
Hari ini setelah kami tiba di Papua kami melakukan briefing mengenai Medan yang akan kami lewati dan sasaran kami.
"Aku minta maaf masih harus melibatkan mu."
"Kenapa harus minta maaf, bukan ini sudah bisa aku lakukan."
"Aku tahu kamu sedang kesusahan mencari putri mu, tapi yang hafal lokasi itu hanya kamu dan mayor Hanif."
"Kamu tidak perlu kuatir ini nyawa orang lebih penting! Ayo kita mulai briefing nya!" Ucapku, karena buatku semakin cepat misi ini selesai semakin cepat aku bisa pulang.
"Siap Letkol Raihan !"
"Kamu kaya sama siapa sih Ed, pangkat kita sama apa kamu lupa ?"
Kami masuk ke dalam ruangan bersama-sama, setelah semua terkumpul Edi memulai memberikan informasi.
"Dari Intel kita yang berada di lapangan, di sana ada sekitar 20 orang. Anggota ******* ada 15 orang, sendang warga yang di jadikan sandra ada 5 orang."
Kasus ini berawal dari pihak TNI yang patroli, menemukan 2 peti senjata selundupan. Dari sana pihak TNI-Polri saling kerjasama, untuk membatalkan transaksi berikutnya dan menangkap para penyelundup. Tapi setelah para penyelundup tertangkap, kawan mereka tidak terima. Mereka menculik warga sipil yang terdiri dari 2 dokter dari Bandung dan Jakarta, 1 wartawan dan 2 relawan.
Mereka meminta teman-temannya dibebaskan dan senjata mereka di kembalikan. Tugas kami sekarang adalah menyelamatkan mereka, tanpa ada yang terluka itu misi kami.
"Satu relawan adalah anak penjabat kementerian hukum dan HAM. Kapan kamu mulai bergerak ?"
"Nanti malam sehabis sholat isya, jika kami masuk hutan sekarang aku takut penduduk sekitar akan curiga. Buat jaga karena kita tidak tahu kalau ada mata-mata diantara mereka.
"Ya udah kalian bisa beristirahat,aku tinggal dulu."
Setelah Edi pergi kami istirahat,aku gunakan waktuku untuk menelpon Hana. Pasti dia sedang sendirian di rumah dan anak-anak pasti masih sekolah. Mungkin jika dari awal aku lebih waspada dan tegas serta berhati-hati, Hana tidak akan terluka dan kehilangan penglihatannya. Putriku juga tidak akan hilang, Hana masih tetap bisa beraktivitas seperti sedia kala. Astaghfirullah tidak seharusnya aku mengeluh dan menyalakan takdir. Aku ambil air wudhu untuk mengisi waktu ku dengan berdzikir dan membaca Alquran. Berdoa untuk memohon pertolongan semoga misi kami berhasil tanpa korban jiwa. Memang sangat mustahil kalau tidak terjadi baku tembak nanti, mengingat kelompok mereka terkenal kejam dan bengis.
"Kita akan masuk dari 3 sisi , kita kepung mereka secara bersamaan saat tengah malam."
"Aku setuju saran letnan Haris. Sekarang kita bagi tim menjadi 3." Ucapku, Saat ini kami sudah masuk ke dalam hutan. Letnan Haris adalah salah satu ahli strategi bersama Praka Indra.
"Sebaiknya kita serang dari arah Barat, timur dan Selatan. Karena Utara ada rawa , yang masih banyak bintang buasnya. Jadi sangat kecil kemungkinan mereka akan lari ke Rawa, kecuali."
"Nasib baik menyertai mereka,bisa menyebrang dengan selamat." Ucap Letnan Haris menimpali Praka Indra.
"Baik kita akan bagi menjadi 3 tim. Dari arah Timur dipimpin oleh Letnan Haris, Haris kamu bawa Serda Ari, Serda Ucok , Praka Utomo dan dokter Faiz."
"Siap Letkol , Laksanakan !"
"Dari arah Selatan di pimpin Kapten Efendi, bersama Praka Indra, Peltu Zaenal,Praka Agus dan Praka Rama."
"Siap Letkol, Laksanakan!"
"Sisanya bersama Saya !"
"Siap Laksanakan Letkol !"
"Sekarang kalian istirahat, tapi tetap pasang mata dan telinga kalian. Tengah malam kita akan bergerak !"
"Siap Laksanakan !"
"Letkol tidak istirahat ?"
"Saya masih menulis surat buat istri saya, semoga saja surat ini tidak pernah di baca olehnya." Aku meneruskan menulis sampai terdengar hembusan angin yang kencang.
"Anginnya beda," ucap Prada Mail.
"Ya maklum hutan ini masih asli, yang penting kalian jangan berbuat ulah. Dia tidak akan menggagu kita ,kalau kita tidak menggagu mereka."
"Siap laksanakan."
Aku menyudahi menulis surat buat Hana ,dan bersuci dengan tayamun dan mulai berdzikir. Sampai tengah malam kami mulai menjalankan rencana kami. Semua berjalan lancar mereka tertidur saat kami datang, tapi saat Sandra terahkir sudah bersama kami salah satu penyelundup terbangun dan terjadi lah baku tembak.
"Kapten Efendi bawa semua Sandra pergi!"
"Siap laksanakan !"
"Praka Indra, Peltu Zaenal,Praka Agus dan Praka Rama. Lindungi para sandra, sisanya disini menyelesaikan pertempuran ini. Bantuan sudah menunggu begitu kalian keluar hutan !"
"Siap Laksanakan !"
Kami terus saling menyerang hingga, "Berhenti atau nyawa teman kalian taruhannya !"
"Bukannya dia salah satu Sandra ?" Tanyaku melalui Ear Piece.
Earp Piece atau penyuara telinga merupakan salah satu alat komunikasi rahasia yang menempel di telinga yang biasanya digunakan untuk mempermudahnya menjalankan tugas.
"Dia salah satu relawan, dia juga anak pejabat kementerian hukum dan HAM !" Jelas Letnan Haris.
"Letkol sepertinya dia salah satu komplotannya,!" ucap Kapten Efendi.
"Kapten Efendi kalian teta pergi bawa Sandra yang sudah bersama kalian !(
"Kalau kalian masih tidak menaruh senjata kalian, akan ku tembak rekan kalian." Dorr bunyi letusan pistol kearah tanah.
"Bawa Sandra pergi Kapten Efendi dan yang lain lindungi Sandra. Letnan Haris, Haris Serda Ari, Serda Ucok , Praka Utomo kalian tinggal bersama saya!"
"Siap laksanakan !"
"Kalian ingin macam ternyata !"
"Tunggu apa tujuan mu , bukannya kamu anak seorang pejabat?" Tanyaku untuk mengulur waktu biar Kapten Efendi, berada di jarak aman .
"Itu bapak ku bukan aku. Aku ya aku!"
"Apa kamu tidak takut nama baik orang tua dan keluarga mu menjadi rusak."
"Aku tidak peduli. Keluarga ku dan orang tuaku memang sudah hancur dari dulu, jadi tidak akan ada masalah jika semua Dunia tahu! Jadi sekarang taruh senjata kalian kalau tidak aku bunuh teman kalian !"
"Banyak Bacot loo!" Dorr Teriaknya marah sambil menebak lengan Praka Indra.
"Bukannya kamu butuh Sandra untuk keluar dari kami! Lihat kalian tinggal ber 5!"
"Oke kalau begitu kita semua mati bersama !"
"Tunggu! Aku punya penawaran buat mu!"
"Apa !"
"Kamu bawa aku lepaskan dia!"
"Letkol !!" Ucap anak buahku yang masih ada berada di sini.
"Dia terluka, mudah buat kami untuk membekuk mu."
"Baik aku lepaskan kamu kesini!"
"Aku percaya kalian semua !" Ucapku sambil mendekat untuk menggantikan posisi Praka indra.
"Awas kalian kalau sampai mengikuti kami !"
Aku diseret masuk Lebih dalam kedalam hutan. Hingga sampai di rumah bambu yang berada di tengah hutan."
"Ikat dia! Edi Brengsek dia bilang para tentara yang bertugas membebaskan Sandra, akan membawa senjata kita."
"Sepertinya Edi mengkhianati kita bos!"
Edi, Edi siapa yang di maksud.
"Hubunganku aku dengan Edi sekarang !"
"Ini bos!"
Aku terus mendengarkan obrolan mereka dengan tangan terikat.
"Hai penghianat,anak buahku mati semua gara-gara pasukan yang kalian kirim! Senjataku tidak balik, anak buahku tidak kembali dan yang di sini anak buahku mati semua !"
".."
"Bulsiet! Informasi yang kamu berikan saja yang tidak bisa di percaya !"
".."
"Masalah jabatanmu itu bukan urusanku. Aku mau anak buahku dan semua senjata ku kembali lagi !"
Apa ada mata-mata diantara kami. Lalu apa tujuannya ?
"Bilang ke Edi untuk datang ke sini. Kamu masukkan dia jadi satu sama yang lain!"
Habis itu aku di bawa ke sebuah ruangan, di sana ada 4 orang dalam keadaan mengenaskan. Badan mereka semua penuh dengan luka lebam, bahkan ada yang mukanya bekas sayatan pisau!
" Ikat dia, gara-gara dia teman-teman kita banyak mati."
"Mari kita balas atas nyawa semua teman kita!" Tanpa bicara lagi , setelah badan ku di ikat. Aku di jadikan Samsat tinjau oleh 3 orang secara bergantian. Tidak hanya badanku yang dipukuli, wajahku juga tidak lepas dari pukulan mereka. Setelah capek memukuli aku, mereka meninggalkan aku.
"Kamu tentara yang kuat, tidak bersuara sama sekali meski badanmu habis di pukuli mereka." Ucap seorang lelaki dengan badan yang babak belur dan banyak luka sayatan di wajahnya, dengan tertawa kecil.
"Terima kasih, jika aku bersuara atau kesakitan mereka akan senang melihatnya. Kamu siapa ?"
"Aku salah satu intelijen negara."
"Sudah berapa lama bertahan di sini ?"
"6 Bulan, tapi badanku sudah hancur," ucapnya sambil tertawa kecil.
"Tapi aku aku salut kamu masih bisa bertahan!"
"Aku harus bertahan,aku ingi bertemu dengan anak dan istriku !"
"Sudah pernah kabur ?"
"Belum, karena aku belum mendapatkan bukti keterkaitan seorang oknum aparat ."
"Aku salut dengan kegigihan mu!"
"Itu sudah tugasku , kamu tahu sendiri moto kami."
"Berani tidak dikenal, Mati tidak dicari, Berhasil tidak dipuji, dan Gagal dicaci maki." Ucapku yang dan langsung di sambut tawa oleh kami berdua.
"Apa anak Mentri itu bosnya ?"
"Si Nando maksud mu?"
"Iya."
"Bos nya , bukan dia. Dia hanya alat ,aku sudah mencurigai seorang penjabat tapi buktiku belum terlalu kuat."
"Bagaimana kalau kita kerja sama!" Ucapku membuat 3 orang lainnya di situ menjadi mendekati ku. "Kami siap membantu, lebih baik kami mati tidak ada yang tahu. Dari pada di sini tanpa berusaha, hanya di jadikan Samsat tinjau oleh mereka." Ucap salah satu yang paling muda .
"Kalian ?"
"Aku seorang guru yang tidak sengaja tertangkap mereka , karena memergoki mereka. Aku sudah 3 bulan di sini!"
"Aku seorang dokter,aku sudah 1 tahun disini, Mereka tidak membunuhku karena aku yang mengobati mereka!"
"Aku seorang wartawan,aku ikut akan kalian !"