Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
137. Permulaan



"Kenapa Lo penasaran banget dengan Elang Samudra? Ga usah aneh-aneh dia orang yang hebat dalam bisnis tapi juga kejam buat yang mengusik hidupnya!" Ucap Radit, Raihan sedang ada kegiatan pelatihan selama satu Minggu di Bandung. Aku gunakan kesempatan ini untuk bertemu Radit yang sempat curiga di awal.


"Aku cuma penasaran orangnya seperti apa?"


"Dia orang yang bisa memutar balikkan fakta. Aku pernah mendapatkan klain tabrak lari, tersangkanya Nadiva Ayu Samudra. Anak pertama Elang Samudra, tapi klain aku malah jadi tersangka."


"Kenapa bisa begitu?"


"Tadinya keluarga mereka menuntut nama baik anaknya yang tidak salah tapi disalahkan. Tapi di pertengahan sidang keluarga itu menyerah, 'Toh putra juga sudah meninggal ' begitu katanya. Dari sana aku curiga mereka main uang."


"Terus Lo menyerah?"


"Ya iyalah klain ku aja sebagai keluarga korban, sudah menyerah masa aku yang hanya pengacara ngotot!"


"Gila keluarga mereka, sepertinya mendewakan uang."


"Lo ingat Erlangga dari keluarga Poernomo yang dulu pernah melamar elo?"


"Iya ingat kenapa?"


"Kalau tidak salah istri mereka sepupu."


"Jadi maknya Erlangga itu sepupu sama istrinya Elang Samudra ?"


"Kalau gak salah begitu. Dulu mereka sempat di jodohkan tapi Nadira, menolak tidak mau menikah dengan Abdi negara."


"Wao mendetail sekali pengetahuan mu! Elo pernah dekat salah satu dengan mereka ?"


"Tidak, pacarnya Nadira temenku."


"Ah ribet sekali."


"Lo ada apa tanya-tanya hal beginian jelaskan tujuan mu apa ?"


"Gw pingin lihat Elang Samudra secara langsung !"


"Buat apa?"


"Sejak aqiqah Elang ucapanmu buat aku penasaran,di foto sekilas wajah Elang juga kenapa mirip dengan Elang Samudra ?"


"Haha ya wajar kali di dunia ini kan ada orang yang beberapa wajahnya sangat mirip! Kecuali Lo selingkuh dengan Elang Samudra pria paruh baya seumuran dengan papi."


PLAKK "Sialan emang gw perempuan apaan?"


"Sakit bego!" Ucap Radit sambil mengusap-usap kepalanya yang barusan ku pukul.


"Mulutnya ya di dengerin anak gw tahu!" "Lagian di logika aja sendiri kenapa Lo ngebet ketemu mereka?"


"Penasaran aja gak boleh ?"


"Nenek ada sedikit saham di Samudra grup sekitar 10 %."


"Oya thanks infonya. Gw balik duluan kalau gitu. Assalamualaikum !"


"Walaikumsalam."


Selama perjalanan Elang sangat anteng duduk di car seat , jadi aku dapat mengendarai mobil dengan tenang. Hingga saat aku berhenti di lampu merah, aku merasakan seseorang menabrak bagian belakang mobil ku.


Aku langsung melihat kearah Elang yang asik menggigit mainan karet, Elang sempat kaget tapi tidak rewel.


Tok tok suara ketukan pintu membuatku keluar dari dalam mobil. "Gw buru-buru, sampai gak bisa mengontrol kecepatan mobil gw, ini ganti rugi bisa kamu gunakan untuk membetulkan mobil Lo yang rusak. Satu lagi ini kartu namaku yang rusak , jika kurang hubungi gw." Ucap wanita berbadan modis, langsung pergi setelah memberikan uang dan kartu nama padaku.


'Nadiva Ayu Samudra.' Aku mendapatkanmu, Pucuk dicinta ulam tiba. Ucapku dengan senyum mengembang.


"Assalamualaikum Dit, mobil gw ditabrak oleh seseorang dari belakang gw bereancana mau nuntut dia ,bantu gw ya!"


"Walaikumsalam bagaimana ceritanya? Terus Elang bagaimana kondisinya ?"


"Elang allhamdullilah tidak apa-apa, tapi gw berniat memberikan pelajaran ni orang!"


"Oke sekarang Lo di mana? Gw susul sekarang ?"


"Gw Sher lokasinya sekarang, udah ya Assalamualaikum !"


Tanpa menunggu jawaban Radit ,aku mematikan ponselku aku mencari tempat parkir yang aman. Setelah 40 menit aku menunggu, Radit datang dengan papi.


"Lo bukan sengaja cari masalah kan?"


"Memang Hana ada masalah apa, kenapa ingin menuntut wanita yang menabrak Hana?"


"Hana aneh Pi, masak cuma karena aku bilang nama mas Raihan Elang Akbar dan anaknya Satria Elang Maulana. Apa ada hubungannya dengan Elang Samudra, jadi penasaran bahkan sampai halu bahwa anaknya katanya mirip Elang Samudra." Jelas Radit sedangkan papi memperhatikan aku dan Elang secara bergantian.


"Hana mau nuntut apa ?"


"Hana cuma mau memberikan wanita itu pelajaran, bagaimana caranya minta maaf jika berbuat salah."


"Oke papi akan bantu, dan papi yang akan langsung menjadi pengacara mu!"


"Bener pi,?" tanyaku memastikannya.


"Iya! Sekarang pulang ke asrama papi anterin, biar mobilmu di bawa pulang Radit."


"Sekarang tidak ada Radit, ceritakan tujuan mu? Kamu anak papi ,papi tahu sifatmu yang tidak suka ikut campur urusan orang lain?"


"Aku ingin mempertemukan Elang Samudra dengan mas Rai."


"Kenapa? Apa ada masalah ?"


"Apa papi tahu mas Rai bukan anak kandung papa dan mama ?"


"Papi hanya tahu, Rai anak adopsi dari adik Luki yang meninggal." Ahkirnya aku ceritakan semuanya, tanpa ada yang ku tutupi satu pun.


"Oke papi akan siapkan dan kasus ini akan om Arya yang pegang, papi akan berdiri di belakang kalian."


"Terima kasih Pi."


"Raihan berhak mendapatkan pengakuan, bukan karena hartanya. Jujur mungkin harta kita tak sebanyak mereka, tapi kekayaan bukan segalanya karena hanya titipan dari Allah SWT."


"Terima kasih Pi."


"Sekarang tinggal kamu yakinkan Raihan tentang kecelakaan yang kalian alami, dan niatmu yang hanya memberi pelajaran kepada orang tersebut !"


"Iya Pi," ucapku bertepatan mobil yang sampai di asrama. Setelah selesai mengantarkan aku papi lansung pulang. Aku sengaja tidak memberitahu apa yang terjadi sampai Raihan pulang. Hingga akhirnya Raihan pulang, dan bertanya kemana mobilku.


"Aku sudah menceritakan semuanya pada mas, termasuk apa tujuan ku menuntut Nadiva. Tapi jika mas keberatan aku tidak akan melakukannya !"


"Kenapa aku harus keberatan aku tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka, mungkin darah kami sama."


"Syukur deh,aku akan hubungi papi untuk menyuruh om Arya untuk mengembalikan uang Nadiva!" Ucapku langsung mengambil ponselku dan mengirim pesan kepada papi.


"Aku tahu kamu ada niat untuk mempertemukan aku dengan mereka."


"Hehe kok mas tahu,sih?"


"Kamu bukan tipe orang yang mempermasalahkan uang dan memperpanjang masalah. Jadi mas tanya apa tujuan mu?" Raihan melihat kearah ku dengan tatapan lembut, tidak ada tanda-tanda kemarahan sama sekali di sana.


"Aku hanya ingin mempertemukan mas dengan keluarga mas secara langsung. Aku tahu dari hati kecil mas ingin bertemu dengan keluarga mas, tapi mas tidak mau menyakiti hati papa dan mama."


"Oya istri ku ternyata, sok tahu. Tapi ga apa-apa deh mas tetap sayang kok, mas akan selalu berdiri di belakangmu !"


"Ya harus itu. Oya bagaimana kabar Oliv mas gak lihat dia?"


"Mas sudah blokir kontaknya, kamu tenang saja mas akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menemuinya."


"Oke,aku akan belajar memaafkan mas dan melupakan Olivia."


"Mau kemana ?"


"Siap-siap jadwal imunisasi Elang!"


"Imunisasi apa ?"


"Inflenza 2,di usia 7 bulan. Mas gak siap-siap berangkat kerja ?"


"Tidak ,kamu lupa tanggal apa sekarang? Tanggal merah!"


"Astaghfirullah, kenapa bisa lupa. Padahal belum tua, anak juga baru satu kenapa sudah pikun saja sih?"


"Mau nambah anak?"


"Enak aja Elang aja baru 7 bulan, tar lahiran kamu tinggal lagi ujung-ujungnya!"


"Haha mau gimana lagi negara memanggilku! Ayuk siap-siap mas anterin !"