
Waktu berlalu dengan sangat cepat, meskipun begitu aku terus mencari keberadaan Diva putriku. Dengan bermodalkan wajah Adila yang aku yakin memiliki kemiripan hampir 90% dengan Diva. Aku jelajahi dunia digital, tempat orang-orang bermain media sosial jaman sekarang. Tapi sampai detik ini belum ada kabar ,tahun demi tahun berganti dengan sangat cepat.
"Ma aku boleh tidak melanjutkan SMA di Jakarta, tinggal sama kakek."
Ingin sekali aku menolak keinginan Dila, tapi sekali lagi aku harus sadar bahwa aku juga dulu melakukan hal yang sama pada kedua orang tuaku.
"Jujur sebenarnya mama ga rela berpisah denganmu, tapi mama juga gak boleh egois. Karena itu mama ingin tahu apa alasannya kamu mengambil keputusan, untuk tinggal sama kakek?"
"Mami tinggal sama papi, mama dengan aku dan Satria. Aku kasihhan sama kakek yang sendirian dan selalu sibuk bekerja. Mungkin jika aku tinggal sama kakek, kakek akan mengurangi kesibukannya dalam bekerja."
"Mama dulu waktu SMP juga tinggal sama nenek dan kakek di Singapura. Jadi kalau sekarang mama melarang kamu, berati mama egois. Lagian alasan yang adek berikan cukup membuat mama bangga, adek sudah bisa memikirkan kakek."
"Jadi mama mengijinkan?"
"Sebenarnya sih tidak, tapi kalau mama tidak mengijinkan nanti adik kabur dari rumah."
"Aku bukan anak seperti itu mama."
"Lalu kalau mama ga ngijinin adek mau ngapain ?"
"Adek akan merayu mama sampai di ijinkan, juga meminta kakek supaya kakek bisa bicara langsung pada mama."
"Oo mama jadi pingin di rayu adek,"candaku.
"Aku tidak bisa merayu mama, hehe! Kalau aku boleh tahu kenapa nama tinggal sama kakek dan nenek buyut ?"
"Orang tahunya mama kakak si kembar, tanpa mereka tahu si kembar itu juga kembaran mama."
Dila yang mendengar ucapanku hanya tertawa kecil, "Karena itu mama memilih sekolah terpisah dengan Om Radit dan Om Randi ?"
"Ya itu salah satu alasannya, selain itu mama juga mau mengambil kelas akselerasi biar tidak di pandang rendah!" Ucapku sambil mengingat masa-masa saat seumuran dengan Dila.
"Mama tahu kamu tertekan, percayalah semua yang menimpa keluarga kita hanya garis takdir yang harus kita jalani. Jangan menyalahkan diri adek sendiri,"ucapku sambil memeluk Dila.
"Terima kasih mama tidak membenci dan marah padaku !"
"Apa dengan mama marah dan membencimu adikmu bisa kembali berkumpul dengan kita. Yang ada adik akan tertekan dan mama akan kehilangan kedua putri mama. Diva akan kembali hanya dengan usaha dan doa, karena atas ijin Nya semua bisa kembali ke tempatnya."
"I love mom, mom is the best.
Kami tidak bisa bicara lagi , selain berpelukan.
"Wah kenapa pada pelukan semua ?" Tanya Satria yang baru pulang sehabis bermain futsal dengan para pemuda karang taruna.
"Assalamualaikum, biasakan mengucapkan salam !" Ucap mama sambil menarik telinga Satria, yang duduk disampingnya mama.
"Assalamualaikum hehe, maaf."
"Walaikumsalam,"ucap Dila.
"Ada apa ini,aku kok gak di ajak pelukan ?"
"Adikmu bereancana melanjutkan sekolah ke jenjang SMA ke Jakarta, tinggal sama kakek Elang."
"Mama setuju?"
"Kalau mama bilang ga setuju, bukannya mama egois. Kalau menurut mas sendiri bagaimana, setuju adik tinggal sama kakek ?"
"Kalau aku, asal Dila senang tidak masalah!"
"Terima kasih mas,"ucap Dila sambil memeluk Satria.
"Giliran begini manggil mas ,"cibir Satria.
"Kalau begitu aku panggil Abang saja bagaimana,?" tanya Dila.
Satria langsung melotot,"No no. Abang tar ujungnya yang tidak enak di dengar. Bang Sat." Ucap Satria, membuat aku dan Dila langsung tertawa kecil .
"Ada maunya, berapa orang ?"
"Ada 6 orang."
Dila melangkahkan kaki ke dapur, "Mama bener tidak apa-apa, kalau Dila tinggal sama kakek Elang ?"
"Bohong, kalau mama bilang ikhlas. Tapi mama kan juga tidak bisa egois memikirkan kemauan mama, tanpa memikirkan kemauan kalian. Kalian anak-anak mama, kebahagiaan kalian adalah prioritas mama ,asalkan kalian bahagia mama juga bahagia." Ucapku bertepatan dengan Dila keluar dengan membawa satu teko es jeruk, "Ini bawa kedepan dulu! Habis itu ke sini ambil gelas dan cemilan !"
"Oke swety."
Satria berjalan ke depan dengan membawa air minum, sedangkan Dila kembali ke dapur. Tidak lama Dila kembali membawa nampan berisi kue buatannya tadi pagi dan gelas-gelas bersih.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
"Maaf Tante disuruh Satria mengambil gelas bersih." Ucap Affan teman Satria yang rumahnya berada di depan , rumah kami.
Tanpa banyak bersuara Dila langsung menyerahkan nampan berisi gelas dan kue brownies buatannya.
Setelah Affan pergi, Dila langsung duduk dan merebahkan kepalanya di pangkuan ku.
Ku usap kepalanya, "Jika kamu tinggal sama kakek, perhatikan kesehatan kakek. Mama denger kesehatan kakek ahkir-ahkir ini kurang baik. Gantiin mama dan papa untuk merawat kakek ya!"
"Tentu ma," ucap Dila dengan suara lirih. Sepertinya sudah mengantuk berat, "Tidur yang nyenyak sayang !" Ucapku sambil mengecup keningnya, setelah meletakkan kepalanya ke atas bantal dengan sangat pelan.
Hari berganti dengan sangat cepat. Hari ini kami sekeluarga ke Jakarta, begitu juga dengan Randi sekeluarga. Karena hari ini ulang tahun papi, setelah pulang kerja aku langsung berangkat ke Jakarta.
"Biarkan aku yang jadi sopir,kan aku sudah punya SIM A. Pasti mama capek habis pulang kerja," ucap Satria.
"Mama capek ,tapi mas pasti juga capek. Kalian beristirahat saja, besok kita sekalian lihat-lihat sekolahan yang cocok buat adik!"
"Kamu jadi sekolah dan tinggal bersama kakek?"
"Iya, aku menemani kakek di hari tuanya."
"Good." Satria dan Dila duduk di belakang, Satria tidur selama perjalanan sedang Dila sibuk dengan ponselnya. Sampai habis isya kami sampai di rumah Mami dan papi, yang sudah ramai. Sepertinya acara makan malam bersama kali ini mengundang banyak orang, melihat begitu banyak mobil yang terparkir di depan halaman rumah sampai ke pinggir jalan.
"Sepertinya ramai ya ma,?" ucap Satria.
"Iya ,ayo kita masuk." Ucapku sambil berjalan duluan di ikuti anak-anak di belakangku.
Hingga penampakan orang yang sedang mengobrol dengan papi, Randi, Om Arya menghentikan langkah ku.
"Kenapa ma,?" tanya Dila.
"Itu.. Seperti.." Disaat aku dan Dila masih penasaran dengan punggung seseorang, Satria sudah berjalan mendekat dan langsung menghampiri orang tersebut.
Jantungku berdetak begitu kencang saat orang itu berbalik menghadap Satria dan langsung memeluk Satria.
"Ma ini kenyataan kan, bukan hantu atau halusinasi ku kan. Atau ini hanya mimpi kita,ma."
Aku masih bengong dengan apa yang ku lihat, apa lagi melihat orang itu berjalan mendekati aku dan Dila setelah berpelukan dengan Satria. Wajahnya masih sama, hanya ada beberapa bekas luka di wajahnya. Jalannya tertatih dengan menggunakan alat bantu jalan, pelan dan pasti. Sampai teriakan Dila yang langsung berlari dan memeluk orang tersebut menyadarkan aku.
Ini bukan mimpi Raihan hidup, meski harus menunggu selama 6 tahun lebih untuk kembali. Ahkirnya dia kembali sesuai dengan janjinya, Rai tidak pergi ke surga. Lalu mataku, aku bisa melihat menggunakan mata siapa? Apa yang harus ku lakukan sekarang?
Kulihat Rai mencium seluruh wajah Dila, dilanjutkan dengan memeluk Satria dan Dila secara bersamaan dengan tatapan matanya terus melihat kearah ku.
"Mbak pasti masih shock ,ayo kita masuk dan bicara sambil duduk." Ucap Narita sambil membantuku untuk berjalan dan duduk.
Raihan duduk berjongkok di depanku, dengan menggegam tanganku. "Aku pulang sesuai janjiku. Maaf harus membuat mu menunggu lama untuk memenuhi janjiku." Ucap Rai di ahkiri dengan kecupan di tanganku.
"Ini seperti mimpi,"ucapku sambil meraba wajah Rai untuk memastikan ini bukan mimpi indah ku.
"Ini nyata,"ucap Rai sambil menghapus air mataku.