
"Kenapa kok bengong,?"tanya Raihan sambil memegang tanganku.
"Tidak,ko. Sudah sampai rumah ya,ayoo keluar,!" ucapku sambil melepaskan tanganku Lo dari gegaman Raihan. Dan langsung keluar dari mobil,nampak papi sedang mengobrol dengan nenek di teras depan.
"Assalamualaikum,"ucapku dan Raihan bersamaan.
"Walaikumsalam."
"Maaf ya Rai, tidak bisa mengantarkan orang tua mu ke bandara."
"Gak apa-apa ko Pi, bagaimana keadaan nenek pi?" Seperti halnya aku yang memanggil kedua orang tuanya Raihan mama dan papa, begitu pun Raihan kepada orang tuaku mami dan papi.
"Sepertinya nenek kebanyakan makan dan minum, yang selama ini menjadi makanan larangannya." Ucap papi dan nenek hanya cuek, diusianya yang sudah tua nenek punya beberapa penyakit yang tidak memperbolehkan, untuk makan makanan tertentu berlebihan.
"Nenek bandel seperti."
"Kamu ,"ucap nenek memotong ucapanku sambil menarikku untuk ikut dengannya. Setelah kakek meninggal papi memaksa nenek untuk tinggal bersamanya.
"Apa sih nek tarik- tarik ?" Ucapku saat sudah di dalam rumah, tepatnya di meja makan.
"Kamu belum berhubungan dengan suamimu ya,?" ucap nenek membuatku langsung tersedak air minum ku. Padahal aku baru minum air belum, "Apaan sih nenek ini sok tahu!"
"Nenek sudah tua, bisa bedain dan melihat. Jangan menunda-nunda momongan, nenek pingin merasakan menggendong cicit."
" Apa sih nenek ini,"kesalku sambil berjalan menuju ke lantai 2. Di lantai dua ada kamarku dan kedua adikku serta 2 kamar tamu.
"Awas umur nenek gak panjang,"teriak nenek yang tidak aku hiraukan. Aku masuk kamar dan merapikan baju yang akan kubawa ke asrama. Tadi pagi saat kami sarapan di hotel, Raihan sudah berpesan bahwa malam ini dia mengajakku pindah ke asrama. Makanya aku sekarang bersiap-siap apa saja yang akan kubawa.
Tok tok tok "Masuk ga di kunci," teriakku.
"Ada yang bisa aku bantu ?" Tanya Raihan yang sudah masuk ke dalam kamar ku.
"Tidak usah. Kamu bisa istirahat saja dulu nanti adzan ashar, aku bangunkan!"
"Aku harap kamu bisa betah tinggal denganku di asrama. Luas kamar mu ini sudah seperti luas satu asrama, yang akan kita tinggali bersama." Ucap Raihan sambil melihat sekeliling isi kamar.
"Kalau kamu berharap aku betah tinggal bersama mu di asrama, buat suasana rumah asrama nyaman dan menyenangkan."
"Emang itu cukup buat mu?" Tanya Raihan yang sudah duduk di pinggir tempat tidur ku.
"Ya lihat saja nanti, karena nyaman buatku belum tentu nyaman buatmu dan sebaliknya." Raihan hanya mengagukan kepalanya, dan mulai merebahkan diri untuk tidur sejenak mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
"Ke mana suamimu?"
"Tidur."
"Kenapa kamu tidak menemaninya!"
"Ya Allah nek, Raihan itu capek mau tidur kenapa harus aku temani ?"
"Ya kalau begini bagaimana kalian bisa cepat dekat. Kalian itu harus sering bersama, bergandengan tangan bersama,biar cepat tercipta getaran-getaran cinta di hati kalian." Ucapan nenek membuatku sakit kepala, lebih mudah menghadapi pekerjaan dengan bos galak, dari pada satu nenek keluhku dalam hati.
"Sabar Kak,papi tahu itu tidak mudah. Apalagi hati kalian masih sama-sama belajar untuk menerima." Bisik papi padaku yang sedang duduk di pinggir kolam renang. Setelah nenek masuk ke dalam rumah,papi memberikan nasihat-nasihat dan motivasi supaya rumah tangga kami bisa bertahan sampai kakek nenek.
Hingga setelah sholat asar Raihan membawaku keluar dari rumah. Saat pamitan pun, aku banyak mendengarkan nasihat-nasihat pernikahan baik dari mami atau nenek.
"Apa kita juga akan berkunjung ke rumah atasan mu,?" tanyaku.
"Iya, bagaimana kamu bisa tahu ?"
"Baca novel,"jawabku.
"Kamu suka cerita apa, cerita berbau dewasa , romantis, trailer, atau."
"Apa saja yang menarik dan gratis,"ucapku membuat Raihan tertawa kecil.
"Orang yang berlimpah uang seperti kamu masih perhitungan juga."
"Bukan perhitungan aku membaca untuk mengisi kekosongan waktuku. Aku lebih suka membaca buku-buku tentang teknologi."
"Mau mampir beli sesuatu,?"tanya Raihan.
"Toko roti atau kue,masak bertamu ke rumah orang tangan kosong." Hanya alunan musik yang menemani perjalanan kami, hingga Raihan menghentikan mobilnya di depan toko kue.
"Aku habiskan boleh?"
"Boleh habis itu aku puasa."
"Ko gitu,?"tanya Hana menaikkan alisnya sebelah.
"Jika uangku habi, aku tidak mau makan dengan uang orang tua mu. Jadi pilihan nya adalah puasa,"jawab Raihan.
"Dasar leleki dengan ego tingginya," dengusku sebelum keluar.
Karena sebagai warga baru aku ,aku pasti harus berkenalan dengan semua orang yang disana. Karena itu aku putuskan untuk membeli banyak aneka kue.
"1 Juta 3 ratus 5 puluh 2 ribu," ucap mbak kasir. Aku intip dompetnya hanya ada uang cas,800 ribu. Akhirnya aku putuskan memakai kartu debit ku.
"Makasih mbak sudah bantu membawakan sampai ke sini," ucapku sambil memberikan selembar uang warna biru.
"Tidak perlu Bu ini juga salah satu layanan toko,"tolaknya.
"Kalau begitu tolong belikan kue dan berikan kepada anak-anak itu." Ucapku sambil menujuk pada anak-anak yang ngamen di Lampu merah.
"Kamu mau buka toko di asrama,membeli begitu banyak kue."
"Sebagai warga baru,aku tidak hanya menghadap atasan mu. Tapi juga harus berkenalan dengan tetangga kanan kiri. Aku membeli pakai uangku, jika harga dirimu jatuh hanya makan makanan dari uang istri mu jangan di makan."Sepertinya kamu tipe orang yang bertindak semau mu sendiri?"
"Tidak setiap saat kadang kala," ucapku bertepatan dengan mobil yang berhenti di depan pos penjagaan.
Setelah berbasa-basi sebentar Raihan melanjutkan mobil ku sampai depan rumah minimalis. Bener kata hanya sebesar kamarku,tapi adem banyak tumbuhan membuat terlihat asri. Saat aku turun tampak beberapa ibu-ibu sedang berkumpul, ada yang menyuapi anaknya, ada yang melatih anaknya berjalan,ada yang hanya sekedar ngobrol atau ngerumpi.
Sebagai warga baru aku menghampiri mereka, "Assalamualaikum ibu-ibu, mohon perkenalkan nama saya Hana. Penghuni baru."
"Walaikumsalam,oo pengantin baru ,to."
"Kenalin,nama saya Yanti istri Serka Ari."
"Saya Rachel istri Serda Sugeng."
"Saya Visa istri Letnan Roni."
" Kalau saya Puji istri Serda Ucok."
"Selamat bergabung semoga betah di sini." Ucap mereka satu persatu sambil berjabat tangan denganku.
"Mari Bu mau bantu suami dulu, Wassalamu'alaikum."
"Walaikumsalam. wr wb."
"Aku kira kamu orang yang cuek, tidak akan mau menyapa duluuan mereka." Ucap Raihan saat aku duduk di sampingnya.
"Kalau Hana yang Single mungkin,tapi kata mami aku harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. Selama tidak kerja tiap hari aku selalu di ajak perawatan sama mami dan nenek secara bergantian. Tapi tidak hanya perawatan tubuh tapi juga telingaku harus mendengarkan ocehan, wejangan mereka. Saking banyaknya aku sampai lupa."
"Haha tidak apa-apa dengerin saja, dengan hanya mendengarnya kamu sudah mengharapkan mereka."Ucap Raihan sambil menarikku ke dalam pelukannya. Membuat tubuhku langsung menegang, selama ini interaksi terhadap lawan jenis hanya sebatas berjabatan tangan.
"Gak usah tegang, rileks sepertinya kamu harus sering di peluk biar gak tegang."
"Ya wajar aku tegang kamu lelaki pertama yang memelukku selain" Mahram ku. Memang kamu mudah tegang," ucapku sambil bercanda.
"Wah tau saja istri ku ini. Jangan-jangan pikiranmu sudah terkontaminasi."
"Iya terkontaminasi otak mesum suamiku. Ucapku sambil berjalan melihatnya 2 pintu kamar.
"Kamar kita yang mana ?"
"Yang sedikit lebih luas, yang agak kecil masih kosong."
"Ini siapa yang membawa ke sini semua,?"tanyaku saat melihat kamar kecil penuhi dengan kado.
"Tadi pagi Randi yang mengantar kesini, sekalian mau lihat pabrik di kawasan Tangerang."
"Kado-kado pernikahan. Itu bawaan yang di mobil belum di turunkan ?"
"Nanti aja pas adzan, saat ibu-ibu sudah pada masuk malu." Ucap Raihan bertepatan dengan suara adzan magrib.