ruangan setelah habis menerima materi dari beliau.
"Makan Yok lapar ni" ucap Bisma.
"Lo aja gw mau bikin mie, belum gajian"ucap mas Bintang.
"Gw juga bikin mie belum gajian, istri juga belum gajian "ucap mas Aji.
"Gw bekal "ucap Desti. "Gw udah beli roti" ucapku.
"Gw traktir di kantin aja yuk biar kita bisa makan sambil bahas materi "ucap Bisma.
"Oke siap, ini yang kamu tunggu " ucap Mas Aji dan Bintang secara bersamaan.
"Lo udah bekal mau ikut ga,"ucap mas Aji kepada Desti.
"Ikutlah gratis ko, nasinya bisa buat nanti "ucap Desty.
"Ayo kita makan siang bersama-sama,Lo gak usah alasan cuma makan roti doang "ucap Bisma sambil menarikku.
"Benerkan dugaanku Bisma suka lo"bisik Desty. "Apaan sih Lo gak usah berisik "bisikku saat kami sedang mencuci tangan sebelum makan.
"Ekhm, ekhm boleh ikut gabung makan " ucap Dokter Rio yang sudah berdiri di dekat kami.
"O, silahkan dok "ucap mas Bintang yang langsung berdiri menggeser duduknya.
"Kalian sering makan siang bareng begini?" tanyanya."Kadang kala dok tapi kebetulan hari ini kami ditraktir Bisma" ucap mas Aji.
"Yang semangat tinggal setahun lagi, jangan menyerah kalian adalah generasi penerus harapan bangsa " ucapnya, kami ngobrol sambil makan membahas bermacam-macam hal sampai jam istirahat kami habis.
"Gw berani bertaruh Kalau dokter Rio dan Bisma sama-sama suka sama lo" ucap Desty saat kami berjalan di lorong rumah sakit berempat, karena Bisma langsung pulang.
"Ya wajarlah kalau mereka suka sama Dira, wajah oke seperti ada darah Arab dan Eropa menyatu menjadi satu, tinggi cocok jadi model "ucap Aji.
"Kalau gw setuju Dira sama dokter Rio, karena dokter Rio lebih dewasa kalau sama Bisma jadi ngemong tar" ucap Desti.
"Dokter Rio itu duda anaknya kelas 5 SD"ucap mas Aji.
"Besok libur praktek ke mana lo?" tanya Desti. "Gw mau pergi ke Bandung ada janji sama orang kenapa mau ikut " ucapku.
"Lihat itu mantan istrinya dokter Rio beserta anaknya "ucap Aji sambil menuju ke lobby rumah sakit.
"Pantes biasa aja ,kalau dapat Lo berati dia dapat lebih baik dari istrinya"ucap Desti.
"Sialan kalian berdua ya, emang gw apaan dijodohkan sana sini"ketus ku. "Lo perawan tua "ucap Aji dan Desti bersamaan membuat ku melotot tidak terima dan mas Bintang tertawa ngakak.
"Mas Bintang yang 32 tahun aja Santai ko gw yang di permasalahkan."
"Kalau mas Bintang sudah ada calon kita tahu itu, la Lo kita kenal sudah 3 tahun tapi Lo tetap aja tidak jelas jangan-jangan Lo jeruk minum jeruk "ucap Desti.
"Sialan kalian ya" marah ku membuat mereka ketawa.
"Mau kemana gak kerja lo?" tanya Lilis perawat yang kamarnya terletak di sebelah ku.
"Mau ke Bandung ada yang mau lihat rumah almarhumah bunda,"ucapku sambil memakai sepatu kets.
"Pantes pakeannya kaya orang mau jalan-jalan ,kalau laku Lo bisa sedikit santai tidak terlalu memforsir diri sendiri buat hidup "ucapnya.
"Doakan lalu tar gw traktir nasi goreng seafood di tenda biru, "ucapku yang disambut tawa olehnya. "Berkelas dikit lah masa di tenda biru" ucapnya terkekeh.
"Gw cabut dulu" Meskipun uang bulanan dan praktikum dicover oleh beasiswa ,tetapi untuk beli buku dan sarana penunjang pembelajaran yang lain harus mengeluarkan uang sendiri, sedang kerja sampingan praktek sebagai dokter umum di klinik hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan bayar kosan, hingga semua uang tabungan peninggalan bunda kepakai.
"Assalamualaikum , bapak Hardianto "ucapku menyapa lelaki sesuai petunjuk pakean yang disampaikan lewat pesan.
"Iya saya, Walaikumsalam Adira?"tanyanya. "Iya saya Adira" ucapku memperkenalkan diri.
"Jadi gimana enaknya mau pesan makanan dan minuman atau langsung ke intinya ?" tanyanya.
"Pesan minuman aja pak , habis itu langsung kita bahas ke intinya "
ucapku.
"Ok baiklah," ucapnya disambung dengannya yang memanggil Waiters.
"Jadi anda ingin menjualnya dengan harga berapa ?" tanyanya. "Saya tidak tahu harga pasaran daerah sekitar sini jadi lebih baik bapak yang buka harga dulu"ucapku.
"Kalau boleh tahu buat apa rumahnya dijual tempatnya sangat nyaman, dekat pondok pesantren lingkungannya adem tidak sayang kalau di jual ?"tanyanya.
"Buat tambahan biaya pendidikan pak"ucapku, emang benar tabungan ku habis buat menutupi kebutuhan selama 3 tahun ini pengeluaran ku lebi besar dari pada pemasukkan ku.
"Kalau boleh tahu melanjutkan pendidikan ke mana biar bisa ngasih lebih "ucapnya diakhir candaan.
"Sebenarnya buat pendidikan sudah di cover beasiswa,tetapi kan masih butuh tambahan beli buku, fotocopy cari data , praktikum sedang pekerjaan sampingan hanya cukup buat kebutuhan sehari-hari dan tempat tinggal," ucapku siapa tau kalau aku jujur harga rumah bisa di lebihkan dari harga pasaran ucapku dalam hati sambil tersenyum.
"Emang lanjut kemana ?" tanyanya.
"Sepesilis jantung "ucapku.
"Woo ternyata calon dokter spesialis jantung,to"ucapnya.
"Iya pak"ucapku. " Jangan pak panggil saja AA "ucapnya membuatku melongo mendengarnya.
"Iya ,saya belum terlalu tua jadi jangan panggil pak,umur saya baru 35 tahun "ucapnya aku hanya tersenyum canggung menanggapinya.
🎼🏧 Rp. 50.000.000,00
Mataku membulat sempurna melihat notifikasi M Banking dari rekening bank lamaku,bank yang tiap bulan hanya ada pemasukan dari satu orang Abi.
"Siapa anda ?" tanyaku.