Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
70. Ahkir



Perkiraan pakde bener esok harinya mobil yang membawa Kana dan Abi di kabarkan mengalami kecelakaan. Begitu juga mobil kedua orang tua Kana aku tidak tahu apa yang terjadi.


Pakde cuma bilang uang membuat beberapa orang mudah di beli. Ada beberapa pelayan di rumah Kana di duga sudah menjadi mata-mata. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaan Kana,Abi beserta kedua orang tua Kana. Tapi aku bersyukur mama Kana selalu waspada terhadap aku dan anak-anak, meski terkadang aku sempat risih. Ternyata semua demi aku dan anak-anakku. Meski sudah seminggu tapi keberadaan mereka tidak ada yang ku ketahui.


"Rom, mbak kemarin lihat berita ko di situ diberitakan bahwa kecelakaan."


"Satu mobil mas Kana beserta anak-anaknya serta istrinya,dan satu mobil orang tua Kana bersama mertua,"ucap Romi memotong ucapanku.


"Iya." Kataku dengan ekspresi bingung. Romi lalu mengeluarkan laptop dari tas ransel yang di bawanya. "Menurut mas Arya sebulan sebelum Ajeng kabur, CCTV di rumah Mbak rusak atau mati dalam waktu yang berdekatan. Mas Kana sengaja tidak memperbaiki biar terkesan tidak tahu. Tapi mas Kana sudah pasang yang baru dengan ukuran lebih kecil dan lebih canggih ."


Penjelasan Romi membuatku semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Kana mantan polisi yang memiliki jiwa deteksi,aku rasa ini juga salah satu rencananya.


"Ini ,saat mas Kana mengumpulkan mbak dan keluarga, salah satu pelayanan ada yang menguping dan ada juga yang menyabotase mobil rumah . Dan semua mobil rumah ,makanya Mas Kana menghubungiku untuk menjemput mbak malam itu bersama papa!"


Ya Allah lindungilah aku dan semua keluarga besarku. Kami pasrahkan hidup mati kami PadaMu. Doa ku dalam hati sambil memejamkan mata. Hanya karena harta dunia orang-orang berbuat nekad.


"Apa kamu tahu keadaan Kana dan yang lain ?"


"Mas Kana dan yang lain sengaja membuat kecelakaan terkesan nyata, tapi merahasiakan kondisinya dari siapapun. Karena tidak hanya Ajeng tapi salah satu narapidana punya dendam dengan mas Kana juga di curigai terlibat."


"Ya Allah. Rumit sekali !"


"Sudah malam ga usah dipikirkan sana tidur,biar suamimu saja mengurus," ucap Romi masuk kedalam kamarnya. Anak-anak sepertinya memahami apa yang terjadi, buktinya mereka tidak pernah lagi bergadang selama tinggal di rumah pakde


Aku merasakannya seseorang memelukku dari belakang dan menciumi leherku, dengan sangat terpaksa aku membuka mataku untuk melihat seorang yang dengan kurang ajarnya bersikap kurang sopan padaku.


"Mas !" Kagetku saat melihat orang yang telah memelukku. "Kaget !!"


Kana tertawa kecil melihat aku yang masih kaget atas keberadaannya disini, "Ko ga disambut sih suami datang malah bengong ! Kamu tidak tahu perjuanganku kesini ? Mas harus pura-pura jadi ajudannya pakde tahu, padahal mas ini mantan ajudan presiden."


Seketika aku memperhatikan pakaian yang digunakan Kana, "Jadi teringat pertama bertemu. Mas pakai seragam dengan dilapisi jaket sedang razia."


"Razia klub malam ketemu janda! Ada ya ke klub malam bawa air mineral bersegel !" Membuat aku dan Kana tertawa mengingatnya.


"Kan wajar mas, dari novel-novel di klub banyak minum haram yang memabukkan !"


"Padahal kami juga sangat memabukkan, melebihi alkohol. Membuat aku kecanduan."


"Eh jangan aneh-aneh deh," ketusku saat tangan Kana tidak bisa diam. "Sudah seminggu mas puasa ,haus ni. Tu lihat triple aja anteng , tandanya dia tahu papinya butuh suntikan energi !"


Dasar bapak-bapak mesum ketusku dalam hat,tapi tidak bisa menolak sentuhannya.


"Gimana keadaan papa, mama dan Abi,?" tanyaku sambil mengeringkan rambutku sehabis mandi wajib.


"Allhamdullilah semua sehat dan berada di tempat aman. Cuma Abi sedikit kaget, karena Abi tahu rencanaku pas kamu di dalam mobil."


Kana mengucap tanpa melihat kearah ku sama sekali. Tetepi sibuk mengamati wajah-wajah ketiga anaknya.


"Sana mandi biar bersih!"


Kana lantas berdiri dan mendekapku," Iya cantik ! Mau mandiin ga ?"


"Gak usah aneh-aneh deh,buruan mandi,!" usirku Kana masuk kamar mandi setelah memberikan kecupan manis.


Ya Allah terimalah atas Rahmat sehat sampai hari ini. Semoga kami dapat segera berkumpul bersama seperti keluarga pada umumnya.


"Mas tahu tidak, waktu aku kecil cuma hidup berdua dengan bunda?"


"Tahu , Abi cerita tentang kamu yang tumbuh besar hanya berdua dengan bunda."


"Meski hidup kami saat itu tidak bergelimang harta, tapi kami merasa bahagia. Makan seadanya jika mau apa-apa harus nabung dulu. Mas bisa tidak kita hidup tenang tanpa rasa khawatir kaya gini?"


"Maaf mas membawa kamu dan anak-anak ke dalam masalah mas!"


"Ini bukan hanya masalah mas,tapi juga kita semua. Kata Romi ada pihak-pihak yang terlibat selain Ajeng?"


"Ajeng terobsesi sama mas.Ada juga salah satu anak konglomerat baru 2 bulan keluar dari penjara. Dulu mas tangkap karena membawa narkoba, dia sempat berusaha menyuap mas. Tapi mas tolak hingga keluarganya malu , akibatnya dia tidak diakui keluarganya."


Arkana mengagukkan kepalanya dan duduk di sampingku. "Apa masih ada motif lainya yang mengikuti,?" tanyaku ingin memastikan.


"Rahayu dan Farida sepertinya tidak sepemikiran dengan Radi ."


"Maksudnya," potongku.


"Farida dan Rahayu mengincar kamu supaya mau tanda tangan pengalihan sebagian saham mu kepada mereka."


"Ya Allah harta lagi! Apa perlu aku turuti saja kemauan mereka?"


"Kalau kamu turuti kasihan Abi. Warisan Keluarga Abi selain tanah tempat berdirinya pondok pesantren, adalah sawah disekitar sana. Beda sama pabrik garmen itu dirintis Abi dari usaha distro kecil hingga punya brand sendiri. Abi memulai usaha itu dari nol dan apa kamu tidak kasihan jika jerih payahnya selama 40 tahun kamu kasih ke orang ?"


Aku hanya mampu berdiam mendengar setiap kata yang Kana ucapkan, "Biarkan Om Hardi yang mengurusnya jika kamu tidak mau terjun langsung."


"Jika om Hardi yang ngurus langsung bisa tidak kita hidup tenang ?"


"Bisa! Aku hanya akan mengurus kasus-kasus yang tidak berbahaya !"


"Bener?"


"Iya," ucap Kana bertepatan dengan adzan subuh. Pagi ini kami bisa melakukan sholat subuh berjamaah bersama, dengan pakde dan Romi tentunya.


"Bagaimana kondisi Abi dan orang tuamu?"


"Allhamdullilah, sehat semua. Tapi mereka masih was-was," ucap Kana sambil duduk memangku Hana. Sedang aku sibuk menyiapkan sarapan pagi.


"Ajeng belum di tangkap masih jadi buronan, tetepi keluarga sudah angkat tangan dan akses keuangan juga sudah diblokir,"jelas Kana.


"Terus Rahayu dan istrinya Radi, bagaimana,?" tanya Romi.


"Kalau Radi berjanji akan memberikan pengertian kepada istri dan adiknya. Abi juga menawari Randi pekerjaan,tapi Randi menolak."


"Kenapa di tolak ?" Tanyaku penasaran, karena aku pernah merasakan bagaimana susahnya mencari pekerjaan.


"Radi suka dunia otomotif , dengan dana yang ada dia berencana membuka usahanya sendiri."


"Usaha apa?"


"Bengkel atau Perawatan Kendaraan. Abi juga sudah menyiapkan dana jika tidak ingin gratis anggap sebagai investor," ucap Kana.


" Terus Rahayu ?"


"Rahayu akan menjadi istri kedua om Hardi," ucap Kana barusan membuatku terbatuk-batuk mendengarnya karena kaget.


"Wah !Aisyah gimana ?"


"Itu yang minta Aisyah, malahan," ucap Kana.


"Kenapa Aisyah mau di madu?"


"Rahayu hamil dan yang menghamili tidak mau bertanggung jawab karena sudah punya keluarga."


"Hebat Aisyah. Tapi mereka tinggal terpisahkan ?"


"Iya, sayang. Aisyah tetap di pondok mengurus pondok,om Hardi mengurus pondok dan pabrik. Rahayu tetap tinggal dengan orang tuanya."


"Semoga Allah memberikan pahala dan kesabaran yang luas buat Aisyah."


"Kalau aku boleh nikah 2 kali kaya gitu," ucap Kana bertepatan dengan suara ketiga triple menangis bersaman.


"Tu sudah dengarkan jawaban nya."


Ketus Dira sambil berjalan ke dapur, membuat Romi yang dari tadi menjadi pendengar tertawa ngakak.