Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
119. RR. Mulai Berulah



Sudah seminggu sejak Raihan tahu sendiri alergiku, aku tidak pernah mencuci piring selain piring kotor bekas makan ku.


Suara getaran ponsel Raihan menggagu konsentrasi ku, yang sedang memeriksa pekerjaan dari Randi.


🎼✉️+62882321245xx


23 Juni 2022 15.30


Aku mau bertemu berdua di hotel dekat sini bagaimana ?


🎼✉️+62882321245xx


23 Juni 2022 22.00


Ada yang ingin aku bicarakan


🎼✉️+62882321245xx


24 Juni 2022 00.55


Kalau tidak datang aku masih menyimpan foto kita waktu pacaran.


🎼✉️+62882321245xx


24 Juni 2022 05.55


Apa jadinya jika foto itu aku kirim ke istri mu.


🎼✉️+62882321245xx


24 Juni 2022. 12.55


Jika tidak mempan ke istrimu bagaimana kalau aku kirim ke grup ibu-ibu Persit.


🎼✉️+62882321245xx


24 Juni 2022 18.30


Kamu tidak mengagap serius ancaman ku. 📷(Sebuah foto Raihan hanya memakai kolor dan Ratih memakai bikini, sedang berciuman di pinggir pantai.)


🎼✉️+62882321245xx


Sekarang 23.00


Aku tunggu niat baikmu untuk bertemu dan bicara baik-baik. Tapi kamu mengagap remeh ancaman ku.


🎼✉️+62882321245xx


Sekaran 22.30


Besok jam makan siang di hotel melati.


Karena penasaran dengan pengirim pesan yang tidak ada nama pengirimnya. Ahkirnya aku mencari indentitasnya dengan jalur belakang.


Ratih sudah di abaikan juga masih saja, berusaha gigih sekali.Aku perhatikan Raihan yang tidur hanya dengan kolor nya saja, sehabis ibadah malam kami.


Sepertinya aku harus menyadap no ponsel mu mas. Maaf ya aku terpaksa melakukan ini , untuk menjaganya keutuhan rumah tangga kita.


Tapi sudah 3 hari ponselku tidak memberikan reaksi apapun, sampai aku berpikir apa aku gagal menyadap no Raihan.


Hingga siang ini deringan telpon no Ratih yang menghubungi Raihan tertangkap di layar ponselku.


5 Miss call


🎼✉️+62882321245xx


Jika telpon ku tidak kamu angkat dan pesanku tidak kamu balas, jangan salahkan aku menemui istrimu sekarang.


Lagi-lagi Raihan hanya membaca tanpa membalasnya.


Tapi anehnya sikap Raihan sangat santai, bahkan saat pulang kerja malah langsung menerjang aku yang sedang


berada di depan laptop.


"Sana mandi bau keringat," ucapku pada Raihan yang tidur di pangkuan ku.


" Mandiin,"ucapnya manja.


"Tidak usah aneh-aneh,"tegurku saat aku merasakan tangan Raihan meraba-raba punggungku.


"Tidak aneh-aneh cuma satu," ucapnya sambil membuka ikatan tali bra ku.


"Mas masih sore," ucapku.


"Justru itu habis ini kita mandi, mandi sore. Dek ko bungkus susunya tambah gede."


"Mass,"ucapku malu dengan kalimat Raihan yang terlalu vulgar.


"Tidak apa-apa mas suka. Mas akan menguasai ini sebelum daerah jajahan mas ini diambil seseorang." Ucapnya sambil memulai aksinya.


"Uhh mass siap yang mau ambil sih."


"Anak-anak kita," ucapnya dengan suara serak. Sudah seminggu ini Raihan tidak hanya manja,tapi juga lebih mesum dari sebelumnya.


"Mas ke mushola dulu, perabotan sudah mas cuci tinggal di lap dan di masukkan ke lemari!"


"Pulang beli gorengan depan batalyon ya!"


"Mana duitnya ?"


"Ini terserah mas beli berapa!"


Tok tok tok Siapa ya? Kalau Raihan biasanya langsung masuk dan mengucapkan salam.


"Eh Bu Yusuf ,ada perlu apa ya?"


"Bisa bicara sebentar ?"


"Tentu duduk di depan apa mau masuk ?"


"Masuk aja,"ucapnya yang langsung nyelonong masuk .


"Duduk,"ucapku saat melihatnya hanya berdiri.


"Aku tidak biasa duduk di lantai,beli sofa dulu kalau mau menjamu ku."


"Sorry tidak ada niat buat beli sofa tu!"


"Gaji Raihan sebagai kapten harusnya lebih gede dari Yusuf yang hanya letnan. Masak beli sofa saja tidak mampu !"


"Siapa bilang tidak mampu. Kalau hanya membeli satu set sofa seperti punyamu, itu mudah buatku."


"Tapi buktinya kamu hanya mampu beli karpet kaya begini."


"Kamu bawa ponsel ?"


"Bawa ,ada apa ?"


"Kamu foto ini dan lihat berapa harga karpet ini, karpet asli di kirim dari Turki."


Terlihat Ratih memandang rendah, tetapi tetap penasaran dan mengambil gambarnya labelnya.


"Satu karpet ku bisa buat beli 10 sofa di rumah mu."


"Itu yang asli, pasti punya mu hanya kw."


"Terserah Lo deh, kenapa kamu kesini ?"


"Bagaimana kalau kamu ceraikan Raihan dan aku ceraikan Yusuf. Istilahnya kita tukeran pasangan setelah bercerai."


"Gila!!"


"Assalamualaikum !"


"Walaikumsalam ,"ucapku membalas salam Raihan.


"Mas ko kamu cari istri omongannya kasar banget, sangat ga pantes dengan kamu yang seorang kapten." Ucap Ratih menyambut kepulangan Raihan.


"Maaf bukan muhrim,"ucap Raihan sambil melepaskan tangan Ratih yang memegang lengannya.


"Mas jangan sok suci deh ,kita dulu sering memberikan kepuasan Lo. Mas memberikan aku kepuasan begitu pula sebaliknya." Ucapnya tanpa rasa malu sedikit pun, Raihan terlihat memejamkan matanya untuk meredam emosinya.


"Itu dulu,aku bersyukur pisah dengan mu. Karena pisah denganmu, aku bisa memperbaiki agamaku."


"Sok suci kamu mas!"


"Ais bukan muhrim tidak boleh," ucapku menjadi tameng Raihan.


"Kamu harus tahu kami adalah mantan kekasih."


"Aku sudah tahu suamiku sudah bilang, kata suamiku mantan itu untuk dilupakan. Apalagi model Kayo Lo mantan yang harus di buang di tong sampah."


"Kamu,!" ucap Ratih hendak menamparku tapi bisa di halau oleh Raihan.


"Jika kamu sentuh istriku sedikit saja,aku akan buat hidup lo menderita !"


"Aku akan pastikan semua foto-foto masa lalu kita akan ku sebarkan!"


"Silahkan! Buat ku istriku percaya kalau itu hanyalah masa lalu, itu sudah cukup. Aku tidak masalah di berikan sanksi oleh atasanku," ucap Raihan tenang.


"Kamu tidak takut mengalami penundaan pangkat tahun depan?"Tanya Ratih yang di jawab gelengan kepala Raihan.


"Baik itu yang kamu mau mas!" Ancam Ratih yang langsung mengontak-ngatik ponselnya.


Raihan hanya memelukku erat dari belakang, "Maafkan masa lalu mas,"bisiknya.


"Kita hadapi bersama, jika kita bercerai berai dia akan senang."


"Kemana gambar foto-foto itu,aku ingat tadi pagi masih ada." Ucap Ratih nampak bingung dan terus mengotak-atik ponselnya.


"Kamu sudah tahu tentang foto itu,?" bisik Raihan.


"Sudah."


"Apa kamu juga yang sudah ?"


"Iya,"ucapku memotong ucapan Raihan.


"Dasar istri nakal," ucap Raihan sambil mencium seluruh mukaku. Dari dahi, alis, pelipis, mata, hidung, pipi, dan terakhir kecupan di bibir.


"Sungguh menyebalkan !" Ucap Ratih langsung keluar dengan menahan emosi.


"Mas sempat curiga saat ada 2 pesan yang terbaca , tapi mas tidak merasa membukanya. Mas diam nunggu kamu bertanya pada mas, tapi kamu tetap diam." Ucap Raihan sambil mendekapku dari belakang.


"Aku nunggu mas jujur,tapi aku lihat mas tidak terpancing apa pun tingkah mantan."


"Jika ada yang halal kenapa harus membuang energi untuk yang tidak halal."


"Mas yakin tidak akan berpaling?"


"Sebagai manusia mas yakin baik mas maupun kamu pasti,aka mengalami di titik jenuh. Dimana kita kepingin mencari hal baru atau sensasi baru. Jika itu tiba aku berharap kita bisa sama-sama saling mengingatkan. Apa tujuan rumah tangga kita."


"Keluarga sakinah mawadah warahmah, ibadah dunia akhirat." Ucapku memotong ucapan Raihan.


"Pinter, udah adzan isya mas ke mushola dulu ya. Gorengan pesanan mu sudah dingin."