Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
116. RR. XXXVIII Mantan untuk di Buang



"Mas tidak kerja?" tanyaku saat melihat Raihan masih pakai sarung sehabis sarapan.


"Sebenarnya mas kemarin masuk mengajukan cuti tahunan. Cuti tahunan mas jarang mas pakai soalnya."


"Jadi sekarang mas libur ?"


"Sekarang emang waktunya libur."


"Iih mas, maksudnya aku."


"Iya sekarang libur, disambung cuti tahunan 3 hari. Jadi istri mas mau bulan madu ke mana camping ke gunung Bromo atau naik paralayang ?"


"Bagaimana kalau semua,?" tanyaku.


"Boleh, sekarang siap-siap kita bawa mobil sendiri aja."


"Siap-siap tapi perlengkapan camping ku ada di rumah mami semua. Tenda, sepatu, Tas (Carrier, Backpack), matras."


"Ya udah kita mampir ke rumah mami."


"Kalau mas sudah di siapkan."


"Belum juga. Kan idenya baru saja terpikirkan."


"Kamu ya mas kirain sudah siap semua,"kesalku.


"Ayo bantu mas siap-siap!" Tapi saat aku hendak masuk ke dalam kamar bersama Raihan terdengar ketokan pintu.


"Aku buka pintu dulu,"ucapku.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, eh Yanti."


"Mau balikin piring."


"Ini apa Yan,?" tanyaku sambil mengambil sepotong makanan yang aku tidak tahu namanya.


"Lumpia khas Semarang."


"Kamu asli Semarang to?"


"Iya,aku sama suami orang Semarang."


"Siapa dek tamunya," ucap Raihan sambil berjalan keluar.


"Eh ada kapten udah ya mbak aku pulang duluan, mari kapten."


"Iya makasih ya." Bukannya masuk kita berdua malah duduk di teras depan sambil menikmati, makanan pemberian Yanti.


"Selama pagi kapten dan ibu Raihan,"ucap Yusuf yang siap dengan seragamnya.


"Pagi juga letnan,"jawab kami bersama.


"Kompak sekali ya Kep?"


"Harus itu, ibarat makanan kita kan masih hangat. Jadi masih enak-enaknya," ucap Raihan yang disambut tawa oleh Yusuf.


"Aku bilang suatu rahasia sama kamu,aku tidak mau kamu dengar dari orang lain !"


"Rahasia apa ?"


"Ratih istri letnan Yusuf adalah mantan ke dua ku." Bisik Raihan sambil memelukku erat dari belakang, meskipun aku memakai jilbab tapi aku masih bisa merasakan nafasnya.


"Aku tak mau suatu saat kamu tahu dan jadi bumerang di rumah tangga kita. Mungkin sepele,tapi dari hal sepele itu sering terjadi kesalah yang membawa kehancuran dalam rumah tangga."


"Apa yang membuat mas yakin buat jujur padaku?"


"Kemarin mas mengantarkan Letkol Rudy bertemu dengan istrinya, karena anaknya yang SMA sedang di rawat di rumah sakit."


"Sakit apa sampai di rawat di rumah sakit?"


"DBD."


"Terus rumah tangga letkol Rudy bagaimana, yang membuat mu bercerita."


"Letkol Rudy dan istrinya mereka menikah karena dijodohkan, sudah setahun ini letkol Rudy sering berkirim pesan dengan mantannya yang sudah menjada."


"Dan Bu Rudy cemburu?"


"Iya karena letkol Rudy tidak pernah bercerita, jadi istrinya mengira ada hubungan. Apalagi setiap kali letkol Rudy bertemu ada yang selalu mengirimkan gambar mereka."


"Ahkirnya timbul kesalah pahaman,?" tanyaku.


"Iya, letkol Rudy mengagap pertemuan mereka tidak penting."


"Bagaimana kalau kita menjenguk anak letkol Rudy yang sedang di rawat di rumah sakit!"


"Boleh,mas juga kepikiran begitu."


"Mas Mantan mu lihat Mulu,"bisikku sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.


Raihan langsung berlari mengejar ku yang sudah masuk duluan ke dalam rumah. "Jangan bilang mantan-mantan, mas ga suka mantan itu untuk di buang bukan dikenang," ucap Raihan. Lagi-lagi di ahkiri dengan ciuman yang kali ini penuh dengan tuntutan, hingga membuat ku berjalan mundur dan bersandar pada tembok.


"Ini hanya peringatan ,hukum ringan dari mas,"ucap Raihan dengan nafas berat.


"Mas Mesum Ahh."


"Mesum sama yang halal itu tidak dosa."


"Mas bawa perlengkapan naik gunung sekaligus, habis dari sana kita kerumah mami mengambil perlengkapan ku!"


"Oke sayangku,"ucap Raihan.


"Alay,"jawaku yang di sambut tawa oleh Raihan.


"Mas tidak ada hubungan apa-apa dengannya ma. Mas hanya kasihan sama dia yang janda dan harus membesarkan anaknya yang masih sekolah."


"Mas lihat ini,di foto ini mas bahkan terlihat sedang memangku wanita itu." Sepertinya itu pembicaraan letkol Rudy bersama istrinya. "Mas gimana masuk gak,?" tanyaku pada Raihan.


"Masuk tidak sopan, mencuri dengar juga dosa."Ucap Raihan membuat ku tertawa kecil.


"Saat itu dia berdiri dan tiba-tiba kakinya keseleo jadi mas tolongin,mas ga nyangka akan ada yang me foto hingga bisa jadi kaya begini."


"Aku gak tau mas. Coba mas lihat saja ini."


"Masuk aja yuk gak sopan, kayanya kalau mencuri pendengaran." Bisik Raihan yang aku anggukin.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, eh kapten Raihan sini masuk,"ucap letkol Rudy.


"Mau ini pasangan pengantin baru di asrama.".


"Salam kenal ibu,"ucapku.


"Salam kenal juga, maaf ya yang di jenguk malah tidur. Maklum habis minum obat,"ucap Bu Rudy.


"Tidak apa-apa Bu," Jawabku.


"Mah papa pergi dulu ya, ponsel mama mas bawa dulu."


"Buat apa mas?"


"Sebagian foto ini rekayasa tidak benar, mas akan selidiki kebenarannya."


"Dan semua orang tahu, kalau aku tidak becus memuaskan suami ku. Hingga mencari kehangatan di luar sana."


"Mah,"ucap letkol Rudy dengan mengacak-acak rambutnya.


" Maaf gambar apa ya,?" tanyaku membuat orang yang ada di ruangan melihat kearah ku.


"Hana jangan lancang," bisik Raihan lirih.


"Maaf kami,"ucap letkol Rudy dan istrinya bersamaan, saat sadar ada kami di ruangan itu.


"Begini boleh saya bantu, mengecek kebenarannya." Ucapku hati-hati, terlihat letkol Rudy dan istrinya saling pandang.


"Hana! Maafkan istri saya,"ucap Raihan berusaha menegurku.


"Tidak apa-apa, begini dek Hana. Boleh saya panggil begitu?"


"Boleh Letkol Rudy silahkan,"ucapku.


" Istri saya mendapatkan vidio tidak senonoh yang isinya saya dan wanita lain."


"Itu kamu dengan wanita itu,aku tidak salah mana mungkin aku tidak mengenali suamiku."


"Boleh saya lihat. Mas ambilkan laptopku dong di mobil!" Raihan langsung keluar, tidak sampai 10 menit Raihan sudah kembali, sepertinya dia berlari.


"Maaf ibu sebagai istrinya apa yang membuat ibu yakin itu suami ibu?"


"Tanda goresan di punggung itu yang membuat saya yakin," ucap Bu Rudy lirih.


"Bagaimana cara mencari kebenarannya,?" tanya Letkol Rudy.


"Kunjungi site nya fotoforensics.com , masukkan url gambar atau upload gambar langsung dari komputer pilih ELA." Ucapku menjelaskan sambil tanganku bekerja.


" Foto editan akan menghasilkan banyak titik putih mencurigakan seperti ini, serta Metadata-nya sangat ringkas banyak dihilangkan untuk meringkas ukuran gambar." Ucapku sambil menunjukkan gambar analis yang keluar hasil dari ELA dan Metadata-nya.


"Siapa sebenarnya yang tega memfitnah ku dan apa tujuannya,?" ucap Letkol Rudy.


"Bagaimana dengan no pengirimnya,?" tanya Raihan.


"No tidak pernah sama,"ucap Bu Rudy.


"Bisa saya lihat Bu,?" tanyaku.


"Silahkan." Selama tanganku bekerja tidak ada satupun yang bersuara, seolah mereka mengerti aku butuh konsentrasi.


"Done. Semua pengirim berada di area yang sama ,di daerah perumahan xx di BSD."


"Itu rumah mantanmu kan,"ucap sinis Bu Rudy.


"Kesemua no masih aktif cuma habis mengirim gambar atau video,no ibu langsung di blokir. Tapi saya sudah menyadap beberapa pesan yang mungkin bisa menjadi titik terang." Ucapku sambil menyodorkan laptop ku, untuk mereka lihat.


"Astaghfirullah,apa aku bilang filling seorang istri itu selalu benar. Kamu sih ga percaya,"ucap Bu Rudy.


"Sekarang harus bagaimana, apa perlu mas lapor pihak yang berwenang ?"


"Terus nama keluarga kita di bawa-bawa. Ini menyangkut karirmu juga,aku akan membatalkan perceraian kita."


"Alhamdulillah,"ucap letkol Rudy.


"Jangan senang dulu, itu hanya buat umum. Aku tidak mau kalah sama wanita ular itu, pasti dia senang waktu dengar aku menuntut mu. Kita simpan bukti video dan gambar palsu ini, jika wanita itu berulah baru kita keluarkan."


"Tapi mama akan kembali ke rumah kan?"


"Iya,tapi dengan syarat mas harus buktikan ,bahwa tidak ada perasaan apapun terhadap perempuan itu. Dan kalian berdua saksinya dan saya mohon bantuannya untuk menjaga rahasia ini."


"Baik bu,"ucapku dan Raihan bersamaan.


"Terima kasih atas bantuannya, jika kalian butuh bantuan saya pastikan akan membantu." Ucap letkol Rudy.


"Terima kasih ya dek,"bisik Bu Rudy.


"Sama-sama bu."


"Penyalah gunaan teknologi semakin merajalela,"ucap Letkol Rudy.