
Institut Teknologi Massachusetts (Massachusetts Institute of Technology atau MIT), adalah institusi riset swasta dan universitas yang terletak di kota Cambridge, Massachusetts tepat di seberang Sungai Charles , Amerika Serikat. MIT Menepati posisi pertama terbaik di dunia, jadi tak heran banyak yang berlomba-lomba masuk kesana.
Alhamdulillah aku mampu menyelesaikan Program Magister di MIT selama 4 semester. Jika di Indonesia 1semester 6 bulan, maka di sana 1 semester sama dengan 4 bulan. Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan gelar Master dalam 16 bulan. Tapi sudah hampir 2 tahun ini ,aku bekerja di kantor Google yang ada di California, Amerika Serikat.
"You come home tomorrow?"tanya Sony padaku.(Kamu jadi pulang besok.)
"Yes, I'm off for 2 weeks ."(Ya, aku cuti 2 Minggu.)
"I sure miss you,"ucap Sony dengan muka sedih.(Aku pasti merindukan mu.)
"I'm just on leave , not resign."(Aku hanya cuti, bukan berhenti kerja.)
"Can I take you to the airport tomorrow?"(Apa aku boleh mengantarkan mu besok.)
"sure, with pleasure."(Tentu, dengan senang hati.)
Kakek sakit dan dia meminta semua cucunya untuk berkumpul. Mami menangis dan memaksa aku untuk segera pulang. Jika aku tidak pulang, maka aku akan di coret dari kartu keluarga.
"Hi, it's not soldiers from Indonesia?" (Bukannya itu para tentara Indonesia )" Tanya Sony menunjuk segerombolan tentara lagi turun dari bus.
"From their uniforms it seems yes, moreover there is a red and white flag logo as well."(Dari seragamnya iya, apalagi ada logo bendera merah putih juga.
Brak brak
"Sorry accidentally."(Maaf tidak sengaja.)
"Sorry accidentally." Ucap Sony dan seorang tentara secara bersamaan.
"Sorry I was too engrossed in chatting that I didn't see the person in front of me, sorry."(Maaf saya terlalu asyik mengobrol sehingga tidak melihat orang yang ada di depan saya, maaf) Ucap Sony sambil mengangkat tangan sebagai permintaan maaf.
"It doesn't matter,"(Tidak apa-apa) jawab orang tersebut.
"You guys are from Indonesia,"tanya Sony.
"yes, we are all from Indonesia, just had a joint exercise here."
"My friend and I are also Indonesian, today he came home because his grandfather was sick."(Sama temen ku juga orang Indonesia, hari ini dia pulang ke karena kakeknya sedang sakit.) Ucap Sony sambil menuju kearah ku, membuat ku sedikit kaget melihat orang tersebut. Mungkin dia tidak mengenaliku karena aku memakai kacamata hitam dan jilbab.
"Don't talk too much, hurry back to work!" (Tidak usah banyak bicara, segeralah kembali kerja.) Ucapku mengusir Sony supaya segera pergi.
"I'm back at the office, don't forget to bring me rendang, Palembang pempek when you come back here again."Ucap Sony , aku yang males menanggapinya hanya mengangguk saja, sambil melambaikan tanganku.
"Anda orang Indonesia juga, Indonesianya mana?"Tanyanya sambil mengantri di belakang ku untuk check in.
"Jakarta."
"Disini kerja ? Kerja dimana ?" Ucapnya, Ya Allah Ya Rob sejak kapan Raihan jadi orang yang kepo dan sok ingin tahu.
"Ya. google."
"Sudah lama kerja di sana, pasti gajinya besar?"
"Hampir 2 tahun. Mungkin 1 bulan gaji ku disini sama dengan gaji selama 3/4 bulan, gajiku waktu kerja di Indonesia atau mungkin juga lebih."
"Karena itu anda tidak pernah pulang ke Indonesia ?" Pertanyaannya membuatku segera menghadap kearah nya. Bagaimana dia bisa tahu ,aku tidak pernah pulang ? Tanyaku pada diri ku sendiri.
"Kamu pikir aku tidak mengenali penampilan baru mu?" Ucapnya membuatku sadar, ternyata dia masih bisa mengenal ku, rasa kesal yang kurasakan sedikit memudar. Karena bertepatan dengan giliran aku buat check in, tanpa menjawab pertanyaannya Raihan, aku langsung berjalan meninggalkannya.
"Lama gak ketemu, bukan nanyain kabar malah di tinggalin." Ucap Raihan langsung duduk di samping ku, di ruang tunggu bandara.
"Mas bisa lihat aku sehat tidak kurang satu apapun, begitu pula sebaliknya kan."
"Galak amat sih, masi marah gara-gara pertemuan terakhir kita ?" Ya Allah Raihan kenapa bertanya tentang, itu sih kesal ku dalam hati.
"Jadi persiapan ke luar negri itu sudah lama ? Terus kenapa kamu malah nawarin mas nikah, jika saat itu mas terima gimana ?"
"Ya Allah Ya Rob,kamu sekarang banyak omong ya mas. Lebih baik kamu duduk sana ,kumpul sama kacang ijo yang lain."
"Tapi mas mau disini ngobrol dengan mu?"
"Mas terlalu mencolok berada di sisi !"
"Kakek siapa yang sakit, yang dari mami atau papi?"
"Mami."
"Sakit apa?"
"Mana aku tahu, aku kan masih di sini !"
"Terakhir aku ketemu kakek 2 bulan lalu, dia masih sehat?"
"Ya Allah mas, mana aku tahu. Aku cuma di suruh pulang kakek sakit, katanya."
"Ya , siapa tau kamu tahu ?" Karena males meladeninya ,aku ambil headset yang ada di tasku dan segera memakainya dan bermain game.Sampai tiba waktu untuk naik pesawat, baru Raihan menarik ujung jilbab ku.
Tapi apes aku sengaja duduk di dekat jendela biar bisa melihat awan, tapi 4 orang di samping ku teman Raihan semua. "Mbak dari Indonesia ya, tadi aku melihat mengobrol dengan kapten ?"
"Iya, siapa kapten mu?"
"Kapten Raihana."
"Ohh,"jawabku langsung menutup kuping ku dengan headset dan memakai kacamata tidur, setelah memasang sabuk pengaman.
"Dengerin dulu itu pramugari cantik sedang melakukan peragaan, untuk keadaan darurat!" Ucap Raihan menggoyahkan lengan ku," O, ya. Kamu kan sering naik pesawat, pasti sudah biasa dengan kaya gini." Aneh kataku dalam hati, dia yang membangunkan aku tapi dia juga yang menjawab.
"Eh ,tunggu ! Kenapa kamu duduk di sini?" Tanyaku saat menyadari orang yang duduk di sebelah ku, sudah berganti orang.
"Jadi bangun kan, sekarang ,"ucap Raihan sambil tertawa kecil.
"Sejak kapan kamu jadi banyak tanya,sih mas?"
"Sejak dekat dengan mu."
"Gombal Lo. Ga usah gombal ga mempan,"ketus ku.
"Ha haha,tetep aja ya Lo ,judes dan ketus. Yang tadi mengantar cowok mu?"
"Kepo."
"Ya, mau tanya aja. Kalau di jawab ya syukur, kalau gak juga gak apa-apa."
"Ya udah, aku gak mau jawab !"
"Kakek dirawat di mana ?"
"Kata mami di Singapura."
"Jadi kamu turun di Singapura ?"
"Ya, iyalah."
"Macam singa betina, sekarang jadi galak sama mas." Ucap Raihan sambil terkekeh, membuat ku langsung melotot kearah nya.
"Mas bisa diam gak sih dilihat orang tahu," kesal ku. Jujur aku masih ada perasaan malu, saat dia menolak ajakan ku menikah,meskipun alasannya karena masuk di akal, harus pendidikan. Tapi hati kecilku malu seperti di tolak cintanya.