
Aku terbangun saat merasakan ada yang menarik rambutku yang masih tertutup hijab. Pisau ada pisau di leherku , Ya Allah Ya Tuhanku apa yang terjadi di depan mataku nampak Kana bergelantungan dengan tangan diikat ke atas dengan banyak luka di sekujur tubuhnya. Disisi kanan dan kirinya ada si kembar Arya dan Aryo mengarahkan pistolnya padaku.
"Jika kalian berani maju selangkah saja aku pastikan wanitanya Kana ini akan mati bersama anak-anaknya," ucap Ajeng sambil mengerakkan pisaunya .
"Psikopat gila. Seujung kuku saja kau melukai nya aku pastikan semua keluarga besar mu akan menerima akibatnya !" Gertak Kana dengan tangan yang masih terikat di atas.
"Gw tidak akan melukai nya karena dia sangat berharga buat lo," ucap Ajeng Menganti pisaunya dengan pistol, Persis seperti film laga yang pernah ku tonton. Tapi tunggu aku sepertinya pernah mengalami peristiwa penyanderaan seperti ini,tapi kapan. Sekelebat bayangan aku menjadi sandera terlintas di kepalaku. Semakin aku berusaha mengingat membuat badanku lemas," Kalian berdua bawa wanita hamil ini kedalam mobil sekarang ," ucap Ajeng.
"Jangan! Biarkan aku saja yang gendong istriku," teriak Kana. "Haha sadar diri badanmu sudah babak-belur semua buat jalan saja kamu belum tentu bisa apalagi buat menggedong wanita hamil ini," ledek Ajeng bertepatan dengan ikatan tanganku yang telah di lepas oleh anak buahnya.
"Kalian lepaskan ikatan sepupu kalian !" perintah Ajeng pada Arya. Dengan berjalan tertatih Kana menggedongku masuk ke dalam mobil, badanku terasa lemas hanya untuk membuka mata saja terasa susah buatku. Tapi aku masih bisa mendengarkan jelas apa yang mereka ucapkan, "Sabar bertahan mas akan selamatkan kamu meskipun nyawa mas taruhannya ," bisik Kana sambil menggendongku.
"Apa aku boleh ikut kalian," ucap Kana sambil mendudukkan aku di jok belakang mobil .
"Haha yakin kamu ikut aku ,berati kamu tidak menghargai saudara sepupumu yang telah berusaha kerasa menyelamatkan dirimu."
Jangan biarkan aku saja yang menjadi sandra ucapku dalam hati, susah sekali untuk berteriak suaraku seperti tertelan Tah kemana. Bayang-bayang orang disandera terlintas lagi , saat aku bisa membuka mataku aku melihat Arya dan Aryo sedang berkelahi dengan 2 lelaki sewaan Ajeng, sedang Kana sedang mengikat Ajeng yang mulai histeris. Aku tersenyum rencana Kana untuk mengamankan aku di mobil ternyata berhasil, sebelum mataku terasa sanga berat dan susah untuk di buka kembali.
"Sepupu kita ini terobsesi sama Kana. Dia jatuh cinta pada Kana dari SMP karena Kana yang memberikan pertolongan saat dia di hajar paman karena gagal memenangkan olimpiade "ucap Radi.
"Itu tidak benar "teriak Ajeng. "Kesucianmu kamu serahkan kepada Kana di saat kalian masih kuliah, dalam kondisi Arkana mabuk kamu melemparkan tubuhmu padanya kamu bisa menghindari kejadian itu tetapi kamu malah membangunkan singa yang tidur "ucap Radi.
Bayangan dan ucapan itu seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang kali di memori otakku. Sampai aku bisa membuka mataku dengan nafas memburu seperti orang habis lari maraton, "Sayang kamu tida apa-apa,apa yang kamu rasakan,mama panggil dokter dulu," ucap mama Kana sambil memencet tombol darurat.
"Minum dulu biar sedikit tenang."
"Bagaimana bayiku ma,?" tanyaku kuatir meskipun aku tidak mengalami kekerasan fisik apapun tapi jiwa tertekan ku dan setres ku aku takut berdampak fatal. Tapi belum sempat mama menjawab aku teringat badan babak belur Kana ,"Kana mana bagaimana luka-luka yang di alaminya,ma?" ucapku. "Kana sedang di obati kamu tidak perlu kuatir," ucap mama Kana sambil mengusap-usap perutku.
Kejadian semalam seperti mimpi buruk bagiku, tapi sedikit mengembalikan memoriku.
Dokter memeriksa kondisiku juga kondisi triple," Alhamdulillah kondisi ibu dan bayi sehat semua, meskipun tadi sempat pendarahan sedikit."
Pendarahan apa aku sempat pendarahan tadi tanyaku dalam hati. "Terima kasih dok," ucap mama Kana.
"Jadi aku tadi sempat pendarahan ma,?" tanyaku. "Iya waktu kamu di bawa ke rumah sakit ada darah yang keluar,meski cuma sedikit sudah bikin mama hampir kena serangan jantung."
"Sebelum pingsan Kana menjatuhkan ponselnya dan di dalam ponselmu di pasang GPS,sejak Ajeng menemui mu. Ternyata dugaan suamimu benar wanita psikopat itu berbuat ulah lagi."
"Jadi sebelumnya Ajeng pernah berbuat ulah,?"tanyaku memastikan bahwa ingatanku benar.
"Iya dia dulu pernah menculik mu ,tapi yang dulu tujuannya karena harta Abi mu."
Allhamdullilah ingatan ku kembali meskipun aku belum mampu mengingat semuanya. "Tidak usah dipikirkan ada kami yang akan selalu menjagamu, dari segala bahaya." Mama Kana mengusap-usap punggungku hingga aku merasa mengantuk.
Tapi suara pintu yang terbuka membuatku tidak bisa tidur nyenyak nampak ada,Abi ,pakde dan papa Kana dan papa sikembar Aryo dan Arya. Tapi aku malas untuk bangun jadinya aku pura-pura tidur.
"Bagaimana hasilnya pa, harusnya psikopat itu membusuk di penjara!"
"Lagi di selidiki dia memang kabur dari rumah sakit jiwa atau di berhasil menyuap dokternya," ucap papa Kana. "Tapi aku curiga ini ada hubungannya dengan keluarga Wijaya,"ucap Pakde.
"Kenapa bisa begitu,?" tanya papa dobel A.
"Karena Dira mewarisi semua peninggalan Jiddah. Dira sempat memperlihatkan padaku dan merasa tidak nyaman dengan semua itu, dari perhiasan mas , mutiara dan berlian saja hampir 1 milyar belum lagi aset Jiddah yang di Turki sebuah rumah dan tanah yang sudah diatas nama kan Dira,"ucap pakde.
"Bisa jadi apalagi setelah Prabu membuat warisan. Jika ada apa-apa dengannya secara otomatis pesantren dan semua aset tanah yang ada, kecuali rumah atas nama Dira akan menjadi milik Hafis. Sedangkan saham miliknya di pabrik garmen aka dibagi 60% buat Dira dan 40 % buat Hardi," ucap Om Ardi papa dobel A.
"Berati dobel R dari Wijaya tidak mendapatkan harta sepeserpun," ucap papa Kana.
"Aku bekerja keras buat kesejahteraan anak-anak dan cucu-cucuku, kenapa sekarang malah menjadi bumerang buat anak-anakku, " keluh Abi.
Harta merubah segalanya. Aku kangen kangen kehidupanku dengan bunda dulu, meski hidup pas-pasan tidak bergelimang harta tapi nyawa kami selalu aman.
"Dira akan aku kirim ke Turki sampai dia melahirkan, disana lebih aman keluarga Wijaya tida ada koneksi disana," ucap Abi.
"Meskipun disana aman tapi kita akan sulit mengawasi keamanan Dira, bisa saja Wijaya menyuruh orang kesana,"ucap pakde.
"Lagian Kana bisa ngamuk jika dipisahkan dengan Anak-anak dan istrinya," ucap papa Kana.
Semua orang pusing memikirkan keselamatan aku, kenapa hidupku sekarang jadi beban banyak orang,ucapku dalam hati. Ternyata hidup bergelimang harta juga tidak nyaman jika nyawaku menjadi taruhannya. Apa yang harus kulakukan, bantu berpikir sayang apa yang harus mami lakukan biar semua tidak terbebani,kataku dalam hati sambil mengusap-usap perutku.