Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
122. RR. Dendam



Setelah selesai membetulkan laptop Bu Rudy, kami mengobrol sebentar Bu Rudy memberikan wejangan bagaimana hidup di asrama. Dalam hati aku berharap Raihan datang menjemput ku, tapi sampai hampir pukul 21.00 tidak ada tanda-tanda Raihan akan datang untuk menjemputku.


Saat perjalanan pulang aku juga berpapasan dengan Letkol Rudy yang juga baru pulang dari mushola, dia bilang habis ngopi bareng Raihan juga.


Ko pintu rumah ke buka sedikit tidak seperti biasanya, selama hampir 2 bulan hidup bersama Raihan aku tahu kebiasaannya. Raihan akan selalu membuka lebar pintu rumahnya atau menutup sekalian, tidak setengah membuka atau menutup begini.


"Assalamualaikummmmmm mas.." Terlihat Ratih duduk di lantai tanpa pakean atasan dan Raihan berdiri, mereka berdua sempat kaget.


"Hana tolong aku, Raihan mau melecehkan aku,"ucap Ratih sambil berdiri di belakangku.


"Jika aku ingin melecehkan mu,aku sudah bisa melakukannya dari awal kamu menghubungi aku!" Teriak Raihan sambil berkacak pinggang.


Secara rasional yang di katakan Raihan bener, Raihan tidak mungkinlah melakukan itu?


"Aku tidak bohong lihat baju ku sobek, bahkan tali bra ku sampai putus," ucap Ratih dengan memelas.


Aku melangkah ke dalam kamar di ikuti Raihan, "Dek dengerkan mas itu semua tidak benar."


"Mas biarkan aku tenang dulu,"ucapku sambil duduk. Raihan dudu di depan ku , dengan tatapan frustasi.


"Sekarang ceritakan apa yang terjadi sebenarnya?" Ucapku setelah 10 menit aku mencoba membuang pikiran jelekku. Raihan menceritakan semuanya,aku tidak tahu harus percaya pada siapa.


"Aku tidak bohong dek ,aku menceritakan semuanya tanpa ada yang aku kurangi sedikitpun."


Tanpa menjawab aku melangkah keluar, terlihat ruang tamu sudah sepi sepertinya Ratih sudah pulang. Tapi saat aku keluar hendak menutup pintu, nampak Ratih duduk di teras sambil menyeringai.


"Apa sebenarnya tujuan mu?"


"Kamu tidak percaya dengan apa yang terjadi pada ku?"


"Tidak! Aku lebih percaya dengan suamiku."


"Haha kalian so sweet,"ucapnya sinis bertepatan dengan Raihan yang keluar.


"Apa tujuan mu sebenarnya,?" tanya Raihan.


"Hancur bersama-sama,"ucap Ratih. Membuat aku dan Raihan saling pandang.


"Hancur bersama-sama maksud Lo,?" tanya Raihan.


"Aku tidak suka melihat mu bahagia dengan istri mu, disaat aku tidak bahagia."


Dasar gila, apa Ratih sudah gila.


"Kamu lupa beberapa tahun lalu kamu yang mengakhiri hubungan kita, kamu bilang keluargaku terlalu miskin."


"Iya. Memang menurutku keluarga mu terlalu miskin. Papamu hanya satpam, sedang ibumu hanya ibu rumah tangga."


"Terus Kenapa kebahagiaan ku membuat mu iri?"


"Kenapa setelah aku tinggalkan kehidupan mu lebih baik dari pada aku yang meninggalkan mu?"


"Astaghfirullah, istighfar Ratih jangan biarkan setan menguasai mu hanya karena iri,"ucap Raihan.


"Aku meninggalkan mu karena orang tua ku, mau aku mencari pasangan yang kaya. Tapi setelah berpisah denganmu aku 2 kali gagal menjalin hubungan hingga ahkirnya terpaksa menikah dengan Yusuf."


"Kalian di jodohkan,?" tanya Raihan.


"Tunanganku hamil dengan calon adik iparnya sendiri, jadi karena itu kami terpaksa bertukar pasangan. Harusnya pernikahan kami di batalkan saja, bukan malah bertukar pasangan. Sakit hatiku melihat mantan tunangan ku bersikap lembut dengan istrinya, sakit hatiku melihat suamiku masih perhatian dengan mantannya. Sekarang ditambah harus melihat orang yang aku tinggalkan hidupnya lebih bahagia dari aku."


Malang sekali nasibnya, seperti sinteron. Ternyata drama kehidupan ada , tidak semua orang hidup sesuai keinginannya.


Aku berjalan mendekati Ratih entah dapat keberanian dari mana, tiba-tiba aku peluk Ratih. Kurasakan badannya sedikit menegang,tapi ahkirnya membalas pelukanku.


"Kenapa kamu memelukku,harusnya kamu memakiku atau menamparku."


"Jika aku menampar mu kamu bisa melaporkan aku atas tindakan kekerasan. Jika aku memaki mu apa bedanya aku sama kamu?"


"Memang benar lelaki baik untuk perempuan baik,"bisiknya.


"Siapa bilang aku perempuan baik ,aku juga pernah berbuat salah. Gara-gara aku Raihan pernah di hukum 14 hari penjara."


"Oya ,?"


"Ini sudah jam 10.00 malam apa suamimu tidak mencari mu,?" tanya Raihan.


"Dia pulang ke rumah ora tuanya, mantannya nyidam martabak, sedangkan suaminya ada seminar di luar kota." Ucap Ratih lirih,aku dan Raihan hanya saling pandang. Ada rasa iba dalam diriku,di balik sifatnya yang sombong dan angkuh menyembunyikan luka.


"Kamu hebat tidak menyerah, mungkin kalau aku jadi kamu ,aku sudah kabur,"ucapku.


"Aku ingin membatalkan pernikahan kami, tapi ke dua orang tuaku punya hutang kepada mertuaku."


"Hah, maksudnya ?" Tanyaku dan Raihan bersamaan.


"Jujur aku terkadang berpikir, siapa sebenarnya ayah dari anak dari wanita itu?"


"Ko seperti sinetron,?" tanyaku yang di sambut senyum tipis oleh Ratih.


"Aku berharap bisa membuat affair dengan Raihan. Harusnya kamu marah dan melaporkan tindakan aku, biar Yusuf menceraikan istrinya yang selingkuh."


"Kalau kamu berpikir demikian berarti kamu berniat menghancurkan keluarga mu sendiri dan keluargaku?"


"Iya aku ingin Keluarga ku hancur."


"Tapi kenapa harus membawa Raihan juga,dia kan mantan mu?" Tanyaku heran dengan jalan pikirannya yang sempit.


"Ini kan berawal dari Raihan yang tidak mau berjuang untuk hubungan kami ?"


"Hah kenapa harus membawa aku,?"tanya Raihan.


"Karena kamu tidak mau mengabulkan permintaan orang tuaku."


"Permintaan apa? Jangan bilang permintaan pesta pernikahan mewah,?" tanya Raihan.


"Kamu menolak permintaan orang tua ku, untuk mengadakan pesta pernikahan mewah. Tapi kamu sendiri menikah dengan Hana dengan pernikahan mewah."


"Bagaimana kamu tahu pernikahanku mewah ?"


"Aku yang sedang mengecek ponsel Yusuf untuk menyelediki , Yusuf dan mantannya. Tidak sengaja membaca pesan para pasukan pedang pora , yang mengomentari mewahnya pernikahan mu di pesan group."


"Hah hanya karena itu kamu dendam padaku,?" tanya Raihan.


"Iya, seandainya kamu mau berjuang untuk hubungan kita. Aku tidak akan mengenal Yusril dan harus menikah dengan Yusuf."


Ternyata karena dendam, kenapa dendam bisa membuat orang berpikir sempit. Iri merupakan akibat dari dendam, sementara dendam akibat dari marah.


"Jangan menyalahkan takdir atas keinginan kamu yang tak terwujud,"ucap Raihan.


"Aku iri kenapa kalian semua bahagia, sedangkan aku menderita. Kenapa semua orang bahagia aku tidak?"


Ya Allah seperti ini ternyata penyakit iri, sungguh sangat mengerikan.


"Jika kamu terus merasa hidup mu tidak bahagia,kamu tidak akan bahagia. Cobalah dengan menikmati kebahagiaanmu sendiri, tanpa memikirkan kenapa dia bahagia aku tidak,"ucap Raihan.


" Belajar bahasa air, bagaimana berkali-kali jatuh tanpa sedikitpun mengeluh pada takdir." Ucapku bertepatan dengan suara motor Yusuf yang pulang.


"Itu suamimu pulang,kamu tidak mau pulang!"


"Tidak aku mau disini saja,aku gagal menghancurkan keluarga mu. Jadi malam ini aku hancurkan malam mu dengan tidur sini."


"Gila Lo,"umpat Raihan pada ucapan Ratih.


"Apa suamimu tidak mencari ?"


"Tidak akan, lihat saja ponsel ku pasti tidak menanyakan aku ada di mana. Aku tidak mau terbakar cemburu jika menemukan bajunya ada bekas lipstik wanita lain."


"Maksudnya Lo,?" tanyaku heran.


"Beberapa kali aku lihat lipstik di baju Yusuf setiap kali pulang dari rumah orang tuanya."


"Lo menikah sudah 6 bulan, berati sekarang sudah mau lahiran dong?"


"Hari perkiraan lahir bulan ini, minggu-minggu ini." Ucap Ratih menimpali ucapan Raihan.