
"Makasih mas berapa ya ongkos nya karena gak pakai aplikasi segini cukup kali ya mas," ucapku setelah turun dari motornya.
"Maaf mbak saya bukan tukang ojek," ucapnya sambil menolak selembar uang merah yang aku sodorkan.
"Eh maaf saya langsung naik tanpa bertanya dulu,"kataku tidak enak hati setelah mengetahui kalau yang aku naiki bukan ojek motor.
"Tadinya saya mau marah waktu Mbak tiba-tiba naik motor saya,tapi melihat penampilan mbak dan wajah mbak yang seperti menaham amarah buru-buru saya kendarai kendaraan saya"ucapnya.
"Kenapa buru-buru di kendarai motornya takut saya marah ke mas gitu ?"tanyaku.
"Iyaa lah mbak, perempuan kalau lagi marah menyeramkan "ucapnya.
"By the way saya ucapkan terima kasih atas bantuannya dan perkenalkan nama saya Adira,biasa dipanggil Dira"ucapku sambil mengulurkan tangan.
"Bima"ucapnya sambil mengulurkan tangan menyambut tanganku.
"Bagaimana kalau sebagai ucapan terimakasih mas Bima saya traktir di angkringan sebrang jalan itu,"ucapku sambil menujuk tenda angkringan di sebrang jalan.
"Wah boleh kalau begitu saya mengagap ini sebagai upah ojek saya"ucapnya.
Saat aku sedang menunggu pesanan kami di siapkan aku melihat mobil berhenti di depan klinik, sepertinya itu Arya dan Kana sambil menunggu mereka pergi aku ajak mas Bima ngobrol hingga mereka pergi aku pura-pura mengantuk dan mengahkiri obrolan kami.
Tidak sampai di malam itu besok paginya pagi-pagi sekali Kana sudah menugu di depan tempat tinggalku, karena itu aku sengaja tidak keluar meski perutku terasa sangat lapar yang mana lagi tidak ada stok makanan sama sekali di rumah.
"Mbak semua dokter di suruh kumpul di ruang serbaguna" ucap Agnes setelah mengetok pintu kamarku.
"Sekarang ?" tanyaku sambil membuka pintu, kulihat masih ada Kana yang menuguku.
"Ok tunggu bentar"ucapku masuk mengambil ponselku dan berganti baju yang sopan.
"Sebaiknya kamu pergi, masalah uang yang Lo kirim masih utuh semua tinggal Lo kirim no rekening Lo akan gw balikin semuanya "ucapku sambil mengunci pintu kamar tanpa melihat kearahnya,si Agnes disuruh nunggu malah kabur lagi kataku dalam hati.
"Jika bicara lihat lawan bicaramu,"ucap Kana sambil memaksaku melihat kearah nya dengan kedua tangan memegang mukaku.
"Apa"Ucapku, bukan menjawab Kana langsung menyambar mulutku membuatku melotot mendapatkan serangan dadakan darinya,di ***** dengan kasar di sertai hisapan di setiap gerakannya.
Plakk "Brengsek gw bukan pelacur lo" ucapku setelah bisa melepaskan diri dari Kana dan menamparnya aku bergegas pergi meninggalkannya.
"Ok kita berkumpul disini ingin membahas edaran dari kantor pusat yang telah bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) untuk mengerahkan dokter dan tenaga medis untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis ke warga perkampungan dalam kegiatan susur kampung" ucap ketua cabang bapak Dr.Hadi S.pb.
"Maaf pak boleh tahu sasaran di daerah mana pak?" tanya dokter Dika.
"Sasaran kegiatan pelayanan kesehatan gratis kali ini utamanya warga kampung yang berpotensi tidak terjangkau pelayanan puskesmas dan petugas kesehatan, seperti warga lanjut usia di perkampungan yang kesulitan menuju ke fasilitas. Karena itu adakah yang berkenan mewakili kegiatan kali ini" ucap dr Hadi.
"Berarti kemungkinan di daerah pelosok pak?" tanya dokter Dika lagi.
"Iya mungkin sekitar 2 Minggu"ucap beliau.
"Saya bersedia pak" ucapku, setelah 5 menit aku mengamati sekeliling tida ada pergerakan dari 20 tenaga medis yang ada di ruangan ini.
"Ahkirnya cabang kita bisa mengirimkan relawan setelah 5 tahun vakum tidak pernah mengirimkan relawan "ucap Dr. Hadi.
"Lo yakin ?"tanya dokter Dika.
"Yakin dok saya ingin mencari pengalaman lebih banyak lagi"ucapku.
"Bagus saya suka anak muda kaya kamu,ayo kita bahas di ruangan saya" ucap dr.Hadi melangkah meninggalkan ruang rapat kami.
"Bener Lo yakin ?" tanya dokter Dika lagi.
"Emang kenapa sih mas?" tanyaku penasaran.
"Dulu ada salah satu perawat dan Bidan ikut kegiatan itu,eh pulang dari kegiatan itu keduanya bilang tempat terlalu pelosok bahkan ponsel saja tidak ada sinyal dan bener-bener seminggu itu kegiatan full hingga kecapean, karena medannya tidak bisa di jangkau transportasi "ucapnya.
"Wah jadi pingin nyoba saya"Ucapku mereka semua melotot.
"Yakin dok, listrik aja tidak ada lo, dokter akan seperti hidup di jaman purba,"ucap suster Mia.
"Saya jadi tertantang untuk mencoba malahan,sus" ucapku tenang, dalam hati aku senang dengan begitu aku akan terbebas sementara dari Arya dan Kana.
"Belum stabilitas bagaimana ya pak ?"tanyaku penasaran.
"Listrik hanya menyala dari pukul 05.00 sore sampai pukul 05.00 pagi, jadi bisalah mengatur supaya ponsel tetap nyala"ucap beliau.
"Terus saya berangkat kapan pak,?" tanyaku.
"Besok pagi kita berangkat ke citra Medika pusat,disana akan di lakukan pengarahan singkat sebelum terjun ke lapangan. Jadi sekarang lebih baik di persiapkan segala kebutuhan yang perlu di bawa"ucapnya.
"Kalau begitu saya permisi pak" ucapku sambil mengambil surat tugasku yang baru di persiapkan oleh beliau.
Saat aku keluar aku lihat sudah tidak ada mobil Kana di depan klinik, karena itu aku bergegas pulang supaya biar bisa cepat menyiapkan keperluan ku.
"Ko Lo di sini?" tanyaku pada Arya yang lagi ngobrol sama suster Mia.
"Gw sengaja datang dari sore kesini nunggu lo keluar tanpa memanggil lo" ucapnya.
"Buat apa nugu gw , biasanya juga langsung ketok" Ucapku.
"Lo mau kemana ?" tanya Arya, "makan lapar " ucapku sambil berjalan meninggalkannya.
"Gw ikut " ucapnya sambil berlari menyamai langkahnya dengan langkahku.
"Semalam gue dan Kana ke sini tapi gue tungguin lo nggak datang-datang ke mana elu semalam?"tanya Arya. " Gw bukan anak kecil, lagian kita gak ada hubungan apa-apa jadi gak usah sok care deh" ucapku.
"Mang nasgor pedes satu,pakai telor ceplok ya!" ucapku sebelum duduk.
"Gue tidak dipesan kan sekalian?"tanya Arya yang ikut duduk di depanku.
"Lu punya mulut bisa pesan sendiri"Ucapku.
"Mang samain sama dia ya,! lu ada hubungan apa sama pak ustadz ?"
"Kepo amat sih, kemarin aku sudah bilang lebih baik kita tidak saling tahu, kalian ga perlu tahu siapa aku dan aku juga begitu jadi kita bisa bebas berteman "ucapku.
"Tapi gw penasaran, dulu sehabis bertemu denganmu di apartemen Aryo Ternyata dia tidak hanya menanyakan tentang dirimu padaku tapi juga kepada Kana, apa jangan-jangan dia mantan suamimu" ucapnya serius.
"Gila aja ,Lo harus tau berapa beda usia kami 22 tahun "ucapku ketus.
"Tidak jauh beda dengan Salma yang berbeda 19 tahun, jadi mungkin saja kan?".
"Terserah Lo deh, mengagap dia mantan suamiku atau selingkuhan ku terserah Lo, sekarang gw minta no rekening Kana atau Lo terserah gw mau balikin semua uang Kana".
"Bener dia mantan selingkuhanmu?" tanya Arya penasaran. Aku tidak ambil pusing dengan ocehan Arya yang terpenting saat ini perutku kenyang lantas tidur kataku dalam hati.
"Wah jika benar si ustad mantan suamimu atau mata selingkuhanmu, Kana kalah 2 kali dengan orang yang sama,"ucapnya, langsung ku tutup mulutnya dengan cabe rawit yang berada di piring.
"Hah hah gila Lo "ucapnya langsung memuntahkan cabe rawit dari mulutnya dan segera mengambil air minum.
"Makanya kalau makan jangan banyak omong,?"ucapku tenang padahal dalam hati pingin ketawa melihatnya yang kepedasan.
"Ga ada hubungannya, sinting loo hah hah,gw jadi kembung ni gara-gara kepedasan "ucapnya.
"Gw bisa minta no rekening Kana atau no rekening Lo, gw mau balikin uang Kana gw males berhubungan dengan kalian "kataku. "Jika kamu marah dengan kejadian semalam aku maklum ko,tapi jangan bawa-bawa akula masalah uang Lo selesaikan sendirilah dengan Kana" ucapnya.
"Lo ngapain nyari gw ada hubungannya dengan yang semalam kan? ,terus kenapa Lo gak mau di sangkut pautkan dengan yang semalam ?"tanyaku.
"Gw cuma mau memberikan perhatian kalau..".
"Kalau Lo penasaran dengan hubungan gw dan pak ustadz kan?"tanyaku membuatnya salah tingkah.
"Ya wajarlah 2 kali pak ustadz ketemu Lo reaksi nya terlalu berlebihan menurut gw,jadi wajar kalau aku mengira dia mantan suamimu kata Kana Lo kan janda"ucapnya.
"Gw udah kenyang ,gw balik duluan" kataku sambil berdiri.
"Habis makan tidak baik langsung tidur bagaimana kalau kita ngobrol dulu,"kata Arya sambil menyodorkan satu lembar uang warna merah, "sama dia bang sekalian "ucapnya kepada penjual nasi goreng.
"Gak minat ngobrol dengan Lo yang penasaran dengan mantan suami orang "ucapku sambil menahan tawa.