
"Mengingat letak tower yang berjauhan dan target kami 2 hari selesai,kami akan melakukan kerja mandiri. Jadi kami membutuhkan 4 tranportasi,4 sopir,4 pemanjat dengan SOP keamanan pemanjat untuk 2 orang, keamanan 4 orang."
"Saya rasa 1 tentara bisa menjadi pemanjat, keamanan dan sopir. Oya perkenalkan sebelumnya saya Afandi. Kapten Afandi mereka anggota saya Letda Raihan,Praka Ali dan Lettu Mail."
"Terserah anda saat kami butuh memanjat untuk memasang micro chip dan pemanjat yang siap naik turun membatu kami."
"Saya rasa 1 mobil 2 tentara cukup. Nanti akan saya kordinasi dengan anggota saya!"
"Hana kamu mau ngerjain sektor 2? Disini kamu hanya mengerjakan 2 tower. Tapi keduanya belum di pasang micro chip, jadi kamu harus manjat. Jika tidak sanggup tukeran."
"Saya sanggup,"ucapku memotong Ardi yang masih saja suka merendahkan kemampuan kaum perempuan.
"Kamu yakin," ucap Wisnu lirih tapi masih bisa didengar oleh telinga yang lain.
"Kenapa tidak hanya memasang micro chip," ucapku santai sambil melirik Wisnu.
"Jiwa muda tidak mau menyerah terus berusaha," ledek pak Joko kepala dinas komunikasi dan informatika.
"Tidak juga pak sebagai mantan mahasiswa teknik teman saya kebanyakan lelaki. Kami juga sering naik gunung dan panjat tebing."
"Wah salah lagi Lo Ar, Hana memang bukan cewek sembarangan,"ucap Wisnu sambil terkekeh.
" Sebelum pulang hari mencoba mendaki Bukit Femburu, kalau begitu."
"Boleh pak sarannya," ucapku membalas ucapan pak Joko.
"Kalau begitu besok pagi kami akan menjemput kalian ke hotel tempat kalian menginap."
Setelah pertemuan dengan kepala dinas, kami diantar ke tempat menginap selama kami di Jayapura.
"Lo yakin bisa masang micro chipnya,?"tanya Wisnu memastikan.
"Bisa. Kalau tidak percaya lihat saja nanti bagaimana hasil kerja ku." Ucapku sambil menunggu mobil. Ardi dan Willy sudah berangkat karena lokasinya yang paling jauh, sedangkan mobil buatku sedang mengisi BBM.
Kenapa kaum lelaki suka memandang rendah kaum wanita, kesal ku dalam hati. Aku akan buktikan kepada kalian bahwa aku juga bisa, ucapku dalam hati.
"Han gw duluuan ya, Lo kan yang paling dekat jadi tidak apa-apa kan pakai mobil terahkir." Aku mengagukkan kepalaku, tidak sampai 15 menit mobil buatku ahkirnya datang.
"Perkenalkan, saya Praka Ali."
"Rihanna."
"Mari !"
Kenapa juga yang menemaniku harus yang kemarin ketemu di pesawat, keluhku dalam hati.
"Bagaimana kabarmu?"
"Haha!" Kaget ku.
Ugh ugh suara Praka Ali yang terbatuk-batuk, mungkin sama seperti aku terkejut.
"Baik Allhamdullilah,"jawabku. Jangan besar kepala Hana, dia mengingatmu sebagai penumpang pesawat yang duduk di sampingnya Minggu lalu,kataku dalam hati.
"Lupa sama mas kamu Hana ?"
"Hah!!Mas ingat aku?"
"Waktu di pesawat kemarin mas jujur lupa. Tapi saat melihatmu kemarin mas merasa tidak asing, setelah mas ingat-ingat baru semalam mas ingat gara-gara Rita telpon."
"Kalau aku ingat mas dari kemarin waktu di dalam pesawat. Malah aku di kira tertarik sama mas kemarin."
"Haha maafkan Ali," ucap Raihan.
"Tunggu kalian saling mengenal ?"
"Iya. Kami teman lama," ucap Raihan.
"Aneh nama kalian juga hampir sama Raihan dan Rihanna. Sama-sama berawalan huruf R."
"Kebetulan saja itu . Kok mas mengingat aku gara-gara Rita, emang Rita ingat aku?"
"Mas juga minta maaf kata mama gara-gara mas kamu ikut kelas akselerasi ?"
"Bukan gara-gara mas. Banyak yang memandang rendah aku hanya karena aku satu kelas dengan kedua adikku. Padahal kami kembar cuma ada peristiwa yang membuatku harus lahir duluuan."
"Mbak Rihanna punya saudara kembar ? Kenalkan dong pasti secantik mbak,"ucap Praka Ali membuat Raihan tertawa ngakak.
"Kenalkan Han ! Ali sama Randi dan Radit !"
"Adik mbak cowok?"
"Hanna itu umurnya di bawah mu, tidak usah di panggil mbak?"
"Emang umur Hana berapa ?"
"21 tahun,5 bulan lagi."
" Masih muda banget. Tunggu Kok Letda Raihan tahu banget tentang Hanna, katanya teman lama ?"
"Udah ga sah banyak omong udah sampai tu,!" ucap Raihan mengalihkan pembicaraan.
"Kamu mau manjat ini Han? Tinggi lo?"
"Aku cuma masang chip di antena microwave."
"Mas tahu di sebelah mana masangnya ? Makanya di minta satu pemanjat buat membantuku masang ini, tapi aku juga harus ikut naik untuk memastikan secara langsung."
"Ya udah mas yang akan menemani kamu keatas. Apa saja yang harus di bawa keatas," ucap Raihan sambil memakai alat keamanan memanjat.
Microwave System dibagi dua yakni indoor unit dan outdoor unit. Keduanya terhubung melalui kabel coaxial. Indoor unit sesuai namanya berada di dalam shelter sedangkan outdoor unit menempel pada antena microwave. Jadi kita harus memanjat untuk memasangnya. .Saat kita menjumpai tower BTS pasti ada satu bagian yang tampak seperti gendang rebana, itulah yang dimaksud antena microwave. Fungsinya menerima dan memancarkan gelombang radio dari BTS ke BSC atau dari BTS ke BTS.
"Sudah hampir 7 tahun gak ketemu kamu,sekali ketemu kamu sudah berubah."
"Berubah jadi apa? Jadi apa power rengges," ucapku yang disambut tawa oleh Ali , yang sedang membantuku melepaskan peralatan keamananku.
"Kamu tetap aja jutek ya. Jangan jutek- jutek nanti tidak ada lelaki yang mau menikah sama kamu ?"
"Ya udah mas saja yang menikah sama aku,"ucapku spontan membuat Raihan tersedak air mineral yang sedang di minumnya.
"Santai aja mas, aku hanya bercanda. Aku tidak minat menikah dengan orang milter ."
"Mas yang tidak berani menikah denganmu. Takut kelas mu terlalu tinggi untuk mas jangkau."
"Sok drama. kamu mas ayuuk kita cari makan siang dulu sebelum lanjut ke tower kedua."
Kami makan siang sambil bercerita tentang gosip keamanan yang menimpa lingkungan di sini.
"Bagi ponsel siapa tau mas butuh bantuan kamu," ucap Raihan sambil menyodorkan ponselnya.
"Kalau mau nikah jangan lupa undangannya," ucapku sambil mengembalikan ponselnya.
"Masih lama. Mas lagi daftar ikut pelatihan kopassus. Juga berniat lanjut ke jenjang S2, Fakultas Teknologi Pertahanan. Intinya mas ingi fokus ke karir dulu, selain keluarga mas."
"Tidak takut cewek mu kabur mas ? Cantik begitu,"ucapku.
"Kalau jodoh tak akan lari kemana," jawabnya.
"Bukannya kalian serasi perawat sama abdi negara."
"Jodoh tak tergantung pantas gak nya menurut orang. Kita yang menjalani bukan orang, jadi jangan pernah memandang jodoh apa kata orang."
"Karena mata kadang menipu ya let," ucap Praka Ali.
"Karena itu jangan pernah menilai orang dari luar nya. Kadang buku yang sampulnya bagus belum tentu isinya juga bagus. Begitu pula sebaliknya," ucapnya yang langsung setujui Praka Ali.
Setelah makan siang dan melakukan kewajiban dhuhur, kami melanjutkan pekerjaan kami berikutnya. Sempat terjadi perdebatan kecil mengenai siapa yang membayar. Sebagai lelaki Raihan malu , atau gengsi mungkin di bayarin perempuan.
Mas Raihan yang sekarang lebih asik diajak ngobrol dari pada mas Raihan remaja. Pekerjaan kami selesai setelah waktu ashar . Dan Setelah waktu isya Raihan dan Ali mengajakku berkeliling kota Jayapura, sampai hampir tengah malam baru kembali ke hotel. Setelah hari itu kami sering bertukar kabar tidak hanya dengan Raihan tapi juga dengan Ali. Bahkan saat aku kembali ke Jakarta, mereka berdua juga mengantarkan aku ke bandara.
Tapi komunikasi kami hanya bertahan setahun. Karena ponselku yang hilang saat di bandara internasional Jepang, membuatku kesusahan jika harus mengurus no lama.