Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
31. Pov.Abi Pov.Kana



Pov.Abi


Sejak obrolan dengan putri ku di teras mini market malam itu, perkataannya masih terus terngiang-ngiang di kepalaku.


' Siapa yang aku harus salahkan Abi yang membohongi bunda dengan surat cerai palsu atau om Ridwan yang kala itu memaksa bunda untuk menemui Abi ' ucapnya masih terus terngiang-ngiang sampai sekarang, meski sudah 3 tahun berlalu.


"AA , aku tadi liat rumah teh Dwi ko ada billboard rumah ini di jual? Aku tanyakan yang tinggal disitu katanya sudah sebulan billboard itu terpasang ?" ucap Hardianto sepupuku sekaligus tangan kananku mengurus usaha konveksiku.


"Dijual,apa yang terjadi dengan putriku apa dia membutuhkan uang sampai harus menjual rumah segala?" ucapku, meskipun aku tahu dia sudah bekerja aku tetap mengirimkan sejumlah uang padanya melalui rekening yang dulu diberikan Dwi.


"Mana ku tahu cari tahu aja sendiri" ucap Hardi. "Bantu cari info, putriku !"ucapku.


"Kasih lihat aku dulu foto Putri mu, dari dulu kamu selalu melarang kami untuk melihatnya"ucapnya.


"Ini foto waktu masih duduk di bangku SMA,"ungkap ku sambil menyodorkan ponselku. Aku memang sudah bercerita kepada keluarga besar ku tentang putriku dan Dwi, tetapi aku tidak pernah memperlihatkan fotonya pada siapapun termasuk umi ku kata Prabu dalam hati.


"Kenapa lo?"tanyaku pada Hardi saat dia berulang-ulang melihat kearah ku bergantian dengan ponselku.


"Pantes Lo tidak pernah memperlihatkan fotonya pada siapapun, Lo takut bibi memaksamu membawa kesini ya. Ini sudah dipastikan anak mu tanpa tes DNA warna bola matanya saja persis kamu banget"ucapnya.


"Gak usah aneh-aneh atau cerita ke siapapun wajah putriku!" ucapku.


"Keluarga kita perlu tahu dan mengenalnya kenapa harus di tutupin ?"ucap Hardi.


"Aku tidak menutupinya aku malu atas kesalahanku dengannya dan bundanya. Bahkan kematian Dwi aja mungkin aku penyebabnya,makanya aku menutupi dari kalian, jika kalian tahu pasti memintaku membawa kesini sedangkan aku aja belum bisa mendapatkan maaf darinya"ucapku.


"Astaghfirullah istighfar kamu orang tahu agama,tentu kamu tahu hidup,mati jodoh itu sudah ditetapkan jauh sebelum kita lahir ke dunia ini"ucap Hardi.


"Gimana mau bantu gak ?"tanyaku. "Dari yang ngontrak di sana rumah itu mau di jual buat biaya pendidikan spesialis. Hebat juga ya anakmu boleh gak aku pinang anakmu "ucap Hardi.


"Gak usah aneh-aneh "kesal ku.


"Aku tidak ada hubungan darah dengan mu, emang kita sepupu saudara tapi kita itu sepupu jauh. Cantik dokter spesialis lagi, pasti dia hebat bisa berhasil tanpa orang tuanya,"ucapnya.


"Jangan percaya diri kamu tahu Arya dan Arkana dari keluarga Wiraguna itu aja di tolak sama putriku apa lagi kamu "ucapku mengalihkan pembicaraan.


"Mungkin mereka menang tampan dan gagah dariku tetapi kan hati dan akhlak bagusan aku"ucapnya.


"Astaghfirullah, sombongnya " ucapku. "Bukan sombong tapi percaya diri "ucapnya membuatku tertawa.


"Jika aku menghubunginya belum tentu dia menerima ku"ucapku.


"Jangan kuatir aku sudah tahu itu makanya aku sudah menghuninya,ni lihat"ucap Hardi menunjukkan layar ponselnya yang berisi chat dengan putriku.


"Ok nanti kalau ketemuan aku ikut" ucapku.


"Seharusnya kita yang nyamperin dia kesana, biar sekalian kita tahu tempat tinggalnya, lagian apa kamu tidak kasihan sama ponakanmu"ucapku,aku dan Hardi sedang menunggu Dira meski kami tidak duduk satu meja tapi posisiku memudahkan aku untuk mendengarkan obrolan mereka.


"Dia yang mintak masak aku yang maksa tar ketahuan malahan, aku tegaskan dia bukan ponakan aku ya" ucapnya." Kamu tidak cerita sama siapa-siapa kan?"tanyaku. "Aman istrimu aja tidak ku jawab saat bertanya"ucapnya.


"Eh itu bukan "ucap Hardi menunjuk gadis muda turun dari ojek motor.


"Iya awas "ucapku langsung duduk membelakangi meja Hardi.


"Assalamualaikum , bapak Hardianto "ucap Dira.


"Iya saya, Walaikumsalam Adira?"tanya Hardi. "Iya saya Adira"ucap Dira.


"Jadi gimana enaknya mau pesan makanan dan minuman atau langsung ke intinya ?" tanya Hardi.


"Pesan minuman aja pak , habis itu langsung kita bahas ke intinya"ucap Dira.


"Ok baiklah,"


"Kalau boleh tahu buat apa rumahnya dijual tempatnya sangat nyaman, dekat pondok pesantren lingkungannya adem tidak sayang kalau di jual ?"tanya Hardi.


"Buat tambahan biaya pendidikan pak"ucap Dira.


"Kalau boleh tahu melanjutkan pendidikan ke mana biar bisa ngasih lebih "ucap Hardi pingin sekali aku pukul dia yang berani menggoda putriku.


"Sebenarnya buat pendidikan sudah di cover beasiswa,tetapi kan masih butuh tambahan beli buku, fotocopy cari data , praktikum sedang pekerjaan sampingan hanya cukup buat kebutuhan sehari-hari dan tempat tinggal," ucap Dira. Putriku hidup pas-pasan harus bekerja sambil belajar,sedangkan aku hidup serba berkecukupan orang tua macam apa aku ini, gerutuku dalam hati.


"Emang lanjut kemana ?" tanya Hardi.


"Spesialis jantung "ucap Dira.


"Woo ternyata calon dokter spesialis jantung,to"ucap Hardi.


"Iya pak"ucap Dira. " Jangan pak panggil saja AA "ucap Hardi membuatku melongo mendengarnya,aku ambil ponsel untuk mengirimkan sejumlah uang buat putriku semoga aja lebih bermanfaat untuk putriku.


"Iya ,saya belum terlalu tua jadi jangan panggil pak,umur saya baru 35 tahun "ucap Hardi.


🎼🏧 Rp. 50.000.000,00


"Siapa anda ?" tanya Dira."Ini Abi" ucapku langsung duduk disamping putriku.


"Maksudnya apa ini?"tanya Dira."Maaf Abi terpaksa melakukan ini, karena jika Abi langsung yang menghubungimu pasti kamu tidak akan mau menemui" ucapku.


"Abi mau apa?"tanya Dira lirih.


"Berbicara selayaknya orang tua,Abi tau Abi banyak salah padamu,Abi pantas kamu benci tapi biarkan Abi berbuat sesuatu yang bermanfaat untukmu. Kamu boleh tidak mengakui Abi,kamu boleh mengagap Abi orang lain Abi ikhlas tapi ijinkan Abi untuk melihatmu jangan selalu menghindari Abi"ucapku sambil menahan air mataku.


"Aku akan coba tapi tidak janji"ucap Dira lirih.


"Kamu langsung mau balik Ke Jakarta"Ucapku,"Aku mau mengunjungi rumah bunda"ucap Dira.


"Ayo kami antar"ucapku dan Dira tidak menolak itu suatu hal yang sangat membahagiakan buatku, bisa semobil dengan putriku dan memandang langsung putri ku.


Pov. Arkana


"Aku sudah bilang padamu tidak akan bertanggung jawab jika ada kegaduhan atau acara mu menjadi kacau.


Aku berharap ini pertemuan terakhir kita Aku tidak mau lagi berurusan denganmu".


"Bangun-bangun, mimpi buruk Lo?" tanya Affandi membangunkan aku dari mimpi buruk ku.


"Iya , makasih sudah membangunkan aku"ucapku sambil mengelap keringat ku.


"Masih 3.50 sholat tahajud yo!"ucap Fandi." Ayo aku ambil air wudhu dulu" ucapku saat melihat penampilan yang sudah rapi pakai baju Koko. Kapten Affandi namanya hampir 2 tahu ini kami sering bersama karena sama-sama menjadi ajudan orang no. 1 di negara ini.


"Mimpi buruk apa? sampai mandi keringat begitu ?"tanya Fandi saat kami sedang menikmati sarapan bersama karena kami sedang mendampingi presiden melakukan kunjungan dinas ke daerah.


"Memipikan kesalahan masalalu" jawab ku. Sudah 3 tahun berlalu tetapi aku belum pernah ketemu Dira lagi, sejak Dira pindah dari tempat kerjanya aku kehilangan jejaknya.


"Cerita biar berkurang beban Lo, meskipun tidak bisa membantu mengatasi"ucapnya.


"Dulu aku pernah memanfaatkan seseorang untuk membatalkan perjodohan yang dilakukan mamaku. Dia marah dan tidak mau bertemu denganku, untuk menunggunya tenang aku hanya mengawasinya selama beberapa minggu tetapi saat aku rasa dia sudah cukup tenang, dia malah hilang dan aku kehilangan kontak dengannya"ucapku.


"Sebentar lagi masa tugas kita disini hampir habis kamu bisa mencarinya lagi dengan koneksi tentunya "ucapnya.


"Apaan kartunya yang lama sudah dibuang "ucapku.


"Berarti kamu harus mulai mencari dari awal, jangan-jangan di usiamu yang 32 tahun belum menikah karena masih mengharapkan nya"ucapnya sambil tertawa.


"Mungkin "jawabku sambil berjalan meninggalkannya.