Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
154. Kumpul Keluarga



"Siapa namanya Rai,?" tanya papi.


"Adila dan Adiva. Adila memiliki arti orang yang bertindak adil. Adiva yang memiliki arti lembut, menyenangkan. Aku harap mereka bisa menjadi para bidadari yang mempunyai jiwa keadilan dan lemah lembut."


"Sekarang apa rencanamu?"


"Mas Rai minta aku untuk kembali di sisinya, setelah si kembar berusia 3 bulan. Untuk sekarang aku mau fokus untuk pemulihan kesehatanku dan si kembar yang baru keluar dari inkubator."


"Langkah awal apa yang akan kalian lakukan ?"


"Aku sudah meminta ayah Elang untuk mengusut semua harta atas nama Nadiva. Aku takut dia punya harta dari yang selain kita ketahui, seperti rencana Hana kita coba dengan memiskinkan Nadiva. Jika dia miskin apa dia masih bisa berulah."


"Sebaiknya kamu kembali ke rumah dinas,biar Hana sama mami."


"Tapi mi!"


"Biar orang-orang Nadiva tidak curiga,"ucap mami.


"Yang di bilang mami ada benarnya, nanti kamu pulang bareng papi. Biarkan mami yang mengurus Hana dan anak-anakmu. Kita selesaikan urusan kita yang di Jakarta,apa kamu tidak ingin membuat Hana merasa tenang saat kembali ke Jakarta?"


"Bagaimana kalau balik ke Jakarta setelah Hana pulang dari rumah sakit ?" Ucap Raihan berusaha menawar, biar bisa lebih lama berada di dekat anaknya.


"Semakin lama kamu di sini sini, bisa membuat Nadiva dan Bayu curiga dan berbahaya buat Hana dan anak kalian." Ucap papi tegas tanpa bisa di bantah.


"Bagaimana kalau Hana, mami bawa kabur saja sekalian ?" Dengan muka di tekuk seperti anak kecil ahkirnya Raihan , menyetujui ucapan papi dan mami. Dan malam ini Raihan langsung pulang ke Jakarta bersama papi.


Seperti halnya anak pertamaku Satria , anak kedua ku ini juga tumbuh tanpa Raihan. Meskipun Raihan tidak sedang satgas atau dinas ke luar kota. Tapi kali ini Raihan bisa menemani proses kelahiran dan aqiqah Adila dan adiva, yang kami adakan di salah satu panti asuhan. Bahkan saat aqiqah Raihan hanya di ijinkan papi menginap satu malam, keesokan harinya Raihan di ajak papi kembali ke Jakarta.


Semua berjalan tanpa ku ketahui sejauh mana, usaha Raihan dan papi. Hingga siang ini mami dan Randi mengajakku kembali ke Jakarta.


"Ahkirnya kakak dan cucu papi bisa pulang ke rumah lagi." Ucap papi menyambut kedatanganku.


"Sebenarnya apa yang terjadi ?"


"Ayah Elang kembali ke Samudra group dan meminta hak warisannya. Semua saham atas nama Nadiva sudah diambil alih ayah Elang, karena kondisi kakek Bayu yang kritis pasca operasi jantung."


"Jadi Nadiva bagaimana nasibnya, sekarang ?"


"Nadiva di laporkan polisi dengan tuduhan pencucian uang," jelas papi.


"Bagaimana dengan semua harta atas nama Nadiva ?"


"Disita KPK karena Nadiva juga terlibat penyuapan terhadap instansi pemerintah, untuk memenangkan setiap tendernya."


"Gila !"


"Kamu yang gila masih hidup tapi berpura-pura seolah mati,"ucap Radit.


"Demi keamanan anak-anakku,"jawabku.


"Alasan aja, kalian semua membohongiku. Muncul-muncul sudah menggedong Dila dan Diva, hanya aku yang terakhir tahu keberadaan dua ponakan cantikku."


"Kamu aja yang sibu pacaran hingga tidak tahu dengan apa yang terjadi," jawab Randi .


"Wah Lo pacaran sama siapa ?"


"Narita,"jawab Randi."


"Wah yang benar ?" Sedangkan Radit hanya cengengesan tanpa membantah ucapan Randi .


"Awalnya gw disuruh Om Elang untuk mengurus semua aset yang akan dialihkan atas nama mas Rai. Tapi mas Rai menolak jadi limpahkan kepda pihak yayasan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan."


"Maaf mas tidak bisa mendiskusikan dengan mu. Mas pikir asalkan bisa bersamamu dan hidup serba kecukupan itu sudah cukup. Mas tidak mau banyak harta tapi jauh dari kalian."


"So sweet kalian,"ucap Jelita yang juga ada dirumah Papi. Semua keluarga berkumpul untuk menyambut kedatanganku.


"Apapun yang terjadi ke depannya nanti ingatlah dengan keluarga, karena kekompakan dan kebersamaan keluarga adalah kekuatan kita."


"Iya Nek, maaf membuat nenek cemas."


"Tidak apa-apa yang penting sekarang kita bisa berkumpul kembali dengan anggota baru."


"Selama Nadiva belum di tetapkan hukumannya kamu dan anak-anak belum aman,jadi kamu akan di jaga 24 jam oleh bodyguard."


"Ko gitu sih Pi, ya udah aku mau tinggal di rumah dinas saja."


"Meskipun begitu orang bayaran papi akan, berada di sekitar mu sampai Nadiva di jatuhkan hukuman."


"Tidak apa-apa, Nadiva tidak akan lama ko di di adili. Selain tuntutan pencucian uang dan suap, dia juga di laporkan atas tuduhan penggelapan pajak."


"Hah yang benar mas?"


"Ayah Elang, melakukan penyelidikan secara langsung dari mulai awal kamu di nyatakan meninggal."


"Apa ayah Elang tahu dari awal perbuatan Nadiva ?"


"Tidak, berawal dari Narita yang melaporkan pada ayah, tentang kecurangan pajak yang dilakukan Nadiva."


"Serakah sekali dia,"ucapku.


"Itu wajar,"jawab Raihan.


"Ko begitu ?"


"Nadiva selalu bergelimang harta dari lahir, saat tahu bahwa dia bukan keturunan Samudra. Dia takut tidak akan mendapat warisan seperti bayangannya. Karena itu dia bertekad untuk menguasai minimal setengah harta Samudera grup."


"Gara-gara harta lagi,"ucapku setelah menerima penjelasan dari Raihan.


"Harta itu bisa menjadi penolong di tangan orang yang tepat, dan bisa menjadi penghancur di tangan orang-orang yang tidak bisa dengan bijak memanfaatkanya."


"Aku setuju dengan kata papi, karena itu syukuri apa yang ada di tangan kita dengan memanfaatkan secara tidak berlebihan."


"Bilang aja biasa hidup pas-pasan, kamu gak bisa mengelola harta banyak," cibir Bintang.


"Ya itu salah satunya, aku takut menjadi orang yang serakah nantinya,"jawab Raihan.


"Tunggu sejak kapan kalian jadi akrab bahkan bisa saling menghina begitu ?"


"Sejak dia minta tolong untuk mencari berbagai hal, yang berhubungan dengan Nadiva. Aku kira dia mau deketin Nadiva, tidak tahunya malah mencari informasi kejahatannya."


"Bener mas?" Raihan hanya mengangguk. "Punya keluarga yang kompak kenapa tidak di manfaatkan."


"Iya itulah gunanya Keluarga saling menolong dan menjaga, semoga itu berlaku untuk anak dan cucu kalian juga."


"Amin," ucap kami mengaminkan ucapan nenek.


Hari ini aku mulai berkumpul dengan keluargaku, meski Nadiva sudah di penjara tapi aku masih was-was. Aku masih belum tenang, aku masih takut Nadiva membalas dendam kepadaku dan keluargaku.