
"Kakek sengaja ya,Pi mengumpulkan mereka?" Aku sengaja menemui papi dan mami di kamar mereka, setelah semua tamu pulang , dan kakek nenek masuk kamar.
"Sepertinya tidak. Kakekmu hanya mengundang Raihan dan keluarganya, tidak dengan keluarga Wirawan."
"Terus mereka tadi kesini kenapa,?"tanya mami.
Papi melirikku sebelum menjawab pertanyaan mami," Pak Wirawan ingin melamar Hana untuk Putranya."
"Erlangga, maksudnya,?"tanyaku.
"Iya karena adiknya sudah pada menikah semua,"
"Mami kurang setuju jika Hana menikah dengan keluarga Wirawan. Mungkin dia sepadan dengan keluarga papi,tapi mami gak suka dengan Bu. Wira."
"Kenapa dengan Bu Wira,?"tanya papi.
"Dari yang mami tangkap, Bu Wira itu selalu memandang orang dari segi materi."
Aku melihat papi menghela nafas,"Tadi papa juga menanyakan tentang solusi, kasus Hana ."
"Emang aku terkena kasus apa?"
Cetak "Masih gak sadar bikin masalah. Orang-orang lagi mencari sosok pria berseragam yang bersama dirimu." Ucap papi sambil menjitak kepala ku.
"Hah, Belum reda gosip nya,?" tanyaku.
"Kalau dah reda, tidur akan ada orang yang mengintai rumah kita." Ucap papi sambil merebahkan badannya, ditengah-tengah antara aku dan mami.
"Terus solusinya gimana?"
"Keluarga Wirawan bilang kan di situ tidak jelas orangnya, bilang aja temannya warga biasa yang kebetulan memakai baju loreng. Toh warga juga yang memakai baju kaya begitu."
"Terus papa gimana responnya,?" tanya mami.
"Papa tidak puas,lalu bertanya Luki."
"Terus Luki jawab apa,?"tanya mami.
"Ya udah jalani prosedur yang berlaku , jika ketahuan ya ngaku dan terima hukuman. Meskipun dia sudah mengingatkan, tapi kan kenyataannya si tentara berada di dalam mobil tersebut."
"Dari pada bahas itu,aku penasaran dengan jawaban kakek."Ucapku, papi tidak menjawab hanya melirikku sekilas.
"Makanya lain kali kalau ada yang menegur mu dengerin, jangan bandel."
"Kakek bilang jawabannya di pasrahkan padamu. Jadi kamu harus mempersiapkan alasan yang tepat, jika kakek mu bertanya."
"Kok jadi ribet begini sih Pi."
"Sana masuk kamar tidur, sholat istikharah sebelum mengambil keputusan!"
"Papi ko ngusir aku kan mau tidur sama mami."
"Balik sana ,hari ini jatah mami sama papi."
"Tiap malam kan mami sama papi Dasar papi ga ingat umur," kesalku melangkah pergi meninggalkan kamar mereka. Semalaman aku berpikir untuk mencari solusi jawaban yang akan kuberikan.
"Kakek mana nek," tanyaku sambil duduk di sampingnya.
"Sarapan di luar. Hana Tidak ingin menikah ?"
"Ko tiba-tiba nenek bertanya begitu?"
"Umur Hana sudah 27 tahun, kalau Hana laki-laki nenek tidak masalah tapi Hana perempuan."
"Belum ada sreg di hati nek."
"Apa Hana pernah jatuh cinta ?"
"Jujur Hana tidak tahu apa itu cinta lawan jenis, yang Hana tahu. O itu cowok ganteng, itu cowok macho, itu cowok jelek, keren tapi belum ada yang bikin jantung Hana berdebar."
" Papi mu mengejar mami, di saat mami mu masih tidak yakin dengan perasaannya. Kakekmu menikah dengan nenek, baru bisa menyadari perasaannya setelah 15 tahun pernikahan."
"Gara-gara nenek mu, mintak pisah."Ucap papi yang baru bergabung.
"Cinta bisa datang dengan seiringnya waktu, cinta bisa tumbuh karena terbiasa."
"Tunggu-tunggu kayanya ada bau perjodohan ini,"ucapku memotong ucapan nenek.
"Mungkin kamu bisa lamaran atau tunangan dulu dengannya ,"ucap nenek.
"Tunggu siapa ini yang di maksud?" Tanyaku tapi baik mami dan papi serta nenek hanya saling melirik.
"Aku tegaskan aku dengan Raihan tidak ada perasaan apapun,kami hanya sebatas teman. Sedangkan dengan Erlangga,aku gak terlalu kenal banyak hanya sebatas tahu nama."
"Udah nanti malam kita bicara dengan kakek, sekarang kamu kerja. Ga usah di pikirkan," ucap papi.
Karena banyaknya pekerjaanku aku bisa melupakan sejenak masalah pasangan. Mungkin karena di kelilingi kaum lelaki membuat ku menjadi pribadi yang kurang peka. Tumbuh dengan 2 adik lelaki, kuliah dengan teman kebanyakan lelaki, begitu pun dengan dunia kerja aku juga.
🎼✉️ Raihan
Pulang kerja jam berapa
me
Biasa 18.00n
Raihan
Aku mau bicara bawa mobil tidak
me
kenapa mau gw jemput sekalian
Raihan
Boleh kalau gak keberatan
me
Habis sholat magrib otw
"Kirim pesan sama siapa,?" tanya Alvin.
"Teman mau pulang nebeng."
"Oo, masih ada yang perlu gw kerjakan tidak?"
"Ada ,tapi kalau di sekarang mas kerjain takut gak kebur, sejam lagi jam pulang. Mau lembur ?"
"Enggak ah, kirim saja ke email ku, nanti aku usahakan ku kerjakan di rumah."
"Ya udah aku kirim, makasih kerja samanya."
"Kita yang seharusnya berterima kasih, kerja bersama lo, kita dianggap rekan di manusia kan."
"Iya, jika kerja kita salah gak sesuai Lo akan negur secara pribadi. Tidak marah-marah di depan umum."Ucap Wanda memotong ucapan Alvin.
"Semoga selamanya kita bisa satu tim,"ucap Arya.
"Amin, terima kasih juga atas bantuannya beradaptasi dengan kantor baru."
"Padahal kita dulu sempet meragukan kinerja mu, sebagai ketua tim"ucap Wanda.
"Menurutnya umurmu sama kaya dia, pasti pengalaman gak jauh beda. Jadi mana bisa menjadi ketua tim."
"Apaan sih Lo Ar,"ketus Wanda dengan muka malu.
"Hahaha, santai saja." Obrolan kami berhenti saat jam pulang kantor.
Me.
Sherlock gw mau pulang
Raihan
gw udah di lobby kantor Lo.
"Ok gw turun sekarang, tunggu 5 menit."
Saat aku turun di lobby terlihat Raihan sedang bermain ponselnya.
"Cari mangsa mas,?" tanyaku, Raihan menaikkan alisnya sebelah.
"Iya cari mangsa dengan para dedek gemes,"candaku.
"Emang gw bintang buas apa!"
"Hahahaha mas Raihan , ga sadar ternyata. Coba mas lihat ke sekeliling banyak yang lihat mas dengan Wow!"
"Kalau gak takut dosa sudah gw lakban mulut kamu,"Ketus Raihan.
"Ayo,mau bicara di mana? Aku ngikut mas aja yang bawa,"ucapku sambil meleparkan kunci dan berjalan kearah parkiran.
Raihan membawa mobil ke pinggir pantai di pinggir kota Jakarta .
"Jauh amat ngobrol penting ni kayaknya. Mau jadi tim ku besok panjat tebing ?"
"Bisa aja. Sengaja kita butuh privasi,"ucapnya membuatku heran. Tumben pakai istilah privasi, segala.
"Tadi pagi kakek menemui orang tuaku."
"Buat apa ?"
"Ingin melamar ku untuk mu,"ucapnya datar.
"Gila jatuh harga diriku," ucapku sedikit keras.
"Dia bilang orang tua mu dan kamu tidak tahu. Punya anak dan cucu perempuan itu beda, dia tidak mau cucu perempuan satu-satunya salah pilih jodoh. Apalagi itu juga amanah besannya, untuk meneruskan ta'aruf kita."
"Gila papi memintaku untuk menyiapkan jawaban. Jika kakek minta jawaban,tapi kenapa sekarang kakek sudah membuat jawaban sendiri."
Raihan hanya diam memedang datar padaku.
"Kakek cerita katanya waktu kuliah kamu bekerja sambil kuliah, tidak ada yang tahu tentang identitas mu. Waktu aku bertanya jika aku takut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup mu."
"Bukan masalah kebutuhan hidup tapi harga diri ku sebagai Pete," ketusku.
"Jadi kamu malu mempermasalahkan kakek yang melamar ku buat mu, begitu ?"
"Ya iyalah perempuan itu di lamar, bukannya melamar. Ayo sekarang kita balik,aku harus ngomong sama kakek." Ketusku lansung masuk ke dalam mobil, diikuti Raihan.
"Ande-ande lumut di lamar para klenteng. Sekarang juga banyak perempuan yang nembak para lelaki."
"Itu berlaku buat mereka tidak buat ku. Diam kendarai mobil dengan benar !"