
Tidak hanya pikiran ku yang kacau karena berbagai rasa penasaran tetang pertemuan Pakde dan Abi, tetapi juga rasa penasaran dengan apa yang dirasakan Rahayu. Pasti kecewa dan sedih karena dibohongin oleh keluarganya sendiri, lelaki yang menjadi cinta pertamanya sejak dia lahir ternyata bukan orang tua kandungnya. Belum lagi kejadian di rumah sakit hari ini hampir 8 jam aku berdiri di depan meja operasi menangani 3 kali operasi secara bergantian sungguh menguras tenaga, belum lagi pasien yang masuk UGD yang baru ku tangani mengalami gagal jantung hingga mengakibatkan jantung berhenti mendadak yang berujung pada kematian.
"Maaf pasien tidak dapat diselamatkan,"ucapku. "Kenapa tidak bisa di selamatkan , kenapa tidak dicoba lagi"teriak ibu histeris
"Terima kasih dokter sudah berusaha mungkin ini yang terbaik baik buat putri kami, dari awal dokter sudah menjelaskan tentang resikonya transplantasi jantung pada kami. Tapi kami bersyukur meski hanya beberapa bulan putri kami bisa melewati ulang tahun ke 17 nya." Ucap sang ayah sambil memeluk istrinya sebelum berjalan meninggalkan aku. Putri mereka beberapa bulan lalu menjalani operasi transplantasi jantung dan salah satu resikonya kegagalan cangkok primer alias kondisi jantung donor tidak berfungsi merupakan penyebab kematian paling sering pada pasien transplantasi jantung. Kondisi ini umumnya terjadi dalam beberapa bulan pasca-prosedur tersebut. Transplantasi jantung adalah operasi untuk mengambil jantung pasien yang sakit dan menggantinya dengan jantung yang sehat.
"Kamu sudah berusa Pakde bangga melihatnya"ucap Pakde menepuk pundakku yang sedang di duduk selonjoran di mushola sambil memejamkan mata.
"Hari ini aku gagal menyelamatkan putrinya, padahal mereka sangat bahagia beberapa bulan lalu saat operasi transplantasi jantung berjalan lancar ".
"Kematian seseorang sudah di takdirkan dan kita tidak bisa merubahnya" ucap Pakde. "Pakde di sini Rara sama siapa ?"
"Rara sama mamanya tadinya Pakde berniat untuk mencari makan malam, tetapi Pakde tidak sengaja melihatmu ngobrol dengan sepasang suami istri tadi dan mendengarkan semuanya."
"Sejak merantau kesini Dira sudah beberapa kali bertemu Abi, tetepi Dira selalu menghindarinya. Hingga Dira meresa butuh Dana buat tambahan hidup, tabungan peninggalan bunda serta tabungan Dira sudah menipis jadi aku berniat menjual rumah bunda yang di Bandung, tetapi yang beli ternyata sepupu Abi. Dari sana Abi memintak Dira untuk tidak menghindarinya, Dira boleh tidak mengakui Abi sebagai orang tua tapi Dira harus mau Abi membantu segala finansial nya. Yang tadi pertemuan kedua Dira dan Abi menjelaskan apa yang terjadi semuanya "ucapku,aku tidak mau Pakde salah paham .
"Dira tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi, Prabu orang tua kandungmu ,Pakde yang selama ini salah terlalu egois dan hanya membenci Ayahmu yang telah menyakiti adik Pakde. Tapi setelah Pakde bercerai dan berpisah dengan Rara Pakde jadi tahu bagaimana rasanya jauh dari anak".
"Pakde tidak marah kan sama Abi?" tanyaku. "Tidak Pakde juga berharap kamu mulai menerima Abi Mu, bagaimanapun keadaannya dia orang tua kandungmu kamu butuh Abi mu nanti sebagai wali nikahmu" ucap Pakde.
"Pakde sudah baikan sama Abi?" tanyaku yang di jawab dengan tertawa dan anggukan kepala. "Pakde harap Dira juga begitu ya" ucap Pakde berhenti saat mendengar bunyi perutku yang keroncongan.
"Dira belum makan ?" tanya pak De. "Hehe belum Hanya makan roti jam 10 pagi tadi "ucapku sambil nyengir. "Astaghfirullah bikin penyakit kamu ini sudah mau jam 9 malam, jangan sampai kamu sakit gara-gara telat makan !" ucap Pakde sambil menarikku berdiri.
"Aku memang belum makan nasi dari pagi, tetapi jam 10 aku makan roti jam 1 siang minum sereal dan magrib tadi juga makan buah."ucapku.
"Kita orang Indonesia yang hidup terbiasa dengan nasi bukan orang bule ayuuk makan. Pakde temani" ucap Pakde.
Setelah selesai makan Pakde kembali ke kamar rawat Rara aku kembali ke kontrakan untuk istirahat.
"Ko Lo ada di sini ? sejak kapan Lo tahu gw tinggal di sini ?" tanyaku pada Arya yang sedang menungguku di depan rumah kosan sambil menikmati rokoknya.
"Sialan kalian "makiku yang malah di ketawain Arya . "Tadi aku minta alamat mu pada Kana awalnya dia tidak mau memberikan, tetapi waktu aku bilang buat mencari kebenaran apa bener kamu akan menikah dengan AA Hardi sepupunya ustadz Prabu, lansung deh dia kasih" ucapnya sambil tertawa.
"Emang kamu dapat informasi dari mana itu? Suka banget gosipin gw" ucapku. "Hai ga usah pura-pura lupa ya, "ucapnya sambil menggetok kepalaku.
Seketika aku teringat momen aku kabur dari Arya tadi pagi, "Tunggu dulu,buat apa Lo mencari om Hardi ?"tanya Arya. "Kepo, kalau aku bilang mau nikah sama Om Hardi, gimana ?" ucapku sambil menarik turun kan alisku dan berlari meninggalkan Arya yang masih bengong. Seketika aku tertawa mengingatnya.
"Emang apa yang salah dengan Om Hardi?" tanyaku, tetapi dalam hati aku menahan tawa. "AA Hardi itu sudah tua"ucapnya. "Beda 2 tahun dong sama kamu" ucapku. "Kenapa gak milih yang masih perjaka dan muda aja?" tanya Arya .
"Yang muda dan perjaka ya, boleh saran mu buat di pertimbangkan ada Bisma teman seprofesi ku usianya di bawahku 2 tahun brondong lo tajir lagi" Ucapku sambil pura-pura kagum dengan Bisma.
"Lo dengerin sendiri kan orangnya bilang apa, jadi hati-hati saingan Lo itu banyak "ucap Arya sambil menunjukkan layar ponselnya yang sedang melakukan panggilan telepon dengan speaker phone.
Sial niat hati mau ngerjain kenapa malah aku yang di kerjain mereka,makiku pada diriku sendiri dalam hati. Tenang-tenang gw gak mau kalah sama mereka kataku dalam hati.
"Kakek Lo mungkin besok sudah bisa pulang, kira-kira momen ulang tahun Jelita masih berlanjut ga?" ucapku mengalihkan pembicaraan kami.
"Mungkin bisa jadi, kakek juga sudah membaik ini"ucap Arya. "Kalau boleh tahu apa benar keluarga Lo udah menerima Jelita ?" tanyaku. "Kalau nenek dan kakek sudah , almarhumah nenek sudah mengagap cicitnya sendiri perayaan ulang tahun ini juga ini inisiatif kakek"ucap Arya."Tapi kedua orang tuamu belum 100 persen menerimanya kan?"ucapku yang membuat Arya ragu buat menjawabnya.
"Assalamualaikum,Dira!"ucap Om Hardi yang baru keluar dari mobil. "Walaikumsalam Om"jawab ku sambil mencium tangannya selayaknya orang muda kepada orang tua.
"Ada Arya , kalian saling kenal ?" tanya Om Hardi. "Sebatas kenal Om teman ku menikah dengan Aryo"jawabku. "Dira bisa bicara sebentar berdua?"tanya Om Hardi. "Tentu mau bicara di mana?"ucapku."Dah bicara disini aja,gw mau pulang ko,mar AA, assalamualaikum"ucap Aryo sebelum masuk kedalam mobil dan pergi .
"Sebenarnya Abi mu yang mau bicara,tapi karena di sini ada Arya makanya Om yang disuruh keluar,hehe"ucap Om Hardi bertepatan dengan Abi yang keluar dari mobil.
"Abi tahu kamu belum mau mengakui Abi di depan umum, makanya Abi mintak tolong Hardi"ucapnya.
"Apa ada hubungannya dengan pertemuan Abi dan Pakde tadi di rumah sakit ?"tanyaku. "Iya salah satunya,Pakde mu sudah mengijinkan Abi mengunjungi makam Bundamu rencananya selepas putrinya keluar dari rumah sakit Pakde dan Abi kesana bersama-sama. Apa kamu mau ikut bersama kami ?".
"Dira ga janji tapi akan Dira usahakan,tar infonya saja waktu pastinya "ucapku.