
^^^🎼✉️ Suami^^^
^^^Mas gas habis^^^
^^^Aku tidak masak mas beli saja^^^
Itu adalah bunyi pesan yang baru aku kirim ke Raihan.
"Yanti minta mangga boleh,?" tanyaku sambil berteriak di depan teras ku.
"Boleh mbak ambil saja,tapi masih muda asem lo!"
"Ya kamu bikinin sambel aku ambil mangga ya?"
"Oke ,"ucap Yanti langsung masuk kedalam rumahnya.
Setelah memetik beberapa mangga dan sambel sudah selesai,aku malah bingung bagaimana cara turun dari atas pohon.
"Ayo mbak sambel sudah siap,!" teriak Yanti dari bawah.
"Yanti tolong gw gak bisa turun," ucapku sambil menahan air mataku yang hampir menetes.
" Aduh gimana ya mbak. Aku telpon mas Ari dulu ya biar menghubungi kapten Raihan."
"Buruan Yanti aku takut." Sekitar 10 menit Raihan datang bersama Ari. Melihat aku yang sudah meneteskan air mata Raihan lansung naik ke atas pohon. "Sudah jangan nangis ada mas,ayo naik punggung mas!"
Dengan di gendong belakang oleh Raihan ahkirnya aku bisa turun, "Alhamdulillah ahkirnya menginjak tanah lagi," ucapku sambil duduk di teras rumah.
"Lagian ngapain sih kamu naik-naik pohon segala ,kan bisa pakai galah untuk mengambil mangga."
"Pingin metik langsung dari pohonnya," cicitku sambil menyembunyikan wajahku pada dada bidang Raihan.
"Perempuan ko ga ada anggun-anggunnya," sindir Ratih .
"Sudah tidak apa-apa lain kali pingin apa-apa bilang ke mas, sekarang makan siang dulu mas udah belikan makanan." Ucap Raihan sambil menggandeng ku masuk ke dalam rumah.
"Ko mas beli banyak lauk?" Tanya ku karena ada 4 macam lauk.
"Habis mas tergiur melihatnya," ucap Raihan sambil mengambil 2 piring nasi putih.
"Tidak ambil mangkok buat lauk mas?"
"Tidak usah biar tidak cuci piring." Ucap Raihan sambil membuka ikatan lauk, tapi saat makan sesuap Raihan lansung berlari ke kamar mandi. Raihan memuntahkan semua yang dia makan.
"Kenapa mas,?" tanyaku heran, karena menurut ku tidak ada yang aneh dengan masakannya.
"Ko rasanya aneh yah,"ucap Raihan sambil mencoba semua lauk yang di belinya. Tapi berahkir dengan di buangnya, karena menurut Raihan rasanya aneh.
"Di kulkas ada apa ?"
"Telur,ayam ungkep tinggal goreng."
"Mas beli gas aja, nanti kamu buatkan mas omelet telur saja buat bekal makan siang mas. Tidak akan keburu makan siang di rumah,"ucap Raihan. Raihan orang yang on time dalam segala hal, dia bilang biar jadi panutan anak buahnya.
Setelah membuatkan bekal makan siang untuk Raihan dan Raihan,pergi aku bertamu ke rumah Yanti lagi.
"Ini cobain lauk yang di beli suamiku katanya rasanya aneh, tapi menurut lidahku rasanya biasa saja." Ucapku sambil meletakkan semua yang di beli Raihan tadi, sedang aku menikmati mangga muda yang tadi aku petik.
Yanti mengambil sendok lalu mencicipi semuanya,"Enak Tidak ada yang aneh rasanya."
"Tu kan mulut suamiku kayanya yang sedikit bermasalah,"ucapku sambil mengunyah mangga muda.
" Sepertinya kamu yang bermasalah mbak, makan mangga asem tapi kaya makan mangga manis aja."
"Asemnya dikit ko,tapi lebih ke seger."
"Iya kan hamil kali kamu mbak?"
"Enggak mungkin deh."
"Ya kenapa gak mungkin, mbak rajin berhubungan dengan suami kan?"
"Iyalah,"ucapku sepontan dan langsung menutup mulutku karena malu.
"Haha tidak usah malu kita bukan lagi ABG," ucap Yanti sambil tertawa kecil.
" Seminggu yang lalu memang waktunya datang bulan, tapi cuma muncul Flek Darah dan Kram Perut. Aku pikir itu hal biasa,"ucapku.
"Mbak ko melamun sih?" Ucap Yanti dengan tangan melambai-lambai di depan wajahku.
"Iya apa Yan ?"
"Mbak melamun ya di ajak ngobrol ga nyambung. Lebih baik beli tes pack deh buat jaga-jaga."
"Iya deh nanti sore aku ke apotek depan."
Sorenya karena nungguin Raihan tidak pulang-pulang, ahkirnya aku jalan sendirian ke apotek depan.
"Kenapa jalan sebentar doang sudah capek, apa benar aku hamil."
Aku terus berjalan sampai di depan apotek dan membeli apa yang aku butuhkan.
"Kayanya seger tu,"ucapku saat melihat Sop buah di sebrang jalan. Setelah memesan 1 sop buah aku segera berjalan pulang , karena keasikan berkirim pesan dengan Jelita yang semalam sudah melahirkan. Hingga bruk "Auh, sakit."
"Mbak mbak ga apa-apa kan, Rihanna." Ucap orang yang baru saja menabrak ku saat membantuku berdiri.
"Mas Faizal,"ucapku sedikit kaget dengan Faizal yang berseragam loreng.
"Gimana keadaan mu,?" tanyanya sambil membantuku berdiri.
"Tidak apa-apa, mungkin kakiku terkilir."
"Boleh aku lihat,?" ucap Faizal berusaha menyentuh kakiku.
"Maaf mas ga usah aku mau pulang,"ucapku sambil menarik kakiku.
"Ya udah aku anterin pulang saja ya?"
"Tidak usah mas."
"Harus kakimu kaya begitu memang bisa jalan ?"
"Akan aku usahakan," ucapku masih berusaha menolak.
"Please jangan ngeyel, mas janji cuma mengantarkan kamu sampai rumah dengan selamat." Ahkirnya dengan berat hati aku menerima tawarannya untuk mengantarkan aku pulang. Seperti bayanganku saat aku pulang Raihan sudah berdiri dengan berkaca pinggang.
"Ini rumah mu,?" tanya Faizal yang kujawab anggukan.
"Kamu istrinya kapten Raihan,?" tanyanya lagi yang masih ku jawab anggukan.
"Mari aku bantu berjalan."
"Tidak usah aku bisa sendiri,"ucapku sambil berjalan tertatih.
"Ada apa dengan kakimu,?" tanya Raihan. Saat aku sudah berada di dekatnya.
"Letnan Faizal bisa jelaskan apa yang terjadi?"
"Siap kapten. Saya yang salah tidak fokus mengendarai sepeda motor, hingga menyenggol ibu dan terjatuh."
"Mana yang sakit, ada yang terluka,?" tanya Raihan sambil memegang bahuku
"Sepertinya kaki ibu yang terkilir kapten,tapi tidak mau saya periksa." Ucap Faizal, seketika aku teringat pertemuan terakhir kami.
"Mana yang sakit biar di periksa, Letnan Faiz ini seorang dokter Lo."
"Aku tahu,tapi kami bukan muhrim. Terus saat ini keadaanku tidak lagi urgent."
"Oke, mas yang akan periksa. Letnan terima kasih sudah mau mengantarkan istri saya pulang."
"Sama-sama kapten saya juga minta maaf ,"ucap Faizal sopan.
"Apaan sih mas," kesal ku saat Raihan menatap tajam kearah ku.
"Tadi Ari bilang istriku bilang di atas pohon ga bisa turun, sekarang di antar pulang orang gara-gara keserempet motor. Coba buka bajunya mas mau lihat mana yang luka !"
Dengan terpaksa aku menurutinya," Tu kan pada lebam ,"ucap Raihan. Padahal hanya paha dan bahu belakang,tapi sudah kaya luka parah.
"Nanti mas beli salep ke apotik. Sekarang mas tanya kenapa kamu jalan ke depan sendiri,mau ngapain ?" Ahkirnya aku ceritakan semua yang terjadi, "Tadi pingin makan mangga dari pohon sampai tidak bisa turun. Sekarang tergiur SOP buah sampai keserempet motor, kenapa sih ga bisa jaga diri sendiri, atau gak sabar tunggu aku pulang dulu."
"Aku tidak akan pergi ke depan sendiri jika mas pulang tepat waktu. Aku juga tidak akan kedepan jika tahu akan di serempet motor,"keselku sambil berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan Raihan.
"Hana dengerin mas dulu!" Aku menutupi telingaku dan mengunci pintu kamar dari dalam, sampai adzan magrib aku baru keluar untuk mandi dan wudhu sebelum masuk ke dalam kamar kembali. Kenapa Faizal jadi tentara? Bukannya dia bercita-cita ingin membuka klinik sendiri? Beberapa pertanyaan mengganjal di pikiran ku.