Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
140.RR. Psikopat



"Kamu ada hubungan apa dengan dokter Faizal?"


"Aku, tidak ada."


"Jujur aja, tidak apa-apa !"


"Apa sih maksudnya mas?"


"Lihat ini." Ucap Raihan sambil menyodorkan ponselnya.


+628193467xxxx


📷(Foto saat Hana ngobrol dengan Faizal pas kakinya terkilir.)


📷 (Foto Hana Yang tadi berjalan dan di hampir Faizal.)


📷 (Foto saat Hana berkaca pinggang di depan Faizal.)


"Aku bisa jelasin semuanya. Itu foto pertama saat kakiku terkilir dan mas bilang aku tidak apa-apa di tolong olehnya."


"Tapi dari gambar kalian terlihat sangat akrab, Kamu selalu menjaga jarak dengan lelaki single di asrama. Aku melihat mu akrab dengan lelaki selain keluarga mu adalah rekan kerja mu."


"Dia senior ku di kampus, tapi dengan jurusan berbeda."


"Apa dia orang yang pernah dekat dengan mu,sepupu dari sahabatmu?"


"Iya,"jawabku sambil mengagukan kepala. Terdengar helaan nafas panjang dari Raihan.


"Jadi selama ini aku salah telah menitipkan mu dengannya."


"Apa maksudnya mas menitipkan ku dengannya."


"Setelah insiden kakimu yang terkilir, mas sempat menghubunginya untuk mengucapkan terima kasih."


"Kenapa berterima kasih kepadanya, aku aja menolak bantuannya."


"Kalau itu mas tahu dari Yanti. Kamu lebih memilih menunggu kembaran mu dari pada menerima bantuan orang yang bukan muhrim mu. Sekarang mas paham kenapa kamu menolak bantuannya."


"Paham apa ?"


"Kamu tidak mau menerima bantuannya karena dia orang yang bikin kamu sakit hati."


"Sok tahu kamu mas, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya ya."


"Tapi hampir ada hubungan dengannya kan?"


"Apaan sih mas, sudah ah."


"Mau kemana ?"


"Gak denger adzan Dzuhur itu!"


"Dengar kok, kita jamah di rumah yuk! Sini mas bantu jalan!"


"Bantu ya bantu tapi tangannya di kondisikan, dong." Kesalku saat tangan Raihan meraba-raba punggungku.


"Dek!"


"Hmm."


"Elang tidur kan?"


"Iya kenapa ? Tidak usah aneh-aneh kamu mas!"


"Apaan aku cuma nanya doang." Cengir Raihan sambil berjalan menuju kamar mandi.


Setelah sholat Dzuhur kami makan siang bersama dan saat terdengar ketokan pintu Raihan langsung bangun.


"Eh dokter Faisal sini masuk ! Ada apa ya?"


"Ini kapten saya hanya mau mengantarkan obat untuk luka ibu. Sekalian ini no polisi mobil yang tadi hampir menyempret ibu."


"Oh terima kasih Lo,maaf jadi merepotkan dokter. Tapi maaf bukan bermaksud menolak, tetapi istri saya punya alergi terhadap beberapa obat. Jadi menyiapkan obat khusus sendiri."


"Oya udah maaf kalau begitu kapten."


Tidak apa-apa silahkan pergi kami mau meneruskan makan siang !"


Aku langsung tertawa cekikikan begitu Faizal pamit pergi, "Kenapa ada yang lucu!"


"Iya,kamu lucu mas." Ucapku masih dengan cekikikan.


"Apa yang lucu,?" tanya Raihan dengan berkacak pinggang.


"Aku itu alergi obat, obat yang di minum mas. Bukan obat untuk luka luar, yang mau di kasihnya tadi hanya obat luar."


"Oo kamu bela mantan mu itu?"


"Siapa yang bela sih. Aku cuma mau meluruskannya, biar kamu lain kali tidak salah."


Ko Raihan seperti cemburu sih, tapi ga mungkin deh kalau suamiku cemburu pada ku.


"Ayo mas makannya terusin baru berangkat lagi kerja !"


"Hmm," ucap Raihan sambil meneruskan makannya.


Tok tok tok "Siapa ya?" Teriaku dari dalam sambil mencari kerudung instan ku. Sedangkan Raihan telah kembali kerja sejam yang lalu.


"Paket !"


Paket apa ya, perasaan aku lagi gak belanja online deh. Apa mungkin Raihan yang belanja online.


"Paket apa ya ?"


"Ini Bu," ucap kurir sambil menyodorkan kotak.


"Apa ini?.. Oliv ada apa sampai menyamar menjadi kurir paket segala.


"Ada yang perlu aku bicarakan dengan mu! Boleh aku masuk, biar enak ngobrolnya ?"


"Ooh silahkan! Maaf berantakan,". Ucapku sambil merapikan mainan Elang. Karena perasaan ku tak enak, apalagi di jam 2 siang begini suasana sepi. Banyak orang yang tidur siang, karena itu aku menghubungi Raihan melalui panggilan telepon.


"Anak mu mirip sekali dengan mas Rai !"


"Ya wajar dia anaknya, makanya mirip."


"Bisa tidak kamu mengijinkan mas Rai menikah dengan ku?"


"kamu gila ya!"


"Aku dengar kalau istri pertama mengijinkan tidak apa-apa, seorang abdi negara menikah lagi."


"Gila kamu! Lebih baik kamu pergi sekarang ! Sebelum anakku terbangun dari tidurnya !"


"Aku hanya ingin kamu ijinkan menikah dengan mas Rai."


"Tidak akan !"


"Seharusnya kamu tadi mati aku tabrak!"


"Jadi kamu tadi sengaja menabrak ku? Lalu kenapa tidak kamu teruskan saja, mungkin kalau aku mati Raihan mau menikah dengan mu!"


"Mungkin tadi kamu bisa lolos,tapi tidak sekarang. Mari kita mati bersama biar tidak ada satupun dari kita yang akan mendapatkan Raihan !" Ucap Olivia bersamaan dengan pisau yang sudah menusuk ke perutku.


"Kamu gila !"


"Setelah nyawa mu lenyap, giliran nyawa putramu akan ku habisi, setelah itu aku bunuh diri haha hahaha."


"Psikopat!" Ucapku langsung lari masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Kulihat Elang sudah bangun tapi masih dengan posisi tiduran, mungkin terbangun saat aku membuka pintu dengan keras tadi.


"Sayang sudah bangun."


Brak brak brak "Buruan buka pintunya biar lebih cepat lebih baik!"


Apa panggilan ku tadi tidak terhubung dengan Raihan? Kenapa lama sekali Raihan datangnya. Apa Yanti yang rumahnya di sampingku pas, tidak mendengar gebrakan pintu yang di lakukan Oliv.


"Hus sayang diam ya ada mama di sini." Elang menangis kencang mendengar suara gedoran pintu kamar yang tidak berhenti.


"Sayang ***** ya nek." Dengan menahan rasa sakit karena tusukan,aku memberikan ASI pada Elang.


Terdengar suara beberapa orang mungkin Raihan yang datang, atau tetangga yang datang karena ulah berisik Oliv.


Kenapa kepalaku terasa melayang dan pandanganku kabur? Apa ini terakhir aku memberikan ASI pada Elang.


"Elang dengerkan mama sayang. Sampai kapanpun Elang adalah kesayangan mama. Jangan rewel, jangan nakal ya sayang." Ucapku ku ahkiri dengan kecupan di pipi tembem Elang.


Tok tok tok "Dek ini mas, buka pintunya sayang !"


"Itu ayah sayang, bantu bunda jangan menangis ya." Ucapku sambil melepaskan mulut Elang dan merapikan bajuku sebelum keluar.


Ya Allah SWT yang Maha pemurah beri aku kekuatan untuk menemui suamiku.


Dengan sisa tenaga aku bangun dan membuka pintu.


POV . Raihan


Jantungku berdetak kencang mendengar suara telpon dari Hana. Buka suara Hana yang terdengar tapi obrolan Hana dengan seseorang yang aku yakin adalah Olivia. Seperti bom waktu buatku, Aku harus cepat sampai rumah sebelum hak buruk terjadi dengan anak dan istriku.


"Dokter ikut saya sebentar!"


"Kemana ?"


"Pulang,ajak sekalian temannya !" Ucapku sudah seperti perintah saat melihat Faizal melintas dengan temannya.


" Ada apa kapten ?" Tanya Faizal saat motor kami sudah berhenti di depan rumah dinas.


Tanpa menjawab aku langsung berlari masuk ke dalam rumah, terdengar suara tangisan Elang.


"Apa yang Lo lakuin ?"


"Aku sedang minta izin baik-baik pada istrimu untuk mengijinkan aku menikah denganmu !"


"Jangan gila kamu, meskipun istriku kamu bunuh. Aku tidak Sudi menikah dengan wanita gila seperti mu!"


"Dokter amankan wanita gila ini!"


"Siapa Kapten !"


Tok tok tok "Dek ini mas, buka pintunya sayang !"


Ya Allah ya Tuhanku kenapa lama sekali membuka pintunya, apa yang telah terjadi sebenarnya ?


"Dek ,dek Hana buka pintunya."


"Mas." Nampak muka pucat Hana sedang mengendong Elang.


" Mas nitip Elang," ucap Hana sambil menyerahkan gendong Elang padaku.


"Dek,!" teriakku sambil menangkap tubuh Hana yang mulai lemas.


Saat Hana pingsan aku baru sadar ada darah yang keluar dari perutnya. Pikiranku tambah kacau saat mendengarkan tangisan Elang.


"Ada apa kapten ?"


"Tolong lihat istriku sepertinya ada darah yang keluar dari perutnya!"


"Baik!"


"Kapten ini ponselnya tidak mau berhenti berbunyi !"


"Tolong angkat dan speaker !"


"Assalamualaikum Hana ,apa yang terjadi kenapa perasaanku tidak enak. Itu suara Elang kenapa menangis ?"


"Hana terluka ini aku mau bawa ke rumah sakit."


"Rumah sakit mana, jangan di kasih sembarangan obat anestesi. Kami akan segera kesana sekarang ! Tut Tut."


"Tolong gedong sebentar Elang biar aku yang gedong istriku." Ucapku saat melihat Faizal hendak menggedong Hana .