
"Kamu yakin tidak mau melaporkan kejadian yang menimpamu?"tanya Arya, seminggu sudah berlalu dan Arya orang yang kesekian kalinya bertanya kepada ku, kenapa aku tidak melaporkan saja apa yang menimpaku.
"Melaporkan kepada pihak berwajib tidak menyelesaikan masalah mungkin bisa menjadi masalah baru. Ajeng butuh seorang psikolog atau psikiater"ucapku
"Justru karena dia gila makanya harus di kurung ,biar tidak membahayakan yang lainnya"ucap Arya .
"Obsessive Compulsive Disorder sering kali di sebut OCD adalah masalah kesehatan mental yang membuat pengidapnya mempunyai pemikiran dan dorongan yang tidak bisa dikontrol sifatnya berulang (obsesi) serta munculnya perilaku (paksaan) kompulsif, bukan gila."
"Sama aja beda namanya, gw nanya apa OCD bisa sembuh?" tanya Arya.
"Sayangnya, OCD menjadi masalah kesehatan mental yang tidak dapat disembuhkan, tetapi pengidap bisa mengurangi gejala dengan menjalani beberapa perawatan. Seperti konsumsi obat-obatan, menjalani psikoterapi, atau kombinasi antara keduanya."
"Dasar dokter promosi dokter. Sama orang gila meskipun sembuh tapi tidak bisa di jamin sembuh total kan?"
"Terserah Lo deh gw pusing,ya jelas gw gak mau masalah ini berlarut-larut, jika gw bikin laporan pasti akan ada tindakan lanjutan "
"Tetapi jika Lo ga lapor dan Ajeng masih berkeliaran bebas, kemungkinan Ajeng akan melukai mu lagi"ucap Arya.
"Gak mau pusing ah gw mau balik " ucapku sambil berdiri dari tempatku duduk. "Lo belum tahu hari ini Kana mendatangi ayah kandung Lo buat ,lamar lo!" ucap Arya berhasil menghentikan langkahku.
"Jangan bohong Lo, yang bener ?" tanyaku tidak percaya. "Dia sendiri yang bilang masak jabatan baru masih tidak punya pendamping "ucap Arya .
"Ahh gila sepupu lo"umpatku kesal. "Gw tahu Lo suka sama Kana tapi Lo pendam rasa itu, karena Lo tidak mau sakit hati dengan yang namanya cinta. Lagian umur Lo sudah 30 tahun,Kana 34 tahun mau sampai kapan Lo menghindar dan tidak mengakui perasaan loo" ucap Arya.
"Bunda ku tragis masalah percintaan, apalagi Abi 3 kali menikah gagal "ucapku. "Sebenarnya kegagalan atau perceraian dalam pernikahan bukan patokan bahwa orang tersebut tidak bahagia, ada pasangan bercerai yang akhirnya menjadi lebih bahagia dengan hubungan pertemanan mereka"ucap Arya .
"Jalani jangan takut untuk melangkah Bundamu bahagia di surga dan Abi Mu bahagia dengan kesendiriannya, jangan sampai lo terlambat untuk menyadarinya yang berujung penyesalan"ucap Arya sebelum kami berpisah.
'Apa bener ada rasa cinta buat Kana di hatiku atau hanya rasa penasaran, jujur meski aku menjauh dari nya karena masalah mama nya. Tapi ada rasa bahagia saat bisa bertemu dengannya lagi, meski aku tidak bisa memperlihatkan langsung padanya aku senang melihatnya sukses.'
"Dira!" panggil Abi saat aku sedang menonton televisi, padahal televisi yang menonton ku karena pikiranku entah kemana.
"Arkana dan keluarganya kemarin menghubungin Abi".
"Apa benar melamar ku?"tanyaku memotong ucapan Abi dan Abi mengagukkan nya. Aku sendiri tidak tahu dengan perasaanku apa aku harus senang dengan keberanian Kana,tapi aku juga pernah bilang pada mamanya untuk tidak perlu kuatir karena aku tidak minat masuk keluarganya.
"Bagaimana apa kamu mau menerima lamaran Arkana ?" tanya Abi."Kenapa orang yang dipercaya adalah omongannya?"tanyaku pada Abi.
"Karena saat kamu tidak mampu menjaga kata-katamu, maka siap-siaplah kamu untuk kehilangan kepercayaan orang terhadap dirimu"ucap Abi. "Apa Abi sudah memberikan jawaban ?"tanyaku.
"Abi tidak berhak untuk memberikan jawaban, yang berhak memberikan jawaban adalah kamu bukan Abi"ucap Abi sambil mengacak-acak rambutku.
"Abi menikah 3 kali boleh aku tahu posisi mereka di hati Abi?"tanyaku.
"Abi menikah dengan Anisa karena perjodohan Anisa berumur 18 tahun dan Abi masih kuliah saat itu umur Abi 20 tahun, awal menikah kami tidak ada rasa tetapi setelah Anisa hamil cinta itu mulai tumbuh karena itu Abi selalu mengutamakan Anisa dari pada Bundamu. Abi suka dengan Bundamu dari masih kami di bangku SMA, tetapi Abi hanya mampu memendam takut dosa dan saat sudah menikah takut membuat istri pertama cemburu."
"Apa karena itu yang membuat umi Anisa tidak suka dengan bunda dan berusaha memisahkan Abi dengan bunda?"tanyaku. "Dari pengakuannya iya,tapi bodohnya Abi sadar saat sudah terlambat".
"Apa karena itu selama menikah dengan Sekar hati Abi tidak bisa berpaling dari Bunda?" tanyaku.
"Sulit buat Abi untuk mencintai Sekar yang pantas menjadi anak Abi,meski Abi sudah sangat berusaha". "Apa sekarang Abi bahagia, hidup di hari tua tanpa pasang ?" tanyaku.
"Meskipun tidak memiliki pasangan hidup, sekarang Abi bahagia dengan anak-anak Abi"jawab Abi.
Dari sini aku tahu cinta Abi kepada umi Anisa tumbuh Karena terbiasa seperti pepatah jawa 'tresno jalaran Soko kulino'. Meskipun Abi mencintai bunda tapi demi menjaga perasaan orang lain Abi harus memendamnya dan sekarang harus hidup dengan penyesalan.
"Abi tidak menyesal dengan apa yang terjadi, karena Abi percaya Allah pembuat takdir yang sangat baik, bukan sutradara film yang kadang salah" ucap Abi setelah lama hanya ada keheningan."Sudah malam tidurlah " ucap Abi sebelum masuk kamarnya.
Apa aku harus menolak Kana demi kata-kata ku dulu terhadap mama Kana ,atau menerima tetapi melupakan kalimat yang aku ucapkan bahwa aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Kana. 'Ah ternyata kehidupan orang dewasa itu rumit enakan jadi anak kecil keluhku dalam hati sambil berjalan menyusuri jalanan, hari ini aku praktek hanya di satu rumah sakit makanya aku bisa menikmati macetnya jalanan sore hari.
"Aku mau bicara "ucap seseorang yang tiba-tiba sudah duduk disampingku di dalam bus Transjakarta. "Ko Lo bisa ada di sini?" tanyaku, karena selama aku masuk ke dalam bus,bus belum berhenti sama sekali.
"Aku sudah memperhatikan mu saat kamu mulai keluar dari rumah sakit. "Tumben gak nyamperin ke rumah sakit ?"tanyaku.
"Kalau gw mendekat tar Lo kabur,"ucapnya. "Iya soalnya Lo menakutkan " kataku membuat Kana tertawa ngakak. "Bisa dikecilkan gak itu volume, lihat semua orang melihat kearah kita "ucapku sambil membekap mulutnya supaya berhenti tertawa.
"Lo pasti mau nanya tentang jawaban lamaran lo?" ucapku. "Apa jawabanmu ?" tanya Kana.
"Maaf aku sudah pernah bilang pada mama mu bahwa aku tidak akan pernah ada hubungan dengan mu,jadi jangan buat mama mu kecewa padaku dan mengagap ku sebagai orang yang tidak bisa di percaya "ucapku lirih. "Bagaimana dengan hati mu,?" tanyanya.
"Hatiku,ada apa dengan hati ku?"tanyaku. "Ternya otak mu yang pintar tidak ada apa-apa, jika berurusan dengan hati "ucapnya sinis.
"Kamu tahu kita hidup itu tidak hanya tentang aku dan kamu, tapi juga tentang sekitar kita begitu juga dengan hati ,mungkin hati kita cocok tapi bagaimana dengan orang-orang sekitar kita jangan egois mementingkan kebahagiaanmu, tetapi pikiran perasaan orang yang kau sayangi. Ada mantan istri, mantan suami, mantan pacar,mantan menantu tetapi tidak ada mantan anak."
"Apa kamu yakin dengan keputusan mu?" tanya Kana. "Aku tidak tahu"jawabku.
"Kita pertama bertemu saat usia mu 25 tahun dan pertemuan kedua setelah sekian lama berpisah disaat umur mu 30 tahun. Aku berharap jika kali ini kita di pisahkan oleh waktu tidak akan selama , perpisahan kita yang pertama ".
"Mau aku traktir kopi, selama ini aku belum pernah mentraktir mu kan" ajak ku untuk yang pertama kali selama kita saling mengenal. "Ayoo"ucapnya dengan senyum mengembang. Kami menikmati sore dengan secangkir kopi di Ren coffe di Jakarta Selatan ,dengan mengobrol di selingi candaan renyah seolah kita tidak habis ngobrol serius. Tapi kita mirip orang yang lagi kencan sedang menikmati senja yang mulai berganti malam.
"Senja lagi. Akhir yang lain. Tidak peduli seberapa sempurna hari itu, itu selalu harus berakhir."