Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
124. RR. Ratih II



"Biadab! Namanya indah seperti nama nabi kenapa kelakuannya menjijikan,!" ucapku menahan emosi. Saat aku masuk ke dalam kamar Ratih, kondisi Ratih hampir sama dengan korban pemerkosaan.


"Aku sudah minta untuk di lakukan visum, sekarang tinggal kita tunggu dia tenang dan bertanya ,tentang langkah apa yang akan di ambilnya?"


"Terima kasih Ran suda mau datang malam-malam," ucapku.


Aku sengaja membawa ke rumah sakit di mana keluarga Wiraguna mempunyai koneksi,biar mendapatkan perawatan lebih terjamin.


"Jangan terlalu dipikirkan, mas gak mau terjadi apa-apa dengan anak kita nantinya."


"Maaf aku lupa,"sesalku karena emosi.


"Mas tahu rumah orang tuanya?"


"Tahu kenapa?"


"Kita ke sana sekarang, dan meminta dia untuk membawa baju ganti buat Ratih."


"Apa kamu akan memberi tahu mereka,?" tanya Raihan.


"Terpaksa mas Ratih anak tunggal, kepada siapa lagi dia bersandar jika bukan orang tuanya."


Raihan hanya mengagukan kepalanya,tapi belum sempat kamu Ratih sudah sadar.


"Bagaimana kondisi mu sudah lebih baik,?" tanyaku yang di jawab dengan senyum dan anggukan.


"Apa kamu ingin melaporkan suamimu,jika iya aku akan bantu. Baik aku dan mas Raihan ada di belakang mu." Tapi respon Ratih sangat mengejutkan , dia malah menggeleng menolak untuk melaporkan perbuatan suaminya.


"Bisa kamu jelaskan alasannya. Aku atasan suamimu dan aku mengetahui kondisi mu. Tanpa melapor pun aku bisa menghukum suamimu,"ucap Raihan dengan tegas.


"Ini karma ku,kepada kalian,"ucapnya lirih.


"Tidak ada karma kamu tidak ngapa-ngapain keluarga ku. Aku dan mas Raihan baik-baik saja sampai detik ini."


"Tapi aku berniat menghancurkan keluarga mu. Tolong jangan beritahu orang tuaku."


"Ceritakan pada kami biar kami bisa mengambil tindakan atau membiarkan kejadian ini." Ucap Raihan sekali lagi.


"Bukannya kamu tadi pergi ke rumah orang tuamu,?"tanyaku.


"Iya papa sakit tapi tidak mau berobat,dia takut orang tua Yusuf mengunakan sakitnya."


"Maksudnya bagaimana ini,?" tanyaku.


"Papa takut nasibnya seperti kakek. Makanya dia memintaku pulang untuk memeriksa kondisi nya."


"Terus apa ada hubungannya dengan tindakan Yusuf kali ini. Karena menurut dokter kamu pingsan karena.. Melakukan hubungan pertama kali tanpa pemanasan dan secara kasar." Ucapku lirih di ahkiri kalimatku.


"Aku lelah dan capek, karena itu aku mintak bercerai. Tapi Yusuf menuduhku pingin kembali ke pada mantanku, dan meminta haknya secara paksa. Mungkin ini karma ku telanjang dan menggoda suami orang." Ucap Ratih lirih, membuatku sungguh iba dengan nasibnya.


"Jadi karena ini kamu tidak mempermasalahkan keadaan mu,?" tanyaku.


"Aku malu jika orang tahu aku pingsan hanya karena, di perkosa suamiku." Ucapnya dengan senyum miris.


"Baiklah aku turuti semua permintaan mu, tapi jika terjadi apa-apa cerita saja padaku. Kamu akan di jaga perawat 24 jam," ucapku.


"Aku tidak punya uang sebanyak itu buat membayar perawat 24 jam. Apalagi ini kamar juga terlalu mahal buatku."


"Kalau keberatan bayar dengan sembuh secepatnya. Kami pulang dulu."


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


"Dek mau periksa kandungan gak,?" tanya Raihan.


"Memang masih ada poli kandungan yang mau menerima pasien lagi di pukul 08.00 malam?"


"Kita coba tanya aja?"


Setelah bertanya kepada suster ahkirnya kami bisa memeriksakan kandungan ku,tapi dengan no antrian terakhir dan Puku 21.30 namaku baru di panggil.


"Kehamilan pertama ya,?"tanya dokter.


"Iya dok. Sudah di cek pakai alat tes kehamilan ,tapi kami hanya ingin memastikan kalau ini bukan mimpi."


"Oke, kalau begitu mari kita cek langsung aja."


"Masih sangat kecil, harus bener-bener di jaga. Usianya baru 7 minggu, di jaga ya pak Istrinya, jangan terlalu lelah, emosinya juga ya Bu di kontrol." Ucap dokter kandungan memberikan masukan-masukan terhadap kami.


"Mas aku itu hamil bukan orang yang lagi sakit,"kesal ku. Gimana tidak kesal jalan aja nempel kaya perangko,bawa tas kecil gak boleh.


"Kalau ada mas kamu istirahat saja! Tidak usah ngapa-ngapain, sekarang mau langsung pulang atau beli sesuatu dulu?"


"Pulang ngantuk,"kesal ku. karena pura-pura tidur aku malah ketiduran.


POV. Raihan


Belajar mencintai mu itu mudah, tetapi membuat mu jatuh cinta pada ku itu yang sulit. Meskipun aku tahu sikapmu selama ini baik dan menurut pada suami, tapi aku tidak tahu apa hati mu sudah 100 % untukku.


"Biasa ngajakin pacaran,"ucapku sambil berjalan membuka pintu rumah.


"Istri mana Kapten,?" tanya Letnan Faizal.


"Ketiduran,"ucapku. Entah aku mengapa melihat tatapan dokter muda itu berbeda, dari yang lain. Aku takut salah menebak karena itu aku hanya menyimpan dalam hati.


Setelah memindahkan Hana dari mobil ke kamar,aku keluar ikut ngobrol dengan mereka di teras rumah Ari.


"Mau kopi gak kapten,?" tanya Ari.


"Ga usah kalau minum kopi nanti saya gak bisa tidur,"ucapku.


"Tadi letnan Yusuf nyari istrinya , katanya mbak Ratih ha ada dirumahnya!"


"Dia kan suaminya masak tidak tahu istrinya kemana,?" tanyaku pura-pura tidak tahu keadaan Ratih.


"Katanya tadi pas adzan isya waktu dia pergi istrinya tidur,"jelas Ari.


"Masih sore sudah tidur aja,"candaku.


"Tapi tadi sore saya dan istri mendengar seperti suara orang berantem, kapten. Istri sempat meminta untuk mengecek, tapi karena ga ada suara lagi saya pikir tidak terjadi apa-apa." Penjelasan Ari membuktikan Ari juga bisa menjadi saksi tindak kekerasan Letnan Yusuf.


"Saya sebenarnya waktu pindah kesini sempat heran. Setahu saya pacarnya seorang perawat, tapi ko malah nikahnya sama dokter. "


"Jodoh tidak ada yang tahu letnan,"ucapku menjawab Faisal.


"Bener kapten kita tidak akan tahu siapa jodoh kita."


"Letnan Faizal sendiri kapan ini nyebarin undangan ?"


"Haha belum ada yang mau di ajak ke pengajuan kapten,"jawabnya bertepatan dengan letnan Yusuf pulang.


"Pada ngopi ini,?" tanya Yusuf.


"Sini gabung letnan,"ucap Ari.


"Gimana bro istrmu sudah ketemu,?" tanya Faizal.


"Sudah sedang di rumah mertua,"ucap Yusuf.


"Yang bener tadi istri kamu menemui istri saya habis dari rumah ayahnya,kok kesana lagi. Bukan ke rumah sakit,?" ucapku sengaja.


"Kenapa ke rumah sakit istri mu sakit bro,?" tanya Faizal.


"Itu-itu."


"Wanita itu seperti kaca, jika sudah pecah susah untuk bisa utuh kembali. Meskipun kamu tidak menyukainya. Belajarlah menghargai dan menghormatinya karena kita lahir dari rahim seorang wanita."


"Apa kapten tau di mana istri saya,?" tanya Yusuf.


"Kata kamu di rumah mertua bagaimana sih,?"ucap Faizal.


"Tadi aku pergi untuk pulang ke rumah orang tua, karena kakak ipar mau melahirkan."


"Saya menyesal, saya juga sudah mencari ke mana-mana,"ucapnya.


"Bukan karena takut dilaporkan ke PM( polisi militer )?"


"Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada istrimu bro,?"tanya Faisal.


"Kenapa hanya diam malu mengakui perbuatanmu,?" tanyaku. Yusuf hanya diam menunduk kan kepala.


"Seorang istri berkewajiban melayani suaminya ,tetapi dengan cara dipaksa apalagi untuk yang pertama kalinya. Saya bisa saja melaporkan mu ,tapi istri mu melarang kami. Padahal istri saya sudah memanggil pengacara,"ucapku membuat Yusuf langsung melihat kearah ku.


"Saya khilaf,"ucapnya lirih.


"Tunggu kalian nikah sudah berbulan-bulan tapi baru melakukan hubungan suami istri. Berati selama ini kamu tidak memberikan nafkah batin padanya?" Tanya Faizal yang di jawab gelengan kepala.


"Kata kakakku dia gak perawan lagi,"ucap Yusuf lirih.


"Dan setelah apa yang kau lakukan menurut mu,apa istri mu tidak virgin ?"


"Dia masih suci , masih virgin kapten. Karena itu tolong ijinkan saya bertemu dengannya saya akan minta maaf,"ucapnya penuh sesal.


"Bukannya saya gak mau bantu, meskipun saya kasih tau saya gak yakin kamu bisa menemuinya."


"Kenapa?"


"Kondisinya belum memungkinkan, nanti kita bicara dengan istri saya. Karena istri saya yang lebih tahu kondisinya. Sekarang bereskan kekacauan yang ada di dalam rumah mu !"


"Baik kapten !"


"Saya harap kalian berdua bisa menjaga rahasia saudara kita !"


"Siap kapten !"


Tidak ada rasa yang tersisa buat Ratih di hatiku selain rasa iba dan kasihan. Aku melakukan hanya karena mengingat aku juga punya saudara perempuan.