
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam," jawabku sambil terus meneruskan aktivitas memasak ku.
"Aku tidak tahu minuman apa yang kamu minum tiap pagi, jadi aku buatkan saja secangkir kopi." Ucapku terhenti saat aku merasakan ada yang memelukku dari belakang. Hembusan nafas Raihan sangat terasa di sekitar leherku.
"Aku kira kamu tidak pernah memakai baju terbuka?" Pagi ini pagi kedua ku menjadi seorang istri, jika kemarin kami sarapan di hotel maka hari ini aku masak di dapur kecil ini.
"Menyesuaikan kondisi mas, lagian di dalam rumah ini. Kan yang masuk cuma mas doang," ucapku sambil memasak. Karena panasnya Dapur aku hanya menggunakan Crop top tanpa lengan dan Hot pants.
"Atau kamu sengaja menggoda mas,"ucap Raihan sambil mencium leherku.
"Mas jangan di cium jorok bau keringat. Aku pikir mas bakalan lama jadi aku cuek saja, lagian aku gak denger mas masuk."
"Kenapa keringatmu wangi,"ucapnya sambil menghisap leherku.
"Mas jangan di hisap nanti berbekas. Ssst masss, jangan di hisap."
"Tidak ada apa-apa ga ada yang lihat ini. Sudah masaknya,mas matiin kompornya." Ucap Raihan yang langsung mematikan kompornya,dan langsung membalik tubuhku hingga berhadapan dengannya.
"Apa sihh mas,?" tanyaku sambil melihat kearahnya. Apa ini yang di novel sering di sebut pandangan penuh gairah, tanyaku dalam hati. Sial kenapa juga aku tadi pakai baju ini. Baju ini biasanya aku pakai buat tidur dan malam hari. Karena malam hari tidak ada yang masuk rumah utama selain tamu.
"Aku pikir selesai bikin nasi goreng bisa langsung mandi dan ganti baju, maklum gerah di depan kompor."
"Yakin, tidak ada maksud lain." Ucapnya sambil tersenyum misterius.
"Mas jangan mikirin yang aneh-aneh deh."
"Dimana nya yang aneh ?"
"Kita kan masih mau pacaran dulu."
"Iya mas tahu,cup cup cup." Ucap Raihan sambil memberikan kecupan di seluruh mukaku dan diahkiri di mulut.
"Biar terbiasa ,"ucap Raihan sebelum ******* bibirku lembut.
"Mas mandi dulu," ucap Raihan setelah melepaskan ciumannya. Seketika aku tertawa melihatnya, sebenarnya aku juga tidak akan menolak jika dia memintaku. Tapi kalau dia menugu aku siap lahir dan batin, aku sangat kagum dengan sikapnya yang bisa mengontrol nafsunya.
"Mas langsung dinas ?"
"Iya,"jawabnya sambil menikmati nasi goreng buatan ku.
"Aku berencana membagikan kue ke tetangga kanan kiri, boleh ?"
"Boleh biar saling mengenal,tapi yang sebelah kanan setahu mas kerja."
"Mas tinggal di rumah asrama sudah lama,?"tanyaku.
"Baru sekarang, sebelumnya mas tinggal di barak bujang. Tar kalau tabungan mas cukup kita beli rumah."
"Jadi tidak selamanya tinggal di sini?"
"Tidak lah."
"Gimana kalau beli sekarang aku ada tabungan."
"Memberikan tempat tinggal yang layak adalah tanggung jawabku,"ucapnya tegas.
"Ini kartu gaji mas kamu pegang, beserta ini sedikit uang cas." Ucap Raihan sambil mengeluarkan dari dalam dompetnya.
"Kalau mas butuh sesuatu bagaimana, semisal uang bensin habis gitu ?"
"Mas akan minta sama kamu."
"Hari ini ma minta gak?"
"Gak usah bensin motor masih penuh. Mas berangkat dulu, assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
"Mbak Yanti ga kerja,?" tanyaku. Mbak Yanti usianya di bawahku setahun, rumahnya didamping kananku istri Serka Ari.
"Dulu saya kerja jadi perawat tapi berhenti sejak melahirkan, fokus sama si kecil bu."
"Mbak jangan panggil Bu, panggil saja Hana."
"Tapi kan pangkat suami."
"Yang punya pangkat suami bukan saya," ucapku ga enak.
"Ya udah mbak Hana saja,tapi kalau pas kumpul tetap Bu ya. Panggil aku Yanti saja, kalau begitu."
"Oke, kalau begitu Yanti. Kalau samping kiriku kerja ya orangnya?"
"Iya, mbak. Bu Ratih dokter umum di puskesmas dekat sini, istrinya letnan Yusuf baru menikah 3 bulan."
"Berati sore di rumah ?"
"Di rumah kalau tidak jalan sama temennya, maklum orang sibuk."
Selama 30 menit kami ngobrol ahkirnya aku memutuskan pulang. Karena aku berencana belanja ke swalayan terdekat.
Saat aku pulang ku lihat Raihan sedang makan siang ,dengan sayur yang sudah aku masak sebelum pergi.
"Dari mana ?"
"Beli peralatan yang belum ada di dapur."
"Lain kali kalau belanja, atau mau pergi tinggalkan pesan." Ucap Raihan setelah makanannya habis, dengan nada lembut.
"Kali ini mas maafkan jangan di ulangi lagi tapi, kalau di ulangi mas hukum ya."
"Hmmm iya-iya maaf."
"Sudah sholat."
"Sudah. Mas tahu gak sebelah kiri kita di huni seorang dokter ?"
"Tidak,aku hanya kenal suaminya letnan Yusuf."
"Berati belum pernah bertemu dengan istrinya ?"
"Sudah waktu pengajuan,tapi waktu nikah aku lagi pelatihan di Bandung.?"
"Dokter puskesmas, pengantin baru kayak kita. Baru menikah 3 bulan."
"Kenapa mau berlomba bikin anak," canda Raihan.
"Apaan sih mas,sana balik kerja."
"Haha istri mas kalau di ajak bahas anak langsung merah mukanya. Sudah mas berangkat dulu, Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Sorenya aku sempat berkenalan dengan tetanggaku ,Dokter Ratih seumuran usianya sekitar 30 tahun.
"Lagi ngerjain apa,?" tanya Raihan ikut duduk bersamaku di lantai. Maklum kami baru pindah jadi tidak ada sofa hanya karpet bulu.
"Cuma ngecek jaringan keamanan perusahaan Randi,"jawabku tanpa melihat kearahnya.
"Mas gak begitu paham komputer ajarin dong!"
"Boleh nanti aku ajarin mas mau belajar apa?" Ucapku sambil merenggangkan otot.
"Ajarin membuat jaringan keturunan." Aku hanya melirik Raihan yang tersenyum sambil menaik turun kan alisnya.
"Itu kado-kado pernikahan kenapa belum di buka ?"
"Belum sempat,mas tadi aku pasang CCTV di teras depan sama di ruang tamu."
"Buat apa disini aman sayang?"
"Buat kenyamanan aku aja,ga papa ya!"
"Ya udah terserah kamu. Kalau mau beli sofa juga tidak apa-apa !"
"Enggak ah,kalau ada sofa aku repot bersih-bersihnya."
"Haha dasar anak sultan." Ucap Raihan sambil mengakat tubuhku hingga duduk di pangkuannya.
"Mas malu di lihat dari luar," cicitku sambil melihat kearah luar.
"Tidak apa-apa yang lewat juga maklum pengantin baru. Yang penting adik sudah menutup auratnya."
"Ko sejak sudah sah suka banget pegang-pegang sih, bikin jantungku berdebar kencang tau."
"Alhamdulillah, berati usaha tidak sia-sia. Bisa secepatnya belah duren mas."
"Mas ini."
"Istriku malu,"ucap Raihan sambil memelukku erat.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam,mas ada tamu lepas," bisikku.
"Tidak apa-apa. Sini masuk letnan Yusuf dan istri." Ucap Raihan tanpa merubah posisi membuat ku jadi malu. Tapi ada yang aneh dengan muka Bu Ratih.
"Malem Kep! Ini nemenin istri balikin piringnya ibu. Sekalian biar kenal, biar istri saya juga tahu atasan suaminya."
"I iya betul,"ucapnya sedikit gugup.
"Sebentar mas aku ambil minum dulu!"
"Tidak usah repot-repot bu."
"Tu Yusuf ga mau dah duduk aja samping mas,"ucap Raihan sambil menarik tanganku untuk duduk kembali.
"Ibu Raihan kerja atau di rumah saja bu?"
"Saya pengaguran."
"Tiap hari sudah saya kerjain, kasihhan lah kalau saya suruh kerja lagi." Ucapan Raihan membuat letnan Yusuf tertawa, berbeda dengan istrinya tiba-tiba batuk.
"Ternyata kapten romantis juga ya,"ucap Yusuf.
"Bukan romantis tapi saya berusaha membuat hati istri saya bahagia."
Gombalan Raihan hanya membuatku malu bukan main.
"Mas ko aneh sih gombalnya,?" tanyaku saat kami hendak tidur.
"Kalau kaku orang mengira kita."
"Di jodohkan,"potongku cepat.
"Hehe pinter istriku cup cup, good night sweetie."