Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
87. Raihan Rihanna XII



POV.Raihan


Hari ini aku dan teman-temanku seperti biasa belajar murojah di pesantren. Bedanya hari ini telah khatam , setelah beberapa bulan belajar di waktu longgar kami, yang sibuk dengan berbagai kegiatan pelatihan.


Dihalaman belakang aku melepaskan sarung , peci dan kaos ku. "Ini pesantren bukan bukan batalyon, yang bebas kamu main buka-bukaan."


"Makanya aku pus up di belakang Kep," jawabku kepada kapten Erlangga.


"Justru di belakang Lo ga takut ada yang ngintip ?"


"Aduh kapten lihat itu,hanya tanah kosong. Lagian asrama santri putri jauh dari sini."


"Ya siapa tahu ada mbak-mbak lewat."


"Mbak Kunti iya," jawab ku membuatnya tertawa.


"Lagian gak workout ga apa-apa kali!"


"Masalah aku mau tidur gak bisa tidur, makanya sekarang aku workout siapa tahu habis ini pules tidurku."


"Emang bener sih biasanya habis workout malam,Kualitas tidur menjadi meningkat , membuat pikiran menjadi jernih."Ucap kapten ErLangga berhenti di karenakan ada panggilan masuk di ponselnya.


"1 2 3 ..... 20 21 22 23 24 25."


" Astaghfirullahal 'adziim!!" Teriak sedikit keras seorang wanita membuatku kaget.


"Aduh maaf, maaf maaf !" ucapku sedikit salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalaku.


"Aku kira anak kecil mana yang berhitung malam-malam gak tahunya orang sedang push up. Ya udah teruskan saja," ucapnya sambil berjalan meninggalkannya.


"Sebentar, Ning permisi." Ucapku mencegahku untuk berjalan. Entah kenapa aku merasa familiar dengan suaranya dan poster tubuhnya.


"Maaf," ucapku sambil melepaskan tangannya yang sedang ku pegang.


"Ada apa ?"


"Apa kita pernah bertemu ?"


"Aku tidak tahu di jalan mungkin,"ucapnya sambil berjalan meninggalkanku.


"Kenapa Lo bengong Lo melihat hantu ?"


"Bukan kapten tadi,aku lihat cucu kyai yang namanya Hana. Ko sepertinya tidak asing begitu ?"


"Nama Hana itu banyak, ayo tidur! Ini bukan kawasan kita jangan buat masalah."


"Baru pukul 09.00 malam Kep."


"Ya kalau gitu ikut aja sana para santri yang masih pada ngaji dari pada disini ."


"Boleh sih,tapi badanku bau keringat."


"Ya udah sana mandi malam,"ucapnya sambil tertawa kecil.


Setelah aku mandi aku bergabung dengan teman-temanku ,tapi ada yang aneh.


"Lo buat salah apa,?" bisik Fauzi .


"Aku juga gak tahu," ucapku karena aku juga tidak tahu apa penyebab para ustad itu melihat aneh ke arah ku.


Bahkan sampai acara selesai mereka mengajak ku untuk menemui pak kyai pemilik pondok pesantren. Aku dan rekan-rekan ku sempat bertanya,tapi mereka bilang akan tahu nanti.


"Maaf nak Raihan biasa jelaskan gambar ini,"ucap ustadz Hardi. Nampak aku yang sedang memegang lengan wanita tadi. Siapa gerangan yang mengambil gambar kami dan apa maksudnya menyebarkan gambar tersebut. Apa kapten Erlangga tapi buat apa, astaghfirullah kenapa aku jadi berprasangka buruk sama atasanku.


"Maaf saya tidak ada niat buruk, sama sekali."


"Tapi cara berpakaian anda itu tidak sopan dan itu sudah melanggar peraturan pondok pesantren kami."


"Saya sungguh tidak tahu, saya sengaja olahraga di belakang biar tidak ada yang melihat sebenarnya."


"Jika santri kami terdapat melanggar aturan maka akan kami hukum sesuai peraturan pondok pesantren,tapi Masalahnya anda bukan santri kami."


"Dihukum dalam hal apa dulu, rekan saya tidak melakukan apa-apa hanya memegang lengan. Itu pun juga masih terlapisi kain. Tidak melakukan zina," ucap kapten Erlangga.


"Kami tidak melakukan zina. Tapi jika dianggap salah saya siap menanggung konsekuensinya. Bahkan menikah dengannya saya juga siap!"


"Baiklah besok kita bicarakan dengan pak kyai sekarang sudah malam waktunya istirahat !"


Kami ahkirnya membubarkan diri ,aku dan rekan-rekanku kembali ke kamar yang disediakan buat kami berlima.


"Kamu yakin dengan yang apa kamu ucapkan. Pikirkan dulu sebelum berucap jangan asal ngomong."


"Emang kenapa,?" tanyaku pada Erlangga.


"Dari yang aku dengar , tidak ada yang pernah melihat wajahnya Hana dari umur 12 tahun."


"Maksudnya,?" tanya Erlangga pada Fauzi.


"Begini Kep. Hana itu anak yang cantik dan energi tapi saat umur 12 tahun dia tinggal bersama kakek nenek dari pihak ayahnya. Sejak saat itu setiap kesini pakeanya selalu begitu dan selalu menutup wajahnya dengan masker." Jelas Fauzi.


"Memang kenapa dengan pakaiannya dan maskernya?" Tanya Erlangga karena kami juga penasaran kamu juga mengaguk.


"Ada yang bilang mukanya rusak dan dia tidak pernah memakai rok panjang."


"Maksudnya,?" tanyaku.


"Dia tidak seperti kebanyakan Ning, seorang putri kiyai yang berpakaian syar'i dan kelihatan anggun. Dia memang menutup auratnya tapi ada yang bilang, dia menjadi wanita bebas di luar. Makanya tidak pernah mau tinggal lama di pesantren." Penjelasan panjang Fauzi membuatku sedikit ragu dengan keputusanku.


"Sebagai seorang kesatria ucapanmu harus bisa dipegang. Maka itu mintalah petunjuk sama Allah SWT. Karena hanya Beliau yang tahu yang terbaik buat umat Nya." Ucap Serka Ali, membuatku mengaguk. Sholat istikharah adalah jalan terakhir yang kuambil untuk memantapkan hati ku , harus mundur atau maju.


Pukul 3 pagi aku bangun dan menuju masjid nampak sudah ramai para santri bersiap-siap untuk melakukan sholat malam. Setelah sholat malam bersama para santri aku sambung dengan sholat istikharah. Karena pikiranku yang masih belum tenang ,aku putuskan untuk keliling pesantren dan melihat aktivitas pagi para santri.


"Bagaimana sudah sholat istikharah,?"tanya Serka Ali, menghampiriku sehabis sholat subuh berjamaah.


"Sudah,tapi belum menemukan jawabannya. Aku masih saja ga tenang."


"Yakin lah Allah SWT Maha tau yang terbaik buat hambanya."


"Terimakasih."


"Ayo joging keliling !" Aku hanya menggelengkan kepalaku, membuatnya tertawa kecil. "Kamu trauma dengan kejadian semalam ya," ledeknya.


"Ya begitulah."


"Gunakan pakean yang sopan disini kalau mau olahraga. Di sini juga ada olahraga pagi 30 menit."


"Kok kamu tahu?"


"Aku pernah menjadi santri di sini waktu tingkat SMP selama 3 tahun. Tapi waktu SMA aku berhenti mondok karena bapak meninggal dan aku harus sekolah sambil bekerja untuk membatu ibuku."


"Tentang cerita Fauzi semalam apa itu benar ?"


"Aku kurang tahu let, karena aku sendiri juga tidak tahu kebenarannya. Tapi menurutku itu hanya gosip yang sengaja di sebarkan untuk menjatuhkan nama Ning Hana."


"Kenapa begitu ?"


"Karena aku dengar ibu Ning Hana itu anak tunggal dan Ning Hana itu cucu dan anak kesayangan. Aku dengar dari abdi dalem rumah kyai,neng Hana orang baik."


"Semoga sedikit cerita mu bisa memantapkan hati ku."


"Memantapkan hati untuk apa letnan ? Untuk menikahi Ning Hana ? Pede banget let,?" ucapnya sambil terkekeh.


"Kamu ya. Sikap tobat!"


"Siap!?"


"Aku cuma bercanda,santai saja."


"Letnan kali yang harusnya santai, bukan saya." Ucap Serka Ali sambil berlari meninggalkan aku.


'Bismillahirrahmanirrahim, apapun yang terjadi hari ini aku pasrahkan kepadamu ya Allah. Hanya Kau yang tahu apa yang terbaik buat hambamu'.