
Hari ini hari pernikahan om Hardi yang ternyata menikah dengan perawat yang selalu bersama dan menemaniku Aisyah. Aisyah seorang perawat masih punya seseorang adik yang masih kuliah, usia Aisyah dan Om Hardi beda 10 tahun. Waktu aku bertanya kenapa mau sama Om Hardi katanya ke bapakan mengingatkan dia kepada alam bapaknya.
Sudah sebulan ini aku juga sudah bekerja di rumah sakit meskipun di awal banyak pasien yang meragukan kemampuanku saat mengetahui aku amnesia. "Assalamualaikum "
"Walaikumsalam " ucap kami semua.
"Arkana dan Arya apa kabarnya ?" tanya Abi," Allhamdullilah, Ustadz bagaimana kabarnya ?"
"Bikhoir, walhamdulillah(Baik, allhamdullilah )"ucap Abi. "Dira apa kabar ?"tanya Arkana.
"Allhamdullilah baik. Bagaimana kabarmu lama gak kelihatan, dinas di mana sekarang ?"tanyaku Balik.
"Allhamdullilah,aku sudah pensiun dari polri " jawabnya kalem, tidak seperti dulu yang tengil.
"Maaf aku kira masih gabung dengan polri"ucapku tak enak.
"Ayo berangkat sudah hampir siang,Romi masukkan kursi roda Dira ke bagasi !" ucap Abi. "Jangan Romi,malu Abi. Aku seperti orang lumpuh kalau pakai kursi roda"ucapku lirih sambil menunduk.
"Putri Abi tidak lumpuh,hanya kakinya masih sakit, jangan berpikir aneh-aneh!" ucap Abi. "Dira janji kalau sudah tidak kuat berdiri atau jalan,Dira akan bilang" ucapku .
"Jiddah juga pakai kursi roda ga malu "ucap Jiddah.
"Beda. Orang maklum Jiddah sudah tua,aku masih muda pasti mereka akan bilang aku lumpuh " ucapku lirih. "Ada aku yang menjagamu jika ada yang menghina mu , akan berurusan dengan ku" ucap Arya yang dari tadi ngobrol dengan Kana dan Pakde.
"Mentang-mentang pengacara ya,"sewot ku. "Tar satu mobil denganku yuk " ucap Arya . "Gak mau kita bukan mahram"jawabku.
"Tidak hanya berdua denganku ada Kana, Rara dan Romi "ucapnya."Boleh Abi ?"tanyaku pada Abi.
"Tidak apa-apa tidak berduaan ini ada Romi, Rara juga kok "ucap Abi. Ahkirnya kami berangkat dengan Romi duduk di depan dengan Arya dan Arkana di belakang sendiri.
"Aku dengar kamu kehilangan memorimu beberapa tahun terakhir ?"tanya Kana. "Ya katanya aku mengalami kecelakaan,tapi aku tidak ingat kecalakaan sama siapa dan karena apa." Ucapku sambil membetulkan jilbab Rara, "Aku beberapa hari ini mimpi melihat sepasang kekasih sedang berciuman di pinggir jalan terus di tabrak sama mobil" ucapku membuat Arya melirik ke belakang.
" Lagian itu orang pacaran tidak tahu tempat sekali masak ciuman di pinggir jalan tidak punya adab sekali, pasti bukan pasangan halal mereka makanya tidak punya malu pasti itu teguran dari Allah yang diberikan kepada mereka "ucapku Yang di sambut 2reaksi berbeda, yang duduk di depanku dua lelaki tertawa ngakak dan yang dibelakang ku Arkana seorang yang sedang terbatuk-batuk.
"Sepertinya bener katamu mereka bukan halal harus segera di halalkan " ucap Arya. "Iya kalau aku bisa lihat dan kenal mereka, aku akan menasehati mereka supaya menikah saja biar tidak berzina " ucapku membuat Arya tertawa.
"Kenapa kamu ketawa kamu kenal mereka, siapa mereka temanmu, jangan sok kenal" ucapku.
"Kalau menyetir mobil lihat kedepan jangan tertawa Mulu bahaya,membawa nyawa orang lain!" ketus Kana. Aku yang merasakan ada yang aneh dengan para lelaki ini,hanya bisa melihat mau bertanya juga bertanya apa hingga Kana mengalihkan obrolan kami.
"Di dalam ingatanmu Kamu, kapan kamu terakhir kali ketemu sama aku?"tanya Kana. "Sebelum ulang tahunmu 29 tahun mungkin,berati 5 tahun lalu. Oya gimana dengan cewek yang di jodohkan dengan mu itu?" ucapku. "Batal," ucapnya.
"Yang sabar semoga lepas dapat gantinya "ucapku. "Memang kamu tahu aku bertunangan Sama siapa ?"tanya Kana yang kujawab dengan gelengan kepala.
"Seingat aku mamamu bilang nanti pas ulang tahunmu,mau di umumkan tentang pertunangan kalian ".
"Tida memang aku datang di ulang tahunmu ?"tanyaku.
"Jangan di paksa mengingat,tar kalau mbak pusing dan pingsan malah repot,bisa gagal acara pernikahan om Hardi "ucap Romi. "Tidak mbak sudah bawa obat ko" ucapku.
"Kamu selalu bawa obat kemana-kemana ?tanya Kana. "Kadang kala aja kala aja buat jaga-jaga" ucapku.
POV.KANA
Berat sebenarnya saat mama dan papa memintaku untuk berobat ke luar negeri, tapi Transplantasi kornea mata di luar negeri dan operasi kakiku sudah di atur papa. "Dengar papa melakukan itu buat kebaikan mu,biar kamu cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali" ucap Papa.
"Mama harap kamu ikut kemauan papa kali ini,demi kesembuhan mu" ucap mama, sudah 2 Minggu aku di rawat, dalam pikiranku cuma pingin tahu keadaan Dira bukan kondisiku sendiri.
"Dira belum sadar sampai sekarang lebih baik kamu segera berobat buat cepat sembuh dan bisa bersama Dira lagi"ucap mama.
"Mama tidak menentang aku dan Dira lagi ?"tanya Kana. "Asalkan kamu sehat dan bahagia sudah cukup buat mama"ucap mama, "Kalau begitu ijinkan aku mengajukan pensiun dini" ucapku.
"Baik papa akan bantu prosesnya biar kamu tidak terbebani dan bisa fokus untuk kesembuhan mu" ucap papa.
Setelah memutuskan berobat ke luar negeri hari ini untuk pertama kalinya aku bisa melihat Dira secara langsung setelah kecelakaan yang kami alami.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi dengan Dira pak" ucapku ke pada ustadz Prabu ayah Kandung Dira.
"Ini musibah,takdir yang harus di terima. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan , tapi mari kita saling menguatkan " ucap ayah Dira. Sebenarnya aku tidak dapat melihat keadaan Dira yang sekarang, tetapi dari informasi Arya. Aku tahu kondisi Dira tidak lebih baik dariku, bahkan dalam tidurnya Dira harus di bantuan alat-alat kedokteran yang melekat di tubuhnya,pasti itu sakit itu yang dapat aku bayangkan.
"Saya lusa akan terbang ke luar negeri untuk mengobati kakinya saya yang cidera dan menjalani transplantasi kornea kornea mata"ucapku ."Semoga pengobatannya berjalan lancar dan bisa segera kembali ke tanah air. Mari kita saling mendoakan agar segera di berikan kesembuhan dan kesehatan bagi kita semua "ucap ayah Dira.
Setelah aku terbang ke luar negeri,aku baru dapat kabar Dira sudah sadar tetapi ingatannya beberapa tahun terakhir hilang. Ingin ku pulang dan bertanya apa dia sengaja melupakan aku.
" Kalau kamu memang ingin bertemu Dira ,cepat sembuh dan kita akan pulang" ucap mama.
Dengan niat dan semangat ingin bertemu Dira aku jalani semua prosedur yang berlaku untuk operasi mata dan kakiku. 4 bulan aku berada di negeri orang ditemenin mama, akhirnya hari ini aku bisa pulang ke tanah air dengan kondisi yang 96% sudah lebih baik. Tidak hanya mataku yang sembuh dan dapat melihat kakiku juga sembuh dan berjalan lagi.
Sebenarnya dari Arya aku tahu kondisi Dira juga sama sepertiku tidak bisa berjalan, tetapi Dira menolak untuk berbuat ke luar negeri.
"Ahkirnya Lo pulang kelamaan di luar negeri Dira bisa menikah dengan orang lain"ucap Arya yang menjemputku di bandara. "Sudah ayo pulang "ucap mama. "Dira sudah tidak tergantung dengan kursi roda,hari ini sudah bisa berjalan dengan Kruk. Tapi saranku fokus dulu kamu buat membangun karir mu jika ketemu Dira kamu bukan pengangguran" ucap Arya .
Aku putuskan mulai bekerja di kantor advokat Milik keluarga sekaligus mengawasi Dira dari jauh.
Meskipun karir ku belum sementereng Arya atau Aryo,aku bersyukur biasa melihat Dira dari jauh. Dan hati aku bersyukur di undang ke acara pernikahan om Hardi,jadi secara tidak langsung aku bisa ketemu Dira atau pun mengobrol dengannya.
Dira semakin cantik dan anggun dengan busana hijab yang sekarang dipakainya," Buruan di halalkan jangan zina mata"ucap Arya sambil tertawa saat kami sudah berada di pesantren dan aku hanya bisa memperhatikan Dira dari jauh.