
"Jadi Pakde dan Budhe sudah berpisah,?" tanyaku tak percaya setelah mendengar sedikit cerita dari Romi, sambil menikmati kopi dan cemilan.
"Apa karena aku ?" tanyaku memastikan,aku sungguh merasa sangat berdosa jika semua karena aku.
"Bukan papa dan mama berpisah setelah 5 tahun mbak pergi,jadi tidak ada hubungan sama mbak"ucap Romi. Ingin aku bertanya alasan Pakde dan Budhe bercerai tapi aku takut akan membuat Romi tersinggung atau membuka kenangan buruknya.
"Pak Dhe sekarang dinas dimana ?"tanyaku. " Polda Jabar" Jawa Romi.
"Jada Rara di Jakarta ikut bude?"tanyaku,"Rara ikut mama tinggal di Jakarta bersama suami baru mama, makanya tadi papa gak bisa langsung datang waktu di kabari Rara masuk rumah sakit tau sendiri Jakarta - Bandung tidak seperti Kemang - Tebet" ucap Romi.
"Ko Kemang - Tebet"? tanyaku bingung." Suami baru mama kerja di Kemang dan rumah sakit ada di Tebet "ucap Romi membuatku tertawa.
"Jadi Budhe menyalahkan Pakde karena baru sampai rumah sakit siang "tebak ku."Iya ,aku lebih setuju Rara tinggal bersama papa,meski papa kerja tapi papa akan selalu menyediakan waktunya buat kami anak-anaknya dan selalu siap sedia jika kami membutuhkan"ucap Romi. Aku tahu Pakde adalah orang yang sayang dengan anak-anak kecil meski aku bukan anak kandungnya hanya keponakan , tetapi Pakde sudah menyayangiku dari aku kecil bahkan kata Bunda jauh sebelum aku lahir dia sudah sayang padaku.
"Terus kamu kerja di mana sekarang ?"tanyaku. "Pegawai di BIN sebagai Staf Ahli Bidang Hukum dan Hak Asasi Manus "jawabnya.
"Selama Rara di Rawat Pakde tinggal di mana ?" tanyaku."Mungkin papa akan tidur di rumah sakit karena aku juga masih tinggal sama mama "ucap Romi.
"Aku tinggal di kosan tidak jauh dari sini kamu bisa ajak Pakde tinggal disana sama pakde, karena waktu ku habis di rumah sakit "ucapku.
"Apa tidak apa-apa ?"tanya Romi."Bebas cewek cowok asal laporan "ucapku.
"Ok siap tar aku bilang sama papa" ucapnya."Ya udah balik yu"ucapku.
"Pakde sudah ada rencana menikah lagi tidak,?" tanyaku. "Aku pernah bertanya,kata papa yang penting anak-anaknya bahagia itu sudah cukup"ucap Romi.
Saat dalam perjalanan di lobby rumah sakit kami bertemu Budhe dan kedua orang yang tadi ada di ruang perawatan Rara. Karena Budhe bersikap seolah aku tidak ada makanya aku juga bersikap cuek seolah tidak kenal juga.
"Mama pulang titip adikmu,!"ucap Budhe. "Mama tidak perlu khawatir ,aku rasa papa lebih tahu bagaimana cara merawat Rara daripada mama" ucap Romi .
"Makin kurang ajar mulut mu!" ucap Budhe sebelum melangkah pergi.
"Rara sudah tidur pa?"tanya Romi saat masuk ke ruang perawatan dan melihat Rara sudah pules.
"Apa sudah ketahuan sakit apa,Pakde ?" tanyaku."Belum kata Mama Rara tadi sudah diambil darahnya tetapi hasilnya belum keluar sampai sekarang"ucap pakde. Durasi dalam pengambilan sampel darah (cek darah) dan menunggu hasil uji laboratoriumnya pasien sebenarnya tidak lama hanya butuh waktu kurang lebih 90 menit saja sudah diketahui hasilnya.
"Dokter yang menanganinya tadi siapa,Pakde ?"tanyaku."Pakde kurang tahu soalnya mama Rara yang mengurus semua sebelum datang" ucap Pakde .
"Itu infus habis aku bilang suster dulu "ucap Romi pergi keluar."Kenapa Romi pergi keluar kan disini ada tombol darurat "ucapku. "Kalau aku tekan itu perawat akan datang dengan tangan kosong, kalau aku samperin kan gak perlu bolak-balik,aku kan orang baik"ucap Romi sebelum keluar dari ruangan.
"Mama Rara punya anak kecil yang juga harus dijaga mungkin untuk sementara Pakde yang akan menjaga Rara di rumah sakit,"
"Aku kos tidak jauh dari sini Pakde bisa menginap di sana kalau mau istirahat"ucapku.
"Apa tidak masalah dengan penghuni lain?" tanya Pakde yang kujawab dengan gelengan kepala. "Yang penting sudah lapor sama penjaga kosan"jawabku.
"Eh ada dokter Dira disini"ucap Suter Lilis yang masuk dengan membawa infus di ikuti Romi di belakangnya. "Mbak tes laboratorium dah keluar belum ?"tanyaku."Sudah dok,tapi masih di ruangan laboratorium,"ucapnya.
"Pakde bulan depan aku wisuda pakde datang ya" ucapku setelah Lilis keluar."Pakde akan usahakan, tetapi tidak janji"ucapnya. " Tidak apa-apa tidak perlu dipaksakan "ucapku."Nanti kamu simpan nomor Pakde yang baru , terus kamu kirim aja tanggal pastinya ntar Pakde usahakan datang"ucapnya."Kemarin wisuda mbak Dira sendirian, kalau yang ini kita usahakan cuti buat kita kumpul bersama,ya ga pa"ucap Romi yang di anggukin sama Pakde .
"Terima kasih " ucapku,"Pakde mintak maaf tidak bisa menjagamu dengan baik, seharusnya Pakde selalu ada bersamamu dan melindungimu setelah kepergian Bundamu"ucap Pakde .
"Sudahlah Pakde aku sudah belajar untuk ikhlas dengan apa yang terjadi "ucapku. "Pastinya perkataan mama Rara masih terekam jelas di ingatanmu, sejak Pakde tahu kalau kamu pergi karena tidak mau menjadi beban Pakde dan keluarga,Pakde tidak pernah melupakan perkataan mama Rara malam itu" ucap Pakde .
"Pastinya mbak Dira masih ingat aku aja masih ingat ko"ucap Romi..
"Dimana hati nurani dan perasaanmu,adikku belum kering tanah pemakamannya kamu sudah membahas tentang nasib putrinya " ucap Eko, sambil menatap tajam istrinya.
"Apa aku salah,aku sekarang hamil anak kedua, sedang putra kita tahun depan masuk SMA, sedang Dara tahun ini harus masuk kuliah " ucap istri Eko.
"Dwi adikku dan Dara tanggung jawabku kamu tidak perlu cemas aku bisa mencari pekerjaan lain biar tidak mengurangi jatah bulanan mu dan anak-anak jika itu yang kamu takutkan" ucap Eko.
"Terserah papa kalau begitu asal tidak dipotong uang bulanan ku dan jangan kau mencari pekerja haram untuk menghidupi kami" ucap istri Eko, yang di balas Eko dengan memberikan tamparan yang begitu keras di pipi istrinya.
"Kamu tega pa menamparku,?"tanya istri Eko.
"Aku tidak pernah menerima uang haram seperti kakakmu itu ,aku menggunakan seragamku dengan kebanggaan orang tuaku" ucap Eko sebelum pergi meninggalkan istrinya.
" Puas kamu melihat pamanmu menampar bibi hanya untuk membelamu dan bundamu"ucap Bibi melihat kearahku yang sedang mengintip di pintu kamarku bersama putra sulungnya.
"Kamu dan bundamu sama saja hanya benalu yang cuma bisa merepotkan hidup budhe, kenapa sih kamu tidak ikut bunda mu saja sana".
"Braakkk ngelamun aja belum pulang Lo ?"tanya mas Bintang, menyadarkan ku dari lamunan bayangan masalalu.
"Mas pasien atas nama Rara bisa lihat hasil tesnya gak ?"tanyaku.
"Mengalami penurunan Thrombosit (< 100.000/µl ) dan peningkatan hematokrit sampai lebih dari 20% pada pemeriksaan,"ucapnya mas Bintang.