Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
113. Raihan Rihanna XXXV Istri Polos



"Mau makan malam apa? Mas beliin ke depan."


"Tidak usah aku lihat di kulkas banyak bahan makanan,ada juga beras di dapur. Aku lagi masak nasi, tinggal sayurnya."


"Tapi aku tidak merasa mengisi kulkas apa lagi beli beras."


"Paling Randi,coba aja tanya yang tadi ngasih kunci dan bantu-bantu Randi siapa?"


"Kamu mau masak apa ?"


"Yang cepat saja , omelette aja mungkin."


"Omelette dan telur dadar itu sama saja."


"Bedalah. Omelet dan Telur Dadar itu sama berbahan dasar telor. Tapi sebenarnya berbeda."


"Sakkarepmu lah!" Ucap Raihan yang berjalan keluar untuk menurunkan barang bawaan mereka yang masih di dalam mobil.


"Mas gimana nyalain kompornya ?" Tanya Hana saat melihat Raihan dan Rama masuk ke dalam rumah sambil membawa barang-barang.


"Ya udah lebih baik kita beli makanan di luar aja. Nyalain kompornya tidak bisa apalagi masak yakin rasanya bisa dimakan?" Ucap Raihan santai seolah tidak takut istrinya marah. Sedangkan Rama yang melihatnya tak percaya, pengantin baru tapi tidak terlihat mesra sama sekali.


"Aku tidak bisa menyalakan kompor karena di rumah biasa memakai kompor listrik bukan kompor gas." Ucap Hana ketus," Hai kamu sini!" Ucap Hana melambai pada Rama.


"Ijin ibu ada apa ?"


"Tolong nyalakan kompor di dapur !" Ucap Hana , bukan Rama yang berjalan duluan tapi Raihan berjalan duluan kearah dapur.


"Lihat begini caranya menyalakan kompor gas," ucap Raihan. Setelah kompor nyala Raihan berjalan keluar dengan membawa botol minum. Raihan menurunkan barang bawaan dibantu Serka Rama. Sedang Hana memasak di dapur,hanya memasak seadanya yang cepat selesai. Hanya butuh 20 menit masakan simpel ala Hana sudah selesai, tinggal membawa dan menghidangkan ke depan.


"Mas sudah Mateng suruh temannya masuk !" Teriak Hana ,sambil menata makanan di meja makan.


"Ini yang namanya omelette dan ini telur dadar, bedakan rasanya." Ucap Hana sambil menyodorkan sepiring nasi putih dan lauk yang disebutkan tadi.


"Kamu bisa makan hanya dengan telor sama sambal saja ?" Tanya Raihan heran, Hana anak orang kaya hanya makan pakai telor dan sambal.


"Kenapa ini udah cukup,kamu juga makan saja gak usah malu-malu. Dia atasan mu diluar, di sini di dalam rumah dia hanya suamiku." Ucap Hana terlihat santai saat mengucapkannya.


"Makan Ram! Aku kira rasanya gak karuan, mengingat kamu yang gak bisa menyalakan kompor."


" Kenapa enak,?" Ucap Hana dengan senyum mengejek.


"Tidak biasa saja," jawab Raihan.


"Lain di lidah lain di mulut," ucap Hana sambil terkekeh kecil.


"Aku kan cuma bilang lumayan."


"Jangan suka menilai orang hanya dari luar,kenalin dulu orangnya. Mas habis makan tolong cuci piring sendiri ya sekalian perabotan!" Ucap Hana setengah berbisik.


"Kenapa,?" tanya Raihan aneh.


"Aku lupa tidak membawa salep kulit buat tangan."


"Emang ada hubungannya?"


"Kalau habis nyuci piring tanganku suka merah-merah, Kata dokter alergi kulit."


Raihan hanya mengangguk, meskipun tidak yakin seratus persen.


Setelah selesai dan Rama pamit pergi, Raihan mencuci piring sedangkan Hana menyiapkan diri.


"Udah siap, ayo berangkat. Jalan kaki saja ya!"


"Boleh,tapi kalau capek pulang gedong."


"Hmmmm."


"Jadi tanganmu halus karena gak pernah cuci piring ?" Tanya Raihan sambil berjalan dengan bergandengan tangan.


"Sering cuci piring,tapi kalau di rumah dan apartemen. Selalu ada salep yang biasa aku gunakan setelah mencuci piring."


"Memang kalau tidak memakai salep apa yang terjadi dengan tanganmu?"


"Kalau nyuci piring cuma satu apa dua gelas tidak masalah, karena aku bisa langsung keringkan tanganku."


"Kalau lumayan banyak apa yang terjadi ?"


" Jika setelah dikeringkan dan tidak dipakaikan salep selama 10 menit. Akan muncul ruam-ruam merah dan tangan terasa gatal."


"Ada-ada aja." Ucap Raihan lirih yang masih bisa ku dengar.


"Itu rumahnya, Komandan mas. Jangan bertanya kemana istrinya!"


"Emang kenapa ?"


"Lagi proses perceraian, semoga saja tidak jadi bercerai. Udah ga usah di bahas,ayo ngucapin salam."


Orangnya ramah, humoris itu yang aku simpulkan saat kami ngobrol. Tapi ko di tuntut cerai apa yang kurang ya kira-kira, tanyaku dalam hati. Setelah mengobrol hampir 30 meni, itu yang menggagu pikiran ku.


"Gau usah di pikirkan ayo kita sudah sampai di rumah Wadanyon." Ucap Raihan, Raihan tadi sudah bilang setelah dari rumah Danyon (Komandan Batalyon ), baru ke rumah wakilnya.


"Siap iya Bu,"ucap Raihan.


"Bu Rudy sudah pulang belum?"


"Mama tidak baik ikut campur urusan orang. Kita harusnya ikut mendoakan yang baik, bukan membicarakannya !" Ucap tegas Letkol Hanif.


"Aku tidak cuma bertanya saja. Terima kasih ya kue nya brownies coklat kesukaan anak-anak. Begini. harusnya orang bertamu,membawa buah tangan."


"Mama orang bertamu itu untuk silaturahmi, bukan memberikan makanan." Ucap tegas Mayor Hanif.


"Ya udah aku bawa masuk brownis nya dulu," ucap Bu Hanif.


"Selama menjadi Wadanyon yang paling berat buat saya itu, mendidik istri saya kapten. Karena itu Kapten didik istri yang bener, karena istri yang baik akan menjadi teman di dunia dan akhirat."


"Siap komandan !"


"Saya kemarin juga sempat menghadiri acara pernikahanmu , tapi sendiri karena menemani Letkol Rudy. Karena istri tidak tahu, jadi jangan bahas acara resepsi pernikahan mu yang mewah ya." Ucap mayor Hanis sambil bercanda.


"Siap komandan !"


"Saya harap kamu bisa mendampingi kapten Raihan dalam suka dan duka."


"Siap iya pak," jawab ku sedikit kaku.


"Santai aja kamu bukan bawaan saya. Suami mu yang bawahan saya." Ucap mayor Hanif, bertepatan dengan istrinya yang keluar dengan membawa potongan kue yang kubawa tadi.


"Brownis nya enak beli di mana ?"


"Ijin maaf Bu saya kurang tahu, itu oleh-oleh dari saudara." Bohongku , Raihan hanya melihat ku datar. Obrolan kami sedikit lebih lama dari pada di rumah Letkol Rudy.


"Memang gosipnya apa ko bisa bercerai ?"


"Aku tidak tahu, itu urusan mereka."


"Penasaran saja karena melihat Letkol Rudy pasti pernikahannya sudah lama?"


"Mungkin 20 tahun, karena anaknya sudah gede semua. Ada yang sudah kuliah."


"Berati bercerai bukan karena tidak cocok, karena kalau tidak cocok tidak mungkin bertahan selama itu."


"Kepo amat istriku ini?"


"Bukan begitu aku cuma kepikiran pernikahan kita yang baru mulai." Ucapku lirih, Raihan yang mendengarnya langsung merangkul pinggangku.


"Aduh kapten bikin ngiri."


"Jadi pingin cepat nikah aku, kapten." Siulan dan ucapan-ucapan godaan membuat pelukan Raihan semakin erat,aku yang malu hanya menundukkan kepalaku.


"Kita halal kenapa malu,"bisik Raihan .


"Siapa yang malu,?"bohongku.


"Istriku ternyata pintar berbohong sudah 2 kali ini aku lihat berbohong."


Aku hanya pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan.


"Sini duduk,"ucap Raihan menarik aku untuk duduk di sebelahnya.


"Kenapa,?"tanyaku sedikit gugup karena posisi kami yang terlalu dekat."


"Tidak usah tegang santai aja.


"Kamu kali yang tegang,"ketus ku untuk menutupi yang kurasakan.


"Kalau aku tegang wajarlah, aku lelaki normal."


"Aku mau duduk sendiri."


"Disini aja, kalau kamu terus malu-malu, kapan bisa mulai bikin pesanan nenek."


"Pesanan nenek apa?" Tanyaku bingung sambil menatap Raihan.


" Cicit, cup."


"Mass.."Ucapku kaget membuat Raihan tersenyum tipis.


"Itu namanya kecupan. Sekarang mas ajarin apa itu ciuman." Ucap Raihan yang langsung ******* bibirku secara lembut dan ringan.


"Nikmati dan ikuti naruni mu," bisiknya saat menghentikan ciumannya.


"Kenapa,?" tanyanya sat melihat ku yang masih bengong.


"Lemes," ucapku spontan.


"Haha ternyata istriku masih terlalu polos untuk masalah ranjang."


"Apaan sih,"kesalku sambil memukul dadanya.


"Ayo kita sholat sunah pengantin," ucap Raihan sambil menggedong ku dan menurunkan di kamar mandi.