
"Aku rela tidak bisa melihat asal Diva kembali, ke pelukanku. Aku mau lihat Diva." Teriak histeris Hana , terlihat Adira dan Arkana saling menggenggam tangan dan meneteskan air matanya. Sedangkan Hana terus histeris dalam pelukan Raihan, sambil memukul-mukul dada Raihan. Setelah seharian pencarian tidak ada hasil mengenai Diva, mau tidak mau Raihan harus menyampaikan bahwa hanya bisa menemukan Tantri dalam keadaan luka parah.
"Mama,!" panggil Dila dan Satria yang baru masuk secara bersamaan .
"Sayang sini anak-anak mama!"
"Mama! Mama maafkan Dila, karena Dila yang memaksa mas untuk mengantar ke kantin. Mungkin jika hari itu Dila tidak memaksa, Diva tidak akan pergi."
"Bukan ini bukan salah kalian,ini salah mama dan papa. Kalau mama dan papa bisa hati-hati, tidak akan terjadi insiden hari ini."
"Bukan! Ini bukan salah kalian ,ini salah papa yang tidak becus menjaga kalian. Sebagai laki-laki papa gagal menjaga anak-anak papa dan istri papa." Ucap Raihan sambil memeluk Hana dan kedua anaknya.
"Tantri sadar !" Ucap Radit yang baru masuk, membuat mereka semua melihat kearahnya.
"Aku mau bicara dengannya," ucap Hana.
"Aku ambil kursi roda ,"ucap Raihan segera berlari keluar mengambil kursi roda.
Mereka semua berjalan ke ruang perawatan Tantri, tapi sayang hanya Hana dan Rai yang boleh masuk.
"Maaf aku tidak bisa menjaga Diva, anakku telah menjemputku." Ucap Tantri dengan terbata-bata.
"Jangan pergi dulu kamu harus beritahu kami bagaimana kondisi putriku? Apa dia terluka parah seperti mu?"Tanya Raihan to the poin, tanpa bertanya kondisi Tantri.
"Saat Loncat dari mobil. Aku sudah berusaha menjaga putri kalian sebaik mungkin. Tapi sayangnya lereng yang gelap membuat kami tergelincir ke jurang."
"Apa! Bagaimana bisa jatuh ke jurang,?" tanya Hana tidak percaya.
"Maaf, maaf. Putri kalian mengalami luka di kepalanya dan mengeluarkan banyak darah. Kebetulan ada pendaki gunung Lawu yang turun, jadi aku minta dia untuk menyelamatkan putri kalian. Seharusnya sebelum kalian menemukan aku, putri kalian sudah mendapatkan penanganan dokter." Cerita Tantri dengan susah payah di sisa nafasnya.
"Aku minta maaf telah menggoda suamimu, tidak ada yang terjadi antara aku dan suamimu. Aku juga tidak hamil anak suamimu. Maaf aku pamit, terima kasih dan sekali lagi aku minta maaf." Ucap Tantri dengan susah payah, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Cari putriku,cari putriku,"ucap Hana dengan berderai air mata.
"Iya,"ucap Raihan bertepatan dengan dokter yang masuk, setelah tadi Raihan menekan tombol emergency.
"Bagaimana Diva,?" tanya mami.
"Kata Tantri tadi pagi pas matahari terbit ada pendaki gunung, yang sudah menyelamatkan Diva."
"Kita cari di rumah sakit sekitar, pasti Diva masih dirawat di salah satu rumah Sakit,"ucap papi.
"Radit tolong urus jenazah Tantri secara layak,"ucap Raihan.
"Tantri sudah ?"
"Iya,"ucap Raihan membuat semuanya terdiam sampai dokter datang dan membenarkannya.
Malam ini terasa begitu lama buat Hana , Raihan, Adira dan semua keluarga yang sedang menunggu kabar kondisi Diva.
Hingga menjelang pagi datang. "Bagaimana kondisi Hana,?"
"Hana baru saja tertidur, setelah adzan subuh." Jawab Raihan saat Randi bertanya.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Baik Raihan, Arkana atau Elang Samudra pun, mereka semua mengerahkan semua koneksi yang mereka punya untuk mencari Diva. Tidak hanya rumah sakit besar, bahkan puskesmas dan klinik kecil pun mereka datangi untuk mencari informasi di mana Diva berada. Hingga menjelang siang Hana sadar dan terus mencari Diva, tapi juga belum membuahkan hasil apapun.
"Sayang makan dulu ,kamu dari kemarin belum makan."
"Bagaimana aku bisa makan , jika aku tidak tahu kondisi putri ku di mana ?"
"Hari ini masih dilakukan pencarian di area yang lebih luas. Selama tidak di temukan badan Diva, percaya lah kalau Diva kita dalam keadaan baik-baik saja. Bukannya Tantri juga sudah bilang Diva diselamatkan para pendaki gunung." Ucap Raihan menenangkan Hana yang masih terus menangis, padahal mata Raihan sudah merah menahan supaya air mata tidak turun.
"Kalau aku tidak menyuruh Tantri loncat ,pasti Diva sekarang masih bersama kita. Kamu pasti menyelamatkan aku dan putriku.Semua salahku,aku yang menyuruh mereka Loncat hingga Tantri meninggal dan putriku tidak tahu di mana berada ?"
Baik Hana maupun Raihan saling menyalahkan diri mereka masing-masing. Hingga seminggu pencarian tidak ada hasil, maka tim SAR di tarik kembali. Sedangkan kondisi Hana sudah pulih, tetapi tidak dengan matanya yang masih harus di perban karena masih dalam proses penyembuhan.
"Hana akan ikut mami ke Jakarta untuk menjalani pengobatan, dan anak-anak juga akan mami bawa mengenai sekolahnya akan mami pindahkan."
"Mi, kasihhan Rai. Raihan juga seperti kita dia juga sedih, Diva putrinya." Ucap papi yang paham apa yang di rasakan Rai, sebagai sesama lelaki.
"Kasihanilah Rai mbak,aku tahu putraku salah. Tapi jangan ambil semua dari Rai, Diva belum di temukan." Ucap mama Rai sambil memeluk Raihan, yang dari tadi hanya diam menunduk.
"Dia yang membuat semua masalah ini terjadi, jadi anggap ini sebagai hukuman buatnya!"
"Aku tidak mau menjalani pengobatan sebelum Diva ketemu !" Ucap Hana membuat semua orang melihat kearahnya.
"Dek,mas mohon jalani pengobatan biar matamu bisa melihat perkembangan anak-anak kita. Masih ada Adila dan Satria yang membutuhkan mu, mas rela menerima hukuman dari mami." Ucap Raihan setelah duduk di samping Hana.
Hana mengakat tangannya dan meraba pipi Raihan,"Menangis lah, jangan tahan air matamu. Kita sama-sama salah, kita sama-sama egois tidak mau di salahkan. Ini hukuman buat kita."
"Tida, ini salah mas bukan salah mu, mas rela manggung semua sendiri." Ucap Raihan sambil memeluk Hana dengan berderai air mata.
"Mbak jangan pisahkan mereka dan anak-anak juga butuh orang tuanya lengkap." Ucap mama Rai sambil menangis tersedu-sedu.
"Mas akan mengajukan pensiun dini jika kamu tidak mau menjalani pengobatan. Mas akan merawat mu dan anak-anak. Seperti selama ini kamu merawat mas!"
"Jangan pensiun dini, anak-anak sangat bangga dengan pekerjaan mu."
Membuat Adira Pergi meninggalkan ruangan perawatan Hana."Papi akan coba bujuk mami kalian!"
"Kenapa begitu besar cobaan hidup yang harus di jalani putri kita mas? Aku gak sanggup melihat Hana dalam kondisi seperti ini!" Ucap Dira sambil menangis tersedu-sedu di pelukan Kans, di taman rumah sakit.
"Percayalah Allah SWT tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya, melebihi batas kemampuannya. Allah SWT sudah memilih Hana dan Raihan, karena mereka sudah di anggap mampu dan bisa menjalaninya."
Saat Tantri Loncat dari mobil, Diva dalam keadaan tidur dalam gendongan Tantri.
"Mana mama Tante ?"
"Mama, mama mu.."Tantri bingung harus bilang apa.
Karena tidak ada jawaban Diva turun dari gendongan dan berlari,tapi sayangnya Diva malah hampir terjatuh ke jurang.
"Tante tolong aku, !" teriak Diva sambil menangis dan berpegangan pada akar pohon besar .
"Pegang tangan Tante Sayang."Sekuat tenaga Tantri mengulurkan tangannya untuk menolong Diva. Tapi sayangnya begitu tangan mereka saling berpegangan, Tantri tidak sanggup menarik Diva keatas malah membuat mereka berdua jatuh ke jurang.
Saat tersadar Tantri melihat jam tangannya menunjukkan pukul 5 pagi. Tantri senang saat menyadari Diva dalam dekapannya, tapi senyumnya pudar saat melihat kepala Diva berdarah.
"Tolong !! Tolong !! Siapapun tolong aku." Hingga saat Tantri hampir menyerah dia mendengar suara derap langkah kaki mendekat.
"Tolong !!"
"Bu,ibu tidak apa-apa mana yang sakit?"
"Tolong Diva."
"Bagaimana ini tidak mungkin kita bisa turun dengan membawa mereka, kita tidak ada tandu. Tapi kalau bocah itu aku bisa menggendongnya."
"Bawa saja Diva,!" ucap Tantri.
"Bu kami akan selamatkan putri ibu dulu, nanti kami akan meminta bantuan bu!"
Akhirnya Diva dibawa turun 2 lelaki pendaki gunung tadi.