Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
99. Raihan Rihanna XXIII Gosip



"Kamu gak sayang beli mobil seharga Rp 2,188 miliaran,Han?"


"Aku gak tau mas, saat aku membeli mobil ini aku tidak pikir panjang. Self reward atas kerja keras ku di California,hanya itu yang ada di benakku."


"Han jangan ngebut ingat batas maximal kecepatan di jalan tol itu ,100 kilometer per jam. Tidak boleh melebihi itu Hana! Mungkin Kam bisa membayar denda jika terkena E- tilang. Tapi keselamatan pengguna jalan yang lain, juga harus kamu perhatikan. Itu terlalu berbahaya, Hannan !"


"Seru mass, sangat memicu adrenalin. Aman mas ini pukul 2 dini hari, orang-orang sebagian masih banyak yang masih tidur." Ucapku dengan semangat, Raihan tidak takut tapi dia terlihat waspada melihat kanan kiri. Mungkin karena kecepatan yang melebihi 160km.


"Han di depan 800 meter lagi ada gerbang tol,kurangi kecepatan 500 meter,350 meter,200 meter."


"Sudah mas tenang saja," ucapku santai dengan menempelkan kartu E-toll ke mesin pintu tol.


"Gila kamu han!" Umpat Raihan saat aku melakukan Drifting.


"Haha seru kan mas."


"Ini jalan umum bukan arena sirkuit balap,Hana !" Ucap Raihan lagi saat aku tiba-tiba melakukan slalom.


"Seru mas butuh setahun aku bisa menguasai Drifting dan slalom. Aku malah pingin nyoba Gymkhana."


"Kamu suka ke arena sirkuit ?"


"Suka sama Yuki dan Yuko, teman ku berwarga negara Jepang."


"Siap-siap besok surat tilang sampai di rumah mu!"Ucap ketus Raihan membuatku tertawa ngakak.


"Ya bapak abdi negara yang baik,"ucapku. Ini pertama kali aku melihat muka ketus Raihan.


"Mas bawa aja mobil ku dulu, sudah mulai gerimis takut hujan."


"Bisa heboh satu batalion Han."


"Ya udah masukin bawa saja, mobil ku satunya!"


"Ga apa-apa gerimis belum tentu hujan,"ucap Raihan bertepatan dengan hujan lebat.


"Sekarang mas pilih nginep di sini,di kamar tamu atau bawa mobil ku."


"Ya udah bawa mobil mu saja, yang mana ?"


"Pajero hitam,keluaran lama tapi."


"Ini juga sudah bagus Han."


Setelah kepergian Raihan aku mengeluarkan laptop ku,sambil menunggu waktu subuh yang kurang lebih sekitar sejam lagi. Selesai melakukan sholat subuh baru aku tidur dan bangun pukul 8 pagi, untuk bersiap-siap bekerja.


"Mami kira kamu nginep di Bandung kak?" Ucap mami saat aku menghampiri mami di dapur.


"Ada kerjaan yang tidak bisa di tinggal mi. Ko sepi apa sudah pada berangkat ?"


"Ya iyalah kak, mereka ada sidang pagi ini."


"Mi kakak bikini roti bakar buat bekal ya!"


"Ya udah sana siap-siap,mami yang bikin."


"Mi,aku pakai motor papi ya buat kekantor!"


"Mobilmu kenapa ?"


"Dipakai Raihan, karena waktu pulang tadi pagi hujan. Mau pakai punya Raihan, takut orangnya kesini dan ngambil, kasihan kan kalau aku belum pulang."


"Ya udah pakai saja." Meskipun semua mobil dan motor kuncinya terletak di satu tempat dan bisa memakai tanpa ijin, Mami dan papi selalu mengajarkan untuk minta ijin sama yang punya.


Sebenarnya mataku masih ngantuk,tapi karena tanggung jawab,aku paksakan mataku untuk bekerja melotot di depan komputer.


"Gila ya!"


"Siapa kira-kira yang mengemudi ?"


"Emang kenapa Lo ingin tahu ?"


"Mau belajar Lo,ganti mobil dulu!" Terdengar gelak tawa dari yang lain. Suara-suara orang yang lagi makan di kantin sedang membahas gosip yang lagi ramai di dunia maya.Tapi jujur aku tak pernah mengikuti gosip apa yang beredar, termasuk tentang apa yang mereka bahas.


"Gw balik dulu ya,mau tidur sebentar. Tar kalo balik ke ruangan dan aku masih tidur bangunni aku ya."


"Siap bos!" Ucap Wanda sambil mengacungkan jempol. Lumayan bisa istirahat sejenak meskipun cuma 30 menit,tapi sudah bisa mengisi bahan bakar tenaga ku untuk bekerja sampai jam pulang kerja.


"Assalamualaikum,mami!"


"Walaikumsalam."


"Bikin minum buat siapa mi?"


"Buat Raihan yang lagi ngobrol sama papi dan Radit di ruang kerjanya."


"Tumben mereka sudah pulang ?"


"Semalam waktu pulang siapa yang mengendarai mobil ?"


"Aku mi."


"Karena sudah malam aku mau uji."


"Mau uji coba kecepatan mobil baru dan bergaya kaya pembalap. Iya!" Ucap mami membuatku yang lagi mengunyah cemilan langsung terbatuk-batuk.


"Minum,temui papi mu di ruang kerja sekarang !" Ucap mami membuatku sedikit bingung, tetapi tetep berjalan ke ruang kerja papi di ikuti mami.


"Eh, "kaget ku melihat Raihan yang lagi push up.


"Stop Raihan! Jangan menagung kesalahan yang bukan kamu pelakunya."


"Maksudnya mami, bukan Raihan. Lantas siapa mi , jangan bilang itu ulah kakak."


"Wah sepertinya benar Pi,"ucap Radit.


"Ada apa sih,?"tanyaku heran.


"Lihat ini mobil kakak kan?" Ucap papi menunjukkan laptopnya pada ku. Itu mobil gw, apa itu aksi ku semalam, tanyaku dalam hati.


"Aku akan selesaikan," ucapku langsung duduk di depan komputer.


"Bagaimana caranya kakak menyelesaikannya, menghapus video yang telah beredar , yang sudah di tonton berjuta-juta orang."


"Mungkin juga sudah tersebar ke beberapa akun sosial yang lain," ucap Radit.


"Kamu kenapa mengakui kesalahan yang bukan kesalahan mu?"


"Papi jangan pakai kekerasan,ini rumah bukan barak militer."Ucap mami menegur papi yang menendang kaki Raihan.


"Ini tidak seberapa Raihan bisa di hukum lebih parah dari ini," ucap papi sekarang menatap tajam kearah ku.


"Maaf, aku salah. Mas Raihan sudah mengingatkan aku sejak di dalam tol."


"Di tol. Apa yang kakak perbuat di dalam tol?"Tanya papi , kulirik Raihan hanya memejamkan matanya.


"Kakak ngebut melebihi batas maksimal kecepatan," ucapku lirih.


"Sudah Pi," ucap mami.


"Tar kakak yang bayar dendanya kok,"ucapku.


"Bukan masalah denda kakak, tetapi orang di dunia Maya lagi penasaran dengan pemilik dan pengendaranya. Artinya kakak tahu dong,"ucap papi.


"Sudah biar kakak yang akan tanggung semua, kakak janji tidak akan melibatkan orang rumah." Ucapku karena kesal melihat tingkah papi, yang mengagap masalah ini besar.


"Kakak lihat ini,"ucap papi yang menunjukkan laptopnya berisi gambar CCTV gerbang.


"Lihat mobil dan orang-orang itu. Itu wartawan dan papi yakin,para wartawan itu sudah tau siapa pemilik mobilnya."


"Dan sebentar lagi mereka akan mengorek ketenangan keluarga kita,"ucap Radit sarkas.


"Biar saya akan mengaku Om, saya akan mengaku meminjam mobil itu."


"Dan kamu akan di hukum oleh komandan mu atas kesalahan yang tidak kamu lakukan. Seperti tadi," ucap papi.


"Kakak yang salah dan kakak yang akan mengakui semua kesalahan kakak,"ucapku kesal.


"Kakak yakin, selama ini kakak menutupi jati diri kakak sebagai Angkota keluarga Wiraguna Lo."


"Yakin mi, kakak gak mau 'melempar batu sembunyi' kakak akan bertanggung jawab atas perbuatan kakak."


"Itu baru anak papi,berani bertanggungjawab."


"Tadi garang," ketusku.


"Kana !!" Teriakan suara yang sangat kencang sambil menendang pintu membuat kami terkejut.


"Papa,"suara mami dan papi.


"Kakek,"Cicit ku. Mampus kalau sampai di sidang kakek, ucap ku dalam hati. Dengan perlahan aku menggeser tubuhku untuk mencari tempat persembunyian yang aman.


"Assalamualaikum,"Suara tegas kakek membuatku merinding.


"Walaikumsalam."


"Itu di depan banyak sekali wartawan siapa yang membuat ulah,?"tanya kakek. Dari tempatku sembunyi aku melihat semua mata mencari keberadaan ku.


"Cucu kesayangan kakek,lah"ucap Radit.


"Rihanna."


"Ya, siapa lagi cucu kesayangan kakek." Suara Sarkas Radit.


"Kapten Raihan, dari angkatan darat,?"tanya kakek.


"Siap betul,"ucap Raihan tegas.


"Wah kakek ketemu calon suami Hana ," ucap Radit spontan membuat ku keluar dari tempat persembunyiannya ku.