Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
54. Keraguan



Setelah hampir satu jam aku ngobrol dengan mba Ika di ruangan mas Nando, mbak Ika baru mengantarkan aku ke ruangan Kana. "Dulu aku yang menjadi sekertaris Arya dan Kana,tapi karena sekarang aku hamil jadi aku harus Risen. Aku mau ngurus anakku dengan tanganku sendiri, sebenarnya diantara 3 sekertaris Arya, Kana dan Nando. Sekertaris Kana yang kerjanya paling bagus dan sempurna,tapi namanya orang tidak pernah ada sempurnanya. Kerjanya bagus tapi akhlaknya yang kurang memuaskan, sudah bajunya kurang bahan dadanya diumbar persis orang jual tubuh" kata mbak Ika, yang panjang seperti cerita dongeng cuma aku tanggapi dengan senyum tanpa berani komentar.


"Maaf Bu , bapak lagi ada tamu klien penting" cegah sekretarisnya Kana saat mbak Ika akan membuka pintu ruangan Kana.


"Kamu tahu perempuan ini sedang di tungguin bos Lo,jika aku bawa pergi aku jamin kamu bakal di pecat "ucap mbak Ika membuat sekretarisnya Kana tampak bimbang.


Cekle suara pintu dibuka nampak seorang perempuan keluar di ikuti Kana. ' Bukannya dia dokter Nadia ' ucapku dalam hati. "Maaf aku tidak bisa membantu kasus anda,"ucap Kana yang ditanggapi dengan sinis.


"Padahal aku berani bayar mahal Lo"ucapnya sebelum pergi. "Kalian ko tidak masuk ?"tanya Kana.


"Kata sekertaris Lo,Lo ada klien penting jadi ya Dira mau gw ajak pergi aja"ucap mbak Ika.


"Indri lihat perempuan ini kalau kesini jangan pernah di halangi dia istri saya"ucap Kana sambil menujuk kearah ku.


"Baru juga calon sudah bilang istri, jangan sombong sampai Allah memberikan teguran buat mu"ucap mbak Ika.


"Omongan ibarat doa,aku berharap status kami yang calon segera berubah jadi sah "ucap Kana sambil mengambil air minum dari kulkas mini yang ada di ruangannya. "Bukannya ini dulu ruangan pak Ardi ya?"tanyaku. "Iya, status dia kan gantiin pak Ardi "ucap mbak Ika, membuatku menyipitkan mataku, mencernanya.


"Nanti aja kalau sudah sah aku kasih tahu"ucap Kana lembut."Lembut amat suaranya,ahh jadi baper. Balik lag jadi kangen suami"ucap mbak Ika, sambil berjalan keluar.


"Kenapa suaramu jadi ramah lembut,tidak seperti dulu. Kenapa banyak orang berubah, sebenarnya apa yang sudah aku lupakan hingga kalian semua berubah "ucapku sambil berjalan ke arah diding kaca yang berada di belakang meja kerja Kana.


"Apa yang kamu ingat ?"tanya Kana. "Tidak ada, setiap kali aku berusaha mengingat kepalaku akan terasa sakit bahkan kadang sampai tak sadarkan diri."


"Jadi kamu yang melamar ku sebelum kecelakaan,?" tanyaku yang di jawab Kana dengan anggukan. "Kamu tahu aku hilang ingatan dan sekarang cacat buat jalan saja tidak bisa tegak ,harus di bantu alat bantu. Diluar sana banyak yang lebih sempurna, cantik bahkan lebih yang terbaik dariku, kenapa kamu terkesan memaksa pingin menikah dengan orang cacat ini?Apa ada rahasia yang kau sembunyikan ?" tanyaku. "Tidak usah berpikir aneh-aneh,kita jalani pernikahan kita saja"ucap Kana.


"Kamu menyembunyikan sesuatu,ya? Apa kamu tidak takut kalau aku ingat kembali apa yang terjadi dan tidak terima dengan pernikahan ini lantas meninggalkan mu?"tanyaku.


"Kenapa kalian jadi aneh begini,"keselku. "Kami tidak aneh, tapi kami berusaha berubah kearah yang lebih baik"ucap Kana. "Tapi tidak mendadak begini pasti ada penyebabnya "ucapku sambil berjalan ke arah sofa tamu.


"Tidak mendadak perubahan kita secara bertahap setelah mengalami berbagai peristiwa,kamu aja yang melupakannya"ucap Kana sambil ikut duduk di sampingku. "Jangan dekat-dekat, belum halal, cukup sekali berbuat dosa "ucapku.


"Kamu ingat kita pernah berzina"ucap Kana. "Astaghfirullah, yang bener berarti mimpi yang menghantui ku selama ini ,kita "ucapku sambil mengerjapkan mataku beberapa kali, untuk memastikan apa yang aku dengar tidak salah.


"Jangan dekat-dekat nanti kita khilaf lagi. Aku kesini cuma memastikan agar kamu tidak akan menyesal dengan keputusan mu dan mematahkan keraguan ku kepada mu" ucapku.


"Berpikir Realistis. Pernikahan bukanlah fatamorgana, melainkan hal yang nyata. Karena itu kita harus juga berpikir realistis saat menyikapi keadaan yang muncul dalam rumah tangga kita. Mari saling terbuka, percaya.Berpikirlah dengan berlandaskan fakta yang ada,bukan mengedepankan emosi sesaat" ucap Kana serius.


"Mari kita jaga komitmen pernikahan kita dengan saling percaya. Jangan mudah terpengaruh sesuatu yang tidak jelas faktanya. Apa kamu lupa saat kamu tahu mama ku kembar ,kamu bilang kamu mau punya anak kembar makanya aku turuti keinginan mu"ucapnya sambil bercanda mencairkan ketegangan ku.


"Udah ah aku balik"ucapku sambil berdiri." Pasang lagi niqab mu" ucap Kana. "Aku memakai cadar buat pengganti masker, sebagai protokol kesehatan "ucapku sambil memakai cadar ku lagi.


"Itu pak Arka sama siapa wanita bercadar? Sepertinya bukan klien karena dia tidak pernah mengantar klien ke lift,ini bahkan sampai turun ke lobby segala" beberapa ucapan yang ku dengar membuatku merasa tidak nyaman, bahkan tidak jarang ada yang menghinaku mirip *******, bahkan ada yang terang-terangan bilang jangan-jangan mukanya juga cacat seperti kakinya makanya di tutupi.


"Apa kamu tidak ingin berobat ke luar negeri biar cepat sembuh ?"tanya Kana. "Abi juga menyarankan,tapi aku tolak karena saat aku di nyatakan lumpuh. Abi langsung mengajukan Risen untukku supaya aku fokus pada diriku sendiri, hingga berakibat penggantian biaya pendidikan spesialis kedokteran yang tidak sedikit.Sudah kedatangan ku cuma memastikan mu untuk tidak menyesal menikah dengan orang cacat ini. Udah dulu ,Romi sudah sampai di lobby "ucapku tapi Kana tetep menemaniku sampai aku bener-bener masuk ke dalam mobil Romi.


"Apa mbak masih ragu ?"tanya Romi. "Iya sebelum aku melupakan memoriku, hubunganku dengan mama Kana itu seingatku tidak baik, bahkan mama Kana sangat benci padaku. Tapi sekarang jadi lebih baik dan setuju dengan pernikahan ini"ucapku.


"Bagus dong mbak. Gak usah di pikiran jalanin aja seperti air mengalir "ucap Romi."Kamu tahu Kana itu polisi yang tengil suka tebar pesona dengan tampang dan seragamnya. Bahkan ayahnya dokter militer, sekarang berhenti jadi polisi dan jadi pengacara dengan status calon suamiku lagi" ucapku. "Suatu saat mbak akan Ingat, untuk sekarang nikmati saja yang di depan mata. Tidak usah mencari-cari sesuatu yang akan membuat mbak menjadi sakit nantinya ,ayo kita makan siang dulu" ucap Romi menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan. Kami makan dengan memilih tempat private room agar lebih privasi dan demi kenyamanan.


Aku bimbang dengan pernikahan ini, jika diawal aku menyerahkan semua keputusan kepada Abi, sekarang aku menyesal. Kenapa tidak dari awal aku mintak supaya aku di pertemukan dulu bukan main setuju seperti sekarang.


.