Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
95. Raihan Rihanna XIX Pergi



"Abi mau pulang. Abi mau menghabiskan sisa umur Abi di tanah kelahiran Abi."


"Abi pasti sembuh, kita kesini untuk berobat supaya Abi sembuh." Ucap mami sambil menangis dan menggenggam tangan kakek.


"Abi sudah tua. Keinginan Abi cuma menghabiskan sisa umur Abi dengan anak cucu Abi."


"Sekarang kita pulang kita urus administrasi nya dulu."


"Papi,!" teriak mami.


"Terima kasih. Kamu tahu apa yang papi mau. Jangan marah dengan suami mu. Abi sudah sangat rindu bundamu. Ijinkan Abi pulang."


Mami yang mendengarnya langsung berlari ke luar kamar perawatan kakek di ikuti papi.


" Hana Kejar mami , jangan biarkan papi mu di marahin mami mu. Kakek mau meneruskan bacaan kakek."


"Iya kek," ucapku sambil berdiri.


Aku baru sampai tadi pagi dan langsung ke rumah sakit. Menurut Randi keadaan kakek sudah lebih baik , daripada pertama kali datang seminggu yang lalu. Tapi selalu minta pulang, katanya nenek sudah menunggu.


"Kasian Abi, sayang. Kita bantu Abi dengan memberikan kebahagiaan di sisa umurnya ya."


"Aku belum siap kehilangan Abi."


"Umur tidak ada yang tahu , sayang. Sekarang Abi yang terbaring di sana, tapi kalau nanti sore papi duluan yang tidur berselimut kafan. Wallahu Alam ." Ucap papi membuat mami semakin kencang menangis di dekapan papi.


Papi selalu bisa menenangkan mami di situasi apapun. Mau sedih,marah , kesal pun papi tahu bagaimana mengatasinya. Membuatku iri, untuk mendapatkan pasangan seperti papi.


"Kenapa kak, berdiri di situ ?"


"Kakek takut mami marah-marah sama papi."


"Emang aku suka marah apa,?" ucap mami sambil cemberut.


"Bukan marah, tapi sedikit ngambek." Canda papi, membuat mami langsung mencubit pinggang papi. Momen seperti ini yang kurindukan jika jauh dari ke dua or tuaku.


"Kakak temani mami,biar papi konsultasi dengan dokter yang menangani kakek dulu."


"Mami ikut."


"Ajak aja pi pacarnya, nanti ngambek lagi repot Lo."


"Awas kamu ya kak," ucap mami sambil melotot dan papi tersenyum melihat tingkah mami. Padahal menurut Tante Nadira,semasa muda mami adalah orang yang tangguh dan mandiri.


Setelah semua urusan administrasi diselesaikan,kamu langsung bertolak ke tanah air.


"Kamu cuti berapa hari ?"


"2 Minggu mi,"


"Kenapa tidak berhenti saja,sih kak?"


"Masih terikat kontrak mi, masih sekitar 6 bulan lagi habis kontraknya."


"Jelita mau menikah,"ucap mami sambil melihat kearah ku.


"Ya wajar kak Jelita sudah diatas 30 tahun. Aku saja baru genap 27 tahun mi."


"Mami itu iri, pinginnya kamu juga segera nikah kak. Kamu ini kak gak peka banget," ucap papi.


"Belum ketemu jodohnya mi, sabar ya."


"Tar kalau ada yang cocok, kakak kenalkan ke keluarga kita. Jangan kuatir oke," ucapku sambil bercanda.


"Mau gak di jodohkan ?"


"gak usah aneh-aneh deh,mi. Apa masih ada hubungannya dengan AA Aziz ?"


"Astaghfirullah kak, su'udzon itu namanya. Lagian hari ini Aziz nikah, sama salah satu Ning dari pondok pesantren di Bogor." Ucap papi membuat ku sedikit lega, karena aku pernah dengar kakek Husain marah. Dia marah karena AA Aziz gagal menikah dengan ku,dia menganggap AA Aziz tidak becus. Padahal aku yang sudah tahu rencana awal, memilih pergi tanpa pamitan. Tidak ada yang tahu aku pergi ke luar negeri, mereka mengira aku tidak ke pesantren karena hukuman kakek Husain.


"Iya, takutnya. Mami kan pingin aku cepat nikah, ya siapa tahu."


"Mami juga gak bakalan memaksa kali kak."


"Maaf."


"Kenapa sih kakak sensitif kalau membahas jodoh. Apa jangan-jangan kakak baru patah hati,ya?"


"Gak ya! Kata kakek tidak boleh pacaran, kalau mau pacaran. Pacaran setelah halal saja."


"Alhamdulillah, kalau kakak juga berpikir begitu," ucap papi.


Sudah seminggu kondisinya kakek mulai membaik, bahkan tiap pagi kakek selalu meminta ku menemaninya berkeliling pondok pesantren. Hanya untuk sekedar menikmati udara pagi, yang sejuk atau menyapa para santri dan santriwati yang lagi belajar.


"Kakek seneng,cucu kakek yang paling cantik bisa nemenin kakek berkeliling."


"Apan sih kek. Ya wajar aku cantik, 5 cucu kakek cuma aku perempuannya."Ucapku cemberut sambil menggandeng lengan kakek, membuat kakek tertawa. Om Hafiz mempunyai 2 putra,mami punya 3 cuma aku perempuannya.


"Kamu tahu,gak? Seminggu kamu nemenin kakek di sini, banyak yang bilang. Ustadz Prabu ternyata punya cucu cantik ya, jadi pingin halalkan ke KUA."


"Halah. Apa dikira aku gak tahu santri Wati juga banyak yang bilang, aku gak pernah pulang karena operasi plastik." Ucapku membuat kakek tertawa,kecil.


"Kamu kan kerja di luar negri, cari jodoh nya orang Indonesia aja ya!"


"Kakek lucu. Kakek nyuruh aku nyari jodoh orang Indonesia, padahal kata mami. Umi kakek itu asli keturunan timur tengah dan Eropa, tidak ada darah Indonesia sama sekali."


"Karena itu. Kakek tahu sedihnya umi saat ada masalah dengan Abi, tapi jauh dari keluarga dan teman-temannya."


"Insyaallah kek , lagian Hana kan juga tidak tahu siapa jodoh Hana."


"Iya-iya kakek bercanda. Mamimu itu mirip kakek wajahnya berbau Timur Tengah dan Eropa. Tapi kalau kamu, semua bilang mewarisi wajah lokal papi mu. Mereka salah kamu itu mewarisi bundanya mamimu. Kecantikan alami khas Indonesia," kakek terus bercerita hingga aku tertidur di pangkuan kakek.


"Kakak ayo bangun,masak malah tidur di sini," suara dan tepukkan ringan di pipiku membangunkan aku dari tidur nyenyak ku.


"Eh Om. Mana Kakek ?"Tanyaku saat hanya menemukan Om Hafis di sini.


"Masuk ke dalam sarapan pagi bersama yang lain. Ayo sarapan !"


Setelah melakukan sarapan bersama, pukul 8 pagi kakek mengimami kami sholat Dhuha.


"Aku mau mendengarkan cucu kakek melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an."


"Tentu ke,ayo. Aku duluan ya kek nanti kalian harus menyambungnya ya?" Ucap Ilham yang kami anggukan. Dimulai dari Ilham putra bungsu Om Hafiz, yang duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar. Kemudian dilanjutkan kakaknya Ibrahim, berlanjut ke Radit dan Randi terus aku yang terakhir.


"Sejak teh Hana mulai kakek selalu tidur, capek kali ya." ucap Ilham membuat ku langsung mendekat dan duduk di samping kakek.


"Kakek!! Mami papi, Kakek!"Teriakku saat aku mendekat dan memegang kakek sudah lemas tak sadarkan diri.


"Ina ilahi wa innailaihi rojiun," ucap Papi membuatku dan mami semakin histeris. Semuanya seperti mimpi buat ku, seminggu aku menemani kakek kesehatannya mulai membaik, hingga aku berharap lebih kakek akan sehat. Tapi Tuhan berencana lain, hari-hari terakhir aku yang seharusnya mulai siap-siap kembali ke negeri paman Sam, kakek malah pergi meninggalkan kami semua.


Hari itu juga kakek di makam kan di pemakaman keluarga. Saat di pemakaman aku sempat melihat ada Erlangga,Ali, Raihan dan kedua orang tuanya Erlangga. Padahal menurut Radit ,Raihan berdinas di Serang, Banten.