Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
133.RR. Kabur



✉️+6284300336789


5 Mei 20xx


Apa bisa kapten Raihan ke rumah sakit sekarang.


Olivia mengamuk lagi beberapa kali dia berusaha bunuh diri


^^^Me^^^


^^^Baik saya kesana jam istirahat^^^


Seminggu setelah kepulangan Raihan, Raihan selalu pergi dengan alasan-alasan yang terkadang tidak masuk di akal. Seminggu pertama aku masih toleransi dan ini sudah Minggu ketiga ,tapi belum ada tanda-tanda dia akan berkata jujur.


✉️+6284300336789


10 Mei 20xx


Olivia menolak minum obat dan vitamin, dia terus mencari anda kapten.


^^^Me^^^


^^^Habis magrib aku usahakan ke sana^^^


Bukannya tanggal ini saat Raihan bilang pergi menjenguk temannya yang sakit?


✉️+6284300336789


15 Mei 20xx


Bisa ke rumah sakit sekarang !


^^^Me^^^


^^^Sepulang kerja saya usahakan mampir^^^


Ini saat Raihan pulang telat pulang dengan alasan ngopi dulu, dengan rekan-rekannya.


✉️+6284300336789


20 Mei 20xx


Olivia ngamuk keluarganya sudah angkat tangan.


^^^Me^^^


^^^Saya segera pergi kesana sekarang^^^


Ini waktu Raihan tidak pulang istirahat katanya ada junior nya yang merayakan ulang tahun.


Karena penasaran ahkirnya 3 hari lalu aku pasang lagi alat penyadap di ponsel Raihan. Meskipun dari pesan pihak perempuan terus yang mendahului berkirim pesan, tapi tidak akan berlanjut jika Raihan tidak memberikan respon.


✉️+6284300336789


Sekarang


Olivia tidak mau makan dari pagi.


^^^Me^^^


^^^Saya kesana sekarang^^^


Aku lihat Raihan yang sedang menjaga Elang, lansung bangun dan berganti pakaian. Aku masih dengan posisi berpura-pura sibuk dengan laptop ku .


"Dek mas mau pergi sebentar !"


"Sebentarnya berapa lama sejam, dua jam apa pulang tengah malam ?"


"Dek!"


"Jawab mas . Terus mas mau pergi ke mana ?"


"Mas harus membantu teman mas yang dalam masalah."


"Masalah apa, ceritakan biar aku tidak curiga ?"


"Dek jangan begitu ini urgent !" Bentak Raihan tanpa sadar, hingga Elang lansung menangis. Jujur aku juga kaget, selama setahun lebih aku menikah, baru kali ini aku di bentak Raihan."


"Mas tega bentak aku sampai Elang menangis?" Tanyaku bertepatan dengan ponselnya Raihan berbunyi, tanpa melihat kearah ku Raihan langsung mengakat telponnya dan berjalan keluar. Aku langsung mengambil ponselku dan aku dengarkan obrolan mereka.


Raihan : "Assalamualaikum."


??? : " Walaikumsalam, bisa ke rumah sakit sekarang !"


Raihan : " Baiklah aku langsung ke sana !" Ucap Raihan langsung mematikan ponselnya, tanpa mengucapkan salam.


??? : " Berhasil dia kesini, sekarang Lo siap-siap.


"Dek mas minta maaf, nanti mas akan jelaskan. Tapi mas akan pergi sekolah ?"


"Dek tolong ngertiin mas!"


"Mas minta di ngertiin, tapi mas tidak mau mengerti aku juga ?"


"Ini urgent dek!"


"Jika mas tetap pergi silahkan! Tetapi itu penegasan buatku bahwa aku dan Elang sudah bukan yang utama di hatimu!"


"Ya Allah dek, kamu tetep yang utama." Ucap Raihan sambil meraup mukanya kasar, dan bertepatan dengan ponselnya yang terus berbunyi.


Akan kubuat kamu menyesal mas, jika sampai pergi dari rumah meninggalkan aku dan Elang malam ini.


"Angkat mas telponnya! Kenapa tidak di angkat ? Anggap saja aku tidak ada. Tar nyesel Lo kamu kalau sampai perempuan itu mati !"


"Dekk!!"


"Apa!!" Teriakku tidak kalah kencang tanpa memperdulikan Elang yang menangis.


Sejak aku melihat perubahan Raihan, aku langsung mencari data-data orang yang mengusik rumah tanggaku. Jika dari awal Raihan berkata jujur, mungkin aku akan katakan segala penemuan ku dari awal. Aku bersyukur dengan ilmu yang telah ku pelajari dan bisa aku manfaatkan.


"Aku hanya kasihan sama dia dek, dia yatim piatu. Aku tidak mau anak dalam perutnya, menjadi seperti aku." Ucap Raihan lirih di ahkiri kalimatnya, membuat ku penasaran. Tapi sayang nya hati dan pikiranku sedang tidak bisa berpikir jernih.


"Kasian.. Mas kasian kan sama dia karena dia yatim piatu, sebatang kara? Aku punya solusi buat mas jaga dia, lepaskan aku !"


"Jangan gila kamu!" Bentak Raihan dengan mata penuh kemarahan.


"Aku masih waras dan aku tidak sebatang kara. Jadi aku tidak butuh belas kasihanmu!" Ucapku langsung berjalan kearah kamar, Elang yang terus menangis harus di kasih ***** biar dia diam. Tidak ada suara apapun sampai 30 menit ,aku selesai memberi Elang ASI.


Sampai bunyi ponsel Raihan berbunyi lagi, dan langsung terkoneksi dengan ponselku.


"Mas Raihan kapan datang ? Olivia mengamuk berusaha bunuh diri !" Ucap suara wanita di sebrang telepon.


"Mas akan ke sana sekarang !" Ucap Raihan langsung mematikan ponselnya, membuatku langsung pura-pura tidur.


"Dek kamu sudah tidur ? Dek maafkan mas,mas harus pergi, tapi mas janji mas akan ceritakan semuanya esok hari !" Ucap Raihan sebelum mengecup keningku dan kening Elang.


Setelah Raihan pergi aku merapikan semua Barang Elang dan sedikit barang ku. " Mau kemana mbak malam-malam begini ?"


"Bantu aku masukin stroller baby ke mobil sekarang ya!"


Setelah membantuku tanpa banyak bertanya Yanti lansung duduk di sampingku.


" Ada apa sih?"


"Lihat sini!"


"Itu kan kapten Raihan sedang menyuapi makan siapa itu mbak ?"


"Aku tidak tahu pastinya gimana, yang jelas kata Raihan dia hanya kasian. Jadi aku minta tolong kamu !"


"Minta tolong apa mbak? Pasti aku bantu ngomong saja !"


"Aku sudah larang Raihan pergi, tapi dia tetap ngotot pergi ! Jadi bantu aku memberikan hukuman buat Raihan."


"Oke mbak," ucap Yanti sambil membentuk o dengan jarinya.


"Buat aku seolah pergi ke rumah sakit karena Elang rewel. Aku mau lihat sepenting apa Elang buat Raihan."


"Oke mbak. Tapi mbak akan pergi ke mana ?"


"Hotel dekat sini mungkin."


"Ya udah hati-hati mbak !" Dengan mengendarai mobil aku pergi dengan Elang, meninggalkan asrama dengan sakit hati. Aku putuskan untuk mencari hotel bintang 4 terdekat, tentunya dengan kamar mewah.


Setelah aku sampai di hotel tepat tengah malam, aku melihat CCTV rumah sakit lagi. Jangan ditanya bagaimana bisa aku memasang CCTV, selama kita punya duit pasti beres. Baru sekarang aku merasa bangga dan beruntung, mempunyai banyak uang dan harta serta kekuasaan.


Aku lihat wanita bernama Olivia itu sedang bercanda dengan teman wanitanya, yang berpakaian jas dokter. Setelahnya aku pindahkan CCTV ke rumah asrama, nampak motor Raihan belum ada. Sebelum pergi aku pasang CCTV di setiap sudut rumah dinas, jika sebelumnya hanya di rumah dan teras tapi sekarang seluruh rumah kecuali kamar mandi.


Rumah Dinas 🏡


Raihan pulang dengan perasaan was-was. Was-was takut Istrinya kebangun dan mencarinya tidak ada. Apa sekarang saatnya dia jujur kepada istrinya, tapi rasa was-was itu menguap saat tidak menemukan istri dan anaknya di dalam kamar mereka.


"Hana ,Hana Raihana Diman kamu !" Raihan berjalan keluar sambil menekan nomor ponsel Hana , tapi panggilan selalu ditolak oleh Hana .


"Eh kapten Raihan sudah pulang, bagaimana keadaan Elang?"


"Elang, kenapa dengan Elang ?"


"Hah jadi kapten Raihan belum tahu? Saya kira kapten Raihan sudah tahu ?"


"Ada apa Serka Ari ?"


"Saya kurang tahu pastinya, tapi kata istri saya tadi Elang rewel nangis mulu. Karena Bu Raihan kewalahan jadi di bawa kerumah sakit. Mungkin demam mangkanya rewel."


"Sial," umpat Raihan sambil memukulkan tangannya ke Diding sampai berdarah.